Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Batal Nikah



Zio memacu mobil sport miliknya yang berwarna putih dengan kecepatan penuh. tempat yang iya tuju saat ini adalah kediaman Cerry. ia harap Cerry tidak benar benar pergi dan membatalkan pernikahannya.


setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya Zio sampai di kediaman Cerry. ia langsung bergegas turun dari dalam mobil dan berjalan cepat menuju pintu lalu menekan bell yang ada di samping pintu rumah.


"Ting.... Tong.......". setelah beberapa kali memencet bell akhirnya pintu rumah terbuka. keluarlah Kakak Cerry yang tidak lain adalah istri Levin.


"Zio........," ucap Kakak cerry melihat siapa yang datang kerumahnya.


"Kak....., Mana Cerry....??". tanya Zio to the poin.


"ayo masuk dulu yo....." ajak Kakak Cerry.


"Nggak Kak makasih, aku cuma mau cari carry.". jawab Zio.


"Zio..., Kakak minta maaf. kakak nggak tau kalau cerry akan pergi dan membatalkan pernikahan kalian tanpa memberi tahu dulu ke kakak. kakak juga baru di beri tahu kalau dia sekarang pergi keluar negeri. yo...kakak benar benar minta maaf atas keputusan yang di ambil cerry." ucap Kakak Cerry ambil menunjukkan pesan singkat yang dikirim Cerry dua jam yang lalu.


mendengar itu, Zio langsung pergi begitu saja tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. ia benar benar marah dan Kecewa atas keputusan yang diambil cerry. kali ini tempat yang Zio tuju adalah Kenangan Resto untuk menemui Levin.


Begitu sampai di restoran, Zio langsung menanyakan keberadaan Levin kepada salah satu pelayan. semua pelayan memang sudah mengenal siapa Levin sehingga langsung memberi tahu Zio bahwa Levin ada di ruang Pribadi Nona bos nya. Zio langsung bergegas melangkahkan kaki dengan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana ruangan itu berada.


"Cekrek.........". Zioembuka pintu ruangan iti dengan sedikit kasar. bahkan ia tidak mngetuk pintu terlebih dahulu.


Zie dan Levin yang ada di dalam ruangan itu di buat kaget dan langsung menoleh kearah orang yang baru saja membuka pintu ruangan itu.


"Bisakah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk keruangan orang lain??". tegur Zie dengan wajah datar. ia lalu kembali fokus pada berkas yang ada di hadapannya.


"Zie.... lo kok di sini?? maaf gue nggak tau kalau lo ada disini juga.". tanya Zio tidak masuk akal. padahal sudah jelas jelas ini ruang pribadi Zie.


"Ini ruangan gue kalau lo lupa!!. harusnya gue yang tanya, ada apa lo kesini??". tanya Zie. ia lalu menutup berkas yang sudah selesai ia periksa.


"iya maaf...., gue ada urusan sama Bang Levin., apa bisa gue minta ijin buat bicara sama Dia.?". jawab Zio sekaligus meminta ijin.


melihat keberadaan Zie, amarah Zio yang tadi meledak ledak sekarang langsung menguap begitu saja.


Zie mengijinkan Zio berbicara dengan Levin meskipun ini masih jam kerjanya. dengan melihat wajah Zio saja, ia tau bahwa Zio pasti sedang menghadapi sebuah masalah.


"Urusin tuh kak...., calon adek ipar lo!!". ejak Zie pada Levin.


"Siap......, sekalian ya gue ijin pulang awal. capek gue pengen istirahat." jawab Levin.


"ett daaah......, dasar ya Manager nggak ada ahlak. bos nya datang malah mau ditinggal kabur. mau gue pecat lo...??" Omel Zie.


"Ya elah......, pelit amat sih jadi Bos, Amat aja nggak pelit kali. lagian ya kerjaan gue udah beres ko. boleh ya Bos?." ucap Levin.


"Lo beneran mau ijin pulang lebih awal kak??" tanya Zie memastikan.


" Astaga Bos Kenzie yang terhormat, gue serius mau ijin pulang lebih awal ini. lo kira gue becanda?? " jawab Levin yang membuat Zie terkekeh.


"ya udah sono lo pulang....!!! bikin sempit ruangan gue aja." perintah Zie.


"eh buset.... lo pikir badan gue segede kontainer apa sampe bikin sempit ruangan lo yang luas begini." jawab Levin.


"Hahaaa..... 11 - 12 sih sama kontainer." ucap Zie ngakak.


"Dah ah...gue pulang ya...., kasihan tuh Zio udah nungguin dari tadi." Pamit Levin.


"siuh........, siuh......,. Pergi sono. datang tak di jemput pulang tak diantar." ucap Kenzie.


"hahahaaa....... jaelangkung dong gue??" sahut Levin.


"Emang......" sahut Zie.


"iya....hati hati di jalan kalian...." jawab Zie.


Levin mengajak Zio keluar dari ruangan Zie. keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah restoran


"Bang....kita duduk dulu disini ya. gue mau ngomong sama lo." ajak Zio kepada Levin. Levin mengangguk dan berjalan mengikuti Zio untuk duduk di sebuah meja yang terletak di sudut ruangan.


"Ada apa Yo?? kayanya serius banget.". tanya Levin. keduanya sudah duduk sambil menikmati minuman yang sudah mereka pesan.


Zio mengeluarkan kertas surat dari Cerry yang sempat ia remas tadi dan menyerahkan kepada Levin. ia meminta Levin untuk membacanya sendiri. saat ini hati Zio lebih tenang di banding tadi saat pertama kali mengetahui bahwa cerry memilih pergi dan menunda pernikahan mereka.


"Apa ini......?". ucap Levin terkejut membaca isi surat dari Cerry. "Cerry menunda pernikahannya demi sebuah fashion show?? apa dia sudah gila??".geram Levin.


"Seperti yang lo baca Bang.... dia lebih memilih mengejar cita citanya di banding gue. semua persiapan pernikahan sudah hampir selesai tapi dia tiba tiba pergi dengan keputusannya sendiri. gue kecewa Bang......!!! sangat sangat kecewa!!! Bagaimana dengan keluarga gue?? bagaimana dengan rekan bisnis yang sudah mengetahui berita pernikahan ini?? apa yang harus gue lakukan Bang?? apa?? ".geram Zio dengan emosi yang kembali menyala.


"Gue minta maaf atas kelakuan Cerry yo..., gue bener bener nggak tau kalau anak itu akan menunda pernikahannya sendiri. dia tidak pernah membicarakan apapun kepada kami sebelumnya. ini murni keputusan Cerri sendiri." ucap Levin.


Levin bingung, apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan nama baik dua keluarga ini. Tidak hanya keluarga Zio saja yang akan menanggung malu tapi keluarga Levin juga sama.


"Gue akan cari Cerry...., gue akan susulin dia kesana dan membawanya pulang. demi meraih cita citanya dia rela mempermalukan dua keluarga besar. Cerry tidak boleh egois seperti ini. ya...gue harus sususlin dia." ucap Levon yakin.


"Nggak Perlu....!!! sahut suara seseorang yang duduk di meja sebelah mereka.


Zio dan Levin menoleh kearah sumber suara. dan ternyata kedua orang tua Zio duduk di kursi sebelah mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Mama...Papa.....?? sejak kapan kalian disini?? tanya Zio kaget. Levin juga tidak kalah terkejutnya dengan Zio.


"Kami sudah di sini sebelum kalian duduk disini. kalian saja yang tidak menyadari kehadiran kami." jawab Mama Zio. "Zio... kalau Cerry pergi dan lebih memilih untuk mengejar cita citanya maka biar kan saja. orang seperti itu sudah pasti tidak cinta sama kamu. kalau dia cinta, dia pasti lebih memilih kamu dari pada impiannya. jadi untuk apa kamu memaksa Cerry kembali dan menikah sama kamu?? bahkan dengan seenaknya sendiri dia mengambil keputusan tanpa memikirkan dampak untuk keluarga". ucap Mama Zio yang merasa kesal dan Kecewa atas sikap calon mantunya itu.


Zio juga sepemikiran dengan Mamanya. ia benar benar sangat kecewa dengan keputusan yang cerry ambil secara sepihak. apalagi kekecewaan itu juga di rasakan oleh keluarganya. Zio tidak bisa memaafkan cerry.


"Maaf Bang Levin....., aku sudah mengambil keputusan. tidak ada istilah menunda pernikahan. dengen ini, aku membatalkan rencana pernikahan dan memutuskan ikatan pertunangan antara aku dengan cerry. meskipun cerry kembali, aku tidak akan melanjutkan dan menikah dengannya. kali ini Cerry benar benar sangat mengecewakan kami semua." ucap Zio tegas. "ayo ma..pa... kita pulang." ajak Zio kepada kedua orang tuanya.


mereka pergi meninggalkan Levin begitu saja, tidak ada yang bisa Levin perbuat karena ini memang mutlak kesalahan Cerry. ia sendiri juga merasa sangat kecewa dengan ke egoisan Cerry.


tanpa mereka tau ternyata Zie menyaksikan kejadian itu melalui CCTV. tidak ada maksud untuk meguping pembicaraan mereka karena awalnya Zie memang sedang memantau kondisi restoran seperti biasa melalui CCTV.


meskipun Zie mengetahui semuanya tapi tidak ada niatan Zie untuk mencampiri urusan mereka karena itu memang bukan hak nya. Zie cukup tau dan menyimpan kejadian itu untuk dirinya sendiri.


.


.


.


.


Bersambung......


.


.


.


.


.