
Di kediaman Zio, mereka sedang berkumpul bersama dirumah menikmati hari liburnya bersama keluarga.
"Zio... Papa dengar kerja sama perusahaan kita dengan MK group sukses besar?? apa itu benar??" tanya Jaya ayahnya Zio.
"iya Pa...., dan semua ini juga berkat kerja sama dengan perusahaan Abraham Group sehingga proyek yang sedang kita garap bisa selesai dengan baik dan lebih cepat. masing masing perusahaan juga mendapat keuntungan cukup besar dari hasil kerja sama ini. " jawab Zio bangga.
Bukan hanya Zio, papanya juga sangat bangga dengan kemampuan putranya yang bisa memimpin perusahaan dengan sangat baik.
"Papa dengar...., yang menangani proyek kali ini adalah Nona Kei sendiri karena Tuan Ma sedang berbulan madu. apa benar begitu Zio??" tanya Papa Zio lagi.
Jaya sudah banyak mendengar kemampuan yang di miliki oleh Nona Kei dalam dunia bisnis. ia cukup kagum dengan segala pencapaian yang telah di gapai oleh gadis muda itu. meski gambar dirinya tidak pernah di sorot media tapi namanya sering wira wiri di berita bisnis.
"Benar Pa....., " jawab Zio membenarkan.
"wah.... hebat ya Nona Kei ini. Mama salut sama dia. " ucap Mama Zio yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan anak dan suaminya.
"jelas hebat dong Ma...., dia itu lulusan terbaik universitas ternama dari luar negeri. jadi kemampuannya tidak bisa di ragukan lagi. " jawab Zio membanggakan Zie.
"Bagaimana kalau kamu undang Nona Kei dan Asistennya untuk makan malam di rumah sebagai ucapan terimakasih atas kesuksesan kerjasama kita. " usul Papa Zio.
"Betul itu..., nanti biar mama siapin semuanya. " sahut Mama Zio antusias.
"Berarti Ken dan Papa nya juga diundang Pa, Ma.., kan perusahaannya juga ikut dalam kerja sama itu." ucap Zio.
"Boleh...., undang saja.... " jawab Papa Zio.
"(Pas banget nih...., nanti setelah makan malam bersama gue tinggal nyiapin tempat yang romantis buat nembak Zie lagi. kalau jodoh memang nggak kemana, buktinya waktu pun mendukung mempertemukan gue sama Zie dalam makan malam nanti. semoga lo mau nerima gue lagi Zie.) " batin Zio penuh harap
Zio merasa keberuntungan sedang berpihak kepadanya, baru kemarin ia berniat untuk mengungkapkan isi hatinya lagi kepada Zie dan sekarang keluarganya malah memberi jalan mudah untuk mempertemukannya dengan Zie. Zio lalu meraih HPnya untuk mengubungi Ken, Zie dan juga Asistennya Zie.
...,, _______,, ________,, _______,...
Malam harinya tepat pukul 7 malam, Ken dan Papanya menjemput Zie di kediamannya. mereka akan berangkat bersama pergi kerumah Zio memenuhi undangan makan malam dari keluarga Zio.
"Hallo calon menantu idaman...., apa kau sudah siap?? " sapa Papa Ken ( Tuan Malik Abraham) begitu masuk kedalam rumah Zie dan mendapati Zie sedang duduk menunggu mereka datang menjemput.
"Om Malik..., lama tidak bertemu. om apa kabar....?" jawab Zie yang langsung memeluk ayah sahabatnya itu.
"Om sangat baik....," jawab Om Malik tersenyum senang. "kamu terlihat cantik dengan gaun itu. "puji Om Malik kepada Zie.
Zie saat ini memakai dress cantik berwarna putih dengan panjang selutut.
" Terimakasih atas pujiannya...., Om juga terlihat sangat tampan. Ken saja kalah tampannya dari Om Malik. " jawab Zie yang membuat Om Malik tertawa.
"jangan begitu Zie..., kalau orangnya dengar nanti dia tidak doyan makan loh..... " jawab Om Malik membalas candaan dari Zie.
"nggak Papa Om nggak doyan makan, jadi kan perutnya nggak buncit kaya sekarang." ucap Zie tertawa mengejek Ken.
"hey..... ini tuh sixpek bukan buncit. enak saja kau. " sahut Ken yang tidak Terima di bilang buncit.
"Wowww...... lihat Om dia marah. " ucap Zie dengan gaya pura pura takut yang membuat Om Malik terkekeh.
"Sudah sudah..... kita harus segera pergi kerumah Jaya. mereka pasti sudah menunggu kedatangan kita. " lerai Om Malik. " oiya.... di mana Prabu....?? " tanya Om Malik kepada Zie karena rumah itu terasa sepi.
"Papi sedang pergi keluar kota Om mengantar tante Dewi pulang ke kota Y. adanya kak Marvin, tapi tadi Zie sudah pamit kalau mau makan malam bersama kalian jadi kita bisa langsung jalan saja." jawab Zie.
memang Zie sudah memberi tahu kepada Marvin kalau dirinya mendapat undangan makan malam di rumah Zio bersama perusahaan Abraham Group juga. selain kepada Marvin, Zie juga sudah meminta ijin kepala Kekasih barunya Darren,. Tadinya Darren ingin ikut tapi Zie melarangnya karena ini acara makan malam antara perusahaan Pahlevi, Abraham dan MK group.
"Ya sudah.... ayo kita pergi sekarang. " ajak Om Malik.
mereka lalu pergi dengan menggunakan Mobil milik Ken. begitu sampai di rumah Zio, Mama dan Papa Zio langsung menyambut kedatangan Om Malik dan Ken. sedangkan dengan Zie, Tuan Jaya sepertinya tidak suka dengan kehadirannya.
"Untuk apa kau datang kemari? " tanya Papa Zio menarik lengan Zie yang berjalan di belakang Ken dan Om Malik. nada bicaranya tidak terlalu tinggi tapi penuh penekanan di setiap katanya.
sedangkan Mamanya Zio langsung pamit pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"(kenapa Zio juga mengundang bocah ini?? apa dia tidak berfikir kedatangan bocah ini akan membuat kekacauan nanti) " batin Papa Zio tidak suka.
Zio memang tidak pernah menceritakan tentang siapa Zie kepada keluarganya karena keluarganya juga tidak terlalu mempedulikan tentang orang lain sehingga Papa Zio tidak tau jika Nona Kei adalah Zie.
Zie mengeryitkan dahinya tidak mengerti, bukankah mereka sendiri yang mengundangnya datang ke rumahnya untuk makan malam bersama. tapi kenapa mereka sepertinya tidak suka dengan kehadiran Zie. sedangkan Ken dan Papanya yang sudah akan duduk di sofa ruang tamu mengurungkan niatnya mendengar ucapan Jaya.
Melihat Zie hanya diam saja, Papa Zio kembali berucap lagi. " Dengar....., sebentar lagi kami akan kedatangan tamu penting yaitu Nona Kei dan Asistennya dari perusahaan MK group jadi lebih baik kau pergi saja. saya tidak mau kamu merusak makan malam ini dengan kehadiran kamu disini. " ucap Sarkas Papa Zio yang dengan terang terangan mengusir Zie.
Zie baru menyadari bahwa Papa Zio ternyata belum tau siapa itu Nona Kei. pantas Papa Zio bersikap seperti ini kepada Zie. Om Malik akan mengucapkan sesuatu tapi Zie mencegahnya dengan menggelengkan kepalanya. Zie ingin tau bagaimana sikap Papa Zio sebenarnya.
tidak lama..., mobil milik Mif datang memasuki halaman rumah Zio. Papa Zio tersenyum senang melihat kedatangan mobil itu. meskipun Papa Zie belum pernah bertemu dengan Nona Kei tapi Papa Zie sudah mengenal dan bertemu beberapa kali dengan Asisten Mif.
"Lebih baik kau pergi sekarang!!." usir Papa Zio kepada Zie. lalu berjalan menuju mobil Mif yang sudah terparkir di halaman rumah.
"apa apaan Jaya itu..., kenapa dia memperlakukan mu dengan buruk seperti ini. biar Om kasih tau siapa kamu. " geram Om Malik yang berjalan kearah Zie di ikuti dengan Ken di belakangnya.
"Zie... ayo kita pulang saja. gue nggak rela lo di perlakukan kaya gini. " Ken pun ikut geram.
"Jangan Om....," cegah Zie ketika Om Malik akan menemui Papa Zio di depan rumah. " Biarkan saja Om Jaya mau ngomong apa. dengan begitu Zie jadi tau bagaimana sifat Om Jaya sebenarnya dan sepertinya Om Jaya itu tipe manusia penjilat. " ucap Zie tersenyum sinis.
"Kau benar Zie..., dengan begitu kita jadi tau bagaimana sifat asli seseorang itu. " ucap Om Malik. " Om nggak nyangka ternyata Jaya penjilat juga. dia akan berbuat baik jika sedang ada maunya." ucap Om Malik sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap buruk ayah dari sahabat anaknya.
Zio sendiri belum menemui tamu tamunya karena dia sendiri sedang sibuk menata taman belakang rumahnya agar terlihat romantis untuk di jadikan tempat saat pengungkapan isi hatinya kepada Zie nanti.
"sama sama Tuan...., suatu kehormatan bagi saya mendapat undangan makan malam secara langsung dari anda" jawab Asisten Mif tersenyum ramah.
keduanya lalu saling berjabat tangan.
"Apa anda datang sendiri?? ".tanya Papa Zio ketika melihat Mif tidak bersama Nona Kei.
" ah... iya..., saya sendiri. tadi Nona Kei bilang sudah jalan menuju kesini terlebih dahulu. " jawab Asisten Mif dengan sopan.
"(padahal saya sudah penasaran dari tadi ingin segera tau seperti apa Nona Kei itu) " batin Papa Zio.
"Oh begitu...., ayo silahkan masuk. " ajak Papa Zio kepada Mif.
Papa Zio lalu mengajak Mif berjalan masuk kedalam rumahnya yang kebetulan berpapasan dengan Zie yang berjalan keluar.
"(akhirnya tau diri juga anak ini....,) " batin Papa Zio melihat Zie yang ingin pergi dari rumahnya.
"Tuan Jaya...., saya pamit pulang terlebih dahulu karena sepertinya kehadiran saya di sini tidak di harapkan. semoga makan malam anda berjalan dengan lancar. " ucap Zie tersenyum sinis.
Ken dan Papanya lalu berjalan mendekat kearah Zie, Papa Zio dan juga Asisten Mif.
"Ya... silahkan..... " jawab Papi Zio dengan entengnya mempersilahkan Zie untuk pergi.
"Ayo Mif....... " ajak Zie kepada Asisten Mif.
"Baik Nona.... " jawab Asisten Mif menurut lalu membungkukkan setengah badannya memberi hormat kenapa Zie lalu pergi mengikuti Zie pergi keluar rumah.
Melihat Asisten Mif pergi begitu saja membuat Papa Zio bingung. bagaimana bisa Asisten Mif menuruti perintah bocah itu bagitu pikir Papa Zio.
"Tunggu Asisten Mif..., kenapa anda ikut pergi??". Cegah Papa Zio yang juga ikut keluar rumah.
Asisten Mif menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Tuan Jaya. sedangkan Zie langsung masuk kedalam mobil Mif dan duduk di kursi penumpang.
" Karena saya mengikuti perintah Nona saya Tuan." jawab Asisten Mif dengan tegas.
"Nona anda....?? siapa Nona yang anda maksud?? " tanya Papa Zio yang masih tidak mengerti.
"dia Nona Kei..... " jawab Asisten Mif singkat padat dan jelas sambil menunjuk kearah Zie setelah itu Mif pergi dari hadapan Tuan Jaya setelah membungkukkan setengah badannya memberi hormat.
Tuan Jaya masih berdiri menatap kepergian Asisten Mif bersama Zie. ia masih belum paham dengan situasi ini.
"Loh... kenapa masih berada di luar.? " tanya Zio yang baru datang menghampiri mereka semua yang ada di halaman rumahnya.
setelah selesai dengan apa yang dia kerjakan, Zio langsung pergi untuk menemui tamu tamunya. tapi dia tidak menemukan siapa siapa di ruang tamu dan ternyata semuanya masih ada dihalaman rumahnnya.
"Zie mana Ken....?? ". tanya Zio.
ia tadi sempat berbalas pesan pada Ken bahwa ia datang kerumah Zio bersama ayah dan juga Zie.
"Papa Lo udah ngusir Zie. " jawab Ken sinis.
"APA....!?!. " kaget Zio sambil membulatkan matanya tidak percaya.
bagaimana bisa Papanya mengusir Zie dari sana sedangkan Papa nya sendiri lah yang menyuruhnya untuk mengundang mereka makan malam bersama di rumahnya.
"Papa....., kenapa Papa mengusir Zie?? apa salahnya?? bukannya Papa sendiri yang menyuruh Zio buat mengundang mereka untuk makan malam di sini?? " tanya Zio tidak habis pikir dengan sikap papanya itu.
"Papa menyuruhmu mengundang Ken, Papanya Ken, Asisten Mif dan juga Nona Kei bukan Zie. jadi Papa mengusir orang yang tidak berkepentingan hadir di acara ini. " jawab Papa Zio.
"Astaga....!!! apa yang sudah Papa lakukan?? Nona Kei itu Kenzie Pah..., dan Papa malah mengusir nya setelah dia datang kemari??" ucap Zio frustasi.
ia tidak menyangka papanya akan berbuat seperti ini.
"APA....!??! Nona Kei itu Ken Kenzie??". Papa Zio sangat kaget mendengar kebenatan itu.
bagaimana bisa?? ia sudah membuat kesalahan yang sangat besar. ia sendiri yang mengundang Nona Kei tapi ia malah mengusirnya secara kasar. Papa Zio benar benar syok dengan keadaan ini. jika dari awal dia tau Nona Kei adalah Zie., ia tidak akan melakukan kesalahan yang memalukan ini.
" Sepertinya kau harus belajar untuk lebih menghormati tamu mu siapapun itu Jaya. sikap mu pada Zie tadi sungguh sangat keterlaluan. tidak seharusnya kau mengusir Zie seperti itu. seharusnya kau tidak memandang rendah seseorang karena kedudukannya, sebab belum tentu kedudukan kita lebih tinggi di banding orang yang kita rendahkan. saya kecewa dengan sikapmu Jaya dan maaf sepertinya saya juga tidak bisa melanjutkan acara makan malam ini. " ucap Papa Ken sambil menepuk nepuk pelan bahu Papa Zio yang masih terdiam. "Ayo Ken..., kita pulang saja. " ajak Papa Ken dan Ken pun menurut tanpa berkata sedikitpun.
Ken juga sebenarnya marah dengan sikap Papanya Zio yang mengusir Zie. sikapnya kepada Zie sungguh sangat di sayangkan. andaikan orang itu bukan orang tuanya Zio, Ken pasti sudah memukul mulutnya.
.
.
.
Bersambung......
.
.
.
.