Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Kedatangan Tuan Jaya



Setelah makan siang, Zie kembali ke perusahannya dengan menggunakan motor sportnya. tapi Darren tetap mengantarnya meski menggunakan kendaraan yang berbeda. dengan mobil yang ia kendarai, Darren mengikuti Zie dari belakang hingga sampai kantornya.


"Harusnya kakak tidak perlu mengantar ku karena aku bisa kekantor sendiri, memang kakak tidak ada kerjaan??. " tanya Zie yang melihat Darren turun dari dalam mobilnya dan ikut berjalan masuk kedalam kantor.


"Kakak hanya ingin memastikan kalau kamu sampai di kantor dengan selamat. Kerjaan itu memang penting tapi kamu lebih penting dari segalanya buat kakak." jawab Darren tersenyum tampan.


"So sweet.... jadi makin sayang. " sahut Zie ikut tersenyum.


"Anything for you Honey..... " ucap Darren


mereka berdua lalu menaiki lift khusus yang akan mengantar mereka sampai lantai teratas. Begitu keluar dari dalam lift, Zie langsung di sambut oleh Asisten pribadinya.


"Maaf Nona....., ada Tuan Jaya dari Perusahaan Pahlevi group yang ingin bertemu dengan Nona. " ucap Mif memberitahu.


Zie mengerutkan keningnya mendengar ayahnya Zio datang ke kantornya. ia pasti tau hal apa yang telah membawanya datang kemari.


"Di mana Orangnya?? " tanya Zie


"Ada di ruang tunggu Nona. Apa Nona mau menemuinya?? ". tanya Mif lagi.


"Hm...., suruh masuk keruangan ku. " perintah Zie


"Baik Nona.... " jawab Mif membungkukkan setengah badannya lalu pergi menemui tamu Nona Bos nya.


Zie masuk kedalam ruanganny dan Darren masih setia menemaninya.


"Kakak akan kembali ke kantor, nanti kakak akan menjemputmu saat pulang kerja. " pamit Darren kepada Zie.


"No kak....., aku bawa motor sendiri jadi kakak tidak perlu menjemputku. aku bisa pulang sendiri" tolak Zie.


"Haah....aku menyesal tadi pagi tidak bisa mengantarmu berangkat kerja dan membiarkan mu berangkat kerja menggunakan kendaraan sendiri." ucap Darren sambil mendes*h." Baik lah....., tapi nanti malam kau harus makan malam bersama ku. " ucap Darren membelai rambut panjang Zie dengan penuh kelembutan. Zie mengangguk dan tersenyum mengiyakan ajakan Darren. "ya sudah...., Kakak Pergi dulu..... " pamit Darren lalu mencium kening Zie sekilas.


"Hati hati di jalan ya Kak... " ucap Zie. Darren tersenyum dan mengangguk lalu pergi keluar ruangan Zie.


Di depan pintu, Darren bertemu papa Zie bersama dengan Mif. Mif membungkuk memberi hormat kepada Darren dan Darren membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari Nona Bosnya, Asisten Mif membuka pintu dan mempersilahkan tamu Nona Bosnya untuk masuk kedalam.


"Silahkan masuk tuan..... " ucap Asisten Mif kepada Tuan Jaya Pahlevi.


"Terimakasih Asisten Mif. " jawab Tuan Jaya.


Zie mempersilahkan Tuan Jaya untuk duduk di sofa empuk yang ada di ruang kerjanya. sedangkan Mif langsung pamit untuk kembali bekerja.


"Zie...., ah maksud saya Nona Kei. maaf jika kedatangan saya telah mengganggu waktu anda. maksud kedatangan saya kesini adalah untuk meminta maaf secara langsung kepada Nona Kei atas sikap saya yang kurang mengenakkan tempo hari. maaf karena telah berlaku tidak sopan kepada Anda. saya tidak tau kalau anda adalah Nona Kei. andai saya tau dari awal kalau Nona Kei adalah anda pasti saya tidak akan melakukan hal itu. saya benar benar menyesalinya..., saya berjanji tidak akan berlaku tidak sopan seperti itu lagi. " ucap Tuan Jaya semanis mungkin.


Tuan Jaya akan melakukan apapun agar bisa terus bekerjasama dengan perusahaan MK group. ia tidak akan membiarkan hubungan kerja perusahaan yang bisa memberikan keuntungan besar kepada perusahaannya hilang begitu saja.


Zie tersenyum sinis mendengar ucapan permintaan maaf dari ayahnya Zio. dengan melihat raut wajah dan sorot mata Tuan Jaya saja Zie sudah bisa tau bahwa permintaan maaf darinya tidak lah tulus.


"Terimakasih karena Tuan Jaya sudah meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk datang kemari menemui orang yang tidak penting seperti saya. " ucap Zie merendah namun penuh dengan sindiran. "tapi saya sangat yakin jika anda tidak tau kalau saya adalah Nona Kei makan anda tidak akan merasa bersalah dan repot repot datang kemari untuk meminta maaf seperti sekarang ini. benar kan?? " tanya Zie dengan sikap tenang nya dengan pandangan mata yang tajam. "mau saya Nona Kei atau bukan, tidak sepantasnya anda bersikap seperti itu?? Saya tidak menyangka Tuan Jaya yang terhormat bisa bersikap sangat buruk kepada tamu undangannya sendiri. Anda tidak hanya mengusir saya tapi juga telah mempermalukan dan merendahkan saya. kalau anda menjadi saya, apa yang akan anda lakukan?? ". tanya Zie dengan tegas. Zie sedikit tersenyum tapi senyum itu justru terlihat menakutkan.


Tuan Jaya terdiam karena ternyata Nona Kei bisa membaca dengan mudah apa yang ada di pikirannya. sungguh Tuan Jaya merasakan aura yang berbeda dari teman putranya ini. suasana ruangan itu tiba tiba terasa menegangkan bahkan keringat Tuan Jaya mulai terasa merembas di keningnya. padahal ruangan mewah itu ber AC dengan suhu yang dingin. Tuan Jaya seorang pemimpin perusahaan yang biasanya bersikap layaknya Bos besar dengan kesombongannya kini terlihat menunduk. nyalinya menciut melihat kemarahan dalam ketenangan dari Nona Kei.


Tadi saat akan datang ke perusahaan MK group, Tuan Jaya sangat yakin kalau ia bisa meminta maaf kepada Nona Kei dengan mudah, tapi apa yang ia rasakan sekarang?? sungguh di luar ekspektasi. jangankan merayu dengan kata kata manis agar mendapatkan maaf, untuk mengeluarkan suara saja rasanya tercekat di tenggorokan.


Zie masih menahan emosinya agar tidak meledak, ia masih menghormati Tuan Jaya karena bagaimanapun juga Tuan Jaya adalah orang tua dari sahabat baik sekaligus mantan kekasihnya. Zie menghela nafasnya sebelum berbicara lagi.


"Sudah lah Tuan...., lupakan saja. saya sudah memaafkan anda karena saya masih menghormati anda sebagai orang tua teman saya. saya hanya berharap Tuan Jaya mau mengubah sikap buruknya kepada siapapun demi kebaikan anda sendiri. hormatilah orang lain jika anda ingin di hormati juga. " ucap Zie dengan tenang.


Zie masih menghargai usaha Tuan Jaya yang mau meminta maaf secara langsung kepadanya meski tidak ada ketulusan dari dalam kata kata yang ia ucapkan. Zie memilih memaafkan agar masalah ini tidak berkepanjangan.


malu...., itulah yang di rasakan Tuan Jaya saat ini. ia yang sudah mempermalukan Zie tapi ia sendiri yang menanggung rasa malu itu. setelah mendapatkan Maaf dari Zie, Tuan Jaya lalu pamit undur diri. ia keluar dari dalam ruangan Zie dengan kepala menunduk, yang awalnya datang meminta maaf bertujuan untuk membicarakan kelanjutan kerja sama antara perusahaan mereka tapi Tuan Jaya malah tidak memiliki keberanian itu. jangankan membahas kerja sama, mengeluarkan suara pun Tuan Jaya merasa kesusahan. sepertinya suara yang ia miliki sudah kabur terlebih dahulu meninggalkan dirinya saat melihat aura yang di miliki Nona Kei.


Zie kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Tuan Jaya. tiba tiba pintu ruangannya di ketuk dan langsung terbuka sebelum Zie mempersilahkannya untuk masuk. tentu saja Zie tau siapa pelakunya yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. untung Zie sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Ada apa Kak....? ". tanya Zie begitu Marvin sudah duduk di kursi yang ada di hadapannya.


" Zie.... gue sama Cerry mau pindah rumah. gimana menurut lo....?? ". tanya Marvin.


Ia sudah memikirkan matang matang tentang keinginannya untuk pindah rumah saja demi kenyamanan bersama. Marvin tidak mau Cerry dan Zie terus berselisih dan terlibat pertengkaran.


"Kalau gue sih terserah lo aja kak....., ada baiknya lo sama kakak ipar pindah rumah karena itu bisa melatih kemandirian kalian dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tapi kalau kalian pindah, rumah pasti akan terasa sangat sepi. nggak ada lagi yang bisa gue ajak ribut." jawab Zie tersenyum.


ia tau masalah apa yang sedang di hadapi kakaknya ini. sebuah pilihan antara istri dan adiknya, Zie tau kalau Carry tidak menyukainya tapi Zie bersikap biasa saja.


"Jadi lo lebih milih gue sama Carry pindah rumah apa enggak?? ". tanya Marvin memastikan karena alasan Marvin untuk pindah agar adik dan Istrinya tidak berseteru lagi.


" Kalau pendapat gue sendiri...., gue lebih suka kalian tinggal di rumah bersama kami." jawab Zie.


"Meskipun Carry sering marah marah tidak jelas sama lo??. " tanya Marvin lagi.


"Ya......, gue nggak masalah. gue malah suka ada yang bisa gue ajak berantem selain lo. kan jadi makin rame tuh. " jawab Zie terkekeh. " tapi lo nggak bisa mengambil keputusan berdasarkan pendapat dari gue aja. lo juga harus meminta pendapat papi dan yang utama pendapat istri lo sendiri. nanti kita bahas lagi masalah ini kalau papi sudah kembali." jawab Zie sambil merapikan berkas berkas yang ada di meja kerjanya.


Setelah semuanya rapi, Zie dan Marvin keluar dari ruangan Zie karena jam sudah menunjukkan waktunya pulang kerja. mereka pulang dengan mengendarai kendaraannya masing masing menuju rumah yang sama.


.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


.


.


.


.