Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Makan siang



Pekerjaan Zie di kantor tidak terlalu banyak, bahkan bisa di katakan jika hari ini ia lebih santai dari hari biasanya karena ada Marvin yang sudah mulai bekerja.


Zie berteriak 'masuk' saat ada yang mengetuk pintu ruangannya. setelah pintu terbuka masuklah Marvin yang berjalan dengan gagah dengan stelan jas yang membalut tubuhnya menghampiri Zie yang masih duduk di kursi kebesarannya.


"Apakah Nona Kei memiliki banyak pekerjaan hari ini, sepertinya anda sedang sangat sibuk sekali sampai lupa kalau sudah saatnya jam makan siang. "ucap Marvin lalu sedikit duduk di tepi meja kerja Zie.


"Hei... ini masih kurang setengah jam lagi untuk makan siang." jawab Zie sambil melihat jam tangan mahal berwarna hitam yang melingkar di tangannya. "apa anda sudah sangat kelaparan Tuan Ma, sehingga anda memilih makan siang lebih awal??". ucap Zie balas mencibir Marvin.


Marvin terkekeh, adiknya ini selalu saja bisa berdebat dengannya.


" Aku hanya ingin mengajak Nona Kei untuk makan siang bersama. " jawab Marvin


"Terimakasih banyak Tuan Ma..., Tapi maaf sekali karena Nona Kei ini sudah memiliki janji untuk makan siang bersama Tuan Darren. " ucap Zie sambil tertawa karena melihat wajah Marvin cemberut.


"ck... dasar bucin. " Decak Marvin. "Mentang mentang sudah punya kekasih, sekarang kakaknya sendiri di abaikan. " Marvin pura pura merajuk. sebenarnya ia merasa sangat senang karena Zie akhirnya menemukan kebahagiannya sendiri.


"lo yang lebih dulu bucin.....!!." sanggah Zie. "lagian kenapa lo malah ngajak gue sih?? kanapa nggak ngajak Kakak ipar untuk makan siang bareng lo??." tanya Zie


"Males..... " Jawab Marvin singkat padat dan jelas.


"Astaga.... kalian itu masih pengantin baru, kanapa sudah ada kata malas di antara kalian." ucap Zie bingung.


harusnya pengantin baru itu masih mesra mesranya tapi apa yang kakaknya bilang tadi? 'Malas' ? sepertinya ada yang tidak beres dalam pernikahan kakaknya itu.


"Entah lah Zie..., makin kesini Cerry semakin menunjukkan sifat aslinya yang membuat gue nggak nyaman. " jawab Marvin yang membuat Zie langsung menyenderkan dirinya di kursi kebesarannya sambil menatap serius kearah Marvin.


"Apa ini Kak.....?, " Tanya Zie. "lo harusnya lebih dewasa menanggapi sikap Cerry. dalam pernikahan, lo nggak boleh cuma menerima kelebihan pasangan lo sendiri tapi lo juga harus menerima kekurangannya. tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, jadi lo harus saling melengkapi satu sama lain dan saling mengisi kekurangan itu sendiri agar menjadi sempurna. kalau memang lo nggak suka dengan sikap Cerry, setidaknya lo berusaha sedikit demi sedikit untuk merubahnya. kasih pengertian dan satu lagi jangan meninggikan suara lo saat berbicara dengannya. lo tau sendiri kakak ipar itu mudah tersinggung."ucap Zie memberi nasehat kepada Marvin.


sebenarnya dalam penilain Zie baik Marvin maupun Cerry sama sama keras kepala dan memiliki ego yang tinggi. bedanya, Marvin bisa sedikit bersikap dewasa sedangkan Cerry tidak.


"Kau benar Zie...., sepertinya lo lebih bijak dan sudah siap membina rumah tangga. sebaiknya jangan di tunda lagi toh sudah ada pasangan yang pastinya juga siap untuk menikahimu. "jawab Marvin sengaja menggoda Zie.


tapi apa yang Zie katakan memang benar. mungkin ia harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi sikap Cerry. seperti biasa Zie selalu bisa membuat Marvin berpikir secara terbuka.


" ish... kau ini.... " sahut Zie memukul lengan Marvin.


"aw.... Aduh...... " sahut Marvin mengusap lengannya yang terasa panas akibat pukulan Zie. tapi ia juga tertawa melihat wajah Zie yang memerah.


terdengar dering HP Zie yang tergeletak diatas meja kerjanya, Zie segera mengambil dan menerima panggilan itu yang ternyata dari Darren.


"Hallo Kak..... " jawab Zie. ia terdiam sesaat mendengarkan Darren berbicara di seberang telepon. "Baik lah...., kalau begitu aku akan turun kebawa sekarang dan menunggu kakak di Lobi. sampai jumpa." ucap Zie lalu mematikan sambungan telepon.


"ada apa Zie....?? " Tanya Marvin ingin tau.


"Kak Darren sebentar lagi akan datang menjemputku untuk makan siang bersama. jadi gue mau nunggu dia di lobi, lo mau ikut?? " tanya Zie.


"gue ikut turun kebawah tapi gue mau makan siang sendiri saja nanti, gue nggak mau jadi obat nyamuk di antara kalian. " jawab Marvin terkekeh.


Mereka berdua lalu keluar dari dalam ruangan Zie dan langsung di sambut Asisten Mif serta Sekertaris Andre yang baru saja sampai di depan pintu ruangan Zie karena memang sudah waktunya jam makan siang.


"Mita...., gue mau makan siang di luar....


"Bareng pacar.... " sahut Marvin memotong ucapan Zie.


"ish..., bisa diem nggak lo.... "ucap Zie melotot kepada Marvin. Marvin hanya tertawa saja karena senang bisa menjahili Zie.


" gue mau makan di luar, jadi jika ada sesuatu yang penting segera hubungi gue.... " ucap Zie melanjutkan kata katanya tadi.


mereka sekarang berjalan menuju lift khusus yang anak membawa mereka. di depan Lift itu sudah ada Asisten Rizky dan juga sekertaris Sisi yang berdiri menunggu kedatangan mereka semua.


"Siap Nona.... " jawab Asisten Mif


"Tenang saja Nona Bos...., kan sudah ada Tuan Ma.... jadi Nona Bos bisa sedikit bersantai. " jawab Andre menggoda.


"Kau benar...., sekarang kan sudah ada Tuan Ma. jadi gue bisa bersenang senang. " ucap Zie terkekeh.


"Hey...., kalian bersekongkol untuk membuat ku sibuk sendirian dengan tumpukan berkas berkas itu hah.....??." ucap Marvin bersungut sungut.


"itu memang sudah tanggung jawab lo kak...., karena tanda tangan lo di perlukan di sana. coba saja kalau berkas itu membutuhkan tanda tangan gue doang, pasti semuanya sudah beres dan lo bisa bersantai di hari pertama masuk kerja. " jawab Zie tertawa riang.


Mereka semua lalu masuk kedalam Lift yang akan membawa mereka turun menuju lobi.


setelah sampai di bawah Zie dan yang lainnya berjalan bersama menuju pintu utama karena Zie melihat Mobil mewah Darren yang ternyata sudah ada di depan pintu. mereka semua akan makan siang di restoran yang ada di dekat kantor, berbeda dengan Zie yang masuk kedalam mobil setelah Darren sendiri membukakan pintunya untuk Zie.


"Mau makan siang dimana kak.....?? " tanya Zie.


mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah keramaian jalan raya di kota itu.


"Di sini tidak ada restoran terbaik yang melebihi kenangan resto, jadi kita makan siang di sana saja bagaimana?? " tanya Darren.


"boleh....., " jawab Zie tersenyum. "Apa kita perlu reservasi tempat dulu??" tanyanya lagi.


"Boleh saja....., bisa jadi restoran saat ini sedang ramai pengunjung apalagi di jam makan siang seperti ini. " Jawab Darren yang membuat Zie terkekeh.


"jangan khawatir kak..... kau ke sana bersama dengan pemilik restorannya. jadi tidak akan mungkin kehabisan tempat karena aku punya tempat khusus di sana. " ucap Zie tertawa ceria.


"oiya.... aku hampir melupakan kalau kau adalah pemilik restoran terbaik di kota ini. " jawab Darren tersenyum tampan.


tak lama mereka pun sampai di kenangan resto. di sana memang terlihat banyak pengunjuk memenuhi tempat duduk di lantai satu. Darren dan Zie naik ke lantai atas dimana ruang khusus yang Zie miliki berada dengan menggunakan lift. baru saja Zie dan Darren keluar dari dalam lift begitu pintunya terbuka mereka langsung ketemu dengan Zio dan juga Gerry yang sepertinya akan makan siang bersama dia sana.


"Zie...., kebetulan kita ketemu di sini. gue mau ngomong sesuatu sama lo. " ucap Zio.


"Gue juga mau ngomong sesuatu sama lo Zie. " sahut Gerry.


Zie dan Darren saling pandang satu sama lain merasa bingung dengan situasi ini.


"Begini saja...., kita mau makan siang dulu. ngomongnya abis makan aja siang bisa kan??". tanya Zie


" Bisa...., kalau gitu kita makan bareng aja. " jawab Zio.


"iya bener tuh..., kita makan bareng aja biar rame. " Gerry menambahi.


Zie kembali menoleh kepada Darren, tapi yang di tatap hanya memasang wajahnya yang datar. Darren sengaja karena ingin mengetahui seberapa peka Zie dengan keinginannya yang tidak suka jika waktu kebersamannya di ganggu orang lain.


"Maaf Zio, Gerry...., gue udah ada janji sama Kak Darren. mungkin lain kali saja makan siang bersamanya. kalau begitu gue permisi dulu ya, nanti kita ketemu lagi di taman samping restoran...... " tolak Zie secara tegas lalu menarik tangan Darren pergi dari hadapan Zio dan Gerry.


Darren tersenyum tipis merasa senang karena Zie ternyata tau apa yang ia mau meski tidak mengatakannya.


kini gantian Zio dan Garry yang saling mandang satu sama lain melihat Zie menggandeng tangan Darren.


"Memangnya yang sama Zie itu siapa Yo? bukan pacarnya Zie kan? " tanya Gerry kepada Zio.


"setau gue dia itu rekan bisnis papinya Zie." jawab Zio. " sudah lah...., ayo kita makan siang dulu sebelum bertemu dengan Zie nanti. " ajak Zio kepada Marvin.


Mereka pun lalu pergi ke ruang yang memang sudah mereka pesen sebelumnya.


.


.


.


.


Bersambung....


.


.


.


.