
Setelah makan malam di pinggir jalan, Darren mengantarkan Zie pulang kerumahnya. begitu Zie turun dari mobilnya, Darren tidak langsung pulang tapi malah ikut turun dari mobilnya dan ikut berjalan masuk kedalam rumah Zie.
"Zie..., ada yang mau Kakak bicarakan dengan mu dan juga Om Prabu." ucap Darren ketika melihat Zie yang tengah memandangnya dengan penuh tanda tanya.
Meskipun Zie tidak menanyakannya langsung, tapi Darren bisa tau hanya dengan melihat dari tatapan mata Zie.
"Baiklah kak...., tapi aku mandi dulu ya??, aku sudah sangat tidak nyaman." pamit Zie dan Darren hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tampan
"aku akan panggilkan Papi dulu..., kakak tunggu saja disini." ucap Zie lagi lalu menaiki anak tangga meninggalkan Darren di ruang keluarga.
Zie berjalan ke arah kamar sang Papi. setelah memberi tahu Papi nya bahwa Darren sedang menunggunya, Zie langsung pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri. ia benar benar sudah tidak nyaman dan ingin segera mandi.
setelah selesai membersihkan diri, Zie segera keluar dari dalam kamarnya dan turun kebawah untuk bergabung bersama Darren dan juga Papinya. Zie cukup penasaran dengan apa yang akan Darren bicarakan denagnnya den juga Papinya.
saat ini ia memakai piyama berwarna navi berlebihan pendek dan bercelana panjang. rambutnya di gulung keatas dengan menyisakan bebrapa helai anak rambut yang ada di dekat kedua telinganya. tak lupa ia juga memakai alas kaki berbulu berwarna putih dengan di hiasi boneka kepala kelinci di ujung depannya. sungguh penampilan Zie sangat imut dan menggemaskan.
"maaf ya, Zie udah bikin nunggu lama....".ucap Zie lalu duduk di sebelah Papinya.
Zie langsung bergelayut di lengan kekar sang ayah. ingin rasanya Darren menggantikan posisi Tuan Prabu saat ini agar bisa menjadi tempat sandaran Zie.
"ehm.... jadi gimana, apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami Darren.?" tanya Tuan Prabu memulai pembicaraan seriusnya.
"Begini om..., sepertinya orang yang meneror Om benar benar mengincar Zie. tadi saat pulang kerja, Zie dan Rizky bertukar mobil dan Rizky saat ini dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. menurut cerita dari Rizky, kecelakaan itu sepertinya memang di sengaja Om. Saya yakin mereka sebenarnya mengincar Zie, tapi mereka salah sasaran karena yang di dalam mobil yang mereka kira itu Zie ternyata Rizky." ucap Darren
" Ya tuhan...., lalu bagaimana keadaan Rizky sekarang??". jawab Tuan Prabu kaget.
"Beruntung Rizky baik baik saja padahal mobil milik Zie yang ia naiki rusak parah."jawab Darren.
"Syukurlah kalau Rizky baik baik saja." ucap Tuan Prabu.
"Tunggu tunggu....., maksudnya gimana Kak?? Papi di teror?? siapa yang meneror papi??". tanya Zie bingung karena ia sama sekali tidak di beri tahu tentang teror yang terjadi pada papinya.
"Bagini Zie...., tadi siang di kantor ada seseorang yang mengirim paket untuk Papi. paket itu tanpa nama dan ternyata berisi surat teror." jawab Tuan Prabu sedikit menjelaskan lalu memberikan surat teror itu kepada Zie.
Zie menerima selembar kertas yang Papinya sodorkan dan membacanya.
"jadi orang ini ingin balas dendam sama Papi melalui Zie?? apa orang ini tau kalau Zie anak Papi?? terus apa yang udah Papi lakuin puluhan tahun yang lalu sampai orang ini menaruh dendam sama Papi??". tanya Zie.
"itu dia yang menjadi pertanyaannya sedari tadi."ucap Darren.
"Papi sendiri juga nggak tau kesalahan apa yang sudah Papi lakuin di masalalu. seingat Papi, Papi nggak pernah ngelakuin apa yang orang ini tuduhkan." ucap Tuan Prabu frustasi.
mereka lalu terdiam dengan pikirannya masing masing. ini cukup rumit karena tidak ada petunjuk sedikitpun tentang siapa peneror itu.
"untuk saat ini, baik Zie ataupun om pokoknya harus selalu hati hati di manapun berada karena orang ini sepertinya cukup berbahaya" pesan Darren.
"Kamu benar Darren, untuk saat ini kita memang hanya bisa berhati hati dan waspada terutama kamu sayang. sebaiknya kamu untuk sementara dirumah saja jangan kemana mana. masalah kerjaan biar Mif dan Andre yang hendle. Papi nggak mau terjadi apa apa sama kamu sayang." ucap Tuan Prabu Khawatir. Tuan Prabu mendekap Zie dan mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Tuan Prabu tidak mau terjadi sesuatu kepada anak kesayangannya. sudah cukup Tuan Prabu kehilangan istrinya untuk selamanya tapi tidak dengan anaknya.
"(kasihan om Prabu dan Zie, hiduonya jadi nggak tenang kaya gini gara gara peneror itu. aku nggak akan ngebiarin orang itu nyelakain Zie, bagaimanapun caranya aku harus ngelindungi Zie, aku harus dapatin orang itu secepatnya sebelum terjadi sesuatu sama Zie)". tekat Darren dalam hati.
Darren akhirnya pamit untuk pulang karena hari sudah semakin malam. sebenarnya ia tidak mau pulang ke apartemennya tapi ia ingin ke Markas untuk mencari informasi dari orang orang suruhan Peneror itu. bagaimanapun caranya ia harus segera mendapatkan informasi dari orang orang itu.
sementara itu di sebuah balkon terlihat seseorang sedang berdiri sambil menghisap puntung rokok yang menyala dan terselip di sela jari tangan kirinya. sesekali orang itu meniupkan asap rokoknya keatas. tangan kanannya memegang Hp yang menempel ditelinganya. ternyata orang itu sedang menelepon seseorang. orang misterius itu hanya diam tapi wajahnya terlihat kesal.
"Dasar bodoh kalian semua!!! aku sudah membayar mahal tapi kerjaan kalian tidak ada yang beres!!" umpat orang itu menahan emosi.
"Aku tidak mau tau!! culik anak itu, biar aku sendiri yang menghabisinya. awas jika kalian gagal lagi maka kalian yang akan aku habisi." perintah orang itu sekaligus mengancam dan langsung mematikan sambungan telepon.
Ia membuang puntung rokok yang tinggal setengah itu lalu menginjak ujuk rokok yang menyala dengan sepatunya agar padam. Ia kesal karena lagi lagi anak buahnya gagal dalam menjalankan perintahnya.
"bagaimanapun caranya, aku akan membalas dendamku padamu Prabu Al Azhar. aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia diatas penderitaanku." gumam orang itu
Ia lalu masuk kedalam kamarnya untuk tidur karena malam sudah semakin larut.
...,_____,_____,______,...
Di dalam kamar Zie, ia tidak bisa tidur. badannya terasa lelah tapi pikirannya tidak bisa tenang. sudah berkali kali ia mengganti posisi tidurnya tapi tetap saja kedua matanya tidak mau terpejam.
"siapapun kamu, kamu berhasil membuat hidupku tidak tenang!! dan aku tidak akan membiarkan kau terus menerorku dan Papi.." gumam Zie dalam hati.
Zie bangun dari rebahannya dan melihat jam besar yang menempel di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 1 malam. Zie mengambil Laptop dan mambawanya duduk diatas sofa yang ada dikamarnya. Ia mambuka laptop dan menyalakannya, jari lentiknya mulai menari nari di atas kayboard mengetik dan mencari sesuatu yang hanya Zie sendiri yang tau. ia terus berselancar melalui laptop memakai kemampuannya dalam meretas yang sudah lama tidak ia gunakan.
kali ini Zie meretas CCTV yang ada di di perusahaan Al Azhar dimana kurir itu datang mengantarkan paket untuk Papinya.
"S*al..., orang itu memakai masker dan helmnya juga tidak di lepas." umpat Zie.
Zie terus mengamati pergerakan Kurir itu hingga keluar gedung perusahaan.
"Plat nomer....?? ya......, Dimana kurir itu memarkirkan kendaraannya?, gue harus mendapatkan plat nomer kendaraannya agar bisa tau siapa orang itu." gimana Zie yang masih terus berselancar dengan Laptopnya.
cukup lama Zie mencari cari posisi CCTV yang menyorot langsung kearah kendaraan yang di pakai kurir itu.
"Dapat....!!!". ucap Zie begitu mendapat Plat nomer sepeda motor yang di gunakan oleh kurir itu.
"selanjutnya gue tinggal minta bantuan Mang Diman untuk mencari tahu siapa pemilik plat nomer motor itu. tapi ini sudah larut malam, Mang Diman juga pasti sedang di rumah sakit. besok saja lah minta tolong sama Mang Dimannya." ucap Zie pada bermonolog.
Ia lalu merapikan kembali laptopnya dan menyimpannya di tepat semula. setelah itu Zie naik keatas ranjang king sizenya dan tidur. jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, semoga saja besok Zie bisa bangun pagi seperti bisanya.
.
.
.
Bersambung......
.
.
.