
Seharian ini Zio hanya menghabiskan waktunya di apartemen dengan duduk bersandar di bawah ranjang mengadap ke pintu balkon sambil di temani bir kaleng yang ia beli di supermarket. meski sudah berkaleng kaleng ia menghabiskan minuman itu tapi ia tetap tidak mabuk karena bir itu 0 alkhohol. ia tidak mau mabuk, pusing dan tidak sadarkan diri seperti semalam.
saat ini Zio benar benar merasakan apa yang namanya patah hati yang sesungguhnya. terasa sangat sakit dan menyesakkan di dada ketika di tolak oleh seseorang yang selama ini kita sayang. sungguh awalnya ia sangat yakin bahwa cintanya kepada Zie akan tersambut. tapi nyatanya semua tidak sesuai dengan ekspektasi. Zie yang ia kira masih memiliki rasa yang sama tapi nyatanya dia menolaknya.
"apa kesalahan gue di masalalu sangat besar sehingga lo nggak bisa nerima gue lagi? apa lo masih begitu marah dan kecewa dengan sikap gue dulu sama lo sehingga lo nolak gue?? ".gumam Zio merenungi perbuatannya di masa lalu.
entahlah... pikirannya terasa buntu untuk saat ini. hatinya masih tidak terima jika harus mengikhlaskan Zie bersama pilihannya. bahkan sampai saat ini ia masih meyakini Zie memiliki rasa yang sama sepertinya walaupun ia sudah di tolak secara langsung oleh Zie tapi ia masih yakin bahwa sebenarnya masih ada cinta di hati Zie untuknya.
tiba tiba pintu apartemen Zio terbuka, ia menoleh melihat Ken datang bersama Sigit dan juga Nico yang mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Ken memang tau kata sandi apartemen milik Zio sehingga mereka bisa masuk kedalam sana dengan mudah. ketiganya berjalan masuk mendekati Zio dan ikut duduk lesehan di lantai seperti yang Zio lakukan. Ken meletakkan dua big box pizza beserta minumannya yang sengaja ia bawa di hadapan mereka. ia tau temannya yang sedang patah hati ini pasti belum makan sedari pagi.
"Lo baik baik aja kan Yo....?? ". satu pertanyaan dari Nico yang mewakili ketiganya.
mereka semua sama sama ingin tau bagaimana keadaan Zio pasca penolakan dari Zie yang ia terima kemarin malam. pasalnya semalam keadaan Zio benar benar kacau.
Zio masih terdiam dan enggak untuk menjawab pertanyaan dari temannya itu. ia memilih menghabiskan minuman yang tersisa di kaleng yang masih ia pegang dan membuang kaleng kosong itu ke sembarang arah.
"udah lah Yo, jangan seperti ini. masih banyak ko cewek yang lebih baik dari Zie yang pastinya mau sama lo. " ucap Sigit yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zio karena tidak suka dengan ucapan Sigit barusan.
memang banyak cewek di luar sana yang mungkin lebih baik dari Zie, tapi hati Zio hanya menginginkan Zie seorang. ia cuma mencintai Zie bukan yang lain.
"Kalau lo emang bener bener Cinta sama Zie, harusnya lo perjuangin. masa baru di tolak gitu aja lo udah nyerah sih. ibarat kata sebelum janur kuning melengkung, lo masih ada kesempatan buat dapetin dia brow. " ucap Nico memberi semangat kepada Zio.
Ken tidak banyak bicara, dia lebih memilih membuka satu box pizza dan mengambil satu potongan lalu menggigitnya di ikuti Sigit dan Nico yang juga mengambil satu potong lalu juga memakannya.
Zio masih diam, ia memikirkan ucapan Nico barusan yang berhasil masuk kedalam pikirannya. ya..., sebelum janur kuning melengkung, ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Zie kembali.
"(bener kata Nico..., gue harus berjuang untuk mendapatkan Zie meski gue udah ditolak. gue akan buktiin bahwa cinta gue sangat besar kepadanya) ". batin Zio yang tiba tiba pikirannya terbuka dan memiliki harapan untuk memiliki Zie kembali.
Tangan Zio lalu terulur mengambil satu potong pizza lalu menggigitnya karena tiba tiba perutnya terasa lapar. ia menghabiskan satu potongan itu dengan cepat dan mengambil satu potongan lagi.
" Sepertinya lo sedang kelaparan ya?? gue pikir orang yang lagi patah hati tidak doyan makan. " sindir Sigit yang membuat teman temannya terkekeh.
"patah hati juga butuh tenaga brow..... " jawab Zio sekenanya. ia bahkan sudah mengambil potongan pizza ketiganya yang siap ia kunyah.
setelah beberapa saat menemani Zio, akhirnya mereka pulang. Ken senang karena kondisi Zio sudah kembali seperti semula dan tidak berlama lama dalam keterpurukan.
"gue heran...., kenapa Zie nolak Zio?? apa kurangnya coba?? Zio baik, pinter, ganteng, tajir pula. kenapa Zie tega banget nolak Zio. " Sigit mulai berkomentar tentang Zie.
mereka bertiga sedang berada di dalam lift apartemen milik Zio yang tengah membawa mereka turun kebawah.
"ia emang.... Zie nggak berperasaan padahal kan mereka udah deket dari dulu. udah tau sifat masing masing. jahat banget Zie bikin Bos gue patah hati. " Sahut Nico.
"kalau kalian nggak tau yang sebenarnya, lebih baik nggak usah berkomentar. jangan menebar racun kebencian." ucap Ken yang kupingnya terasa panas mendengar sahabat baiknya di jelek jelekan didepan matanya.
ia merasa tidak Terima melihat teman baiknya berpenampilan lusuh seperti orang gila gara gara di tolak oleh Zie.
"Jaga mulut lo ya......!!"ucap Ken meninggikan suaranya. ia mulai tersulut emosi mendengar ucapan Sigit yang sangat menyakitkan itu. "denger baik baik....!!, Zio memang nggak pantas dapat cewek sebaik Zie. asal lo tau, mereka dulu pernah jadian tapi apa?? penghianatan yang Zie dapatkan. Zio memilih mutusin Zie gitu aja dan berpaling ke cewek lain. apa menurut lo setelah mendapatkan perlakuan seperti itu Zie mau menerima Zio kembali hah!?!. " ucap Ken dengan wajah memerah menahan amarahnya. "apa yang sudah Zie lakuin ke Zio itu udah bener. Zie mempunyai hak untuk menolak atau menerima Zio sesuai perasaanya karena perasaan seseorang tidak bisa di paksakan. gue harap kalian berdua terutama Lo..." ucap Ken sambil menunjuk kearah Sigit. "jaga ucapan!! jangan sampai kata kata yang tidak pantas itu terdengar langsung oleh orangnya. " ucap Ken dengan tatapan tajamnya.
Ken langsung berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Sigit dan Nico begitu pintu lift terbuka. ia merasa sangat marah mendengar ucapan Sigit tadi. beruntung Ken datang kemari dengan menggunakan mobilnya sendiri jadi ia tidak perlu semobil dengan dua orang menyebalkan itu.
sedangkan Sigit dan Nico saling pandang setelah mendengar ucapan Ken dengan kemarahannya. mereka memang tidak tau seperti apa hubungan Zio dan Zie sebenarnya. yang Nico tau, memang dulu Zio sempat jadian dengan Zie tapi ia sama sekali tidak tau apa penyebabnya yang membuat keduanya putus.
"Gue nyesel udah ngomong kaya gitu Nic. omongan gue benar benar kejem banget ngatain Zie tadi. " ucap Sigit.
mereka berdua berjalan beriringan keluar dari dalam lift menuju parkiran. mereka merasa sangat bersalah karena sudah berkata yang tidak tidak tentang Zie.
"Gue juga...., nggak nyangka ternyata Zio pernah nyakitin hati Zie. pantas Zie menolak Zio. " jawab Nico.
"(kalau seperti itu ceritanya, gue malah jadi dukung Zie buat nolak Zio. Zio ternyata jahat, dia nggak pantes ngedapetin Zie." batin Nico.
"gimana dong Nic...., kayanya Ken marah banget sama kita. " tanya Sigit tidak enak hati.
ia menyesali perkataannya yang sungguh tidak patut di contoh tadi.
"Nanti kita cari waktu buat minta maaf sama dia. tapi tidak sekarang." jawab Nico.
akhirnya Nico pulang kerumah dengan di antar Sigit karena mereka pergi ke apartemen Zio dengan menggunakan mobil Sigit.
.
.
.
.
bersambung.....
.
.
.
.