Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Kemarahan Marvin



Kedatangan Kenzie di Cafe tentu di sambut gembira oleh sang manager bermuka datar yang bernama Dev.


sudah beberapa hari ini, Zie sama sekali tidak mengunjungi cafe. semua laporan pekerjaan sudah Dev kirim melalui e - mail sesuai perintah Nona Bos nya.


tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu jika hari ini Nona Bos nya akan datang berkunjung ke Cafe, sehingga kedatangan yang tiba tiba ini membuat kebahagiaan tersendiri bagi Dev.


Sang manager berwajah dingin dan datar dengan sorot mata yang tajam serta tidak pernah tersenyum kepada siapapun ini akan berubah drastis jika bertemu dengan Nona Bos nya. semua sikap yang biasa terlihat menakutkan bagi karyawannya akan berubah menjadi lebih tampang dengan senyum yang selalu tersungging jika sedang bertemu dengan Nona Bosnya.


jika saja sang manager tersenyum tampang seperti itu setiap hari sudah pasti karyawan perempuan akan di buat klepek klepek olehnya. mereka pasti akan berlomba lomba untuk bisa mendapatkan perhatian yang lebih dari sang manager tampan.


"Nona Bos......." sapa Dev menyambut kedatangan Zie sambil membungkukkan setengah badannya memberi hormat.


"ish...., kak Dev apa'an sih....., nggak usah pake hormat kaya gitu segala kali. gue bukan bendera yang harus selalu di beri hormat." canda Zie sambil tertawa.


Meskipun Zie Bos nya, dari dulu ia memang tidak suka di perlakuan formal seperti itu apalagi orang itu Dev yang sudah Zie anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Si Bos bisa aja....."Ucap Dev tersenyum tampan sambil mencolek lengan Zie pelan seperti biasa.


"Awh.....ssstttt........" ringis Zie karena Dev mencolek di bagian lengannya yang terluka.


"Hay bro..... hati hati dengan tanganmu. Aduhhhh....... lengan Zie sedang terluka." pekik Marvin secara reflek melihat gerakan tangan Dev barusan.


"So sorry Zie...., gue nggak tau." ucap Dev tergagap panik melihat Zie meringis kesakitan.


"gue nggak papa ko kak....., sakit sedikit doang." jawab Zie menenangkan keduanya.


"ayo masuk keruangan lo..., biar gue periksa. takutnya lukanya kebuka kembali." ajak Marvin langsung menarik lengan Zie yang tidak terluka untuk menaiki tangga ke lantai dua.


"jangan tarik tarik dong...., gue udah nggak papa, udah nggak sakit." protes Zie.


"Udah ikut aja, jangan banyak protes....!,". ucap Dev yang juga ikut naik ke lantai dua.


Dev penasaran kenapa lengan Zie bisa terluka dan ia juga ingin tau separah apa luka itu sampai Zie mengadu kesakitan saat ia coleknya sedikit tadi.


Zie pun diam dan menurut mengikuti langkah Marvin manaiki anak tangga kelantai dua dimana ruang pribadinya berada.


Begitu masuk kedalam ruangan, Marvin langsung mendukung Zie di atas sofa panjang yang ada diruangan itu. saat ini Zie menggunakan baju berlengan pendek jadi dengan hati hati Marvin menyibak sedikit lengan baju Zie yang menutupi lukanya. Dev membulatkan matanya kaget melihat lengan Zie yang terbalut dengan perban. di kain putih yang membalut lengannya itu tidak ada bercak darah yang terlihat disana, itu artinya luka Zie baik baik saja.


"Apa yang terjadi Zie..., kenapa lenganmu bisa terluka seperti ini??". tanya Dev dengan wajah khawatir.


"Kata Ken, kemarin malam Zie terkena sayatan pisau dari salah satu preman yang menghadangnya di tengah jalan.untung Zie masih selamat." jawab Marvin sambil menghela nafas.


Ken memang mengatakan seperti itu kepada Marvin, ia tidak mengatakan kejadian mengenai Zio yang meninggalkan Zie begitu saja di tengah pengroyokan itu.


Ken tidak mau memperkeruh keadaan antara Marvin dan Zio yang sedari dulu sudah berseteru. Ken yakin jika Marvin tau yang sebenarnya, ia pasti akan sangat marah besar kepada Zio seperti dirinnya juga.


"Ya Tuhan Zieee........., lain kali kalau lo butuh bantuan, teman atau apa pun itu hubungi gue. gue siap jagain lo 24 jam nonstop. jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi ok...?? gue nggak mau lo kenapa kenapa jadi usahakan mulai sekarang jangan bepergian malam hari sendirian. kalau lo nggak ada yang nemenin, langsung bilang sama gue." ucap Dev penuh perhatian.


"iya kak....makasih ya......."jawab Zie tersenyum manis.


"ini pasti sakit banget ya.....?? maaf tadi gue nggak sengaja menggang luka lo." ucap Marvin penuh penyesalan.


"iya nggak papa ko kak....., ini cuma luka dikit doang. bentar lagi juga sembuh."jawab Zie nyengir.


"ya sudah.... kamu istirahat saja disini. jangan khawatir soal kerjaan hm....., ada gue jadi lo tenang aja." ucap Dev menenangkan.


"thank's kak.....lo emang yang paling bisa, gue andalin." jawab Zie tersenyum cantik dan Dev pun mengangguk dan tersenyum tipis


"oiya....kalian mau pesen apa?? minum?? makan??" tanya Dev kepada Zie dan Marvin.


"Nah....cocok Nih..., " sahut Marvin yang teggorokannya sudah kering sedari tadi.


Marvin memesan dua minuman dingin dan beberapa cemilan untuk dirinya sendiri dan juga untuk Kenzie.


hari ini..., Marvin benar benar akan membantu menyelesaikan pekerjaan kenzie yang di dampingi oleh Dev. hitung hitung belajar mengelolah bisnis per Cafe'an agar Marvin bisa membantu Zie untuk menghandle cafe nya jika di butuh kan sewaktu waktu di kemudian hari.


"Akhirnya selesai juga.....," ucap Marvin sambil meregangkan ototnya. hanya ada Zie dan Marvin yang ada di sana saat ini.


"Capek ya.....?". tanya Zie yang masih setia duduk santai di sofa panjang yang ada di ruangan itu.


"ya..., ya...., Kemampuan Tuan Ma memang tidak di ragukan lagi."" jawab Zie yang membuat Marvin tersenyum bangga.


Tiba tiba Dev masuk kedalam ruang pribadi Zie setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Nona Bos..., udah waktunya makan siang." ucap Dev mengingatkan kedua kakak beradik itu.


"ok...., ". jawab Zie, " Kak Marvin kita makan di lantai bawah aja yuk.....??" ajak Zie.


"Kuy....lah......". ucap Marvin yang sudah merapikan kembali meja kerja Zie.


"Kak Dev..., tolong siapin meja buat kita ya, lo juga sekalian makan bareng kita. " Perintah Zie kepada Dev.


"Siap laksanakan....." jawab Dev. "kalau gitu gue turun dulu ya...." pamit Dev.


"Monggooooo........." jawab Zie dengan logat jawa yang membuat Marvin tertawa karena lucu. "Kenapa ketawa??". tanya Zie memandang kearah Marvin.


"Lucu aja..., orang mah dari luar negeri, kuliah dan tinggal disana pulang pulang biasanya ngomongnya pake bahasa ingris. lah ini malah pake bahasa jawa.". jawab Marvin terkekeh.


" lah...kan gue cinta tanah air. bahasa jawa kan salah satu bahasa yang di miliki oleh indonesia." jawab Zie.


"iya in ajah biar cepet soalnya gue udah laper. yuk...ah turun.....!!" jawab Marvin nggak nyambung karena cacing di perutnya sudah unjuk rasa dan mengeluarkan suaranya.


Marvin dan Zie lalu keluar dari dalam ruangan untuk turun ke lantai bawah dan duduk di meja yang sudah di siapkan oleh Dev. Ketiga orang itu akhirnya makan siang bersama dengan diselingi obrolan ringan. setelah selesai makan, Zie dan Marvin pun pamit pulang. Dev mengantar keduanya hingga keluar Cafe, bahkan Dev dengan setia menunggu keduanya hingga masuk kedalam mobilnya.


"Kenzie.......," Seru Zio yang baru saja kaluar dari dalam mobil sport putih miliknya yang terparkir tidak jauh dari mobil yang akan di naiki Kenzie dan Marvin.


Mendengar Namanya di panggil, Zie pun menoleh dan mengurungkan Niat nya untuk masuk ke dalam mobil begitu melihat Zio berjalan cepat kearahnya di ikuti Asisten pribadinya yaitu Nico.


begitupun Dev dan Marvin yang masih berdiri di dekat mobil ikut menoleh kearah Zio.


"Hay Yo...., Hay Nic....." sapa Zie tersenyum kecil.


"Akhirnya gue nemuin lo Zie.....,"ucap Zio begitu berdiri di dekat Zie. " kata Ken kemarin lo terluka Zie?? gimana keadaan lo?? lo baik baik aja kan??". tanya Zio


"gue nggak papa ko..., seperti yang lo liat sekarang, gue baik baik aja." jawab Zie.


"Zie... gue mau berterima kasih sama lo karena kemarin lo udah nolongin gue sama cerry....., gue juga mau minta maaf karena kemarin udah ninggalin lo yang sedang melawan preman itu sendiri gitu aja. gue nggak bermaksud bikin lo celaka karena saat itu gue panik liat Cerry di pukul preman itu dan pingsan. Maaf karena kesalahan gue, lo jadi terluka." ucap Zio panjang lebar.


Tanpa Zio sadari, dua orang yang berdiri didekat Zie memandang kearahnya dengan wajah merah padam menahan amarah, rahangnya mengetat dengan kedua tangan yang berkepal kuat. Marvin dan juga Dev merasa sangat geram mendengar apa yang terjadi kepada Zie sehingga Zie mendapat luka sayatan pisau di lengannya.


"Bugh........!!!." Marvin tiba tiba memukul wajah Zio dengan tenaga penuh sehingga membuat Zio terhuyung kesamping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Dasar Brengs*k.....!!!" umpat Marvin tepat di hadapi Zio. "jadi luka di lengan Zie itu karena nolongin lo!??!.dan Lo yang udah di tolong malah ninggalin dia sendiran gitu aja di tengah tengah preman itu!?!. di mana otak lo hah.....!!.teriak Marvin yang sudah tidak dapat menahan emosinya.


Marvin menerjang Zio dan memukulinya dengan membabi buta.


Zio yang tidak siap pun terkabar di bawah dengan wajah yang sudah babak belur. apa yang di lakukan oleh Marvin saat ini sama seperti yang di lakukan Ken malam itu kepada Zio.


.


.


.


.


.


. Bersambung.....


.


.


.


.