Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Aku Kembali



Dengan di bantu oleh Zie akhirnya pekerjaan Marvin bisa selesai dengan tepat waktu. hari ini Marvin dan Kenzie akan pulang ke tanah air dengan menggunakan pesawat pribadi milik papinya. tentu Mif juga akan ikut kemanapun Nona nya pergi karena ia sudah bersumpah setia mengabdikan sisa hidupnya untuk Nona yang sudah menyelamatkan nyawanya. berbeda dengan asisten Marvin yang tidak ikut bersama mereka karena ia di tugaskan untuk menghandle semua pekerjaan disana. Papi dan asisten Zaki juga tidak bisa ikut pulang bersama Zie karena masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan. Nanti Papinya akan menyusul saat peresmian pembukaan perusahaan baru di kota J.


Setelah melakukan perjalanan udara selama berjam jam akhirnya rombongan Kenzie sampai di bandara internasional yang ada di kota J jam 5 pagi. Kenzie membawa Marvin dan Mif pulang kerumah Mbok Nah. Zie sengaja tidak memberitahu mbok Nah terlebih dahulu tentang kepulangannya karena ingin memberikan kejutan untuk Mbok Nah dan Mang Diman. saat Zie pergi ia hanya membawa satu koper saja yang hanya berisi barang barang kesayangannya tapi sekarang ia pulang membawa banyak batang dan oleh oleh untuk semuanya termasuk karyawan Cafe, Restoran, Rizky dan juga Pak Hadi karena Zie berencana untuk ziarah ke makam sang Mami di Bandung.


"Zie....kenapa nggak pulang ke apartemen gue aja sih atau kerumah baru yang lo beli...?. gue nggak enak ngrepotin orang." Protes Marvin. mereka kini sedang dalam perjalanan dari bandara ke rumah mbok Nah menggunakan taksi.


"Apartemen lo lebih jauh dari rumah mbok Nah vin. lagian kamarnya juga nggak cukup buat kita bertiga. udah...tenang aja, mbok Nah sama Mang Diman orangnya baik ko. kita pulang kesana dulu ya?? nanti kalau lo sama Mita nggak betah, lo bisa pulang ke apartemen lo bareng mita." jawab Zie.


"(baik sih, tapi pasti galak juga. gue ko jadi serem ya ketemu sama Mang Diman. wajahnya garang banget dan jarang senyum pula)". gumam Marvin dalam hati sambil mengusap kengkuknya yang sedikit merinding membayangkan Wajah mang Diman.


Mif yang duduk di depan samping supir taksi hanya diam saja melihat jalanan kota J. iki pertama kalinya Mif menginjakkan kakinya di kota ini. tak lama taksi pun sampai di kediaman Mbok Nah dan Mang Diman. Rumah sederhana yang terdiri dari dua lantai yang menyimpan banyak kenangan bagi zie. tidak banyak berubah dari rumah itu setelah terakhir zie lihat sebelum pergi. hanya warna cat nya saja yang sekarang lebih terang.


"(aku kembali.....)"ucap Zie dalam hati.


"Mang Dadang......, buka gerbangnya." Teriak Zie dari dalam taksi setelah membuka kaca jendelanya.


Mang dadang berjalan mendekati taksi itu karena heran ada gadis cantik yang mengenal dirinya. Mang Dadang langsung heboh ketika tau siapa gadis itu yang tak lain adalah Nona Kenzie. buru buru Mang Dadang membuka pintu gerbang lalu berlari kedalam rumah untuk memberikan kedatangan Nona Kenzie.


"Siapa itu Dang....??" tanya Mang Diman yang baru saja keluar dari dalam rumah sambil menggendong seorang anak perempuan berusia 3 tahun.


" itu Tuan...., Nona Kenzie pulang....." jawab Mang Dadang.


"Neng zie pulang??? tanya Mang Diman tersenyum senang."kamu bantu turunin barang barangnya Dang." Perintah Mang Diman.


" Iya Tuan...., " jawab Mang Dadang.


"Buu.....ibu......, sini cepet buu!!! liat siapa yang datang." teriak mang Diman memanggil Mbok Nah.


Mang Diman langsung menyambut kesayangan Zie tanpa menunggu istrinya keluar. ia terlalu bahagia dengan kepulangan Zie yang tiba tiba.


Ya.... pernikahan Mbok Nah dan Mang diman di karuniai seorang putri bernama Keara Mandala yang saat ini baru berusia tiga tahun. Keara di ambil dari nama Kenzie da Arabella.


"Mamang Juga kangen banget sama Neng. kamu sehat kan?? kau pulang sama siapa?? Mana Papimu?? " tanya Mang diman setelah melepas pelukan mereka.


" Papi nanti pulangnya Manh, masih ada urusan disana. Zie pulang sama Marvin Mang..., kakak Angkat Zie, mamang kenal kan?? dia pernah kesini beberapa kali". ucap Zie. meng diman menganganghukkan kepalanya lau berjabat tangan dengan Marvin. "dan ini asisten zie namanya....."ucapan Kenzie belum selesai


" saya Mif Tuan......" Mif langsung memotong ucapan Kenzie sambil menjabat tangan Mang Diman.


Zie menahan senyumnya melihat tingkah Mif yang takut dirinya akan di perkenalkan dengan nama Mita seperti biasa zie memanggilnya.


"Ada apa sih Yah.... masih pagi sudah teriak teriak......" ucap Mbok Nah yang baru keluar dari dalam rumah. Mbak Nah sedang memasak di dapur menyiapkan sarapan saat suaminya memanggil tadi.


Mbok Nah langsung membukakan Matanya ketika melihat siapa orang yang ada di pelukan suaminya.


"Neng Zie......?? Ya tuhan.......ini beneran Neng Zie.!?! " teriak Mbok Nah heboh dengan mata berkaca kaca.


"Mbok....Zie kangen......" ucap Zie langsung memeluk Mbok Nah penuh haru.


"Mbok juga kangen banget sama Neng. Neng Zie banyak berubah ya??makin cantik."ucap Mbok Nah sambil membelai lembut rambut panjang zie."kenapa pulang nggak bilang bilang dulu Neng." tanya mbok Nah penuh haru setelah melepas pelukkannya.


setelah empat tahun akhirnya mbok Nah bisa bertemu dan memeluk gadis kecil yang dulu ia rawat hingga beranjak dewasa. air matanya tumpah begitu saja karena terlalu bahagia.


"sengaja zie pengen bikin mbok Nah seman jantung pagi pagi." jawab Zie dengan candaannya. semuanya tertawa mendengar candaan Zie.


setelah Marvin dan Mif berjabat tangan kepada mbok Nah secara bergantian..., mereka semuapun di ajak masuk kedalam rumah untuk sarapan bersama. rumah itu terasa ramai dan lebih hidup dengan kedatangan Kenzie, Marvin dan juga Mif. hari ini zie tidak ada acara untuk kemana mana.ia hanya akan berdiam dirumah melepas rindu dengan Mbok Nah dan juga Mang diman. tidak lupa Zie juga memberikan Oleh oleh yang ia bawa langsung dari AS untuk Mang Diman, Mbok Nah, Ara bahkan Bi surti dan Mang Dadang pun Zie belikan.


Marvin tersenyum melihat interaksi antara zie dan keluarga masa kecilnya. zie beruntung walaupun sejak kecil terpisah dari orang tuanya, setidaknya ia memiliki orang orang yang sayang padanya layaknya sebuah keluarga. sedangkan Marvin, bahkan sampai sekarang ia tidak tau nama orang tuanya dan seperti apa wajahnya.