Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Surat dari Cerry



Zio berjalan bersama Nico yang setia mengekori kemanapun Zio pergi. mereka baru saja sampai di perusahaannya sendiri setelah menghadiri undangan Pembukaan Perusahaan MK Group.


keduanya kini melangkahkan kakinya dengan gagah menuju Lift khusus C.E.O.


begitu lift terbuka mereka masuk dan Nico langsung menekan nomer lantai yang mereka tuju.


"Gue masih nggak nyangka kalau Perusahaan megah itu ternyata milik Marvin. Berati selama ini orang tua Marvin salah satu orang berpengaruh dalam dunia bisnis dong. apa Marvin itu anaknya Tuan Prabu ya?? soalnya dilihat dari Mewahnya perusahaan itu, gue sangat yakin kalau Marvin itu tajir melintir.". ucap Nico mengemukakan pendapatnya. saat ini mereka hanya berdua saja di dalam lift sehingga Nico berbicara Non formal kepada Zio.


"Gue juga masih nggak percaya, selama ini gue juga nggak tau siapa keluarga Marvin. tapi setahu gue Tuan Prabu itu anaknya cewek. jadi nggak mungkin kalau dia anak tuan Prabu". jawab Zio.


"Dari mana lo tau anak Tuan Prabu itu cewek?? selama ini nggak ada yang tau kehidupan pribadi Tuan Prabu. semuanya benar benar di sembunyikan dengan rapat. jangan kan kehidupan pribadinya, wajahnya saja tidak banyak orang yang tahu termasuk gue. seumur umur gue belum pernah liat seperti apa wajah Tuan Prabu pembisnis yang terkenal itu walaupun cuma fotonya saja pun gue belum pernah." ucap Nico.


"ting....." pintu lift terbuka, keduanya melangkahkan kaki menuju ruangan masing masing.


"Nih gue kasih liat seperti apa wajah Tuan Prabu." ucap Zio mengeluarkan Hp dan menunjukkan fotonya bersama Ken, Zie dan Papinya. "Kalau yang tadi datang ke acara itu Asistennya namanya Asisten Zaki." jelas Zio.


"Lah lah.....ko kalian bisa kenal sama Tuan Prabu??. ini asli Tuan Prabu pembisnis itu kan?? lo nggak bohong kan?? ko kalian bisa sedekat itu sampai bisa foto bareng juga." cecar Nico penasaran.


"(ya kenal lah....orang anaknya Tuan Prabu itu Kenzie, lo sendiri juga kenal dia)" dalam hati Zio


"iya lah..... kita bahkan kenal baik sama anaknya. dan yang jelas anaknya itu cewek" jawab Zio. "udah sana, kembali kerja......, gue potong gaji lo kalau kerjaannya nggak beres." perintah Zio. lalu pergi ke ruangannya sendiri.


"eh yo..... bisa jadikan Marvin itu pacarnya anak Tuan Prabu. secara tadi perwakilan Al Azhar juga datang.". ucap Nico lagi. ia bahkan ikut berjalan dan masuk keruangan Zio. Nico benar benar di buat penasaran.


" Jangan ngaco... Lo lupa Tuan Ma dan Nona Kei itu dulu selak terjang mereka bernaung di bawah perusahaan Al Azhar. ya sudah pasti lah Tuan Prabu kenal baik sama keduanya." jawab Marvin. "udah sono balik kerja.!!". perintah Zie untuk yang kedua kalinya.


"bentar yo...., kapan kapan ajak gue buat ketemu sama Tuan Prabu ya.... Please. gue ngefans banget sama beliau. gue mau minta tanda tangan dan foto bersama. lo tau kan betapa susahnya ketemu sama Tuan Prabu." rengek Nico.


"lo kira Tuan Prabu selebritis di minta tanda tangan sama foto bersama segala hah??, udah sana balik kerja.!!!". usir Zio karena Nico sama sekali tidak mau keluar dari ruangannya.


"iya iya....., padahal gue masih penasaran, pengen tau banyak hal tentang Tuan Prabu." ucap Nico lalu berjalan keluar ruangan Zio.


Zio hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah teman sekaligus asistennya itu. Zio lalu kepikiran dengan ucapan Nico kalau bisa jadi Marvin itu pacarnya anaknya Tuan Prabu.


"(apa iya Zie udah ngelupain gue dan sekarang pacaran sama Marvin??, tapi gue tadi nggak liat kehadiran Zie maupun Asistennya di sana. ah...mikir apa sih gue, inget Zio bentar lagi lo mau nikah. Mau Marvin pacaran sama Zie juga bukan urusan lo sekarang.)" pikir Zio.


ada rasa cemburu di hati Zio ketika memikirkan Marvin benar benar berpacaran dengan Zie. tapi Zio berusaha menepis semua rasa itu karena Zio sendiri sudah memilih Cerry untuk menjadi pendamping hidupnya.


" tok...tok......." lamunan Zio buyar ketika terdengar suara pintu ruang Zio di ketuk dari luar.


"Masuk....." ucap Zio mempersilhkan orang itu masuk.


"Permisi Tuan....., ini ada kiriman surat untuk Tuan." Ucap Pegawai bagian resepsionis itu sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Zio.


Zio memandang bingung kearah amplop coklat itu lalu menerimanya.


"Dari siapa??". tanya Zio.


"Di situ tertulis dari Nona Cerry Larasati Tuan. Permisi...." jawab Resepsionis itu lalu pergi keluar taunya Zio.


Zio bingung kenapa Cerry mengirim surat kepadanya padahal Cerry bisa saja telpon, kirim pesan atau datang langsung menemuinya jika ingin berbicara sesuatu.


To Sayangku Zio


Maaf karena aku nggak ngomong langsung sama kamu karena aku tau kalau kamu nggak akan ngasih ijin ke aku. lewat surat ini aku mau kasih tau bahwa saat ini aku dalam perjalanan keluar negeri untuk mengikuti fashion show seperti yang aku bilang waktu itu ke kamu. ini adalah kesempatan aku buat menggapai impianku selama ini. kesempatan ini tidak datang dua kali jadi aku nggak mau nyia - nyian kesempatan ini. kamu tau kan kalau menjadi desainer terkenal go internasional adalah keinginan aku dari dulu dan ini kesempatan emas buat aku.


aku harap kamu bisa ngertiin aku Zio..., aku sayang sama kamu, tapi aku juga mau meraih impian aku yang sudah ada di depan mata. Setelah aku berfikir keras akhirnya aku bisa mengambil sebuah keputusan. Maaf jika aku memilih untuk menunda dulu pernikahan kita sampai aku kembali. kita akan tetap menikah meski harus menundanya tetapi untuk impianku ini, aku tidak punya kesempatan lagi jika harus melewatkannya. aku mohon tolong mengertilah..... tunggu aku kembali.


sekali lagi maafin aku......


^^^yang menyayangimu ,^^^


^^^Cerry^^^


"apa apaan ini!!!!!". geram Marvin marah sambil meremas surat yang ada di tangannya.


ia langsung menyambar HP nya untuk menghubungi nomer Cerry. tapi sayangnya nomer itu sudah tidak aktif lagi meski Zio terus mencoba menghubunginya hingga berkali kali.


kesal akan hal itu Zio langsung melempar HPnya hingga mengenai tembok dan hancur. dengan marah ia menyibakan apa saja yang ada di atas meja kerjanya hingga jatuh berantakan.


" apa apaan kamu cerry, beraninya kamu pergi ninggalin aku dan lebih memilih fashion show si*lan itu!!.Haaaaahhhh........!!!". teriak Zio marah. ia sangat marah hingga wajahnya memerah dan urat di lehernya terlihat jelas.


Ruang kerja Zio kedap suara sehingga Nico yang ada di ruangannya sendiri tidak mendengar apapun meski Zio mengamuk sambil berteriak.


Zio menyambar kunci mobilnua dan pergi keluar meninggalkan ruangannya.


"Nic......, Bersihkan ruangan saya dan handle semua kerjaan saya.!!!". Teriak Zio memerintah Nic dan pergi berlalu begitu saja.


"loh Bos.... mau kemana??". tanya Nico tapi tidak di hiraukan sama sekali oleh Zio.


"Si bos kenapa ya?? sepertinya marah banget." gumam Nico sambil berjalan ke ruangan Zio.


Nico kaget melihat ruangan Zio yang berantakan seperti kapal pecah. ia hanya menghela nafas lalu membereskan berkas berkas yang berserakan di lantai. setelah selesai, Nico memanggil OB untuk membersihkan sisanya.


.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


.


.