
"Lalu untuk apa Kakak Ada disini dengan wanita itu?? peluk peluk kan lagi, ". ucap Zie yang langsung mengurai peluk kan nya ketika mengingat kejadian tadi yang ia lihat.
wajah bahagia yang baru saja terlihat langsung hilang dan berubah dengan wajah cemberut Zie yang mana membuat Darren gemas sendiri di buatnya. ternyata kekasih barunya ini benar benar sedang cemburu begitu pikir Darren.
"itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan Zie., kakak kesini karena memang akan membicarakan kerja sama dengan perusahaan miliknya" jawab Darren.
"tidak seperti yang aku pikirkan bagaimana?? aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kakak sedang berpeluk kan dengannya tadi. lagian ini hari kan libur, mana ada membicarakan kerja sama di luar jam kerja. " ucap Zie merajuk. ia memang merasa kesal dan tidak suka melihat adegan Darren tadi bersama wanita itu.
"itu tidak seperti apa yang kamu lihat..., tadi dia itu mau jatuh dan kebetulan posisinya dia ada di hadapanku jadi aku menolongnya. hanya itu saja. dia bilang besok akan ada pekerjaan di luar kota beberapa hari kedepan , makannya dia mengajak bertemu untuk membahas kerja sama hari ini. "jawab Darren menjelaskan.
" Alasan....!!!, itu pasti akal akalannya dia saja yang ingin mendekati kakak. "jawab Zie kesal.
" Mungkin.. " jawab Darren.
Darren justru tersenyum senang melihat Zie cemburu dan merajuk seperti ini karena itu artinya Zie benar benar sayang dengannya.
" terus kenapa kakak senyum senyum seperti itu?? senang ya bisa peluk pelukan dengan wanita cantik tadi. " tuduh Zie menatap tajam kearah Darren.
"aku lebih senang peluk pelukan sama kamu dari pada sama orang lain." jawab Darren menggoda Zie.
"Kakaaaak..... " ucap Zie kesal sambil memukul habu Darren pelan.
Darren tertawa melihat wajah kesal Zie yang menggemaskan.
"Dengar Zie....," ucap Daren dengan wajah yang berubah serius. "mungkin ada banyak wanita yang berusaha mendekati kakak. tapi sebanyak apapun itu percayalah bahwa kakak tidak akan pernah berpaling darimu, karena disini cuma ada kamu. " ucap Darren menatap menuh cinta kedalam kedua mata Zie sambil meraih satu tangan Zie dan meletakkannya di dada tepat di mana hatinya berada. Zie bahkan bisa merasakan debaran jantung Darren yang begitu kuat.
"aku percaya..... " jawab Zie menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang terus mengembang di wajahnya.
Darren tersenyum dan kembali mendekap tubuh kecil Zie kedalam pelukannya. ia juga sesekali mencium puncak kepala Zie dengan sayang dan meresapi wangi tubuh Zie yang segar, lembut dan menenangkan. begitu pula dengan Zie yang membalas pelukkan Darren dengan erat, Zie mencium harum aroma tubuh Darren yang maskulin, segar dan juga menenangkan.
"Ehm..... ehm....., sepertinya gue datang di waktu yang kurang tepat." terdengar suara Levin yang membuat pelukan dua insan yang sedang di mabuk asmara itu terurai.
Levin masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu seperti yang biasa ia lakukan. ia memandang Zie sambil menahan senyumnya.
Zie tersenyum malu karena kepergok oleh managernya sendiri, sedangkan Darren tetap bersikap tenang dan biasa saja seperti tidak terjadi apa apa.
"Maaf mengganggu waktu kebersamaan kalian..., tapi Tuan Darren Klien anda sedang menunggu sedari tadi di privat room. sepertinya dia sangat kesal karena menunggu anda terlalu lama." ucap Levin memberi tahu kepada Darren.
"ah.... iya..., aku sampai melupakannya. " jawab Darren enteng tanpa merasa bersalah karena telah membuat kliennya menunggu.
Tadi setelah Darren membawa masuk kliennya kedalam privat room ia langsung pergi untuk mengejar Zie dengan dalih ingin ke toilet. ia tidak mau Zie salah paham atas apa yang di lihatnya barusan. Darren lalu menaiki lift khusus yang biasa Zie gunakan untuk naik ke lantai atas dan bertemu dengan Levin yang sedang berjalan membawa beberapa berkas di tangannya. Darren menghentikan langkah Levin dan setelah berbicara dengannya, Darren mengambil alih berkas itu karena dia yang akan mengantarnya ke ruangan Zie.
"Ya begitulah kalau sudah berduaan dengan sang kekasih, yang lainnya pasti terlupakan. " sindir Levin dengan senyum tertahan.
Ia ingin sekali tertawa melihat wajah Zie yang memerah karena malu. lucu sekali. sangat jarang Levin bisa melihat wajah Zie yang seperti itu.
"ehm.... Levin..., kau adalah orang pertama yang akan ku beritahu tentang hubunganku dengan Zie. mulai sekarang Zie adalah kekasihku jadi kau dan sejenis pria lainnya harus menjaga jarak dengannya kecuali aku. mengerti...!!??!!" ucap Darren kepada Levin.
"APA......?? ". Levin melongo mendengar penuturan Darren barusan.
ingin rasanya ia menempeleng kepala Darren saat ini juga, bagaimana bisa ia dengan mudahnya menyuruh Levin untuk menjaga jarak dengan Zie yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. bahkan Levin lebih dulu dekat dengan Zie jauh sebelum Darren mengenalnya.
"Zie...., nggak papa kan kalau kakak meneruskan pertemuan dengan klien tadi??. " tanya Darren meminta ijin
Darren ingin mempercepat menyelesaikan urusan kerjasama ini agar tidak bertemu dengan Agata lagi. Darren bukan tidak tahu bahwa Agata berusaha mencari perhatian padanya, ia juga yakin tadi itu Agata sengaja menjatuhkan dirinya sendiri kearahnya. Tapi jika Zie tidak mengijinkan, maka Darren akan membatalkan kerjasama antara perusahaannya dengan QA groub.
"tidak papa asal kakak tetap jaga mata dan hati kakak. aku tau wanita tadi memakai baju yang kekurangan bahan, awas saja kalau mata kakak jelalatan kemana mana.!!" jawab Zie yang penuh dengan ancaman.
Darren tersenyum senang mendengar ucapan Zie yang menunjukkan sikap posesif nya.
"Siap sayang...., sesuai perintah kakak akan selalu jaga mata dan hati kakak hanya untukmu seorang." jawab Darren sambil membelai rambut Zie dengan sayang lalu pergi keluar meninggalkan Zie bersama Levin.
"Ck..... Dasar bucin anyaran!! Lebay.....". Levin berdecak mencibir Zie dan Darren.
Zie hanya tertawa mendengar cibiran itu, ia duduk di kursinya lalu mengambil berkas yang Darren bawa tadi dan mulai memeriksanya. Levin yang sudah tau bagaimana cara kerja Zie yang tidak suka di ganggu dalam bekerja pun memilih duduk diam di kursi yang ada di depan meja kerja Zie menemani Nona bosnya menyelesaikan pekerjaannya.
...,, ______,, _______,, ________,,...
Papi Zie, Tante Dewi, Lexa dan Axel sudah sampai di mansion yang ada di kota Y. jarak kota Y dan kota J tidak terlalu jauh sehingga hanya menempuh perjalanan beberapa jam saja dengan menggunakan trasportasi udara.
"Axel..., kira kira hadiah apa yang Zie kirim untuk kita berdua?? gue penasaran banget. " ucap Lexa yang sedang duduk di tepi ranjang king Size milik Axel.
Keduanya sedang berada di kamar milik Axel setibanya di mansion itu.
"Entahlah...., mungkin saja kan kalau Zie itu membohongi kita. jadi jangan terlalu berharap." jawab Axel. sikap dan sifat Axel lebih mirip seperti Papahnya yang pendiam. sedangkan Lexa yang cerewet lebih mirip dengan Mamanya.
Bagaimanapun juga kesan pertama saat mereka bertemu dulu sangatlah buruk. Axel dan Lexa terus saja merendahkan Zie dan juga Marvin saat itu. mereka terus berusaha mengerjai Zie dan Levin walaupun usahanya selalu gagal dan malah berbalik kearahnya sendiri. tidak mungkin Zie akan langsung memaafkannya dan langsung bersikap baik pada mereka meski selama tinggal bersama Zie tidak menunjukkan tanda tanda kebencian atas kehadiran mereka di rumah itu.
"kau benar.... " ucap Lexa merebahkan tubuhnya.
tak lama terdengar suara ketukan pintu di kamar itu, Axel lalu membukakan pintu dan ternyata ada seorang pelayan yang berdiri di sana.
"Maaf Tuan Muda....,, Di luar ada tamu yang ingin bertemu Tuan Muda dan Nona Muda." ucap Pelayan itu.
"Tamu....??, siapa?? " tanya Axel penasaran.
"Sepertinya petugas dari showroom atau dealer Tuan Muda. " jawab Pelayan itu.
Pelayan itu lalu pergi meninggalkan Axel setelah memberi tahunya.
"ada apa....?? ". tanya Lexa yang sudah berdiri di belakang Axel.
" Ada tamu..... " jawab Axel lalu pergi untuk menemui tamu itu.
"aku ikut..... " ucap Lexa yang ikut berjalan di belakang Axel.
mereka menuruni anak tangga dan berjalan keluar menuju pintu utama.
"Maaf apa anda Tuan Axel dan Nona Lexa. " tanya petugas itu.
"iya benar itu kami. " jawab Axel. "ada apa....? " tanya Axel.
"Kami datang membawa paket untuk anda Tuan Axel dan Nona Lexa. silahkan tanda tangani bukti penerimaannya" ucap orang itu.
"paket dari siapa??" tanya Lexa penasaran. sedangkan Axel langsung menanda tangani bukti penerima itu.
"Di sini tertulis dari Nona Kenzie Nona. " jawab orang itu.
Lexa dan Axel saling memandang satu sama lain, mereka tidak menyangka bahwa Zie benar benar mengirim hadiah untuk mereka berdua.
orang itu lalu berjalan ke arah gerbang dan menyuruh dua buah mobil masuk kedalam.
Lexa dan Axel di buat melongo dengan kedatangan dua mobil itu.
satu mobil membawa motor sport impian Axel sedangkan mobil yang satunya adalah mobil J*zz berwarna Attract Yellow pearl keluaran terbaru.
keduanya memekik kegirangan dengan hadiah yang Zie berikan kepada mereka. mereka tidak menyangka jika Zie benar benar memberikan hadiah kepada mereka yang bahkan mereka sendiri tidak pernah membayangkan akan mendapat hadiah yang mereka inginkan selama ini.
"Lexa, Axel.... ada apa ini....??? " tanya Om Prabu yang keluar bersama Mama mereka.
"iya... kenapa kalian begitu heboh." tanya Mamanya melihat kedua anaknya berteriak kegirangan.
"Lihat ma, om....., Zie mengirim hadiah ini untuk kami berdua. " ucap Lexa dengan senangnya menunjukkan kedua hadiah dari Zie.
"Benarkah.....?? " tanya Mama mereka tidak percaya.
ia tidak mengira bahwa Zie akan sebaik ini kepada kedua anaknya. sedangkan Om Prabu hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua keponakannya. Prabu bangga anaknya mau berbagi dengan saudara saudaranya, ia sendiri saja tidak pernah kepikiran untuk membelikan sesuatu kepada keponakannya karena menurutnya Lexa dan Axel hidup berkecukupan, apa yang mereka inginkan selalu di penuhi oleh kedua orang tuanya.
"Lexa..., Axel...., apa kau meminta ini semua kepada Zie?? ". tanya mamanya curiga.
Lexa dan Axel memang beberapa kali meminta di belikan mobil dan motor baru yang harganya tidak murah tapi Dewi belum bisa membelikannya di tambah lagi sekarang suaminya di penjara jadi ia harus pintar mengatur pengeluaran keuangannya.
"Tidak Ma....., kami tidak meminta apapun kepada Zie. dia cuma bilang akan mengirim hadiah untuk kami saat di bandara tadi. " jawab Lexa apa adanya.
"Kalau begitu kalian harus berterimakasih kepada Zie atas hadiah yang dia berikan kepada kalain. " ucap Mamanya.
"iya Ma...., kami pasti akan berterimakasih kepada Zie. " jawab Axel.
Lexa dan Axel lalu masuk kedalam mansion untuk menghubungi Zie.
"Prabu...., terimakasih karena Zie sudah membuat anak anaku senang dengan hadiah yang dia kirim. aku tau hadiah itu tidak lah murah, kau pasti telah mengeluarkan banyak uang untuk menuruti kemauan Zie untuk membelikan hadiah anak anakku. " ucap Dewi tulus.
"mbak nggak perlu berterimakasih kepadaku, karena hadiah itu murni dari Zie. dia membeli itu dari uangnya sendiri. Zie tidak pernah meminta apapun dariku. " jawab Prabu.
"Bagaimana bisa Zie tidak pernah meminta apapun dari ayahnya yang kaya raya?? lalu dari mana Zie mendapatkan uang sebanyak itu untuk membelikan hadiah Lexa dan Axel. " tanya Dewi oenasaran
"memang begitu kenyataannya mbak, apa mbak Dewi tidak tau bahwa Zie adalah seorang pemimpin perusahaan yang cukup besar di negara ini?? selain itu Zie juga memiliki tiga cafe yang terkenal dan juga tiga restoran mewah di kota J." jawab Prabu.
"apa?? bukankah selama ini hanya Marvin yang menjadi pemimpin perusahaan?? Zie hanya membantunya saja??". ucap Dewi kaget.
" Kau salah mbak....., justru Zie lah pemimpin utama Perusahaan MK group. Marvin hanya menjadi wakil pemimpinnya." jawab Prabu.
"Lalu dari mana tiga cafe dan tiga restoran yang Zie milikinya. " tanya Dewi semakin penasaran dengan kehidupan keponakannya yang telah hilang bertahun tahun.
"itu semua peninggalan Neneknya yang ia kelola sejak Zie duduk di bangku SMA, Nenek yang menolong, menjaga, merawat dan membesarkan Zie dengan baik hingga ia bertemu dengan ku. " jawab Prabu mengenang jasa jasa mendiang nenek Bella yang begitu besar untuknya.
Dewi tidak menyangka ternyata keponakannya itu seorang pengusaha sukses sama seperti ayahnya. bahkan Zie berhasil menjadi pengusaha di usianya yang masih duduk di bangku sekolah. Dewi semakin kagum dengan sosok keponakannya itu, dia bertekat akan mendidik dan menjadikan anak anaknya agar bisa membanggakan seperti Zie.
.
.
.
.
Bersambung.....
.
.
.