
Setelah menghabiskan waktu bersama Zie beberapa hari ini kini tiba saatnya Darren untuk kembali ke negaranya. sebelum pergi ia menyempatkan diri menyambangi kediaman Zie untuk makan malam bersama sekaligus berpamitan kepada keluarga Zie. Darren memilih penerbangan malam dengan menggunakan pesawat Pribadinya sendiri.
awalnya Zie ingin mengantar Darren ke bandara tetapi Darren melarangnya karena ini sudah cukup malam mengingat perjalanan dari rumah Zie ke bandara juga cukup jauh. akan menghawatirkan membayangkan Zie pulang malam dari bandara seorang diri.
Darren pergi ke negaranya sendiri dengan tekat yang bulat untuk memberitahu hubungannya dengan Zie kepada Arion. beberapa kali ia mencoba menanyakan perasaan Zie kepada Arion secara tidak langsung untuk memastikan bagaimana perasaan Zie terhadap Arion sebenarnya dan setelah mendengar jawaban dari Zie, Darren semakin yakin bahwa Zie tidak memiliki perasaan apapun kepada Arion. Zie hanya menganggap Arion teman biasa tidak lebih.
"Om...., Darren pamit dulu ya.... " ucap Darren kepada Om Prabu lalu menyalaminya.
mereka semua kini berada di luar rumah tepatnya di depan pintu utama kediaman Zie.
"Ya...., kamu hati hati di jalan ya Darren. " jawab Om Prabu sambil menepuk bahu kekar Darren dan Darren menganggukkan kepalanya
"Marvin...., Cerry...., gue pamit dulu. " ucap Darren kepada sepasang suami istri itu. ia juga bersalaman dengan Marvin ala ala cowok. tapi tidak bersalaman dengan Cerry juga. Darren hanya menyapanya saja dan Cerry menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Hati hati di jalan Kak...., jangan lama lama di sana, nanti ada yang kangen kalau lo lama nggak balik lagi kesini. " jawab Marvin menyindir Zie sambil tersenyum jail membuat Zie merasa malu sedangkan Papinya dan Darren hanya tersenyum mendengar ucapan Marvin.
"Memang siapa yang bakalan kangen Vin??". tanya Papinya ikut menjahili Zie dengan pura pura tidak tau.
" Siapa lagi kalau bukan putri kesayangan Papi itu tuh.... " jawab Marvin nyengir sambil mengusap usap lengannya yang terasa sakit dan panas karena langsung mendapat cubitan keras dari Zie di lengannya. kebetulan Zie memang berdiri di sebelah Marvin.
" Papi,kakak...!!apa'an sih.....". sahut Zie malu.
Darren ikut tersenyum dan melangkahkan kaki mendekat kearah Zie. ia pasti akan sangat merindukan gadis kecil yang sudah menjadi kekasihnya ini.
"Kakak Pergi dulu ya....., jaga dirimu baik baik selama kakak tidak ada di dekatmu. " ucap Darren sambil mengusap rambut panjang Zie penuh kelembutan dan kasih sayang. Zie menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kakak juga...., jaga diri kakak baik baik dan hati hati di jalan...., jangan lupa selalu kabari Zie." ucap Zie dan Darren pun mengangguk serta tersenyum tampan.
Darren sudah terbiasa bepergian jauh hingga keluar negeri tapi entah mengapa kali ini ia merasa berat meninggalkan negara ini.
"Kakak pasti akan sangat merindukanmu. " ucap Darren lalu mencium kening Zie dengan sayang.
tentu saja hal itu membuat Zie merasa sangat malu karena Darren melakukannya tepat di hadapan Papi dan kakaknya. biasanya Darren melakukan itu ketika mereka berada di dalam mobil atau di ruangannya berbeda dengan saat ini.
setelah berpamitan dengan semuanya, Darren masuk kedalam mobilnya dan berlahan pergi meninggalkan kediaman Zie.
sedangkan Zie dan keluarganya berjalan masuk kedalam rumah mereka setelah mobil mewah yang di kendarai Darren sudah tidak terlihat lagi.
"Sepertinya Papi harus segera menikahkan Zie dan kak Darren deh. liat kan tadi..., di depan kita aja Kak Darren berani cium Zie secara terang terangan di hadapan kita Pi... " ucap Marvin kembali menyindir Zie membuat wajah Zie memerah lagi karena malu.
"Kamu benar Vin...., bisa bahaya lama lama kalau di biarkan begitu saja. " jawab Papi menimpali perkataan Marvin sambil menahan senyumnya.
"iya Pi.... apalagi mereka tidak akan bertemu dalam beberapa hari ke depan. bisa gawat nanti kalau mereka bertemu kembali. " sahut Marvin berusaha untuk tidak tertawa melihat Zie hanya menundukkan wajahnya.
"lalu menurut kamu, Papi harus bagaimana Vin??. " tanya Papi
"Sebelum Kak Darren datang melamar Zie, Papi harus melarang mereka untuk bertemu kembali. bagaimana Pi...??. " tanya Marvin. "soalnya Marvin liat sepertinya ada yang sudah siap untuk menikah disini. " ucap Marvin lagi menggoda Zie.
"Kakak, Papi... apa'an sih....., jahat banget dari tadi godain Zie mulu. " rengek Zie sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.
Marvin dan Papinya tertawa bersama melihat Zie yang bisa bertingkah malu malu seperti itu. sangat lucu menurut mereka. Zie bahkan langsung mencegah Marvin saat ia akan berbicara lagi.
"Stop kak.....,!!". gue tau lo mau ngomong apa tapi maaf gue nggak mau denger. " ucap Zie sambil mengarahkan telapak tangannya ke depan Marvin.
"Pi...., Zie ke kamar du lu ya..., Dah Papi, dah semuanya..... " pamit Zie lalu buru buru berjalan menaiki anak tangga dengan sedikit berlari.
"Woy.... jangan kabur lo.... " sahut Marvin terkekeh.
"Sayang... hati hati naik tangganya." seru Papi memperingatkan Zie saat menaiki tangga.
Zie tidak menjawab ucapan itu tapi ia langsung mengurangi kecepatannya dalam menaiki anak tangga. begitu masuk kedalam kamarnya ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju. setelah selesai, ia berjalan mendekati ranjang yang berukuran King size miliknya lalu merangkak naik ke atasnya. Zie duduk bersandar lalu meraih boneka kelinci yang lucu berwarna putih bersih dan berbulu lembut pemberian Darren.
"Aku pasti juga akan sangat merindukanmu Kak. " gumam Zie sambil mendekap erat boneka kelincinya sambil memejamkan matanya.
"Haaah......, memeluk boneka kelinci ini tidak senyaman saat memelukmu Kak. " ucap Zie sambil menghela nafasnya. " semoga urusan mu di sana cepat selesai dan segera kembali kesini lagi. baru beberapa menit yang lalu Kak Darren pergi tapi aku sudah merindukannya. apa jadinya kalau di pergi dalam waktu yang cukup lama.??" ucap Zie sambil memanyunkan bibirnya hingga maju lima senti.
"Hay kelinci...., berapa lama Tuanmu berada di negaranya sendiri?? tadi dia tidak mengatakan padaku kapan dia akan pulang kesini?? lihat saja kalau dia lama berada di sana, aku pasti akan menyusulnya dan membawanya kembali." Zie berbicara kepada boneka kelincinya seolah boneka itu mahluk hidup yang bisa mendengarkan dirinya berbicara.
"haiisss....... kenapa kau malah memejamkan matamu seperti itu??" ucap Zie yang masih menatap bonekanya dan mengajaknya berbicara kembali. "apa kau sudah mengantuk?? aku juga sudah mengantuk. baiklah kalau begitu kita tidur saja sekarang. " ucap Zie lagi.
ia lalu merebahkan dirinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih setia memeluk boneka kelinci itu kedalam dekapannya. tak butuh waktu lama, Zie pun langsung terlelap dan pergi ke alam mimpinya.
.
.
.
.
. bersambung....
.
.
.
.