Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Kepergian Daren



Seperti yang Daren bilang kemarin, hari ini ia akan pulang ke negaranya sendiri. Daren, Zie dan Marvin kini berada di sebuah mobil alph*rd berwarna putih yang interior dalam nya sudah di ganti dengan interior yang cukup mewah sehingga membuat penumpangnya merasa sangat nyaman. kali ini Zie membawa seorang supir untuk mengemudikan mobilnya agar mereka bertiga bisa duduk santai bersama sepanjang jalan menuju bandara sebelum mereka berpisah.


"Zie....sejak kapan lo pake Anting berbentuk ular kaya gitu?? cuma sebelah lagi?? tapi kok malah kleihatan keren ya??." tanya Marvin sekaligus memuji.


memang benar Anting pemberian Daren terlihat pas ketika di pakai oleh Kenzie. walaupun cuma sebelah tapi hal itu malah terlihat keren tapi juga elegan.


"sejak kemarin...., bagus nggak??". tanya Zie."ini hadiah dari kak Daren loh." ucap Zie dengan senangnya.


"Bagus...cocok banget di pake sama lo". jawab Marvin."ko cuma Zie aja sih yang dapat hadiah, gue mana kak??". tanya Marvin sambil memanyunkan bibirnya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk membuat Daren dan Kenzie tertawa lucu.


"Lihat Zie.... adikmu sedang ngambek gara gara tidak di bari hadiah." ucap Daren mengejek


"enak aja...., gue kakaknya bukan adiknya." sahut Marvin tak terima di sebut sebagai adeknya Zie.


"masa sih..... tapi kamu lebih pantas jadi adeknya Zie deh kayanya." ucap Daren lagi.


"ow...tidak bisa..., gue itu kakanya Zie karena gue lebih tua jika dibandingkan dengan Zie." ucap Marvin yang tidak mau bila di sebut sebagai adiknya Zie.


"ok ok..... kakak yang ngambekan, aku punya sesuatu buat kamu." ucap Daren terkekeh lalu mengluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.


Sebuah kalung panjang berbahan titanium dengan liontin berbentuk persegi panjang seperti batu giok yang cukup unik berwarna hitam. jangan di tanya berapa harganya karena kalung itu salah satu koleksi Daren yang cukup berharga yang ia dapat dari negara C.


"Wiiih......., ini buat gue kak....??" tanya Marvin ketika Daren menyodorkan kalung itu kearah Marvin.


"hm..... kalau kamu suka pakai saja. kalau ngga suka cukup kamu simpan sebagai kenang kenangan." jawab Daren tersenyum tipis.


"Terimakasih kak......, ini sangat bagus,".ucap Marvin lalu memakai kalung itu.


"Keren......." ucap Zie melihat kalung yang sudah tergantung di leher Marvin.


Mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai di Bandara. disana sudah ada Asisten Daren yang sudah menunggu dan menyambut kedatangannya.


"Tuan......," sapa Asisten itu seraya membungkukkan setengah badannya memberi hormat begitu melihat Daren turun dari dalam Mobil di susul Zie dan Marvin.


"kau sudah menyiapkan semuanya??".tanya Daren kepada Asistennya.


Raut wajah yang tadi terlihat hangat dan murah senyum sekarang berubah menjadi raut wajah tegas dan berwibawa. sangat terlihat sekali aura kepemimpinan dari diri Daren.


"Sudah tuan....., pesawat sudah siap untuk lepas landas" jawab Sang asisten.


Daren akan kembalinke negaranya dengan menggunakan jet pribadi jadi ia tidak perlu membeli tiket terlebih dahulu dan mengantri seperti para penumpang pesawat biasanya.


"Zie, Marvin....., kakak pergi dulu ya?? jaga diri kalian baik baik, kasihan tau kakak kalau kalian ingin berkunjung ke Korea. kakak pasti akan menjemput kalian." ucap Daren kepada Zie dan Marvin.


"ya Kak...., kami pasti akan mengabari kakak jika ingin berkunjung kesana." jawab Marvin.


"ya kak...., kakak hati hati ya.., jaga kesehatan. ingat luka kakak belum sembuh benar." ucap Zie.


"hm.... kau juga....,". jawab Daren. " Boleh kakak peluk kamu??". tanya Daren dan Zie pun tersenyum lalu mengangguk.


Daren lalu merengkuh tubuh kecil Zie kedalam pelukannya.


" Terimakasih untuk semuanya Zie..., kakak pasti akan merindukan mu." ucap Daren lirih tapi masih bisa didengar oleh Zie. sebelah tangsn Daren membelai dengan sayang rambut hitam panjang Zie yang tergerai indah.


"sama sama kak...., jangan lupain kita ya??" ucap Zie memeluk erat tubuh tinggi dan Kekar Daren.


"tidak akan....." ucap Daren.


keduanya lalu melepas pelukan dan saling melempar senyum. kini Daren berpindah memeluk Marvin dan menepuk punggung Marvin pelan.


" jagain Adekmu...., kalau ada apa apa kabari kakak." ucap Daren saat memeluk Marvin.


"iya Kak...., hati hati ya...." jawab Marvin.


"Hm....." gumam Daren sambil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


keduanya lalu melepas pelukan mereka.


Daren pun mulai melangkah pergi meninggalkan Marvin dan Kenzie di ikuti Asistennya yang berjalan di belakang Daren. Entah kapan mereka bisa bertemu kembali yang pasti suatu saat nanti Daren akan datang untuk menemui malaikat penolongnya lagi.


"Daaaah Kak......, sampai jumpa....." teriak Zie sambil melambaikan tangannya ketika Daren sudah berjalan dan mulai menjauh.


"Yuk pulang....." ajak Zie kepada Marvin. Marvin mengangguk dan keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar Bandara.


"Zie...bisakah kau memanggilku dengan sebutan Kakak juga.....??". tanya Marvin sambil merangkul pundak Zie.


"Kenapa??". tanya Zie bingung karena tiba tiba Marvin memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Ya nggak Papa....., gue kan kakak lo.jadi lo harus manggil gue kakak dong. gua nggak mau ya orang orang ngira kalau gue adek lo kaya Kak Daren bilang tadi." jawab Marvin.


"Diiih......., gitu aja laper." sahut Zie.


"BAPER Zieeee.... bukan Laper." ralat Marvin.


"ya itu maksud gue." ucap Zie


"pokoknya mulai sekarang lo harus panggil gue Kakak. titik.!!" ucap Marvin tak mau di bantah.


"Lah...ko maksa??". jawab zie


"pokoknya gue kakaknya dan lo adek gue karena gue udah nyaman seperti itu.!!" tegas Marvin.


"iya iya.... gue panggil lo kakak mulai sekarang." jawab Zie mengalah.


"Nah gitu dong......, itu baru namanya adik yang baik....." jawab Marvin tersenyum senang


"Tapiiiii............." ucap Zie mengaja menggantung.


"Tapi apa??". tanya Marvin penasaran.


"Tapi kalau gue nggak lupa ya, soalnya kan gue nggak biasa manggil lo kakak.". ucap Zie.


"iya.... pelan pelan aja nanti lama lama juga terbiasa." jawab Marvin.


keduanya lalu masuk kedalam mobil setelah di bukakan pintunya oleh Supir yang tadi mengantar mereka. keduanya duduk bersebelahan di kursi penumpang yang sangat nyaman itu.


"ke AK Cafe ya Pak.....," ucap Zie kepada sang Supir.


"Siap Nona......"jawab Sang supir lalu melajukan mobilnya secara bertahan meninggalkan Bandara.


"Kenapa Kesana sih Zie, inget luka di lenganmu masih baru loh. mending pulang aja ya?? istirahat di rumah." bujuk Marvin yang sebenarnya kurang setuju jika Zie pergi Cafe untuk mengecek kerjaannya mengingat lengan Zie yang sedang terluka


"Bentar doang Vin...., nanggung mumpung udah di luar sekalian. lagian kerjaannya nggak berat ko." jawab Zie


"Kakak Zieee..... KAKAK....!!.". ralat Marvin mengingatkan Zie agar memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Iya kak Marvin........". ucap Zie menuruti kemauan Marvin.


"gue tau kerjaannya nggak berat, yang gue takutkan lo banyak gerak dan membuat lukanya kembali terbuka." ucap Marvin.


"iya kak....., nanti gue nggak banyak gerak deh. cuma memantau aja.kan ada lo yang bisa bantuin gue??". jawab Zie.


Marvin hanya mengangguk tanda bahwa ia siap untuk membantu Zie. tak lama mobil yang mereka naiki akhirnya sampai di pelataran AK Cafe. Sang sopir langsung turun begitu mobil berhenti untuk membantu membukakan pintu mobil bagi kedua majikannya.


.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


.