Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Kedatangan Arion Kembali



Ken langsung beranjak dari duduknya ketika melihat Zie turun dari dalam mobil dan berjalan kearahnya. ia juga melangkahkan kakinya kearah Zie dan langsung menarik Zie kedalam pelukkan nya mengurai rasa kekhawatiran yang ia rasakan sedari tadi. Ken cukup lega melihat Zie baik baik saja meski ada beberapa lebam di wajahnya yang sudah sedikit samar.


"Lo baik baik aja kan Zie?? gue khawatir banget sama lo?? gimana ceritanya lo bisa di culik.? " tanya Ken setelah melepas pelukkan nya. ia bertanya dengan tangan yang terulur mengusap sayang puncak kepala Zie.


Berbeda dengan Zio yang hanya bisa memandang lekat kearah Zie, ia sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Zie sama seperti Ken. ingin rasanya Zio memeluk Zie seperti apa yang di lakukan Ken saat itu tapi ada kecanggungan di diri Zio karena masalalu yang terjadi di antara dirinya dan Zie sehingga membuat Zio tidak bisa sedekat dulu.


"Gue baik baik saja Ken, thanks ya udah khaawatirin gue. " jawab Zie tersenyum manis.


"syukurlah kalau lo baik baik saja Zie. " ucap Zio tersenyum tampan. ken dan Zio sudah merasa lega sekarang.


hati Zie menghangat mendapat perhatian kecil dari sahabat baiknya, sedari dulu Ken memang sangat baik dan perhatian dengannya. begitu juga dengan Zio yang sama baiknya seperti Ken, tapi setelah kejadian di antara Zio dan Zie beberapa tahun silam membuat jarak di antara keduanya.


Zie lalu mengajak kedua sahabatnya untuk masuk kedalam rumahnya, tidak lupa Zie juga mengajak Darren bersama mereka juga.


kini mereka semua duduk di taman belakang sambil mendengarkan cerita Zie kenapa bisa ia menjadi korban penculikan.


Ada rasa tidak suka di hati Zio ketika mendengar Zie begitu membanggakan Darren karena sudah banyak membantu Zie dan Papinya. seolah Darren lah yang mejadi pahlawan penyelamat Zie saat itu.


"(Kalau gue tau lo di culik, gue juga bakal ngelakuin hal yang sama seperti yang dia lakuin Zie.) " kesal Zio dalam hati.


ia lupa dengan kejadian dulu dimana Zio yang malah pergi meninggalkan Zie sendirian saat Zie membantunya melawan preman yang mengeroyoknya dan juga Cerry. padahal saat itu Zie benar benar dalam bahaya sehingga mendapat luka sayatan pisau tapi Zio malah meninggalkan Zie begitu saja.


lain orang lain hati, pemikiran Ken berbeda dengan Zio. Ken justru merasa bahwa Darren adalah orang yang tepat untuk Zie karena Darren mampu melindungi Zie dari orang orang yang ingin mencelakai nya. meskipun belum lama ia mengenal Darren tapi Ken bisa menilai bahwa Darren adalah orang baik. Ken harap Tuhan memang mengirim Darren untuk menjadi pasangan hidup sahabat baiknya ini.


"Tuan Darren...., terimakasih banyak karena sudah membantu Om Prabu untuk menyelamatkan sahabat saya." Ucap Ken dengan tulus.


"sama sama...., " jawab Darren tersenyum tipis. "jangan panggil saya Tuan...., itu terlalu Formal. panggil nama saja. " pinta Darren. ia merasa tidak nyaman dengan teman Zie yang bersikap formal kepadanya.


"em... kalau begitu, aku panggil kakak juga ya?? sama seperti Zie memanggil anda. " tawar Ken.


"Boleh..... "jawab Darren.


Mereka lalu terlibat obrolan ringan dengan sesekali melontarkan candaan satu sama lain dan tertawa bersama. Darren beberapa kali menangkap gelagat tatapan tidak suka dari Zio yang di layangkan untuknya. berbeda dengan Ken yang terlihat cukup bersahabat dengannya. entah lah, Darren sendiri tidak tau menau kenapa Zio bersikap seperti itu kepadanya.ia memilih acuh saja tanpa mempedulikan sikap yang di tunjukkan oleh Zio.


..., _____, ______, ______,...


di sebuah bandara, seorang pemuda tampan baru saja turun dari pesawat pribadinya. tubuhnya yang tinggi, dengan kulit putih dan hidung yang mancung di lengkapi kacamata hitam yang bertengger di atasnya. ia melangkah dengan kaki panjangnya keluar dari area bandara. hatinya cukup merasa bahagia karena sudah berhari hari akhirnya ia bisa menginjakan kakinya lagi di negara yang sangat ia rindukan. bukan negaranya yang ia rindukan tapi lebih tepatnya seseorang yang tinggal di negara itu yang akhir akhir ini terus menghantui pikirannya. pemuda tampan itu adalah Arion.


"(gue udah nggak sabar buat ketemu sama lo Zie. gue yakin lo pasti akan terkejut dan berlari memeluk gue jika gue tiba tiba ada di hadapan lo. gue kangen banget sama lo)" gumam Arion dalam hatinya.


ia sampai tersenyum samar membayangkan hal hal yang akan terjadi antara ia dan juga Zie saat bertemu nanti. Arion lalu masuk kedalam sebuah taksi dan pergi ke apartemennya yang menjadi tempat tinggalnya selama di negara ini.


"(Sorry Kak..., aku pergi tanpa pamit sama kakak duluan. aku yakin kakak akan melarangku pergi jika aku pamit dulu sama kakak.) " gumam Arion lagi.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Arion hanya duduk diam sambil melihat kearah luar mobil menikmati pemandangan kota J yang sangat padat. sudah dua hari Zie tidak membalas pesan maupun mengangkat telepon dari Arion yang mana hal itu membuat ia merasa gelisah karena tidak biasanya Zie mengabaikannya seperti ini. alhasil Arion nekat datang kembali ke kota J tanpa ijin dari sang kakak untuk menemui Zie walau hanya sebentar.


"(semoga kamu baik baik saja ya Zie.....?) " batin Arion.


..., _____, ______, _______,...


"mbok Nah....., gimana kondisi nya A' Rizky?? " Tanya Zie begitu masuk kedalam ruang rawat Rizky. ia langsung meraih tangan mbok Nah dan mencium punggung tangan mbok Nah Takzim. begitu juga Darren yang mengikuti apa yang Zie lakukan.


tadi setelah makan siang bersama dengan Ken dan Zio, mereka berdua langsung pamit pulang sedangkan Zie langsung mengajak Darren untuk mengantarnya pergi menjenguk Rizky.


"kondisi aa' teh sudah baikan neng..., A' Rizky sudah di ijinkan pulang saat ini juga. " bukan Mbok Nah yang menjawab pertanyaan Zie tapi Rizky sendiri yang menjawabnya.


memang benar semua perlengkapan Rizky selama di rumah sakit sudah di kemas rapi dan di letakkan di atas sofa yang ada di ruangan itu. mereka sudah siap untuk pulang kerumah saat ini juga.


"Syukurlah kalau gitu..... berati Zie datang tepat waktu dong ya" jawab tersenyum.


"Neng Zie baik baik saja kan?? orang jahat itu tidak melukaimu kan?? " tanya Mbok Nah kepada Zie.


"iya Neng..., bagaimana kondisi Neng sendiri?? " Rizky juga ikut melontarkan pertanyaan kepada Zie.


Mbok Nah dan Rizky juga sangat khawatir ketika mendengar bahwa Kenzie telah di culik. seandainya saja Rizky tidak sedang sakit dan di rawat dirumah sakit, Mbok Nah tentu akan ikut dalam misi penyelamatan Zie kemarin.


Mang Diman memang sudah memberikan tahu bahwa Zie baik baik saja tapi baik Mbok Nah maupun Rizky belum bisa merasa lega jika belum melihat kondisi Zie secara langsung.


"Zie baik baik saja...., buktinya Zie bisa sampai sini sekarang. " jawab Zie. "ini sudah siap semua kan?? ayo, Zie bantu buat angkat ini. " ucap Zie sambil menunjuk tas yang berisi baju ganti.


"No...., biar kakak saja yang bawa ini. " sahut Darren merebut tas yang sudah ada di tangan Zie.


Zie tersenyum dan membiarkan Darren yang membawa tas itu. mereka lalu berjalan keluar dari ruang rawat Rizky untuk segera pulang. Zie dan Darren ikut mengantar Rizky sampai kerumah.


cukup lama Zie berada di rumah yang menjadi tempat tinggalnya sedari kecil hingga dewasa. ia dan Darren berada di taman belakang bermain main bersama Keara, putri samata wayang Mang Diman dan Mbok Nah. sedangkan Rizky sendiri harus istirahat didalam kamarnya.


Mbok Nah ikut tersenyum melihat ketiganya tertawa bahagia. mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil dimana Darren menjadi ayahnya, Zie menjadi ibunya dan Ara menjadi anaknya. benar benar terlihat sangat serasi.


"ibu kenapa berdiri di sini??". ucap Mang Diman yang entah datang dari mana, Mboh Nah sampai berjingat kaget mendengar suara tiba tiba itu.


" Ayah... bikin kaget saja... " ucap Mbok Nah memukul pelan lengan kekar Mang Diman. sedangkan Mang Diman hanya terkekeh melihat ekspresi lucu dari istrinya ini. Mang Diman lalu menarik Mbok Nah kedalam pelukkan nya dan mencium puncak kepala Mbok Nah dengan sayang.


"Kenapa Ibu nggak gabung sama mereka hm...?? malah senyum senyum sendiri di sini?? ibu nggak lagi kesambet kan?? " tanya Mang Diman setelah melepas pelukanya.


"enak saja kesambet....., ibu cuma lagi seneng aja melihat mereka yah. seperti keluarga kecil yang bahagia. sangat serasi. " ucap Mbok Nah mengutarakan pemikirannya.


"iya memang terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. tapi menurut Ayah kurang serasih bu, lihat Tuh Neng Zie dan Darren cantik dan tampan juga berkulit putih. sedangkan Arra, kulitnya sawo matang kaya kita." jawab Mang Diman jujur sambil terkekeh.


"Ayah kan cuma ngomong apa adanya Bu, tidak ada maksud menjelek jelekan Ara...," ucap Mang Diman. "lagian kulit ara itu eksotis sama kaya ibu yang malah terlihat seksi. " bisik Mang Diman di dekat telinga Mbok Nah yang mana membuat mbok Nah tersipu malu.


Mang Diman secara berlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Mbok Nah mengikis jarak di antara mereka.


"Ehm....... " suara deheman seseorang mengubah arah wajah Mang Diman dan Mbok Nah sehingga keduanya saling melengos kearah yang berlawanan.


tentu saja Mang Diman dan Mbok Nah jadi salah tingkah karena malu telah kepergok oleh Darren, Zie dan juga anaknya sendiri (Ara) . suara deheman itu berasal Dari Darren yang berdiri tepat di hadapan Mang Diman dan Mbok Nah. ia berdehem sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya untuk menahan tawa, sedangkan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menutupi kedua mata Zie, sedangankan tangan Zie sendiri di gunakan untuk menutup kedua mata Ara.


sungguh Mang Diman dan Mbok Nah benar benar merasa sangat malu saat ini. wajah keduanya sampai memerah bak kepiting rebus. bisa bisanya mereka malah bermesraan dan melupakan keberadaan Darren, Zie dan juga Ara yang tadi sempat menjadi bahan pembicaraan mereka.


"tolong jangan umbar kemesraan di hadapan kami..... " ucap Zie sambil menahan tawanya. ia sudah bisa melihat karena tangan Darren sudah terlepas dari kedua matanya. begitu juga dengan Ara yang juga sudah bisa melihat. Zie sengaja berkata seperti itu untuk menggoda mang Diman dan Mbok Nah.


"Kalau sudah berduaan seperti itu dunia serasa milik berdua ya?? yang lain terlihat tak kasat mata. " seloroh Darren ikut menghoda.


"Kalian ini nakal sekali. " ucap Mbok Nah malu.


Zie dan Darren tertawa bersama melihat Mang Diman dan Mbok Nah yang terlihat canggung.


"Kakak...., kenapa tadi mata Ara di tutup?? " tanya Ara dengan polosnya.


"Ah... itu... , tadi itu...... ada itu..... " jawab Zie gelagapan. ia tidak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan Ara.


"tadi ada debu beterbangan Ara, makannya mata Ara di tutup biar nggak kelilipan. " ucap Darren membantu Zie menjawab pertanyaan Ara.


"Ah... iya benar, tadi itu ada debu sayang. " ucap Zie juga agar gadis kecil itu mempercayai ucapan Darren.


"Owh.... ada debu ya kak. " ucap Ara mengangguk percaya ucapan Zie dan Darren.


terpaksa mereka berdua berbohong kepada Ara karena tidak mungkin mereka menceritakan apa yang terjadi sampai mata mereka harus di tutupi.


"Ara mandi dulu yuk sama ibu. ini sudah sore sayang.... " ucap Mbok Nah mengalihkan pembicaraan sekaligus berusaha kabur dari situasi memalukan ini.


"Mbok Nah, Mang Diman..., Zie dan Kak Darren pamit pulang dulu ya. soalnya tadi Papi telpon kalau anak anaknya tante Dewi akan datang. " ucap Zie.


"Neng Zie mau pulang sekarang?? " tanya Mang Diman.


"iya Mang....., Zie kan nggak mau menyaksikan keuwuan Mang Diman dan Mbok Nah seasion ke dua. " jawab Zie sekaligus menyindir yang membuat mbok Nah dan Mang Diman tersenyum malu.


"Makannya cepet nikah..., biar nggak iri sama mbok Nah dan mamang. " sahut mbok Nah terkekeh karena bisa membalas godaan dari Zie.


"Tuh kak Darren...., mbok Nah nyuruh kakak Nikah tuh biar nggak iri katanya. " ucap Zie kepada Darren.


"ya ayo kita nikah......, " jawab Darren sekenanya yang mana membuat Zie blusing. pipinya langsung memerah mendengar ajakan nikah dari Darren.


"ehm... ehm..... " dehem Mang Diman di buat buat bermaksud menggoda Zie.


"Ayo kak pulang....., udah sore." ucap Zie langsung meraih tangan Mang Diman dan mbok Nah dan mencium punggung tangannya takzim secara bergantian.


Zie langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Darren untuk menghindari godaan Mang diman dan mbok Nah.


tentu saja mereka semua terkekeh melihat tingkah Zie yang sedang salah tingkah itu. jarang jarang mereka melihat Zie yang seperti ini.


"Neng...., di ajakin nikah tuh sama oppa Ganteng. mau nggak??" seru Mbok Nah sambil tertawa. begitu juga Mang Diman dan Darren yang ikut tertawa.


Zie yang berjalan belum jauh pun hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum malu tanpa menoleh kebelakang.


"Darren pamit dulu ya mbok..., Mang... " ucap Darren meraih tangan Mbok Nah dan Mang Diman lalu mencium punggung tangannya takzim secara bergantian. " Dah Ara...... " ucap Darren melambaikan tangan kepada Ara.


"hati hati dijalan.... " pesan Mbok Nah.


"Dah kak... jangan lupa main kesini lagi ya. " ucap Ara sambil membalas lambaian tangan Darren.


Darren hanya mengangguk dan tersenyum tampan lalu berjalan menyusul Zie yang sudah duluan keluar rumah.


mungkin bagi mereka semua ajakan Darren tadi adalah sebuah gurauan tapi bagi Darren tidak. seandainya Zie mau, sekarang pun Darren siap untuk menikahinya. tapi sepertinya Darren harus lebih bersabar dan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Zie karena sepertinya Zie belum membuka hatinya untuk Darren.


.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


.


.


.