Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Bertemu Arion



Setelah mengantar Zie untuk pulang kerumahnya, Darren pun langsung pulang ke apartemennya sendiri. tidak lupa keduanya menyempatkan diri makan malam bersama terlebih dahulu di sebuah restoran sederhana yang mereka lewati saat perjalanan pulang. saat ini belum terlalu malam karena jam masih menunjukkan pukul 7, Zie yang sudah selesai mandi dan berpakaian santai pun berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tengah dimana Papinya berada. malam ini Papi Zie tidak menjaga Tante Dewek di rumah sakit karena sudah ada Lexa dan Axel yang menunggui Mamanya di sana.


"Pi....., " sapa Zie lalu ikut duduk di samping Papinya yang sedang menonton TV.


Zie lalu menyandarkan kepadanya di bahu kekar sang papi. tempat bersandar paling nyaman yang Zie miliki saat ini.


Tuan Prabu tersenyum hangat dengan sikap manja yang di tunjukkan anaknya itu. tangannya terulur mengusap sayang rambut panjang putri kesayangannya.


"Sayang.... kau baik baik saja kan??? Papi masih mencemaskanmu karena kamu tidak mau di periksa oleh dokter. " ucap Tuan Prabu lalu memcium puncak kepala putrinya.


"Zie baik baik saja Pi, liat lah.... warna memar di wajah Zie saja sudah mulai memudar." ucap Zie menghadapkan wajahnya kearah sang Papi sambil tersenyum manis. "jadi Papi jangan Khawatir lagi." ucap Zie lagi


"kamu belum kasih tau semuanya kepada Papi sayang..., coba ceritakan bagaimana awal kejadiannya sampai kau bisa di culik oleh mereka.? " tanya Tuan Prabu penasaran.


Zie lalu menceritakan awal kejadian penculikan itu kepada Papinya dari mulai mendapat telepon dari nomer baru yang mengatakan bahwa Papinya mengalami kecelakaan di jalan XY sampai di mana ia di sekap. Zie menceritakan semuanya termasuk apa yang menjadi penyebab Om Ibnu memiliki dendam mendalam kepada Sang Papi.


"jadi...., Ibnu adalah mantan kekasih Ayu? dan Ibnu juga yang sudah membunuh Mas Raja serta istrinya?".tanya Papi Zie yang baru tahu kenyataanya. Tuan Prabu sedikit kaget mendengar itu semua.


" iya Pi....., Om Ibnu sendiri yang bilang seperti itu kepada Zie. awalnya Om Ibnu sudah menerima dan mengiklaskan Mami hidup bahagia bersama Papi. tapi kemudian Om Ibnu mengetahui kenyataan bahwa Om Raja dan Istrinya selalu berbuat jahat kepada Mami saat Papi tidak ada dirumah. Om Ibnu ingin menolong dan melindungi Mami sehingga Om Ibnu mendekati Tante Dewi dan menikahinya. tapi semua itu sudah terlambat. Om Raja dan Istrinya berhasil mencelakai Mami dan juga Zie waktu itu yang membuat Om Ibnu sangat membenci Om Raja dan juga Papi karena Om Ibnu beranggapan bahwa Papi tidak becus menjaga dan melindungi Mami. "jawab Zie.


Ya.... waktu kejadian itu, Papi Zie memang sedang ada pekerjaan di luar kota. Papi Zie sendiri tidak menyangka kalau kakaknya sendiri tega berbuat seperti itu kepada adik iparnya yang tidak lain adalah istrinya (ayu).


semua itu terjadi semata mata karena harta.


Raja tidak mau harta milik keluarganya jatuh ke tangan Prabu karena selama ini Prabu lah yang mengelola dan memimpin perusahaan itu. di tambah lagi Prabu sudah memiliki anak yang nantinya akan menjadi ahli waris dari semua harta itu sehingga Raja melakukan perbuatan keji itu kepada anak dan istri Prabu.


"Sayang.... Maaf kan Papi...., benar kata Ibnu, Papi memang tidak becus menjaga kamu dan juga mamimu. Papi terlalu sibuk mengurusi Bisnis sehingga tidak mengetahui apa yang di sudah di alami Mamimu dulu. Papi memang bukan Ayah dan suami yang baik untuk kamu dan juga Mami mu. " ucap Papi Zie penuh penyesalan....,


hatinya masih merasa nyesek jika mengenang masa lalu. beruntung Zie masih di beri keselamatan dalam insiden penculikan kemarin. meski Kakaknya sendiri terkena tembakan karena menyelamatkannya tapi setidaknya luka itu tidak terlalu serius.


"Papi tidak boleh berbicara seperti itu. yang lalu biarlah berlalu, cukup jadi kan masa lalu sebagai sebuah pelajaran supaya kedepannya nanti kita bisa memperbaiki diri agar bisa hidup lebih baik lagi. Papi tidak perlu meminta maaf karena Papi tidak bersalah. Zie yakin Papi sangat menyayangi Mami dan juga Zie begitupula dengan Zie yang juga sangat menyayangi Mami dan Papi. jadi Papi tidak boleh berbicara seperti itu lagi. " ucap Zie.


"makasih sayang...., kamu memang Putri Papi yang sangat baik sama seperti Mamimu. " ucap Papi Zie tersenyum penuh haru dan membawa Zie masuk kedalam pelukkan nya.


"Oiya Pih..., Zie ijin pergi ke Cafe dulu ya?? sudah beberapa hari Zie tidak kesana. " ucap Zie setelah melepas pelukkan mereka.


"Tapi ini sudah malam sayang, kenapa nggak besok saja?? lagian kamu kan juga bisa nyuruh Dev kesini membawa semua laporannya. " ucap Papi Zie.


"Zie pengen sekalian ngecek suasana Cafe pih., cuma sebentar ko. mumpung masih sore ini. " jawab Zie sambil melihat jam yang menempel didinding.


"Ya sudah kalau begitu..., kamu hati hati ya sayang.pulangnya jangan terlalu malam" ucap Papi Zie mengijinkan putrinya pergi.


"Yes Pi...., makasih ya..., ya udah Zie pergi dulu. Papi istirahat aja di kamar. " pamit Zie lalu mencium punggung tangan Papinya.


sebelum keluar rumah, Zie berganti baju dengan menggunakan celana jeans berwarna hitam dengan sedikit sobekan di lututnya di padu dengan jaket boomber berwarna Army di lengkapi sepatu berwarna putih. Zie berniat memakai motor sport berwarna merah sekaligus mengenakan helm fullface milik Marvin untuk pergi ke Cafe.


Zie memacu motor sport yang ia kendarai dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan raya malam itu. ia menghentikan motornya ketika lampu lalu lintas berwarna merah. ada dua motor sport yang juga berhenti tepat di sisi Kiri dan Kanannya tapi Zie sama sekali tidak memoedulikannya. berbeda dengan pengendara motor sport yang berada di sisi kirinya yang sepertinya mengenal motor sport yang Zie naiki. Orang itu menengok kearah Zie lalu membuka kaca helm fullface yang ia kenakan.


"Gerry..., " Gumam Zie sambil menganghukkan kepalanya tanpa membuka kaca helm fullface nya seperti yang di lakukan Garry.


Pantas saja ia mengenal motor yang Zie gunakan karena motor itu milik Marvin yang tidak lain adalah ketua geng motornya. Gerry mengira orang disebelahnya itu adalah Marvin, ia tidak tau bahwa itu adalah Zie.


begitu lampu lalu lintas berubah berwarna hijau, Zie langsung tancap Gas di ikuti Gerry di belakangnya. tapi tiba tiba motor sport yang ada disebelah kanan Zie mendekati keduanya dan memainkan gas motornya seolah mengajak untuk berbalapan.


"brummm..... brummm...... brummm..... " pengendara itu menoleh kearah Zie dan Gerry lalu melaju mendahului keduanya.


orang itu tau bahwa dua motor sport itu adalah milik Marvin dan Gerry karena pengendara itu sendiri sudah sering berada di arena balap bersama mereka juga.


Gerry kejar kejaran dengan orang yang menaiki motor sport di depannya, di susul Zie yang jauh tertinggal di belakangnya. Zie sama sekali tidak berminat untuk ikut balapan motor seperti mereka.


"Brag...... " suara gebrakan motor yang terjatuh di atas jalan aspal.


tanpa sengaja motor yang di naiki Gerry dan orang itu bersenggolan sehingga membuat Gerry oleng dan terjatuh. beruntung Gerry sempat mengerem sehingga ia tidak mengalami luka serius. hanya kakinya saja yang tertindih motor miliknya sendiri yang memang cukup berat. orang yang tadi berbalapan dengan Gerry turut menghentikan motornya, ia melepas helm fullface yang ia kenakan dan meletakkannya di atas motornya sendiri setelah itu membantu mengangkat motor yang masih menindih Gerry.


setelah Gerry terbebas dari motornya, ia membuka helm nya lalu berdiri tegak. bukannya berterimakasih Gerry malah langsung menyerang orang yang menolongnya secara tiba tiba. beruntung orang itu cukup waspada dan berhasil menghindar dari serangan Gerry.


Tapi Gerry tidak mau menyerah, ia terus saja menyerang orang itu kembali sehingga perkelahian keduannya pun tidak bisa terelakan. Zie yang baru saja sampai di tempat itu langsung menghentikan motornya bermaksud untuk melerai perkelahian antara kedua orang yang ia kenal.


melihat motor milik Marvin datang, Gerry pun tersenyum menyeringai kearah orang yang berkelahi dengannya. Gerry yakin Marvin akan membantunya membereskan orang itu. begitu pikir Gerry.


sedangkan orang itu sudah bersiap menyerang Gerry. orang itu melayangkan tinjunya kearah Gerry tapi berhasil di halau oleh Zie yang masih mengenakan helm. melihat itu Gerry langsung bersemangat menyerang balik orang itu karena merasa mendapat bantuan dari Marvin. tapi tanpa ia sangka seranganya kepada orang itu juga digagalkan oleh orang yang masih ia kira Marvin. Gerry dan orang itu sama sama menatap tajam kearah Zie.


"Hentikan....... " ucap Zie melererai keduanya agar tidak saling menyerang satu sama lain lagi.


Baik Gerry dan orang itu menajamkan pendengaran mereka karena orang yang mereka kira adalah Marvin ternyata bersuara perempuan.


Zie lalu membuka helmnya yang sedari tadi menutupi wajahnya.


"Zie...... " ucap Gerry dan orang itu secara bersamaan. keduanya sama sama kaget karena ternyata orang yang mereka pikir Marvin ternyata adalah Zie.


cukup Gerry, Arion...., jangan berkelahi lagi..... " ucap Zie lagi.


"(Gue pikir Marvin, nggak taunya adiknya Marvin. pucuk di cinta ulam pun tiba, kalau jodoh memang tidak akan kemana.) " batin Gerry senang karena bertemu dengan Zie.


sudah sangat lama Gerry tidak bertemu dengan Zie, meskipun dia dengan sengaja mengunjungi cafe milik Zie tetap saja Gerry tidak melihat keberadaan Zie disana.


"(Niat hati mau memberi Zie kejutan dengan kedatangan gue ke Cafe nya secara tiba tiba, eh malah ketemu di jalan sedang berkelahi pula. buyar deh bayangan gue dapat pelukan rindu dari Zie. ) "batin Arion.


meskipun demikian Arion cukup senang akhirnya bisa bertemu seseorang yang selama ini ia rindukan.


Ya... orang yang tadi berbalapan dan juga berkelahi dengan Gerry adalah Arion.


Arion memang sudah sedikit berubah ketika bersama Zie, tapi perubahan pada dirinya tidak berlaku pada orang lain. Arion tetaplah Arion yang angkuh, jutek, dingin, cuek, tidak mau mengalah dan tidak peduli dengan orang lain. setelah mendamaikan kedua temannya, Zie akhirnya pergi ke cafe di kawal oleh Gerry dan Arion yang juga ikut pergi ke Cafe milik Zie.


.


.


.


.


bersambung....


.


.


.


.