
Tuan Prabu tengah duduk menunggu di depan ruangan dimana Kakaknya baru saja di bawa masuk kedalamnya. lampu yang berada di atas pintu ruangan itu menyala dengan warna merah, itu artinya ruangan itu sedang melakukan operasi. tadi begitu sampai di rumah sakit terdekat, Dewi langsung mendapat penanganan dari dokter dan harus menjalani operasi kecil di lengannya untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang di sana. tidak ketinggalan asisten Zaki yang selalu setia menemani di manapun Tuannya berada juga terlihat duduk di salah satu kursi tunggu tak jauh dari Tuan Prabu. meskipun cemas..., tapi Tuan Prabu masih bisa sedikit tenang karena sedari tempat kejadian kesadaran Dewi masih tetap terjaga hingga ia mendapat penanganan lalu di bawa masuk ke ruang operasi.
"Papi...... "sapa Zie yang baru saja datang bersama Derren.
ia memang ketinggalan jauh dari mobil Papinya karena mengobati lukanya dan luka Darren juga sehingga ia baru sampai di rumah sakit.
" Sayang..... "ucap Tuan Prabu yang langsung mendekap tubuh kecil putri kesayangannya yang sudah duduk di sampingnya saat ini. beberapa menit yang lalu Tuan Prabu benar benar di buat ketakutan oleh musuh dalam selimutnya itu. " Kamu baik baik saja kan sayang?? apa ada yang luka??ada yang sakit??." tanya Tuan Prabu setelah melepas pelukannya. ia khawatir melihat luka lebam di wajah putrinya.
"Zie baik baik saja Pi...., Papi juga baik baik saja kan? Papi tidak terluka kan?Gimana keadaan tante Dewi?". Tanya Zie yang menghawatirkan papinya dan juga Tantenya.
" Papi baik baik saja sayang. " jawab Tuan Prabu tersenyum hangat, ia bahagia ternyata Putrinya sangat perhatian padanya. "Dokter masih melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan peluru di lengan tantemu" ucap Tuan Prabu lagi "Darren..., kamu juga terluka?? sebaiknya kalian juga di periksa sekalian saja sama dokter untuk memastikan kalau kalian baik baik saja. " Perintah Tuan Prabu.
"Darren juga baik baik saja Om.., hanya luka kecil dan lagi sudah di obati juga sama Zie jadi tidak perlu di periksa oleh dokter. lebih baik Zie saja yang di periksa Om... " jawab Darren.
"Tidak perlu Kak, Pi..., Zie juga baik baik saja. percaya sama Zie. nanti kalau Zie merasa ada yang sakit pasti Zie akan periksa ke dokter. " jawab Zie tersenyum sedikit karena sudut bibirnya masih terasa sakit.
"Baik lah kalau begitu..., Papi lega kalian semua baik baik saja.," ucap Tuan Prabu. "Darren..., Terimakasih sudah membantu om menyelamatkan Zie dari Ibnu. " ucap Tuan Prabu dengan tulus.
berkat bantuan dari Darren Tuan Prabu bisa menemukan tempat penyekapan Zie dan menyelamatkannya dari bahayanya Ibnu. jika tidak ada Darren, Tuan Prabu tidak tau apa yang akan terjadi dengan putri kesayangannya saat ini.
"sama sama om....," jawab Darren tersenyum tampan.
Tanpa di minta pun Darren pasti akan menyelamatkan Zie meski nyawa taruhannya. Darren tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Zie. Karena separuh nyawa Darren adalah milik Zie.
tak lama kemudian lampu ruang operasi yang tadi menyala dengan warna merah itu pun padam, itu tandanya operasi yang sedang di lakukan beberapa waktu lalu telah selesai. pintu ruang oprasi pun terbuka dan keluarlah dokter yang tadi menangani tante Dewi.
"Dokter... gimana kondisi kakak saya? ". tanya Tuan Prabu yang langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat kearah dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang oprasi.
" kondisi pasien baik baik saja. oprasinya berjalan dengan lancar dan pelurunya sudah berhasil di keluarkan." jawab Dokter itu.
"Syukurlah....., " ucap semuanya bernafas lega.
"Apa kamu sudah bisa bertemu dengan pasien dokter?? ". tanya Zie.
" Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap, jadi anda bisa menemui pasien disana nanti." jawab Dokter itu ramah. "kalau begitu saya pamit dulu.... " ucap dokter itu membungkukkan sedikit badannya dan pergi.
setelah dokter itu pergi, dua perawat keluar dari ruang operasi sambil mendorong brangkat tante Dewi yang akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Tuan Prabu, Zie, Darren dan juga Asisten Zaki langsung melangkahkan kakinya mengikuti kemana Tante Dewi di pindahkan. setelah sampai di ruang rawat inap, kedua perawat itu pun pamit undur diri setelah mengantar tante Dewi ke ruangannya. sedangkan Dewi sendiri masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius pasca operasi yang baru saja ia jalani.
"Zak.... tolong belikan makanan dan minuman untuk kita semua. " Perintah Tuan Prabu kepada Asistennya.
Tuan Prabu tau mereka semua belum makan malam karena mereka semua di sibukkan dengan ulah Ibnu. beruntung tidak ada korban jiwa dari kejahatan Ibnu meskipun Dewi dan beberapa pengawal mereka terluka.
"Baik Tuan..., kalau begitu saya pamit dulu. " jawab Asisten Zaki Patuh.
Asisten Zaki langsung pergi keluar dari ruang rawat inap itu setelah membungkukkan badannya untuk memberi hormat terlebih dahulu. tidak di pungkiri Asisten Zaki pun merasa sangat lapar karena saat ini sudah jam 9 malam, sudah lewat dari waktunya makan malam. apa lagi ia juga ikut bersama Tuannya berkelahi melawan anak buah Ibnu yang sangat menguras tenaganya.
Tuan Prabu sendiri juga pamit keluar ruangan untuk melakukan panggilan kepada mang Diman untuk mengetahui situasi dan kondisi di tempat kejadian perkara.
"Hallo Diman...., gimana??. " tanya Tuan Prabu begitu teleponnya tersambung dengan Mang Diman.
"Semuanya sudah beres Tuan..., Ibnu dan anak buahnya sudah digiring ke kantor polisi dan saya sudah membuat laporan di kepolisian agar Ibnu dan anak buahnya mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama, bahkan bisa saja ia mendapat hukuman penjara seumur hidup karena ia juga telah melakukan pembunuhan berencana terhadap kakak dan kakak ipar Tuan Prabu sendiri. Ibnu sudah mengakui semua kesalahannya kepada polisi Tuan." jawab Mang Diman menjelaskan semuanya.
"Apa....? jadi Mas Raja dan istrinya meninggal karena Ibnu??". Tanya Tuan Prabu terkejut mendengar kenyataan yang ada.
" benar Tuan...., kecelakaan itu adalah hasil rekayasa dari Ibnu. " jawab Mang Diman. Tuan Prabu terdiam sesaat.
"Ya sudah..., terimakasih atas bantuannya ya Man." ucap Tuan Prabu lalu mengakhiri panggilan itu.
Dari mana Mang Diman tau soal pembunuhan berencana yang Ibnu lakukan?? jawabannya adalah dari Zie.
ya... sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Zie menelpon Mang Diman dan menceritakan segalanya yang menjadi sebab adanya dendam di diri om Ibnu kepada keluarga Al Azhar. mulai dari hubungannya om Ibnu dengan Maminya sampai kecelakaan yang menimpa kakak dan kakak ipar dari Papinya yang ternyata adalah setingan dari Ibnu sendiri karena Ibnu tidak Terima atas kematian Mami Zie yang juga di bunuh oleh orang suruhan Kakak dan kakak ipar Papinya.
Asisten Zaki datang membawa makanan, minuman dan beberpa cemilan dan juga buah untuk menemani mereka menjaga Tante Dewi di rumah sakit. mereka semua makan bersama di ruang rawat inap Tante Dewi yang memang ukurannya cukup besar karena tante Dewi menempati salah satu ruang VIP di rumah sakit itu. setelah selesai makan, Tuan Prabu meminta Darren agar mengantar Zie pulang kerumah.
"Sayang.... lebih baik kamu sekarang pulang dan istirahat dirumah. biar Papi saja yang menjaga Tantemu di sini. kamu butuh mandi dan istirahat setelah seharian menjadi tawanan Ibnu. " Perintah Tuan Prabu penuh perhatian.
"Tapi Pi...., Zie pengen disini nemenin Papi untuk menjaga Tante" tolak Zie.
"No sayang...., kamu butuh istirahat. Papi nggak mau kamu jatuh sakit nanti. lagian kata dokter Tantemu juga sudah baik baik saja jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. nurut ya sama Papi. " ucap Tuan Prabu yang tidak mau di bantah dan Zie pun akhirnya menganggukkan kepalanya patuh.
"Darren..., kamu bisa tolong Om lagi nggak buat antar Zie pulang?? ". tanya Tuan Prabu kepada Darren.
" Tentu saja Om..., saya akan mengantar Zie dan menjaganya dengan baik hingga sampai di rumah nanti. " jawab Darren yang membuat Tuan Prabu tersenyum.
Darren dan Zie akhirnya pamit untuk pulang terlebih dahulu sesuai apa yang di katakan oleh Tuan Prabu. begitu sampai di depan rumah sakit, ternyata sedang turun hujan yang cukup lebat.
"Kamu tunggu disini dulu ya Zie..., kakak ambil mobilnya dulu di parkiran. " pesan Darren. ia menyuruh Zie untuk menunggu di depan pintu utama agar tidak terkena air hujan saat mengambil mobil di parkiran.
"iya kak....., " jawab Zie dengan singkat.
Darren langsung melangkah pergi setelah mendengar jawaban dari Zie. tak lama datang mobil mewah milik Darren yang berhenti di depan Zie berdiri. Darren turun dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Zie.
"makasih kak..... " jawab Zie tersenyum sambil menahan rasa sakit di sudut bibirnya.
Darren hanya tersenyum tampan dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Zie. setelah itu mobil Darren mulai melaju di bawah guyuran air hujan meninggalkan Rumah sakit.
waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Darren dan Zie masih berada di jalan terjebak macet. ternyata di depan sana ada pohon besar tumbang yang menghalangi jalan sehingga kendaraan di jalan itu tidak bisa lewat.
"Pantas tidak ada suaranya.... " gumam Darren sambil tersenyum setelah menoleh kearah Zie karena ternyata Zie sudah tertidur.
Darren tau Zie pasti sangat merasa lelah hari ini, Darren akhirnya putar balik arah mobilnya membawa Zie menuju Apartemennya karena kemungkinan kemacetan akan sampai menjelang dini hari jika menunggu polisi lalu lintas untuk memindahkan pohon besar yang menghalangi jalan.
Begitu sampai di basement apartemennya, Darren menggendong tubuh kecil Zie dan membawanya masuk kedalam Apartemennya. ia tidak tega jika harus membangunkan Zie karena ia tertidur dengan sangat pulas. bahkan gerakan Darren saat menggendongnya pun sama sekali tidak mengusik tidurnya. Darren membawa Zie masuk kedalam kamarnya dan meletakkan tubuh Zie di atas ranjangnya yang berukuran besar itu.
"Kamu pasti sangat lelah..... " ucap Darren sambil memandangi wajah Zie yang masih tetap cantik meski terdapat beberapa lebam di wajahnya. tangan Darren terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah damai Zie yang tertidur lelap.
"Tidur yang nyenyak ya sayang......" ucap Darren lalu mencium kening Zie dengan penuh perasaan.
Setelah itu Darren membenahi selimut Zie lalu pergi meninggalkan Zie di dalam kamarnya. Darren masuk kedalam kamar lain untuk membersihkan diri lalu beristirahat. untung saja apartemennya mewah nya memiliki dua kamar sehingga malam ini Darren tidak perlu tidur di sofa karena ada Zie yang menempati kamarnya.
.
.
.
.
Bersambung.....
.
.
.
.
.