
Malam kini telah berganti dengan pagi, seorang gadis tengah menggeliat di atas ranjang berukuran besar dengan di balut seprai dan bedcover berwarna putih. secara perlahan gadis itu mulai membuka kedua matanya. waktu masih menunjukkan pukul setengah eman pagi sehingga matahari belum muncul dan menampakan dirinya.
"ini kamar siapa?? " gumam Zie yang baru saja membuka matanya. posisinya masih tiduran nyaman di kasur empuk berukuran besar itu.
setelah kesadarannya penuh., Zie langsung duduk dan memindai seluruh ruangan yang memang sangat asing baginya. Zie teringat bahwa semalam ia pulang bersama Darren, tapi kenapa dia bisa tidur dikamar orang lain?? apa yang terjadi?? secepat kilat Zie memeriksa pakaiannya sendiri, ia bernafas lega karena ternyata pakaiannya masih lengkap. bahkan pakaian itu terlihat sangat kotor karena semalam ia belum sempat membersihkan diri.
"Ini pasti Apartemen Kak Darren..., " gumam Zie dengan penuh keyakin. " Kenapa Dia tidak membangunkan ku semalam?? dia bahkan membiarkanku tidur dengan pakaian kotor seperti ini." ucap Zie bermonolog sendiri.
ia lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan menurunkan kakinya satu persatu hingga menyentuh lantai lalu berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi. ia merasa sangat tidak nyaman dengan pakaiannya yang sudah kotor.
selesai mandi, Zie memakai handuk putih yang ada di dalam kamar mandi yang Zie yakini itu adalah milik Darren. ia lalu berjalan mendekati lemari besar yang pastinya berisi pakaian Darren.
"Astaga....., gue harus pakai apa sekarang??. " gumam Zie kebingungan karena ia baru ingat tidak ada baju ganti untuknya.
Zie lalu membuka lemari milik Darren dan mencari cari kaos atau celana yang mungkin bisa ia kenakan saat ini.
"Ini kenapa nggak ada yang ukurannya pas di badan gue sih?? ukurannya besar semua. apa emang badan gue yang terlalu kecil ya? ah tidak juga.., kak Darren kan memang badannya tinggi dan kekar" gumam Zie sambil memilih milih pakaian Darren.
Zie menutup kembali lemari itu karena tidak ada yang cocok dengannya. ia lalu beralih membuka lemari lain untuk mencari baju yang bisa ia kenakan.
"Astaga......," pekik Zie sambil melebarkan matanya menatap isi di dalam lemari itu. wajah Zie berubah memerah menahan malu begitu tau isi dari lemari itu. "Sarang Naga Kak Darren banyak banget." ucap Zie sambil terkikik sendiri lalu langsung menutup kembali lemari itu yang ternyata berisi ****** ***** milik Darren.
Zie menghela nafasnya karena belum menemukan pakaian yang bisa ia kenakan. bahkan saat ini Zie hanya memakai selembar handuk putih yang melilit tubuhnya menutup bagian dadanya kebawa sampai diatas lutut.
"Gue harus suruh Andre buat beliin pakain dan mengantarnya kesini. " guamam Zie.
ia lalu berjalan kearah ranjang dan mencari keberadaan HPnya disana.
"Ya ampun.... gue lupa, gua kan nggak bawa HP waktu di culik kemarin. Hp dan dompet gue semuanya masih ada di dalam mobil. " ucap Zie menepuk jidatnya sendiri." lagian gue juga nggak tau alamat apartemen kak Darren ini." ucap Zie lalu duduk di tepi ranjang. " terus gue harus gimana dong ini. " Zie frustasi karena tidak ada baju ganti untuknya.
Zie menatap lemari yang belum sempat ia buka. Zie beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat kearah lemari itu berharap semoga saja ada baju yang bisa ia gunakan. ia lalu membuka lemari itu yang ternyata berisi kemeja milik Darren.
"Sepertinya ini bisa gue pakai.... " ucap Zie tersenyum senang.
ia lalu mengambil salah satu kemeja milik Darren yang berwarna hitam dan langsung memakainya.
terlihat kemeja itu kebesaran di tubuh kecil milik Zie yang panjangnya saja sampi di atas lutut Zie., ia lalu menggulung lengan kemeja yang juga kepanjangan itu hingga sebatas siku.
"Tidak buruk.....," ucap Zie sambil mematut dirinya di depan kaca besar yang ada di kamar itu. Zie juga memakai sisir milik Darren untuk merapikan rambut panjangnya.
sebenarnya Zie merasa tidak nyaman dengan pakaiannya saat ini, bukan karena bajunya yang kebesaran tapi karena ia sama sekali tidak memakai dalaman.
kemeja Darren hanya akan ia pakai untuk sementara, karena ia akan meminjam HP Darren untuk memesan baju dan ********** untuknya nanti.
"Ini semua gara gara Kak Darren...., kenapa juga dia nggak bawa gue pulang kerumah dan malah bawa gue ke apartemennya. kan gue jadi ribet sendiri." Zie terus saja ngedumel sambil berjalan keluar dari kamar milik Darren dan menuruni anak tangga dengan hati hati.
Apartemen Darren memang terdiri dari dua lantai yang mana kedua kamarnya berada di lantai dua. Zie tidak tau ada ruang apa saja di apartemen mewah milik Darren ini. yang jelas apartemen itu mewah dan cukup besar.
Darren yang bangun lebih awal dari Zie saat ini tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Zie dan juga dirinya sendiri. tapi sebelum berkutat di dapur, ia sudah menyuruh asistennya untuk membelikan beberapa baju wanita lengkap dengan underwaarnya karena itu yang di butuhkan Zie saat ini.
"prang..... " spatula yang Darren pegang terlepas begitu saja dari tangannya dan jatuh ke lantai saat ia melihat Zie yang sedang menuruni anak tangga.
Darren yang sedang membuat telur mata sapi tidak sengaja menoleh ke arah tangga yang mana ada Zie yang berjalan di sana. Zie terlihat sangat cantik padahal hanya memakai kemeja kebesaran berwarna hitam dengan rambut panjang hitam yang di biarkan tergerai begitu saja. kancing bagian atas kemeja memang tidak di kancing kan sepenuhnya sehingga membuat bahu putih Zie sedikit terekspos dan itu terlihat sangat seksi menurut Darren. seolah ada efek slow motion yang memperlambat langkah kaki Zie yang sedang menuruni anak tangga sehingga membuat Zie terlihat sangat anggun. Darren sampai terpaku dan tanpa sadar menjatuhkan spatula di tangannya.
"(ya Tuhan......, pagi pagi begini sudah mendapat pemandangan yang sangat indah. kuatkan imanku dengan godaan yang ada di depan mataku saat ini ya Tuhan) " batin Darren.
"Kakak.... itu gosong.. " pekik Zie yang melihat teflon di depan Darren mengepulkan banyak asap yang berwarna hitam.
Darren yang mendengar seruan Zie pun langsung tersadar dan menoleh kearah teflon yang ada di depannya.
"Astaga.... telor ku!! ". kaget Darren dan langsung mematikan kompornya. " yah.... gosong.... " ucap Darren yang melihat bentuk telur mata sapi buatannya yang berubah warna menjadi hitam.
Zie tertawa melihat telur mata sapi buatan Darren dalam keadaan yang mengenaskan itu. entah apa yang Darren pikirkan sampai ia melamun dan membuat masakkannya gosong seperti itu. untung tidak sampai kebakaran.
sebenarnya Zie juga terpesona dengan penampilan Darren saat ini. seorang Pria tampan berbadan tinggi dan kekar yang ber setatus ketua mafia dan seorang pengusaha muda tengah sibuk di dapur dengan celemek yang menggantung di lehernya dan kedua tali yang ada di sisi kanan dan kiri celemek itu di ikat melingkar di pinggangnya. sungguh pemandangan yang sangat langka menurut Zie.
"Kamu tuh yang udah bikin kakak mengalihkan perhatian dari telor itu. " jawab Darren yang malah menyalahkan Zie.
"Lah ko jadi aku?? ". tanya Zie heran.
" iya lah.... siapa suruh kamu berpenampilan cantik seperti ini??". ucap Darren tersenyum tampan.
Zie langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya sendiri karena merasa penampilannya di perhatikan oleh Darren. Zie merasa risih dan malu karena ia tidak memakai underwear saat ini.
"Jangan liat liat kak....!! " Perintah Zie dengan wajah memerah menahan malu.
"Kenapa....??". tanya Darren yang memang tidak tau apa apa.
" Pokoknya jangan liat dulu..., aku malu!!" jawab Zie.
tiba tiba bel pintu apartemen milik Darren berbunyi, bertanda ada orang yang datang. Zie berbalik badan dan berniat untuk membukakan pintu tapi Darren segera menghentikan Zie yang akan melangkahkan kakinya.
"Tunggu Zie..., biar kakak yang bukain. kamu di sini saja. " ucap Darren yang lebih seperti perintah.
Zie mengurungkan niatnya dan memilih duduk di meja makan yang sudah tersedia nasi goreng buatan Darren.. Sedangkan Darren langsung berjalan menuju pintu apartemennya. ia tidak akan membiarkan orang lain melihat Zie dengan penampilan seperti sekarang ini.
ternyata orang yang datang itu adalah Asisten Darren yang mengantarkan pesanan Darren tadi.
"Siapa kak....? " tanya Zie yang melihat Darren datang membawa beberapa paperbag berukuran cukup besar.
"Oh... itu Asisten kakak mengantarkan pakaian untuk mu. " ucap Darren sambil memberikan semua paperbag itu kepada Zie.
"ini semua pakaian untukku?? ". tanya Zie tersenyum senang dan Darren pun mengangguk membenarkan pertanyaan Zie. "aaaa..... makasih kak..., kamu memang selalu ngertiin aku. padahal aku baru saja ingin meminjam HP kakak buat pesen pakaian. " ucap Zie sambil kebuka paperbag itu satu persatu untuk melihat apa saja isi di dalam sana.
"ayo kita sarapan dulu...., " ajak Darren yang sudah duduk di kursi sampin Zie.
"Kakak...., aku ganti baju dulu ya?? aku sudah tidak nyaman karena tidak memakai............ " kalimat Zie menggantung begitu ia sadar dengan apa yang akan ia ucapkan kepada Darren. tentu saja wajah Zie langsung memerah karena menahan malu.
"(untuk mulut gue rem nya pakem) " batin Zie.
"Tidak memakai apa Zie?? ". tanya Darren penasaran. " kenapa wajahmu merah sekali? apa kamu sakit?? ". Tanya Darren khawatir. tangannya langsung terulur menyentuh kening Zie untuk memeriksa suhu tubuhnya.
" Tidak kak... aku baik baik saja. "jawab Zie dengan cepat menyingkirkan tangan Darren yang menempel di keningnya.
" Kamu yakin....?? ". tanya Darren lagi.
" Sangat yakin kak..., ya sudah aku ganti baju dulu ya. " ucap Zie yang langsung pergi meninggalkan Darren.
ia bisa semakin malu jika Darren terus saja menanyakan hal itu kepada Zie. Zie yang sudah masuk kedalam kamar pun langsung berganti baju.
"Astaga..... kenapa underwear ini warnanya sama seperti sarang naga milik kak Darren yang aku lihat tadi ya?? apa itu warna kesukaannya?? ". gumam Zie sambil terkikik sendiri.
setelah selesai ganti baju, Zie langsung turun kebawah lagi untuk sarapan bersama dengan Darren.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
.