Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Penyerangan



Zie berdiri ditepian Rooftop sambil berpedangan pada pagar pembatas. ia memejamkan matanya sambil menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. pemandangan malam hari di ketinggian memang terlihat indah karena di hiasi banyak lampu yang terlihat seperti gemerlap bintang daerah sana. di sekitar restoran tidak ada bangunan yang tingginya melebihi restoran jadi jika berada di rooftop maka bisa memandang luas kedepan.


Zie terhenyak kaget saat merasakan ada sesuatu di bahunya. ia menoleh dan mendapati jaket tebal yang tersampir rapi di bahunya. Zie tersenyum karena jaket itu berasal dari Daren yang sudah berdiri di belakangnya.


setelah dari toilet, Daren langsung naik kembali ke rooftop dan langsung di suguhi pemandangan indah di depannya, seorang gadis cantik sedang berdiri sambil bersedekap dan memejamkan matanya membiarkan angin malam mengapu wajah dan rambut panjangnya yang tergerai. Daren ikut tersemyum melihat bibir merah muda milik Zie membentuk lengkungan senyum yang menawan. udara malam ini memang terasa cukup dingin dan Daren langsung mengambil jaketnya yang ia letakkan di sandaran kursi tadi dan memakaikannya di bahu Zie.


"Makasih Kak......." ucap Zie sambil tersenyum kearah Daren sebentar lalu kembali menoleh memandang lurus kedepan.


" Udaranya semakin dingin, sepertinya mau turun hujan. sebaiknya kita pulang sekarang." Ucap Daren.


Zie langsung meremang begitu suara Daren yang berat dan merdu terdengar sangat dekat di telinganya. Posisi Daren berdiri saat ini menang sangat dekat dengan Zie dan Daren berbicara sambil sedikit membungkukkan tubuhnya agar tingginya mensejajari tinggi badan Zie.


Deg.....


jantung Zie langsung berdebar kuat begitu Zie mebalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan wajah tampan Daren yang masih di hiasi senyuman tipis di bibirnya. Zie diam terpaku melihat ketampanan Daren yang berjarak sangat dekat dengannya saat ini. sungguh ketampaman yang hakiki yang sangat sayang jika di lewatkan begitu saja.


Daren melebarkan senyumnya melihat Zie yang hanya Diam memandanginya. ia tahu bahwa gadis cantik di depannya sedang terpesona dengan dirinya. Daren mengulurkan tangannya dan mengacak puncak kepala Zie seraya berkata....


"Ayo pulang....." ajak Daren masih dengan senyum yang terus mengembang sempurna.


seperti tersihir Zie menganggukkan kepalanya mengikuti perintah Daren. ia bahkan diam saja ketika tangan besar Daren menggenggam tangannya. mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuruni anak tangga. Zie tersenyum samar melihat kearah tangannya yang di genggam erat oleh Daren. ada rasa hangat dan nyaman yang menjalar di hatinya.


Daren tidak melepaskan genggaman tangannya meski mereka berdua berada di dalam lift yang membawa keduanya turun kelantai bawah. begitu pintu lift terbuka, mereka keluar berjalan beriringan menuju pintu utama restoran. semua karyawan yang berpapasan dengan Zie langsung menyapa dan membungkukkan setengah badannya memberi hormat.


Begitu keluar dari pintu utama, mereka langsung di sambut rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.


"Hujan Zie.....," ucap Daren yang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu restoran.


Daren menghadap kearah Zie lalu membenarkan letak jaket yang ada di pundak Zie. sungguh Zie merasa Daren sangat perhatian padanya. bolehkah Zie menaruh perasaan lebih pada Daren?? apakah Daren memiliki rasa yang sama seperti yang Zie rasakan?? Apakah Daren bisa di percaya untuk menjaga hatinya??. banyak pertanyan yang bermunculan di fikiran Zie. bahkan Zie kembali mengingat cinta pertamanya yang meninggalkan luka yang cukup dalam di hatinya. Zie takut merasakan sakit hati lagi seperti dulu jika ia menjalin hubungan asmara.


Daren memanggil petugas yang menjadi Valet Parkir untuk mengambilkan mobilnya di parkiran. begitu mobil terparkir di depan restoran, Daren pun mengambil payung yang di sediakan petugas Valet parkir. ia menggunakan satu tangan untuk memegangi payung dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk mendekap tubuh ramping Zie dan sedikit mengeratkannya hingga merapat di dada bidang Daren. Zie bahkan bisa merasakan detak jantung Daren yang terdengar cukup kuat, ia juga bisa mencium wangi maskulin tubuh Daren yang sangat menenangkan. sungguh Zie benar benar terbuai oleh pesona dari seorang Daren Wang.


keduanya berjalan bersama dalam satu payung yang melindungi tubuh keduanya dari guyuran hujan yang mulai turun deras. Daren sendiri yang memayungi Zie berjalan dengan hati hati dan masuk kedalam mobil. ia tidak akan membiarkan petugas Valet parkir yang melakukannya.


Setelah Zie masuk kedalam mobil baru petugas Valet parkir mengambil alih payung untuk memayungi Daren masuk kedalam mobil juga.


Daren mulai melajukan mobilnya secara perlahan meninggalkan kenangan resto. sungguh malam ini menjadi makan malam romantis untuk keduanya.


Daren, meskipun dia seorang C.E.O sekaligus ketua Mafia tapi ia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. dulu ia pernah dekat dengan seorang wanita tapi hal itu justru menjadi titik kelemahannya. wanita yang dekat dengan Daren menjadi incaran oleh musuh musuh Nya dan berakhir dengan kematian. itu sebabnya Daren tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun lagi karena ia takut kejadian di masalalu terulang kembali. begitu juga dengan kedekatannya dengan Zie. sebisa mungkin Daren menyembunyikannya dari publik. di tambah lagi identitas Zie yang sangat di privasi yang membuat Daren cukup tenang ketika bersama Zie. Seandainya Tuan prabu tidak mengundangnya dalam acara pernikahan putranya mungkin Daren sampai saat ini tidak mengetahui siapa Zie sebenarnya.


"Ciiiitt........" Daren menginjak rem secara tiba tiba untuk menghentikan laju mobilnya. Zie bahkan sampai meletangkan tangannya ke dashboard untuk menahan tubuhnya agar tidak terhuyung kedepan dan terbentur.


"Ada apa kak......?" tanya Zie.


"Maaf...., Kakak berhenti mendadak. kamu nggak papa kan?? " tanya Daren langsung memeriksa keadaan Zie memastikan bahwa dia baik baik saja..


"Aku baik baik saja kak...., ada apa di depan sana??" tanya Zie .


"Kakak juga tidak tau, biar kakak priksa dulu. kamu tunggu di sini. jangan keluar." ucap Daren sebelum turun dari dalam mobil.


"Iya....," jawab Zie menurut.


Daren keluar dari dalam mobilnya untuk memeriksa ada apa di depan sana. ada sesorang yang tergeletak di tengah jalan dan di kerumuni empat orang, seperti korban tabrak lari. pikir Daren


"Bug.......!!." seseorang memukul Daren dari arah belakang begitu mendekat kearah kerumunan.


"Kakaaaakkk........" teriak Zie yang melihat Daren di pukul seseorang.


Tanpa pikir panjang Zie langsung membuka pintu mobilnya.


"Bug....!!". Pintu mobil yang Zie buka secara tiba tiba mengenai seseorang yang berdiri di depan pintu membuat orang itu terjatuh.


"arh.... " pekik orang itu kesakitan. tentu sakit, karena Zie membuka pintu dengan tenaga penuh.


"eh... Sorry nggak sangaja." ucap Zie terkejut.


"Zie... masuk kembali kedalam mobil dan kunci pintunya.!!" Teriak Daren yang samar samar melihat Zie turun dari dalam mobil.


Meski Daren di pukul dari belakang, tapi hal itu tidak membuatnya kehilangan kesadaran. Ia masih bisa melawan orang yang berjumplah enam itu dengan mudah meski dengan tangan kosong. tadi memang ada empat orang disana tapi datang satu lagi yang memukul Daren dari belakang di tambah orang yang tergeletak tadi bangkit dan ikut mengeroyok Daren. dengan gerakan yang gesit, tangkas dan lincah Daren terus memukul, menendang dan menangkis serangan dari lawan.


"Tangkap dia....." Perintah orang yang jatuh tertabrak pintu mobil tadi kepada satu teman nya.


orang itu menyuruh temannya untuk menangkap Zie. memang tadi ada dua orang yang mendekati mobil yang Zie naiki. sialnya orang yang akan membuka paksa pintu mobil malah tertabrak pintu mobil yang di buka dengan kencang secara tiba tiba oleh Zie.


"Bugh......". Zie yang berdiri tegak di samping mobil langsung melayangkan tendangan kepada penjahat yang mendekatinya dengan gaya memutar.


Zie cukup kesusahan memang karena ia memakai dress. bukan memakai celana jadi ia tidak leluasa untuk bergerak. untung saja Zie tidak memakai sepatu high heels yang bisa menambah kesulitannya.


Penjahat yang terkena tendangan Zie langsung terpelanting kesamping, orang itu belum siap menyerang karena tidak tau jika orang yang mereka incar ternyata bisa bela diri.


meski gerakan Zie tidak leluasa tapi Zie mampu mengalahan lawannya yang hanya dua orang dengan mudah.


gerakan Zie dalam berkelahi tidak kalah gesit dan lincah dari Daren hingga dalam waktu sekejap dua orang yang melawan Zie sudah tumbang dan terkapar di atas jalan aspal. Zie lalu mendekat kearah Daren dan membantu Daren mengalahkan enam orang yang mengeroyoknya.


Daren cukup terkejut dengan kemampuan yang di miliki Zie, ia tidak menyangka cewek cantik yang terlihat lemah lembut yang selalu ceria dan berbadan kecil itu ternyata jago bela diri. sungguh gadis yang sangat mengagumkan.


Begitu semua lawan berhasil di lumpuhkan, Daren langsung menghubungi anak buahnya untuk membereskan kekacauan itu. di lihat dari pakaian yang di kenakan orang orang yang menyerangnya, sepertinya mereka bukan preman melainkan orang bayaran yang memang sengaja dikirim untuk menyerangnya.


"Kamu nggak papa kan Zie....??". tanya Daren yang sangat khawatir dengan keadaan Zie.


"Nggak papa ko kak...., aku baik baik saja tanpa lecet sedikitpun." jawab Zie tersenyum manis. " kakak sendiri gimana?? kakak baik baik saja kan?? punggung Kakak pasti sakit ya??" tanya Zie yang teringat bahwa Daren sempat di pukul dari belakang.


"Kakak baik baik saja....," ucap Daren tersenyum sambil mengusap sebelah pipi Zie. "Ayo pulang...., ini sudah malam, biar anak buah kakak yang ngurus mereka semua."ajak Daren dan Zie pun mengangguk


keduanya lalu kembali menaiki mobil dan segera pergi dari tempat itu.


Daren sudah berpesan kepada anak buahnya untuk membawa mereka semua ke markasnya untuk di selidiki lebih lanjut tentang motif penyerangan itu. Daren harus tau siapa orang yang ada di balik menyerangan itu karena ini menyangkut keselamatan Zie yang ada bersamanya.


.


.


.


bersambung......


.


.


.


.