Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Udah kebelet



Sebulan pun telah berlalu semuanya melalui hari dengan kesibukan masing masing seperti biasa. seperti saat ini, Zie sedang menghabiskan waktu dengan duduk di balkon atas rumahnya seorang diri. ia menikmati hembusan angin malam dengan di temani secangkir coklat panas dan sebuah gitar dipangkuannya. ia sesekali bernyanyi sambil memetik gitarnya.


"Zieeeee..........," tiba tiba Marvin datang dan langsung duduk di samping Zie.


ia menyenderkan kepalanya di bahu kecil Zie lalu menghela nafasnya panjang. Zie bisa menyimpulkan sepertinya hari ini cukup melelahkan bagi Marvin.


Dari wanginya, Zie tau bahwa Marvin baru saja mandi sehabis pulang dari kantor. ia saat ini memakai kaos oblong polos berwarna putih di padu celana pendek berwarna coklat susu.


"Kenapa hm.........??".tanya Zie dengan Lembut.


Zie meletakkan gitar yang ada dipangkuannya ke samping tempat duduk. sikap Zie saat ini terlihat seperti kakaknya Marvin yang penuh perhatian dengan sang adik. Begini lah Marvin, sifat aslinya yang manja akan terlihat jika hanya bersama Zie.


"Bisa nggak lo cariin gue asisten sama sekertaris. gue lelah melakukan semua hal sendirian." jawab Marvin masih dengan posisi ternyamannya.


"Lo kan nggak sendirian, ada Andre dan juga Mita yang selalu bisa bantu kerjaan lo." jawab Zie.


"tapi gue pengen punya sekertaris dan asisten sendiri Zie. lebih banyak yang bantu kerjaan gue itu lebih baik." ucap Marvin.


"ya udah.... tinggal cari aja. kenapa harus minta sama gue??". jawab Zie enteng.


"ish menyebalkan....!!maksud gue, lo cariin yang kaya Andre dan Mif yang kinerjanya bagus dan bisa diandalkan." ucap Marvin mulai kesal tapi Zie malah terkekeh. Marvin menegakkan kepalanya yang bersandar di bahu Zie sedari tadi.


"susah kalau nyari yang seperti mereka." jawab Zie.


"ya udah..., suruh Mif buat nyari asisten sama sekertaris buat gue." pinta Marvin.


"Enak aja perintah perintah Asisten gue??". tolak Zie dengan tegas.


"Tu kan?? lo mah gitu. pelit banget jadi orang!!! katanya tadi Asisten sama Sekertaris lo bisa bantuin gue!!!" ucap Marvin mengerucutkan bibirnya sebal. "pokoknya gue mau asisten sama sekertaris baru titik!!." ucap Marvin membulatkan keinginannya.


"ya lo kan bisa nyuruh bagian HRD buat buka lowongan kerja di posisi yang lo ingin kan?? gitu aja ko repot.." ucap Zie memberi saran.


"iya ya...., bener juga lo Zie. " jawab Marvin lalu tiba tiba bangkit dari duduknya.


"eh.....mau kemana lo??". tanya Zie bingung melihat reaksi Marvin yang tiba tiba ingin pergi.


"Ambil Hp". jawab Marvin lalu melangkah pergi meninggalkan Zie.


Zie menggelengkan pelan kepalanya melihat tingkah Marvin. ia lalu kembali mengambil gitar yang tadi ia letakkan dan memetiknya secara berlahan. ia menyanyikan sedikit lagu yang mewakili perasaannya saat ini yang sedang merindukan Mami dan nenek bella.


tiba tiba Hp Zie berbunyi dan layarnya berkedip kedip menandakan ada panggilan masuk. Zie tersenyum melihat nama Rizky yang tertera di layar Hp nya.


"Hallo assalamu'alaikum......." salam Zie ketika mengangkat panggilan itu.


"Wa alaikum salam....., Neng Zie gimana kabarnya??". jawab Rizky


"Alhamdulillah baik, A' Rizky sendiri apa kabar??". tanya zie balik.


"Alhamdulillah baik juga.....," jawabnya. "Neng...., kira kira A' Rizky bisa nggak ya kerja di tempat Neng?? Aa' teh pengen ke kota, pengen kerja disana. Aa' teh nggak sanggup hidup sendirian seperti sekarang". tanya Rizky. Zie bisa merasakan kesedihan yang Rizky rasakan saat ini.


Zie berdiam sejenak untuk memikirkan keinginan Rizky. ia bingung posisi aoa yang tepat untuk Rizky saat ini karna Zie sendiri belum tau bagaimana kemampuan Rizky.


"hmmm..... gini aja, A' Rizky kesini dulu nanti biar Zie tes dulu gimana kemampuan A' Rizky baru nanti Zie bisa mutusin A' Rizky bisa kerja di tempat Zie atau tidak." jawab Zie penuh pertimbangan.


"ya udah kalau gitu. besok insya allah A' Rizky otw ke kota dan tinggal di rumah Mang Diman. makasih ya Neng sebelumnya,.". ucap Rizky.


"Iya A' sama sama, besok hati hati dijalan ya,?". ucap Zie.


"iya Neng Assalamu'alaikum....." salam Rizky.


"Wa alaikum salam......" jawab Zie.


Panggilan keduanya pun berakhir. Zie menghela nafasnya dan meletakan kembali Hpnya di atas meja.


Zie merasa sangat kasihan pada Rizky yang sekarang hanya hidup sebatang kara. beruntung dulu Zie dan Maminya bertemu orang orang baik seperti nenek bella, Mbok Nah dan Mang Diman yang mau menolong, menjaga, merawat dan menyayangi Zie sehingga hidup Zie jauh lebih baik meskipun terpisah dari kedua orang tuanya.


"Apa gue posisikan A' Rizky jadi Asisten Pribadi Marvin aja ya?? iya bener...., gue suruh aja A' Rizky buat ikutan ngelamar di posisi itu aja biar sekalian ngetes kemampuan A' Rizky." ucap Zie bermonolog sendiri.


Zie lalu meraih Hpnya kembali untuk mengirim pesan kepada Rizky. ia menyuruh Rizky menyiapkan CV lamaran kerja untuk posisi jabatan Asisten Pribadi Marvin dan Zie nanti akan mengabari Rizky lagi jika lowongan kerja itu sudah di buka.


"Semoga saja dia mampu dan bisa menduduki posisi itu tanpa koneksi dari dalam. Karena dengan usaha sendiri akan terasa lebih membanggakan." begitulah pemikiran Zie.


Zie lalu menghubungi asisten Pribadinya untuk mengatur penempatan ia bekerja di bagian Cleaning Servis. entah mengapa Zie tertarik dan ingin mengetahu kinerja orang orang di bagian itu. karena dengan menjadi orang bawahan Zie bisa tau mana orang yang bersikap baik dan mana orang yang bersikap semena mena.


"Papi........, " sapa Zie begitu menuruni anak tangga dan melihat sang Papi sedang duduk santai di ruang tv bersama Marvin.


Zie lalu duduk menyela di tengah tengah antara Papi dan kakanya.


"kamu dari mana sayang??." tanya Tuan Prabu sambil mengusap sayang rambut panjang Zie.


Tadi Tua Prabu sempat ke kamar putrinya tetapi kamar itu kosong. akhirnya Tuan Prabu duduk di depan Tv dan tak lama Marvin pun datang bergabung. Tuan Prabu baru mau menanyakan keberadaan Zie kepada Putranya tapi Zie sudah lebih dulu datang.


"Dari balkon atas Pih....," jawab Zie tersenyum manis.


"Pi...., Zie....., " panggil Marvin. "kalau Marvin langsung melamar Cerry bagaimana??Papi sama Zie setuju nggak??". tanya Marvin.


Ya....Marvin berhasil mendapatkan hati Cerry kembali dengan usaha kerasnya. sudah seminggu, Marvin dan Cerry kembali menjalin hububungan. ia tidak ingin berlama lama pacaran, karena sebelumnya mereka sudah pernah berpacaran jadi sudah cukup mengenal satu sama lain.


"Haaa.....lo beneran mau Nikah?? tanya Zie. mereka masih berusia 22 tahun, masih tergolong muda untuk menjalani sebuah ikatan pernikahan.


"Ya....., gue udah siap dan mampu untuk menafkahi seorang istri Zie. Jangankan seorang istri, sepuluh istri juga gue mampu. " jawab Marvins sedikit bercanda.


"Astaga......., lihat Pi kelakuan kak Marvin. benar benar nggak ada ahlak." ucap Zie mengadu kepada sang Papi.


"eh enggak enggak Pi..., Marvin kan cuma bercanda." jawab Marvin cepat. ia takut keinginannya hanya di anggap tidak bersungguh sungguh.


"jadi gadis yang kamu inginkan adalah Cerry?? mantan pacar kamu dulu itu??". tanya Papi.


"iya Pih...., apa papi setuju kalau Marvin Nikah sama dia??". tanya Marvin takut takut karena dulu Papinya sendiri lah yang menyuruh Marvin untuk memutuskan hubungan dengan Cerry.


"Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu?? yakin dengan keputusanmu?? kamu sudah mempertimbangkan semuanya baik baik?? Menikah itu bukan hal yang mudah Marvin, karena dengan menikah maka taggung jawabmu akan bertambah karena kamu adalah laki laki yang akan menjadi panutan istrimu kelak. apa kamu sudah siap dengan semua itu??". bukannya menjawab Pertanyaan Marvin, sang Papi malah memberondong Marvin dengan banyak pertanyaan.


"Marvin sudah memikirkan itu semua pi dan Marvin juga sudah siap baik lahir maupun batin.....," jawab Marvin penuh keyakinan.


ternyata Marvin begitu sangat mencintai Cerry, tapi demi memenuhi permintaan sang Papi Marvin rela meninggalkan orang yang ia cinta. Tuan Prabu jadi merasa bersalah karena dulu sempat memisahkan mereka berdua demi ke egoisannya sendiri.


"Baik lah.... Papi akan mendukung keinginanmu. kapan Papi bisa datang kerumah gadis itu untuk melamarnya.?" tanya Tuan Prabu sambil tersenyum tipis.


"Hah...., Papi serius mau melamar Cerry untuk Marvin??". tanya Marvin tidak percaya. terlihat jelas senyum bahagia terukir di wajah tampannya.


"Serius lah...., apa lebih baik papa batalin saja???". ucap Sang Papi bercanda.


"jangan....!!". sahut Marvin cepat. "jangan di batalin dong pi....., nggak tau apa kalau Marvin udah kebelet." celetuk Marvin sambil senyum senyum nggak jelas.


"Dasar Omes!!!". semprot Zie langsung menimpuk Wajah Marvin yang terlihat sangat menyebalkan dengan menggunakan bantal sofa.


Akhirnya mereka saling melempar candaan dan tertawa bersama. Zie dan Marvin selalu bisa membuat ramai seisi rumah dengan candaan candaan mereka. tak jarang keduanya saling berdebat karena berbeda pendapat. meskipun seperti itu, mereka tetap saling menyayangi satu sama lain layaknya saudara kandung.


Marvin akan memberi tahu papinya untuk datang melamar cerry setelah ia memberi tahu dan meminta ijin kepada keluarga cerry terlebih dahulu.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


.


.


.


.