Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Beri aku kesempatan



Seperti biasanya, setiap hari libur Zie akan menggunakan waktunya untuk berolah raga di luar rumah. Pagi ini Zie sudah rapi dengan stelan olah raganya padahal matahari masih malu malu menunjukkan sinarnya. ia berencana akan berkeliling kota dengan menggunakan sepeda. saat ini Zie sedang duduk di ruang makan sendirian menikmati sarapannya dengan segelas susu hangat dan sepotong sandwitch buatannya sendiri.


"Loh Zie....., kamu sudah siap olah raga?? ". tanya Papi Zie yang datang ke ruang makan.


Tuan Prabu saat ini juga menggunakan kaos polos berwarna putih pres body dengan bawahan celana trening panjang berwarna hitam. sepertinya Papi Zie juga akan olah raga di luar pagi ini. meski usianya tidak muda lagi tapi Tuan Prabu memiliki tubuh yang sangat bagus, kekar dan berotot. tidak ada perut buncit atau lemak yang menumpuk karena Tuan Prabu sangat menjaga pola makan serta rajin berolah raga.


"Iya Pi....., Pagi ini Zie pengen gowes gowes keliling kota. apalagi ini masih sangat pagi, pasti udaranya juga masih seger banget. " jawab Zie tersenyum ceria.


rumah besar itu sekarang hanya terisi Zie dan Papinya beserta beberapa pelayan, pengawal dan tukang kebun. Marvin dan Cerry sendiri sudah pindah ke rumah barunya yang merupakan hadiah pernikahan mereka dari Zie dan Papinya yang letaknya tidak jauh dari rumah Tuan Prabu.


"Wah...., kayanya seru. Papi ikut boleh kan?? " tanya Tuan Prabu lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Zie. "Bik Inah... tolong buatkan Susu dan sandwich sama seperti Zie. "perintah Tuan Prabu kepada pelayannya.


" Boleh dong Pi..... " jawab Zie


" Baik Tuan..... " jawab bik inah


"Tidak usah Bik...., biar Zie saja yang buatkan. bibi kerjakan aja yang lainnya. " cegah Zie setelah meminum susunya karena makanan miliknya sudah habis.


Zie beranjak Dari duduknya sambil membawa gelas dan piring kotor bekasnya ke dapur.


"Baik Nona....," jawab Bi Inah patuh. "Sini biar bibi yang mencuci piring dan gelasnya. " pinta Bi inah lagi.


"makasih Bi.... " ucap Zie tersenyum manis.


setelah mencuci tangannya Zie mulai berkutat membuat sandwich dan susu untuk Papinya.


Meskipun orang kaya, Zie dan Papinya tidak pernah memperlakukan palayannya semena mena. bahkan tak jarang Zie sendiri memasak atau melakukan segala sesuatunya sendiri.


semua pelayan dan yang lainnya yang bekerja disana sangat senang, selain gajinya yang besar majikan pemilik rumahnya juga sangat baik. jarang jarang orang kaya yang masih menghargai pekerjaan pelayan di rumahnya.


Tak lama, Susu dan sandwich buatan Zie pun jadi. ia membawanya dengan penampan lalu menyuguhkan nya untuk sang Papi.


"Makasih sayang...... " ucap Tuan Prabu lalu menghadiahi kecupan sayang di dahi Zie.


"sama sama Papi...., selamat menikmati. " jawab Zie tersenyum manis.


Tuan Prabu lalu memakan sarapannya secara perlahan dengan di temani Zie yang kembali duduk di kursinya semula. Tuan Prabu akui, masakan Zie memang sangat enak bahkan masakan Maminya dulu kalah dengan masakan buatan Zie. Tuan Prabu sangat bangga kepada putrinya karena tumbuh menjadi gadis baik, sederhana dan juga mandiri. Zie memiliki segudang prestasi, kecerdasan dan juga kemampuan yang sangat luar biasa.


setelah selesai sarapan, Ayah dan anak itu berjalan menuju garasi khusus sepeda. disana memang berjajar beberapa jenis sepeda dari yang harganya biasa saja sampai yang harganya cukup fantastis.


"Apa Darren juga ikut bersepeda Zie....?? ". tanya Tuan Prabu sambil memilih milih sepeda mana yang akan ia gunakan.


" Tidak....., Zie bahkan tidak memberi tahu kak Darren kalau Zie akan bersepeda pagi ini. " jawab Zie yang juga memilih sepedanya.


"Kenapa??." tanya Tuan Prabu lagi.


"Tidak papa pi...., ini hari libur dan juga masih terlalu pagi jadi Zie tidak ingin mengganggu Kak Darren." jawab Zie lalu mengambil sepeda yang sudah menjadi pilihannya.


begitu juga dengan Papinya yang sudah menuntun sepeda pilihannya keluar garasi.


"Sudah sejauh mana hubungan mu dengan Darren?? ". tanya Papi Zie ingin tau.


Ayah dan anak itu kini sudah bersiap menaiki masing masing sepeda mereka setelah memastikan sepeda dalam keadaan baik. keduanya sudah memakai helm khusus pesepeda, sarung tangan dan juga kacamata hitam.


" Sejauh PP dari Negara N ke Negara K. " jawab Zie cengengesan.


"Dasar anak Nakal...., di tanya orang tuanya bener bener jawabannya ngasal." ucap Tuan Prabu menabok lengan Zie.


sayangnya tabok kan itu meleset karena Zie menghindarinya dengan gerakan cepat.


"ets.... nggak kena..... ". ucap Zie tertawa. " Kejar Zie kalau bisa Pi...... " tantang Zie yang langsung meluncurkan sepedanya.


"Awas kamu ya....., kalau kena Papi hukum..." seru Tuan Prabu yang ikut meluncurkan sepedanya juga menyusul Zie yang sudah jalan lebih dulu. bukannya marah tapi Tuan Prabu justru tersenyum bahagia karena candaan putrinya. Hari harinya kini semakin berwarna semenjak menemukan buah hatinya kembali setelah sekian lama terpisah.


sungguh Tuan Prabu sangat bersyukur karena pada akhirnya menemukan putrinya kembali setelah berusaha untuk mencari keberadaan putrinya selama puluhan tahun meskipun sempat mengalami putus asa. benar kata orang, usaha tidak akan mengkhianati hasil.


Zie melambatkan laju sepedanya karena Papinya tertinggal jauh di belakang. ia menunggu papinya menyusul dengan mengayuh sepedanya santai.


"Ayo Pi......, semangat....,!! kejar Zie..... " seru Zie ketika Papinya sudah mulai mendekat.


"Hah......, Papi nyerah sayang...., Lutut Papi rasanya mau copot. " seru Tuan Prabu sambil terkekeh.


Tuan Prabu memang sering berolah raga tetapi ia sudah sangat lama tidak mengayuh sepeda dengan jarak jauh, terakhir kali saat dirinya masih muda dulu sehingga baru beberapa kilo meter saja kaki dan lututnya sudah merasa pegal. sepasang Anak dan ayah itu akhirnya hanya bersepeda santai mengelilingi taman kota sambil di selingi canda dan tawa.


Waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi, tapi di taman kota sudah ramai pengunjung. biasanya hari libur seperti ini memang banyak di gunakan oleh orang orang untuk berolah raga seperti jalan santai, sepedaan, joging dan masih banyak lainnya. taman kota adalah salah satu tempat favorit yang mereka tuju.


Zie mengajak Papinya untuk menepi terlebih dahulu untuk beristirahat dengan duduk santai di kursi taman untuk sekedar meluruskan kaki.


"Papi tunggu disini sebentar ya....., Zie mau beli minum dulu disana. " ucap Zie menunjuk ke kedai kecil penjual minuman, ia melepas helmnya lalu berjalan pergi meninggalkan Papinya yang duduk di kursi panjang setelah Papinya mengangguk.


tak lama Zie kembali dengan membawa dua botol air mineral di tangannya dan menyerahkan salah satu untuk Papinya.


"minum dulu Pi....., " ucap Zie lalu duduk disebelah Papinya.


"Makasih sayang.... " ucap Tuan Prbu tersenyum tipis.


"Capek ya Pi....??." tanya Zie sambil mengelap keringat di dahi sang Papi menggunakan handuk kecil miliknya.


"Lumayan...., tapi seru juga. Papi sudah lama sekali tidak sepedaan seperti ini." jawab Tuan Prabu tersenyum tipis sambil menoleh kearah putrinya yang duduk di sebelahnya.


Tuan Prabu lalu mengambil handuk di tangan Zie lalu melakukan hal yang sama dengan mengelap keringat di wajah putrinya.


"apa kamu lelah sayang....?? ". tanya Tuan Prabu dan Zie pun menggelengkan kepala.


" Zie sudah biasa main sepeda pi...., waktu itu juga pernah sepedaan sampai taman mini. " jawab Zie dengan senyum ceria.


"Taman mini?? jauh sekali Zie." ucap Tuan Prabu.


"iya tapi cukup menyenangkan pi.... " jawab Zie dan Tuan Prabu pun tersenyum sambil mengusap puncak kepala Zie dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Putri kesayangannya ini selain selalu ceria, ia juga gadis yang sangat aktif.


sekilas Tuan Prabu melihat gerakan tangan putrinya yang merapikan kembali rambutnya, ada yang berbeda di sana. Tuan Prabu lalu meraih tangan Zie untuk melihat sesuatu yang terselip di jari manis putrinya.


Zie reflek menarik tangannya dan menyembunyikan Cincin itu dengan menutupnya dengan tangan satunya. Zie tersenyum kaku merasa gugup karena Papinya memandangi nya seolah menunggu penjelasan dari Zie.


"Anu pi.... hehee....... " ucap Zie kikuk, ia bingung harus bagaimana menceritakannya kepada sang Papi.


Tuan Prabu mengangkat satu alisnya melihat ke gugupan sang putri. baru kali ini putrinya bersikap malu malu seperti itu.


"Apa cincin itu dari Darren....?? ". tanya Papi Zie memastikan dan Zie pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil menunduk.


Zie takut Papinya kecewa karena Zie menerima lamaran dari Darren tanpa meminta persetujuan dari Papinya terlebih dahulu. tapi di luar ekspektasi Zie tenyata Papiny malah tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Zie.


"Ternyata hubungan kalian sudah sejauh itu." ucap Tuan Prabu. " selamat ya sayang.....," Tuan Prabu membawa Zie kedalam pelukannya. "Papi ikut senang kalau putri Papi bahagia. ternyata Darren menunjukkan keseriusannya dengan melamarmu. " ucap Papi Zie lagi.


Tidak terasa putri kecilnya dulu sekarang sudah dewasa, baru sebentar rasanya Tuan Prabu menghabiskan waktu bersama dengan putrinya tapi ia harus merelakan Putrinya untuk menjadi pendamping hidup orang lain dan meninggalkannya lagi.


"makasih Pi..... " jawab Zie tersenyum bahagia.


"Papi tunggu kedatangan pemuda itu untuk melamarmu secara resmi kepada Papi. " ucap Tuan Prabu lagi ikut tersenyum bahagia.


Zie dan Papinya memutuskan untuk kembali kerumah karena matahari sudah mulai beranjak tinggi. begitu sampai di rumah, ternyata sudah ada seorang pemuda tampan yang duduk menunggu di teras rumah.


"Arion...... " gumam Zie kaget melihat keberadaan calon adik iparnya ini.


pasalnya kedatangan Arion tidak mengabari Zie sama sekali.


"Hay Zie..... " sapa Arion tersenyum tampan.


Setelah kepulangan Zie waktu itu Arion datang ke hotel untuk menemui Zie, sayangnya Zie sudah lebih dulu cek out sebelum Arion datang. akhirnya Arion kembali ke kantornya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk, keesokkan harinya Arion mendapat kabar bahwa sang Kakak ternyata juga Pergi ke negara N alhasil setelah mengerjakan pekerjaannya seharian Arion memutuskan untuk menyusul Zie ke negara N. ia menyerahkan semua pekerjaannya yang tersisa kepada Asisten baru pengganti Chen.


Dan disini lah Arion berada sekarang, menyambangi rumah pujaan hatinya pagi pagi. untung dulu Arion pernah mengantar Zie pulang sampai kerumahnya, sehingga ia tidak bersusah payah mencari alamat rumah Zie.


" Rion....., sejak kapan lo ada disini?? ". tanya Zie menghampiri Arion.


sepedanya dan sepeda yang di gunakan papinya langsung di urus penjaga untuk di bersihkan dan disimpan kembali ke garasi khusus sepeda.


" belum lama ko....., "jawab Arion berbohong.


tadi setelah Zie pergi tidak lama kemudian Arion datang. penjaga gerbang memberitahu Arion bahwa Nona mudanya baru saja pergi untuk berolah raga, jadi Arion meminta ijin untuk menunggu Zie. penjaga gerbang yang pernah melihat Arion bersama Zie akhirnya menyuruh Arion masuk dan menunggunya di dalam. jadi sudah dua jam lebih Arion menunggu Zie kembali.


"Siapa sayang...... " tanya Tuan Prabu kepada Zie sambil melepas kacamata hitam yang masih bertengger diatas hidungnya.


"Dia Arion Pi....., adiknya Kak Darren. " jawab Zie beri tahu.


"Tuan Prabu. " gumam Arion Kaget melihat pembisnis handal yang ada di hadapannya. yang membuatnya lebih kaget adalah panggilan Zie kepada Tuan Prabu.


Jujur saja Arion sampai sekarang belum tahu siapa sebenarnya Zie, saat kejadian malam itu dimana Arion mengetahui Nona Kei adalah Zie, Zie sama sekali belum menjelaskan apa apa kepadanya.


Tuan Prabu memang low Profil tapi Arion dulu pernah bertemu dengan pembisnis yang terkenal dimana mana ini secara langsung.


"Arion....,? wah ternyata kamu sudah besar dan juga tampan seperti Darren. dulu saya pernah ketemu sama kamu saat kamu masih remaja. " ucap Papi Zie.


"iya Tuan Prabu.... " Jawab Arion lalu menyalami Papi Zie.


"kamu ternyata masih mengingat saya ya....??, " tanya Papi Zie tersenyum tipis lalu menepuk nepuk bahu Arion." ayo masuk... " ajak Papi Zie kepada Arion. Arion hanya tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.


kedua Laki laki beda generasi itu berjalan masuk kedalam rumah di ikuti Zie yang berjalan di belakangnya.


Zie dan Arion duduk di ruang tamu, sedangkan Tuan Prabu pamit masuk lebih dulu untuk membersihkan diri.


"Zie.... aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Arion mengawali pembicaraan mereka. Zie diam menyimak apa yang akan di ucapkan oleh adik dari kekasihnya ini. "jujur sejak awal kita bertemu, aku sudah memiliki ketertarikan sama kamu Zie. aku merasa sangat nyaman saat bersama kamu. seiring berjalannya waktu dengan kedekatan kita lama kelamaan rasa ketertarikan dan kenyamanan itu berubah menjadi rasa suka dan sayang yang begitu besar sama kamu. mungkin aku terlambat mengungkapkan perasaanku sama kamu saat ini tapi tolong, beri aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa rasa sayang dan cintaku padamu lebih besar dari siapapun." ucap Arion dengan serius.


Zie masih terdiam bingung. ia tidak tau harus menjawab apa. jujur saja, ia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih kepada Arion.


tiba tiba Arion turun dari duduk nya dan berlutut di hadapan Zie. ia menggengam kedua tangan Zie sambil menatap Zie dengan wajah penuh permohonan.


"Rion... apa yang kamu lakukan.... " kaget Zie, ia berusaha melepas tangannya dari genggaman tangan Arion tapi tidak bisa.


"Aku mohon Zie...., beri aku kesempatan. " ucap Arion lagi memohon.


"tolong jangan seperti ini Rion, Ayo bangun..... " ucap Zie yang merasakan tidak enak.


"enggak...., aku akan terus seperti ini sampai kamu memberiku kesempatan itu. " tetap Arion pada keinginannya.


"Rion...., ll pasti sudah tau kan kalau gue sekarang ini adalah kekasih dari kakak lo Darren." ucap Zie mencoba memberi pengertian.


"aku tau...., aku memang bodoh karena dari dulu aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku sama kamu karena aku tidak siap jika kamu menolak ku dan akhirnya menjauh dari ku dan sekarang aku di tikung oleh kakakku sendiri. asal kamu tau kak Darren tidak tulus mencintai kamu. " ucap Arion


deg.....


"Apa maksud mu.......? " tanya Zie tidak mengerti.


.


.


.


.


.


bersambung.....


.


.


.


.


.