
Ken, Zie dan Nico hanya diam melihat pertengkaran Zio dan Cerry. Mereka tidak mau ikut campur karena ini bukan urusan mereka. ini urusan Zio dan juga Cerry jadi mereka membiarkan keduanya untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. yang Zie tidak suka adalah keduanya bertengkar di tempat umum yang tidak lain adalah cafe milik Zie sendiri. semua orang yang ada di sana jadi ikut mengetahui permasalahan yang terjadi antara Zio dan juga Cerry.
Zie sudah mengingatkan Zio untuk mencari tempat lain tapi Zio menolaknya.
"Udah Yo...., malu di liatin banyak orang." ucap Zie mencoba melerai pertengkaran mereka.
"Diem lo!!! Bentak Cerry kepada Zie "Ini semua pasti gara gara lo kan Zie?? dari dulu lo kan yang nggak suka kalau gue sama Zio. lo mau rebut Zio dari gue hah....!?!" emosi Cerry tersulut kala ia mengingat adegan Zio yang memeluk Zie di depan Cafe tadi. cerry lepas kendali sehingga ia melimpahkan kesalahannya kepada Zie.
"Heh...jaga ya mulut lo!!! lo yang salah kenapa Zie yang di tuduh..!! situ waras hah.....???". Sahut Ken yang tidak terima zie di bawa bawa kedalam masalah Cerry dan Zio. "Urus tuh Cewek gila lo Yo.....!!!". Ken lalu menarik tangan Zie untuk pergi dari sana setelah mengatakan itu kepada Zio.
Nico juga lebih memilih pergi ninggalin Zio dan Cerry untuk mengikuti Ken dan Zie. Ken tak habis pikir bisa bisanya cerry membawa Zie kedalam masalahnya padahal sudah jelas jelas Cerry yang salah.
"tolong usir mereka berdua keluar!! mereka sudah mengganggu kenyamanan pengunjung Cafe.". Bukan Zie yang memerintah Dev tetapi Ken.
Dev langsung melaksanakan perintah dari Ken begitu melihat Zie menganggukkan kepalanya yang artinya Zie juga setuju dengn perintah Ken.
setelah berhasil mengusir Zio dan Cerita keluar Cafe, Ken kembali lagi ke meja Ken, Zie dan juga Nico.
"Permisi Nona Bos....., di luar ada Tuan Marvin juga. apa perlu saya menjaga mereka??". tanya Dev dengan bahasa formalnya.
"tidak perlu, nanti biar saya saja yang urus Marvin." jawab Zie.
Zie beranjak dari duduknya bermaksud untuk mendatangi Marvin.
"Udah Zie biarin aja...., kita makan aja dulu. melihat mereka bertengkar juga butuh tenaga." sahut Nico mencegah Zie untuk pergi.
"Betul itu...., lagian ini sudah jam makan siang. kita makan aja dulu. mereka bukan anak kecil lagi jadi biarkan saja merekael menyelesaikan masalahnya sendiri." timpal Ken yangs setuju dengan ucapan Nico.
"ya udah deh....,kita makan dulu aja. udah laper gue." jawab Zie sambil nyengir lalu duduk kembali.
mereka memesan makan dan minum sesuai keinginan masing masing dan makan dengan tenang setelah pelayan membawakan pesanan mereka.
setelah selesai makan, ketiganya keluar Cafe untuk mengecek Zio, Cerry dan juga Marvin.
*Di Luar cafe
"Yo... jangan kasar dong sama cewek...." tegur Marvin kepada Zio setelah Cerry pergi sambil menangis.
sedari tadi Marvin memperhatikan Zio yang sedang bertengkar dengan Carry hingga mengikutinya sampai di taman yang teletak tidak jauh dari tempat parkir Cafe. meskipun Marvin sudah tau apa permasalahan yang terjadi di antara keduanya, tetap saja Marvin merasa kasihan melihat cerry menangis seperti itu.
"Lo nggak usah ikut campur urusan gue!!." bentak Zio.
"lo nggak kasihan apa sama Cerry, biar bagaimanapun dia itu juga pernah menjadi seseorang yang berarti dalam hidup lo. lagian dia juga sudah mengakui kesalahannya dan minta maaf sama lo." ucap Marvin.
"kalau lo kasihan, lo aja sana yang nikah sama cerry.". jawab Zio semakin kesal.
"Ok....gue bakal kejar cerry lagi dan nikah sama dia." ucap Marvin.
"Apa maksud lo hah?? lo udah sama Zie tapi masih mau deketin cerry??" tanya Zio.
"Kenapa?? lo cemburu??". tanya Marvin mengejek.
"Gue nggak cemburu..., tapi gue nggak akan ngebiarin lo nyakitin Zie dan juga Cerry." ucap Zio tegas.
"Hahaha.........lucu sekali." ucap Marvin sambil tertawa yang di buat buat. "ngaca dong lo!!! disini itu elo yang udah nyakitin hati Zie dan juga Cerry. bukan gue!!" jawab marvin tak kalah tegas.
Zio terdiam. ia tidak bisa membalas ucapan dari Marvin karena memang benar dia lah yang sudah menyakiti hati Zie dulu, dan sekarang dia menyakiti hati cerry juga. Zio memilih pergi meninggalkan Marvin begitu saja. hari ini Zio benar benar merasa sangat kesal.
pertengkaran keduanya tidak luput dari pengawasan Ken, Zie dan juga Nico yang berdiri tidak jauh dari Zio dan juga Marvin. ketiganya bernafas lega karena tidak terjadi perkelahian lagi antara Marvin dan zio. Zie lalu menghampiri Marvin sedangkan Ken dan Nico pamit untuk balik keperusahaan.
"Ken.... apa maksud dari Marvin yang mengatakan kalau Zio udah nyakitin Zie dan juga Cerry?? jangan bilang Zio pernah menjalin hubungan dengan Zie juga." tanya Nico kepada Ken. Nico ikut dengan mobil Ken karena mobil uang tadi ia bawa sudah di bawa Zio pergi terlebih dahulu. Nico sempat terkejut tadi mendengar kata kata Marvin.
"Ya memang seperti itu. sebelum dengan Cerry, Zio memang ada hubungan dengan Zie. tapi hanya gue dan Marvin yang tau, sekarang nambah satu lagi yang tau yaitu lo. jangan pernah bocorin soal itu ke orang lain kalau lo nggak mau babak belur di tangan Zie dan di pecat sama bos lo." jawab Ken.
"Gue nggak ngancam Nic..., cuma mengingatkan saja." jawab ken sambil terkekeh melihat wajah Nico yang langsung memucat.
"tapi kalau gue lebih setuju Zio sama Zie dari pada sama Cerry sih.". ucap Nico.
"Kalau gue nggak setuju Zio balik lagi sama Zie. udah cukup dulu Zio nyia nyiain Zie demi cerry. Zie nggak pantes mendapat perlakuan seperti itu lagi." ucap Ken.
Nico yang merasa Ken sedikit sensitif dengan masalah itu pun memilih untuk tidak membahas lagi tentang Zio dan Zie. Nico memang tidak tau apa apa tentang Zio dan Zie tapi dari pada menyulut emosi Ken lebih baik Nico diam saja.
Zie saat ini sedang menemani Marvin makan siang di dalam cafenya. tadi Marvin memang belum sempat makan karena melihat pertengkaran Zio dan Cerry. saat Zie datang menghampirinya, Marvin menarik Zie masuk kedalam cafe kembali untuk menemaninya makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor.
"Zie....apa lo keberatan kalau gue ngejar cerry lagi??" tanya Marvin. ia ingin tau bagaimana pendapat Zie jika Marvin kembali bersama Cerry.
"Apa lo masih cinta sama Cerry??". tanya Zie dengan tenang.
"Ya..... gue masih sayang sama dia sampai sekarang." jawab Marvin penuh keyakinan.
"jika itu membuat lo bahagia maka kejarlah. gue akan selalu dukung lo kak." jawab Zie tersenyum manis. Marvin juga ikut tersenyum mendengar jawaban sang adik.
"kalau gue balik lagi dengan Cerry, apa lo juga akan balik lagi dengan Zio?? sepertinya Zio masih suka sama lo". tanya Marvin. Zie terdiam lalu menggelengkan kepalanya.
"Gue belum siap ngerasain sakit yang sama seperti dulu kak. bahkan sakit yang dulu saja belum sembuh dan masih terasa sampai sekarang" jawab Zie.
"Apa lo masih Cinta sama Zio?". tanya Marvin lagi dan Zie kembali menggelengkan kepalanya.
"Rasa itu sudah gue kubur dalam dalam, gue lebih nyaman berteman seperti sekarang dari pada harus menjalin hubungan seperti dulu." jawab zie. Marvin tersenyum sambil mengangguk mengerti lalu mengusap puncak kepala Zie dengan sayang.
"apa lo mau nikah sama gue aja?? gue siap ko kalau harus nikahin lo sekarang juga." ucap Marvin dengan candaannya.
" ogah gue nikah sama lo....!!!" jawab Zie sambil memukul lengan Marvin.
"Lah kenapa? gue itu calon menantu idaman loh. gue ganteng, baik hati, bertanggung jawab, tajir pula. kurang apa coba??". jawab Marvin membanggakan diri sambi tertawa.
"Kurang Manis......!!" jawab Zie ngasal. "Lo itu kakak gue, dan sampai kapanpun lo tetep akan menjadi kakak terbaik gue." ucap Zie lagi.
"Makasih ya Zie, walaupun kita tidak punya ikatan darah tapi lo dan papi mau menerima gue seperti anak dan kakak kandung sendiri. gue sangat beruntung memiliki kalian sebagai keluarga gue." ucap Marvin melow. Zie mengangguk.
"sama sama..., gue juga berterimakasih sama lo karena sudah mau menjadi anaknya papi sekaligus jadi kakak gue. kami juga beruntung memiliki lo di tengaj tengah kita.gue sayang sama lo kak." ucap Zie.
"gue juga, selamanya akan selalu sayang sama Papi dan juga adek gue.". ucap Marvin tersenyum tampan.
jam makan siang sudah habis, bahkan sudah lebih setengah jam dari waktu istirahat selesai. Marvin segera kembali kekantor setelah makan siang bersama Zie sedangkan Zie memilih untuk langsung pulang kerumah.
.
.
.
.
Bersambung.....
.
.
.
.
.