
Darren dan yang lainnya berhasil menemukan di mana tempat Zie di sekap tepat dimana hati sudah semakin gelap. mobil mereka semua sudah sampai dan berhenti agak menjauh dari sebuah gedung tua yang terbengkalai agar kedatangan mereka tidak di ketahui. saat ini Darren dan yang lainnya tengah bersembunyi di semak rerumputan yang cukup tinggi untuk mengamati situasi dan mencari tahu seberapa banyak penjaga yang ada di sana.
"Darren...., kita harus bergerak cepat, terlambat sedikit saja Zie bisa dalam bahaya. " bisik Mang Diman.
"Iya mang..., kita atur strategi. sepertinya penjagaan di sana tidak terlalu banyak. " jawab Darren.
Mang Diman bertugas langsung menyerang dari arah depan bersama Tuan Prabu dan Asisten Zaki untuk mengecoh perhatian semua penjaga. Darren juga menugaskan semua pengawalnya untuk selalu melindungi ketiganya terutama Tuan Prabu karena incaran utama musuhnya adalah Tuan Prabu. sedangkan Darren sendiri akan menyelinap masuk kedalam secara diam diam untuk mencari keberadaan Zie. dimana Dewi sekarang?? Dewi masih tetap di dalam mobil dengan empat pengawal yang menjaganya. Dewi tidak di ijinkan ikut masuk kedalam karena ini cukup berbahaya.
Mang Diman dan Asisten Zaki memimpin di depan menyerang penjaga di susul tuan Prabu dan pengawal lainnya. meskipun mereka dilengkapi dengan senjata tapi mereka lebih memiliki menyerang k dengan tangan kosong terlebih dahulu.
"Bag.... bug..., bag...bug.... " perkelahian pun di mulai. mereka semua saling menyerang dan memukul.
"Dor... Dor.... " anak buah Ibnu munggunakan senjata api untuk menyerang mang Diman dan yang lainnya.
beruntung tidak ada satu pun dari mereka yang terkena tembakan itu. suasana pertempuran semakin sengit karena mereka sekarang mulai beradu senjata yang pastinya akan ada pertumpahan darah di sana.
"Cepat lapor Tuan Bos bahwa kita di serang. " teriak salah satu anak buah Ibnu.
salah satu temannya yang lain segera berlari masuk kedalam gedung tua itu untuk menemui Tuan Bos nya. sedangkan Darren sudah berhasil masuk kedalam gedung secara diam diam. tempatnya yang gelap sangat membantunya untuk bersembunyi dari para penjaga. ia berjalan sambil mengendap ngendap dan sesekali bersembunyi di balik tembok ketika berpapasan dengan anak buah Ibnu. Darren juga memegang sebuah senjata di tangannya untuk berjaga jaga jika ada serangan mendadak.
Benar saja.., begitu masuk kedalam ruangan di mana Zie di sekap di sana Darren berpapasan dengan Ibnu bersama satu anak buahnya dan juga Zie yang terikat di kursi dengan mulut yang juga di lakban. ya... Ibnu sengaja melakukan mulut Zie agar tidak berteriak.
"Angkat tangan....... " ucap Darren menodongkan pistol di tangannya kearah Ibnu.
Ibnu yang baru saja ingin keluar dari ruangan itu langsung terkejut dengan kedatangan seseorang yang langsung menodongkan pistol kearahnya. Ibnu langsung mengangkat kedua tangannya dan berjalan mundur.
"jatuh kan senjatamu!! " Perintah Darren melangkah maju secara perlahan.
tanpa di duga...., anak buah Ibnu dengan cepat langsung menodongkan sebilah pisau di leher Zie yang masih duduk terikat di kursi. pisau itu terlihat mengkilat dan sangat tajam, meski hanya di tempelkan saja di Leher Zie.
"Berhenti.....,!! " ucap Anak buah Ibnu menghentikan langkah Darren."jatuhkan senjatamu jika tidak mau lehernya ku potong. "ucap anak buah Ibnu sedikit menempelkan pisau itu di kulit leher jenjang Zie.
pisau itu terlihat mengkilat dan sangat tajam, meski hanya di tempelkan saja di Leher Zie, tapi leher jenjang itu langsung tergores dan mengeluarkan darah segar sedikit. Darren langsung menuruti perintahnya dengan menjatuhkan senjatanya dan mengangkat kedua tangannya karena tidak mau Zie celaka. sebenarnya Ibnu tidak mau menjadikan Zie sebagai sandra seperti ini, tapi mau bagaimana lagi demi menyelamatkan dirinya mau tidak mau Ibnu menggunakan Zie sebagai tamengnya.
"tolong lepaskan Zie...., kau boleh menyandraku tapi tolong lepaskan Zie." ucap Darren. ia tidak tega melihat Zie terluka seperti itu.
Darren bisa melihat wajah cantik Zie yang terdapat beberapa lebam dan disudut bibirnya juga terdapat darah yang sudah mengering, di tambah lagi sekarang lehernya tergores pisau dan mengeluarkan darah. sungguh Darren sangat tidak tega melihatnya. ia berusaha keras meredam kemarahannya sampai Zie benar benar terselamatkan.
"Diam..., jangan mendekat!!" bentak anak buah Ibnu dan sedikit menekan pisau itu di leher Zie sehingga darah segar keluar lebih banyak lagi.
Ibnu melepas ikatan tali yang mengikat kedua kaki Zie dan juga tali yang mengikat tubuh Zie dengan Kursi agar mereka lebih mudah membawa Zie keluar dari ruangan itu.
"Ayo jalan....., " Perintah Ibnu sambil menodongkan pistolnya kembali ke kepala Zie. kini Ibnu bertukar posisi dengan anak buahnya.
Ibnu memaksa Zie untuk berjalan mengikutinya keluar dari ruangan itu dan anak buah Ibnu mengambil pistol milik Darren yang terjatuh di lantai.
"Bug..., Bug..., bug...... " anak buah Ibnu memukuli wajah Darren beberapa kali hingga sudut bibirnya berdarah tapi Darren sama sekali tidak melawannya karena takut mereka melukai Zie lebih banyak. Zie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Darren terluka. ia tidak bisa berbuat apa apa karena tangannya masih terikat dan mulutnya di tutup lakban.
Darren berjalan mengikuti dari belakang kemana Zie dibawa oleh Ibnu. ingin rasanya Ia mengajar semuanya tapi ia tahan karena saat ini Zie masih dalam bahaya.
"Hentikan...... " teriak Ibnu begitu sampai di luar gedung.
Ibnu memang membawa Zie keluar dari gedung, tapi begitu ia sampai di luar gedung ternyata anak buahnya banyak yang sudah kalah dan terkapar di tanah. seketika perkelahian mereka semua terhenti begitu mendengar teriakan Ibnu. mereka semua menoleh kearah Ibnu.
"Mas...., kenapa kamu menculik Zie?? dia tidak bersalah!! tolong lepasin Zie..!! jangan sakiti dia, " pinta Tuan Prabu.
"Diam kau Prabu.....,!! " bentak Ibnu. Ibnu menyeringai melihat wajah Prabu yang pucat pasi karena takut ia menyakiti putri kesayangannya.
"(aku akan menjaga, melindungi dan menyayangi Zie melebihi anakku sendiri setelah aku berhasil menghabisimu Prabu. aku akan menggantikan posisimu sebagai ayah dari anaknya Ayu. )" Ucap Ibnu dalam hatinya.
Tanpa ba bi bu...., Ibnu langsung mengarahkan pistolnya kepada Prabu yang berdiri lurus di hadapannya. Ibnu bahkan tidak mempedulikan kedatangan polisi yang langsung mengepung tempat itu.
"Dorr..........!!.
" Awas......!! "
"aaahhhh..... "
terdengar suara tembakan dan teriakan orang kesakitan karena terkena tembakan. Darren dengan gerakan cepat mengambil kesempatan itu untuk menolong Zie. ia langsung menendang Ibnu bersamaan dengan gerakan menarik Zie agar terlepas dari cengkraman Ibnu dan berhasil.
setelah itu Darren langsung menghajar Ibnu habis habisan untuk memelampiaskan amarahnya yang sedari tadi ia tahan.
"K*parat ...., beraninya kau menculik dan melukai Zie!! " umpat Darren di sela sela ia menghajar Ibnu.
tapi hal itu tidak berlangsung lama karena polisi langsung melerai dan menangkap Ibnu. semua anak buah Ibnu juga langsung di tangkap dan di amankan oleh polisi. sedangkan Mang Diman langsung melepaskan lakban di mulut Zie dan ikatan tali di tangan Zie. setelah terlepas, Zie langsung berlari kearah Papinya.
"Sayang..., syukurlah kamu selamat. " ucap Tuan Prabu langsung memeluk putri kesayangannya. Zie hanya mengangguk dalam pelukkan sang Papi.
"Zie...., kamu baik baik saja kan?? " tanya Tante Dewi sambil memegangi lengannya yang berdarah darah. ia terduduk di atas tanah karena tadi sempat terjatuh bersama adiknya (Prabu).
Lengan Dewi terkena tembakan dari Ibnu karena berusaha menyelamatkan Prabu dari tembakan itu. alhasil peluru itu mengenai lengannya dan bersarang di sana.
"iya Zie tidak papa tante, yang tidak baik baik saja itu tante. tante harus segera mendapat penanganan medis karena darah tante terus keluar banyak. " jawab Zie.
"Cepat bawa kerumah sakit...., biar saya yang mengurus keadaan disini. " perintah Mang Diman.
"Baik.., terimakasih Diman. aku serahkan urusan yang disini padamu. " ucap Tuan Prabu dan Mang Diman pun mengangguk.
mereka semua lalu bergegas ke mobil untuk segera pergi kerumah sakit.
"Zie...., kamu ikut mobil kakak saja. " ajak Darren dan Zie menggangguk menurut.
mobil Tuan Prabu yang membawa Dewi langsung melaju meninggalkan tempat kejadian perkara dengan di supir oleh Asisten Zaki. sedangkan Zie langsung masuk kedalam mobil Darren tapi mobil itu tidak langsung pergi mengikuti mobil Tuan Prabu.
"Zie... kamu baik baik saja kan?? ini pasti sakit?? kakak obati dulu ya??" tanya Darren begitu keduanya berada di dalam mobil. ia memeriksa luka yang ada di leher dan wajah cantik Zie lalu ia langsung mengeluarkan kotak P3K yang ada di dalam mobilnya.
"Zie baik baik saja kak, hanya sedikit lebam, nyeri dan leher Zie sedikit perih. " jawab Zie jujur.
Darren langsung membuka kotak P3K lalu mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan luka Zie yang di leher terlebih dahulu. luka itu masih baru bahkan darahnya saja belum mengering.
"aw.... pelan pelan kak... perih. " pelik Zie ketika lukanya di bersihkan. Zie mendongakkan kepalanya keatas agar Darren dengan mudah mengobati lukanya.
"iya..., ini udah pelan ko. tahan ya..... " ucap Darren dengan telaten membersihkan luka itu. sesekali Darren meniupnya agar mengurangi sedikit rasa sakitnya.
Darren sempat menelan air liurnya sendiri melihat leher jenjang Zie tapi cepat cepat ia menepis pikiran kotornya itu. setelah selesai membersihkan luka yang dileher Zie, ia lalu mengolesi obat di luka itu agar cepat sembuh.Darren beralih mengobati luka yang ada di sudut bibir Zie. ia kembali menelan ludahnya ketika melihat bibir Zie yang berwarna merah muda alami itu dengan jarak dekat. Sunggu ini benar benar sebuah ujian bagi Darren, Darren adalah laki laki normal jadi wajar jika ia memiliki naluri kelelakian.
"aw.... kakak, pelankan sedikit. " keluh Zie ketika Darren sedikit menekan luka Zie dengan kapas beralkohol yang membuat Darren tersadar dari lamunan ya.
"Ah iya maaf.... " ucap Darren lalu mendekatkan wajahnya kembali kearah wajah Zie dan meniup luka itu.
sebenarnya Zie sedikit merasa risih dengan posisi seperti ini, wajah Zie juga sedikit memerah. Zie sampai menahan nafasnya ketika wajah Darren begitu dekat dengan wajahnya. Tapi mau bagaimana lagi, Zie hanya bisa membiarkannya karena Darren sedang membantu mengobati lukanya.
"udah selesai..... " ucap Darren setelah mengolesi obat pada luka yang di wajah Zie.
"makasih ya kak.... " ucap Zie tersenyum tapi setelah meringis karena sudut bibirnya terasa sakit.
Darren akan merapikan kembali kotak p3k nya tapi langsung di cegah oleh Zie.
"Bentar kak..., kakak juga terluka. biar Zie obati dulu. " ucap Zie meraih kotak obat dari daren lalu meletakannya di pangkuan Zie.
Zie mulai membersihkan luka di wajah Darren dengan telaten. Darren hanya diam saja sambil memandang wajah cantik Zie yang sedang fokus mengobatinya. ada rasa bahagia di hati Darren saat mendapat perhatian dari orang yang ia sayang. tidak membutuhkan waktu lama Zie pun selesai mengobati luka Darren karena lukanya memang hanya sedikit.
"Makasih ya Zie...., " ucap Darren tersenyum tipis.
"sama sama kak... "" jawab Zie lalu merapikan kembali kotak p3k milik Darren dan menyimpannya kembali ke tempat semula saat Darren mengambilnya.
Mereka lalu melakukan mobilnya menuju rumah sakit menyusul papi dan tante Zie.
.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
.
*Darren Wang