Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Daren Wang



"Kakak............."


Zie langsung berhambur memeluk seorang Pria tampan yang ia sebut sebagai kakak yang tidak lain adalah DAREN WANG.


Daren tersenyum senang karena kedatangannya di sambut oleh gadis kecil penyelamat hidupnya yang sudah berbulan bulan ia rindukan.


"kau masih mengingatku ternyata, aku pikir kau telah melupakanku karena tidak memberi kabar atau menanyakan kabarku sama sekali." ucap Daren tersenyum tipis sambil membalas pelukan Zie.


"heheee...... sebenarnya Zie itu udah hampir lupa kalau kakak tidak ada di hadapan Zie saat ini." ucap Zie terkekeh sambil melepas pelukan mereka.." Kapan kakak datang.? pasti Marvin yang ngundang kakak ya??". tanya Zie kepada Daren.


"Dasar Gadis nakal," ucap Daren mengacak puncak kepala Zie. "Aku baru sampai dan langsung ke rooftop buat ketemu kamu dulu baru ketemu sama pengantinnya. bukan Marvin yang undang tapi Om Prabu, Kakak bahkan sangat terkejut begitu tau teryata kalian anak anaknya Om Prabu."jawab Daren dengan senyum yang terus mengembang.


"Benarkah??? jadi kakak belum ketemu sama Marvin??". tanya Zie yang di angguki kepala oleh Daren. "Bagaimana Kakak tau kalau Zie ada disini??,"Apa kakak dan Papi menjalin kerja sama??". Zie terus bertanya karena merasa sangat senang dengan kedatangan Daren.


"Kau ini..., seperti wartawan yang terus saja bertanya." ucap Daren tersenyum tampan dan Zie pun tertawa karena memang benar ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Daren. "Aku tau kamu ada disini karena itu." ucap Daren yang menunjukkan Sebuah anting berbentuk ular yang masih setia menepel di sebelah telinga Zie yang tidak lain adalah pemberian dari Daren sendiri. Daren senang karena Zie menuruti pesannya agar terus memakai anting pemberiannya kemanapun Zie pergi.


"oh iya ya...., ini kan ada kaya GPS gitu ya kak??". tanya Zie.


"itu tau......," jawab Daren. "lalu apa kau akan terus membiarkanku berada disini?? kau tidak menawariku makan, minum atau istirahat gitu..??" tanya Daren balik.


"tidak......" jawab Zie singkat.


"Dasar gadis nakal," ucap Daren tersenyum sambil mengusap puncak kepala Zie dengan sayang. "Ayo temani kakak makan," ajak Daren tapi lebih ke memerintah dan tidak mau dibantah.


Zie mengangguk menurut dan berjalan bersama Daren. tangan Zie melingkar sempurna di lengan kekar Daren sambil bergelayut manja. dan Daren sendiri sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu.


"Apa kakak datang jauh jauh kemari tidak membawakan sesuatu untukku??". tanya Zie, mereka sekarang berada di dalam lift menuju ballroom.


"Tentu saja ada....." jawab Daren.


"Benarkah...?? mana?? kakak bawa apa buat aku??". tanya Zie dengan gembiranya.


"ini......, " Daren mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya.


Zie mengangga sambil mebulatkan matanya melihat apa yang Daren bawa untuknya. ia tidak menyangka seorang pembisnis sekaligus ketua Mafia datang jauh jauh dari Negaranya hanya membawa sebuah gantungan kunci yang berukuran kecil sebagai oleh oleh. Sungguh TERLALU.


Daren tertawa terbahak bahak melihat reaksi Zie saat ini yang sangat lucu sekali. ia sampai memegangi perutnya karena terus tertawa. akhirnya ia berhasil juga membuat gadis kecilnya kesal.


"Kakaaaaak......, !!!". seru Zie sambil memanyunkan bibirnya kesal karena di tertawakan oleh Daren.


"hahahaaa........ Baiklah..... baiklah......, kakak cuma bercanda tadi. oleh oleh untukmu masih di dalam koper dan kopernya masih di dalam bagasi mobil. nanti saja setelah acara selesai, ok??". ucap Daren.


"Bener??". tanya Zie memastikan.


"Iya bener...., kakak nggak bohong." jawab Daren dan Zie pun mengangguk percaya.


keduanya telah sampai di ballroom hotel dimana tempat itu sedang berlangsung acara resepsi pernikahan Marvin.


Zie langsung mengajak Daren untuk mengambil makan dan juga minum, setelah itu mereka duduk berdua di salah satu meja. tamu undangan sudah tidak seramai tadi, mungkin sebagian dari mereka sudah pulang tapi masih ada juga yang baru datang.


"Zie....., lo kemana aja sih? di cariin dari tadi juga." ucap Ken yang datang menghampiri Zie dan juga Daren.


Pas banget Zie dan Daren baru saja menyelesaikan makannya.


"Sorry..., tadi gue nyepi dulu di rooftop.heehee....." jawab Zie menunjukkan cengirannya. " siapa yang nyariin gue??". tanya Zie.


"Anak anak Geng motor kakak lo tadi mau pamit pulang sama lo tapi lo nya malah ngilang." jawab Ken. Ken melirik kearah orang Asing yang duduk disamping Zie.


"oh...., ya udah biarin ajalah. oiya Ken kenalin ini temen gue namanya Kak Daren. kak kenalin....., ini Sahabat terbaik Zie namanya Ken. " ucap Zie memperkenalkan keduanya.


Ken dan Daren saling berjabat tangan dan menyebutkan namanya masing masing.


"ya udah, Gue sama anak anak lain mau pamit pulang juga ya??". ucap Ken, Zie mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.


"Kak.... gue samperin temen temen gue dulu ya??". pamit Zie pada Daren.


"ikut...." jawab Daren singkat. Zie mengangguk mengijinkan Daren ikut bersamanya.


ketiganya berjalan bersama menuju ketempat teman temannya Zie duduk tadi.


disana hanya ada Zio, Nico, Tanti, Dev dan juga Tuan Malik.


"Zie..., Om yang temen temen kamu pamit pulang dulu ya. .."Pamit Tuan Malik.


"iya Om...., makasih ya... om dan yang lainnya sudah menemin keluarga kami seharian penuh." ucap Zie dengan tulus.


"Sama sama Zie...., kita itu kan keluarga jadi jangan sungkan." jawab Tuan Malik.


Mereka semua berjalan kearah panggung pelaminan untuk berpamitan kepada pengantin baru dan keluarganya.


"Prabu...., Saya yang anak anak mau pamit pulang". ucap Tuan Malik mewakili teman teman Zie setelah menyalami semua yang ada di atas pelaminan.


"Iya Mas...., terimakasih seharian ini Mas Malik dan anak anak sudah mendampingi saya." ucap Tuan Prabu lalu keduanya berpelukkan untuk sesaat.


"Saya yang merasa sangat terhormat karena bisa menemani pembisnis terkemuka sepertimu memang seorang Mantu." jawab Tuan Malik terkekek


"Mas Malik bisa saja......" sahut Tuan Prabu ikut terkekeh juga.


setelah berpamitan kepada Tuan Prabu, Marvin. Cerry dan juga keluarga Cerry, Tuan Malik, Ken, Tanti, Dev, Zio dan Nico akhirnya pergi meninggalkan pesta. sebenarnya Zio belum ingin pulang karena masih penasaran dengan siapa Pria yang sedang bersama Zie sekarang. tapi sayangnya keinginannya harus ia batalkan karena Mamanya sejak tadi sudah menelfonnya dan menyuruhnya agar segera pulang.


"Kakak..... kau datang??". ucap Marvin kaget begitu melihat Zie berjalan bersama Daren.


ia senang dan tidak menyangka Daren datang di acara resepsi pernikahan padahal ia sendiri telah lupa untuk mengundang Daren.


"selamat atas pernikahanmu bocah nakal..., Semoga selalu bahagia." ucap Daren membeli selamat kepada Marvin. keduanya lalu saling berpelukan.


"Siapa bilang??, aku datang untuk bertemu dengan gadis nakal ini, kebetulan saja pas aku kesini ternyata kau sedang melakukan resepsi pernikahan." goda Daren yang sukses membuat Marvin cemberut.


"Kakaaaak......, kau jahat sekali." ucap Marvin yang membuat Daren dan Zie tertawa.


"Daren...., Sejak kapan kamu kenal dengan anak anak om??". tanya Papi Zie sedikit kaget melihat Daren yang sepertinya dekat dengan kedua anaknya.


"Om...., "sapa Daren lalu memeluk Papi Zie sebentar. "mereka berdua adalah orang baik yang telah menolongku saat aku terkena musibah om. dan aku baru tau ternyata mereka adalah putra dan putri om." jawab Daren tersenyum tampan.


"benar kah......?? ya mereka memang putra dan putri kebanggaan Om." jawab Tuan Prabu.


"Bagaimana Papi bisa mengenal Kak Daren??". Tanya Zie penasaran.


tadi ia sempat menanyakan hal yang sama pada Daren tapi belum sempat di jawab.


"Daren ini salah satu pebisnis muda dan juga sangat sukses jadi Papi juga memiliki beberapa kali kerja sama dengan Perusahaan miliknya. selain itu, papi juga memakai jasa penjaga keamanan dan bodyguard dari orang orangnya Daren jadi Papi cukup kenal dengannya." jawab Papi Zie apa adanya.


"ah....om berlebihan, saya kan cuma pebisnis biasa yang juga masih harus banyak belajar. saya masih kalah jauh kalau di bandingkan dengan Tuan Prabu." jawab Daren merendah.


"Kamu bisa saja....." jawab Tuan Prabu terkekeh.


berhubung tamu Marvin dan juga Tuan Prabu masih cukup banyak jadi Daren pamit undur diri terlebih dahulu. begitu juga dengan Zie yang pamit untuk kembali ke kamarnya karena sudah merasa lelah. Sebenarnya Papi Zie sudah menawarkan sebuah kamar di hotelnya untuk Daren tapi Daren menolaknya karena masih ada urusan yang harus ia selesaikan.


drrtt.....drrrtt........ " Hp Zie bergetar di sertai layarnya berkedip kedip yang menandakan ada panggilan masuk.


Zie yang baru saja selesai membersihkan diri dari kamar mandi pun langsung mengambil dan melihat siapa orang yang telah menghubunginya.


"Zio......" gumam Zie membaca nama yang tertera di layar hp nya.


Zie lalu menggeser tombol yang berwarna hijau untuk menerima panggilan itu.


"Ya Zio....." jawab Zie


"Zie...., apa lo masih berada di pesta??," tanya Zio. ia sedikit bingung akan berbicara apa dengan Zie. sebenarnya Zio menefon Zie karena penasaran dengan Pria yang bersama Zie tadi tapi ia juga malu untuk menanyakannya secara langsung kepada Zie.


"enggak...., gue udah di kamar. kenapa Yo??." tanya Zie.


"emm....nggak papa sih, gue cuma nanya aja." jawab Zio.


"Oh.... kirain ada apa." ucap Zie.


"itu.... Zie, Ken sempet cerita kalau lo sama dia lagi ada kerja sama ya?? kalau gue ngajuin kerja sama juga kira kira bisa nggak ya??". tanya Zio.


"iya...kita memang lagi ada proyek buat bikin hotel, kalau lo mau ngajuin kerja sama ya lo kirim aja proposalnya ke kantor. Nanti biar gue periksa dulu baru gue bisa mutusin kita bisa kerja sama atau nggak nya." jawab Zie.


"oh gitu...., ya udah nanti gie kirim proposal ke perusahaan lo ya?". ucap Zio.


"ok....." jawab Zie singkat.


"emm.... Zie, cowok yang tadi sama lo itu siapa?? apa dia juga partner kerja lo juga?"..tanya Zio.


akhirnya Zio bisa menanyakan siapa Cowok yang sedari tadi mengganggu pikirannya karena Zie terlihat cukup dekat dengannya.


"Oh...itu. namanya Kak Daren, bukan Partner gue tapi Partner nya Papi." jawab Zie. "apa ada yang masih mau lo tanyakan??". tanya Zie.


"hah...udah nggak ada ko Zie. kenapa??" taya Zio.


"nggak papa....Ya udah kalau gitu gue istirahat dulu ya Yo...,? nggak papa kan?? gue capek soalnya " ucap Zie.


"oh...iya Zie., maaf ya udah ganggu waktu lo." ucap Zio tidak enak hati.


"nggak papa ko Yo....,santai aja, cuma gue sekarang emang udah ngerasa capek aja." ucap Zie.


" ya udah kalau gitu, selamat beristirahat ya Zie...." ucap Zio.


"iya...lo juga ya......" jawab Zie.


keduanya pun mengakhiri panggilan mereka. Zie langsung menyimpan Hp nya di atas nakas dan segera beristirahat. berbeda dengan Zio yang masih memandangi Hpnya sehabis menghubungi Zie. ia membuka galeri dan mengenang kembali masa masa kebersamaannya bersama Zie dulu. banyak sekali foto foto mereka yang masih tersimpan rapi di Hp milik Zio.


"Andai waktu bisa di ulang kembali...., gue pasti nggak akan pernah nyia nyiain lo Zie." gumam Zio pada dirinya sendiri. penyesalan memang datang belakangan.


Ia lalu meraih boneka tedy kecil yang sedah bertahun tahun tinggal di atas nakas samping tempat tidurnya. boneka kecil itu memakai seragam putih abu abu yang bertuliskan nama kenzie di dada nya.


Kenzio mendekap boneka kecil itu sambil memejamkan matanya dan tak lama Zio pun terlelap dalam tidurnya.


.


.


.


.


Bersambung......


.


.


.


.