
Siang ini Zie dan semuanya tengah berkumpul di kediamannya. mereka semua sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju Bandung. Tuan Prabu manaiki mobil bersama Asisten Zaki, Mang Diman, Mbok Nah dan juga si kecil Ara menaiki mobil dengan membawa supir. Ken dan Marvin menaiki mobil jeep berwarna hitam milik Ken sedangkan Zie, ia lebih memilih berkendara dengan menggunakan motor sportnya. sudah sejak lama Zie ingin ke Bandung dengan menaiki motor sportnya meskipun berkali kali Papinya melarang tapi pada akhirnya Zie pun di ijinkan juga dengan segala syarat yang di tentukan oleh sang papi yang harus di patuhi demi keselamatan Zie. kali ini mereka akan menginap di AA Hotel yang tak lain adalah milik papi Zie sendiri.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan satu kali istirahat di pertengahan jalan akhirnya rombongan yang terdiri dari satu motor sport dan tiga mobil itu sampai di sebuah Hotel bintang lima yang terlihat sangat mewah.
rombongan Tuan Prabu masing masing orang menempati Presidential Suite yang ada di hotel itu. sebuah kamar termewah dan termahal yang memiliki Fasilitas yang sangat mewah. jika yang lain memilih untuk beristirahat di kamarnya masing masing, berbeda dengan Zie dan Papi nya yang memilih untuk langsung meluncur menuju TPU di mana Mami Zie di makamkan. Anak dan ayah itu pergi kesana dengan menggunakan motor sport yang di naik Zie tadi.
tok...tok.........
Marvin mengetuk pintu kamar hotel milik Ken beberapa kali hingga sang penghuninya membukakan pintu.
"Ken....., lo tau nggak TPU Mami nya Zie. tadi dia kirim pesan kalau dia dan Papi pergi kesana." tanya Marvin begitu masuk kedalam kamar Ken dan duduk di sofa yang ada dikamar itu.
"Lah.....Om sama Zie udah pergi duluan?? gue tau, gue udah pernah kesana sebelumnya." jawab Ken yang juga mengikuti Marvin duduk di sofa.
"Lo capek nggak?? gue pengen nyusulin kesana. gue juga pengen Ziarah kemakam mami nya Zie." tanya Marvin.
"ya udah kalau gitu kita susulin aja." ajak Ken dan Marvin pun mnegangguk.
"Gue ambil jaket dulu di kamar." pamit Marvin keluar dari kamar Ken terlebih dahulu.
tak lama Ken dan Marvin keluar dari kamarnya masing masing, tapi hal itu juga berbarengan dengan Asisten Zaki, Mang Diman dan juga Mbok Nah serta Ara yang keluar dari dalam kamarnya juga.
"sudah siap semuanya?? lebih baik kita berangkat sekarang." tanya Asisten Zaki.
"Lah Om.... emang mau berangkat kemana??". tanya Marvin bingung.
"Vin.....,liat Hp lo." sahut Ken. ia sempat membuka Hp nya tadi sebelum keluar kamar.
Marvin yang sedari tidak melihat HP nya pun langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan Hp nya.
Marvin melebarkan matanya begitu membaca pesan dari Kenzie yang mengatakan bahwa Pak Hadi (Ayah Rizky) meninggal dunia. mereka semua di minta untuk segera datang ke kediamannya Rizky sekarang juga.
...,_____,______,______,...
Ketika Kenzie dan Papinya sampai di TPU, keduanya langsung turun dari atas motor dan berjalan bersama menuju makam sang Mami. keduanya duduk bersimpuh di dekat Makan lalu menaburkan bunga dan menyiramkan sebotol air di atas makam, setelah itu Zie dan Papinya langsung memanjatkan do'a bersama untuk sang Mami dengan hitmat. Kenzie dan Papinya mulai berbicara di depan makam orang terkasih seolah orang itu benar benar ada bersama mereka. mereka terus bercerita berbagi kebahagian bersama sang Mami.
setelah puas mencurahkan segala rasa kepada sang Mami akhirnya Zie dan Papi nya berniat untuk kembali ke Hotel.
Keduanya beranjak dari duduknya dan mulai berjalan menjauh dari makam sang Mami, tidak jauh dari mereka ada banyak orang dengan pakai serba hitam yang sedang berkerumun di sebuah makam. sepertinya baru saja ada seseorang yang di makam kan di sana. tetapi satu persatu orang disana pin pergi karena proses pemakaman sudah selesai.
sepintas Zie melihat sosok laki laki yang duduk bersimpuh di samping makam yang terlihat masih sangat baru itu.
"A' Rizky......,". gumam Zie dalam hati. ia pin menajamkan pengklihatannya untuk memastikan apakah benar apa yang ia lihat saat ini.
"Pi....., A' Rizky pi.....". ucap Zie begitu yakin bahwa yang ia lihat adalah Rizky.
"Mana??". tanya Papi Zie yang belum melihat keberadaan Rizky.
"Itu Pi yang duduk di sebelah makam baru. ayo kita kesana Pi......". ajak Zie.
Tuan Prabu langsung berjalan mengikuti putrinya menuju di mana Rizky berada.
"inalillahi..........." ucap Zie dan Papinya hampir bersamaan.
Tuan Prabu langsung mendekat dan berjokok di sebelah Rizky yang sedang berduka. terlihat sangat jelas wajah sedih dan terpukulnya Rizky atas meninggalnya ayahnya yang merupakan satu satunya keluarga yang ia miliki.
"Yang sabar ya Ky......, Om turut berduka cita......,". ucap Papi Zie seraya menepuk bahu Rizky.
Rizky menoleh dan kaget melihat keberadaan Papi Zie disana.
"Om........" ucap Rizky. ia lalu memeluk Papi Zie. ia menumpahkan segala rasa sedihnya di bahu Papi Zie.
Kini Rizky hanya hidup seorang diri, tidak ada tempat untuk berbagi rasa. sedari tadi ia sudah mencoba untuk tegar dalam menghadapi cobaan ini. tapi begitu melihat Papi Zie ada di sana, Rizky tidak mampu lagi untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. ia menenggelamkan wajahnya di bahu Papi Zie dan menangis sejadinya.
"menangislah agar perasaanmu lebih lega." ucap Papi Zie sambil menepuk pelan punggung Rizky.
Tuan Prabu sangat paham apa yang di rasakan Rizky saat ini. jadi Tuan Prabu membiarkan Rizky menumpahkan rasa sedihnya di bahunya.
Zie langsung memberitahu berita duka ini kepada semua orang yang ikut bersamanya ke Bandung melalui pesan singkat dan menyuruh semuanya agar datang ke kediaman Rizky skarang juga.
Cukup lama Rizky berada dalam posisi itu, setelah di rasa Rizky cukup tenang Papi Zie mengajak Rizky untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
Tuan Prabu berjalan bersama Rizky terlebih dahulu karena memang jarak TPU tidak jauh dari rumah Rizky. sedangkan Zie, ia menaiki motor sportnya yang tadi ia naik bersama Papinya.
tidak lama Rizky, Tuan Prabu dan Zie sampai di rumah Rizky, rombongan Marvin tiba bersama yang lainnya juga. semua ikut turrut bela sungkawa atas meninggalnya Orang tua Rizky.
Rizky bersyukur keluarga Zie datang di saat ia sedang berduka padahal Rizky sama sekali belum memberi tahu kabar duka itu kepada mereka. entah tau dari mana tiba tiba mereka semua datang di waktu yang sangat tepat.
sebelumnya Rizky sudah berpikir bahwa malam ini rumhanya akan terasa semakin sepi, tidur dirumah sendirian dan semuanya serba sendiri tapi nyatanya saat ini seluruh keluarga Zie ada di sini bersama dengannya. bahkan acara tahlil dan do'a bersama berjalan dengan lancar berkat bantuan dari seluruh keluarga Zie.
Rizky bersyukur masih ada orang orang yang peduli kepadanya. orang yang bahkan tidak ada ikatan darah sama sekali tapi terasa seperti keluarga sendiri.
.
.
.
.
Bersambung......
.
.
.
.