Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Minta Maaf.......



Keesokan harinya Zie, Marvin dan juga Ken bersama sama pergi keperusahaan Pahlevi group untuk menemui Zio disana. sesuai yang di katakan Marvin dan Ken, keduanya akan meminta maaf kepada Zio karena sudah memukulinya. Zie ikut bersama mereka karena secara tidak langsung hal itu terjadi di sebabkan karena dirinya selain itu juga Zie mengantisipasi jika terjadi perkelahian susulan mengingat Marvin dan Zio yang tidak pernah bisa akur sedari dulu.


kedatangan ketiganya menjadi pusat perhatian di loby Perusahaan Pahlevi.


seorang gadis cantik berjalan dengan di ikuti dua pemuda tampan di belakangnya.


meskipun Ken sudah sering datang tetapi penosanya selalu menyita perhatian kaum hawa di perusahaan itu.


yang jadi pertanyaan para karyawan adalah siapa gerang dua orang yang datang bersama sahabat baik dari orang nomer satu di perusahaan itu.


"Permisi....., apa Tuan Kenzo Pahlevi ada??". tanya Zie kepada bagian resepsionis.


"Ada Nona......, apa Nona sudah membuat janji sebelumnya." tanya Resepsionis itu.


"Bilang saja Nona Kenzie ingin bertemu." ucap Ken kepada resepsionis.


"Baik Tuan." jawab Resepsionis itu dengan cepat.


tentu saja Ia tau siapa Ken karena Ken sudah sering datang keperusahaan itu.


setelah menghubungi sekertaris C.E.O, tidak lama Pintu Lift khusus C.E.O terbuka dan keluarlah Nico yang di suruh Zio untuk menjemput kedatangan Zie.


karyawan bagian resepsionis itu sampai terheran sendiri karena biasanya ia yang di suruh mengantar tamu ke ruangan C.E.O tapi kali ini Asistennya sendiri yang datang untuk menjemput. dalam pikiran resepsionis itu tamu ini pasti sangat penting sehingga C.E.O menyuruh asistennya untuk menyambut kedatangannya. ia harus mengingat wajah wajah orang ini agar tidak membuat kesalahan di kemudian hari bila bertemu dengan mereka kembali.


"kalian datang bersama.......,?? "Sapa Nico yang sudah berdiri dihadapan Ken, Zie dan Marvin.


"ya...memang kenapa??". tanya Marvin


"tidak papa asal jangan membuat keributan saja disini." jawab Nico dengan tegas. ia memang merasa sedikit tidak suka dengan Marvin.


"Kita mau ketemu sama Zio." ucap Ken mewakili semuanya.


"Baik...silahkan ikut saya...." ucap Nico.


Nico mengajak semuanya masuk kedalam lift yang akan membawa mereka kelanti atas dimana ruangan C.E.O berada.


Zio pikir Zie datang sendiri keperusahaannya sehingga ia menyuruh Nico untuk menjemput Zie. Nico sendiri juga heran kenapa Zio menyuruhnya padahal biasanya setiap tamu yang baru datang menginjakkan kaki di perusahaannya ia akan menyuruh bagian resepsionis untuk mengantar keruangannya tapi kali ini berbeda.


Begitu Pintu Lift terbuka Nico membawa mereka semua menuju ruangan Zio. Nico mempersilahkan semuanya masuk ke ruangan setelah Zio menuruhnya untuk masuk. senyum Zio untuk menyambut kedatangan Zie langsung hilang seketika begitu yang masuk kedalam keruangannya adalah Ken dan di susul Marvin di belakangnya.


"kalian??? ada apa kalian datang kemari???". tanya Zio. karena setahunya bahwa Zie lah yang datang, kenapa sekarang jadi mereka?? lalu di mana Zie??


"apa kau akan membiarkan tamumu untuk terus berdiri seperti ini??". tanya Marvin.


"silahkan duduk....." ucap Zio mempersilahkan Ken dan Marvin duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


...,_____,_____,______,...


Sebelum masuk ruangan Zio, Nico sengaja menahan Zie untuk bertanya tujuan mereka datang kemari sehingga Zie tidak langsung masuk kedalam bersama Ken dan Marvin karena ia berbicara terlabih dahulu dengan Nico di luar ruangan. Nico meminta Zie untuk menjaga mereka agar tidak membuat keributan di perusahaan.


"Kami datang untuk meminta maaf kepada Zio secara langsung dan lo tenang aja Nic....., gue ikut mereka memang itu tujuannya karena gue tau gimana sifat Zio dan juga Marvin yang sama sama keras kepala dan tidak mau mengalah." ucap Zie menjelaskan kedatangannya kemari.


"baik lah...... gue percayakan semuanya sama lo. gue yakin lo bisa mrngendalikan ketiga orang itu. kalau gitu gue balik kerja dulu. lo buruan masuk sebelum mereka perang dunia." ucap Nico lalu masuk keruangannya sendiri yang tidak jauh dari ruangan Zio.


Zie langsung membuka pintu setelah mengetuknya beberapa kali. semua mata langsung tertuju padanya begitu ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Zie bisa merasakan suasana di sana sangat tegang. ia lalu duduk di salah satu sofa single yang ada di ruangan Zio.


"Kenapa saling diam??". tanya Zie memecahlan keheningan yang terjadi diantara mereka.


"ehm.....," Ke berdehem sebelum mengeluarkan suaranya. "gue kesini mau minta maaf sama lo yo, maaf gue kemarin udah mukul lo." ucap Ken bersungguh sungguh meminta maaf.


"Gue juga mau minta maaf karena kemarin sudah bikin lo bonyok seperti sekarang. maaf karena gue kemarin kebawa emosi dan lepas kendali." ucap Marvin meminta maaf.


Zio terdiam mendengar permintaan maaf dari keduanya. harusnya ia yang meminta maaf karena sudah berbuat salah karena sudah membuat Zie dalam bahaya waktu itu sehingga ia pantas di benci dan pantas mendapat pukulan atas kebodohannya.


"iya gue maafin..., gue juga minta maaf sama kalian semua atas kesalahan gue, terutama sama lo Zie." ucap Zio meminta maaf dengan tulus.


"gimana, kalian maafin Zio juga nggak??". tanya Zie kepada Marvin dan juga Ken.


keduanya saling memandang satu sama lain dan menganguk.


"kita juga udah maafin lo Yo....." jawab Ken kewakili Marvin dan juga Zie.


"ok....berati sekarang kita damai ya??? jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. apapun masalahnya kita selesaikan baik baik jangan sampai kita berkelahi dan bermusuhan lagi " ucap Zie yang di setujui semuanya.


mereka akhirnya saling berjabat tangan sebagai simbul bahwa mereka tengah berbaikan. akhirnya Zie bisa bernafas dengan lega karena mereka tidak lagi bermusuhan. ia berharap pertemanan mereka bisa terus berlanjut dengan baik.


setelah permasalahan mereka selesai, Zie Marvin dan juga Ken pun pamit.


Zio mengejar mereka ketika sudah keluar dari ruangannya.


"Tunggu.......," seru Zio menghentikan langkah Ken, Zie dan juga Marvin.


Zio memincingkan matanya melihat tangan Marvin bertengger di bahu Zie. Marvin memang berjalan sambil merangkul Zie. ada rasa tak suka di hati Zio melihat pemandangan di depannya itu. seperti tidak rela melihat kedekatan Marvin dan Zie.


"ada apa Yo.....??". tanya Ken yang melihat Zio terdiam setelah memanggil mereka.


"ehm..., bisa kah kita semua malam ini makan malam bersama??, ya anggap saja sebagai tanda perdamaian kita??". tanya Zio. ia berdehem terlebih dahulu untuk menetralkan perasaannya sebelum mengatakan keinginannya.


"Maaf sebelumnya Yo...., tapi kita semua akan pergi ke Bandung siang ini. jadi kita nggak bisa makan malam bersama. mungkin lain waktu." jawab Ken.


Zio tentu tau untuk apa Zie pergi ke Bandung tapi yang mengganjal di hatinya adalah Marvin yang juga ikut pergi bersama mereka. apakah hubungan mereka sedekat itu??.pikir Zio


"Semua??? Marvin juga ikut ?? apa kalian tidak mau mengajakku ikut bersama kalian juga??". tanya Zio.


ada rasa tidak rela ketika Marvin sekarang selalu ada bersama mereka seolah sekarang posisinya sudah di gantikan dengan keberadaan Marvin.


"iya.., gue juga ikut. bukan maksud nggak mau ngajak lo yo...., lo nggak lupa kan kalau sebentar lagi lo itu mau nikah jadi lebih baik lo dirumah aja dan pastikan acara pernikahan lo berjalan dengan lancar sampai hari H." jawab Marvin.


Zio mendengus kesal mendengar jawaban Marvin. ada benernya juga apa yang di katakan oleh Marvin tapi entah mengapa Zio merasa Marvin tengah mengejeknya.


Baru juga berdamai tapi Zio sudah berburuk sangka aja sama Marvin.


Zioo.....Zio... maunya apa sih kamu....??


.


.


.


.


.


Bersambung.......


.


.


.


.