
“Kembali pulang, lagi.” Theon berkata dengan malas, sudah tengah malam dirinya kembali dari provinsi Zenphar untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Meskipun apa yang dia dapat bukanlah apa-apa selain elemental angin yang benar-benar sangat menguntungkan. Setidaknya dengan elemental angin Theon sanggup membuat elemental sekunder lebih banyak.
.....
Keesokan harinya, mereka telah berangkat menuju ke sekolah. Hanya saja, mereka dihadapkan oleh paman Theon yang berdiri di depan pintu rumah Theon. Theon hanya menghela napas, dan menatap malas pamannya.
“Ada apa paman?” tanyanya dengan cukup sinis.
“Dimana pasanganmu?”
Theon mengerutkan dahinya, apa maksud pasangan menurut pamannya? Mungkinkah Rena? Secara mereka tinggal bersama-sama yang mungkin tidak lebih seperti seorang pasangan. Namun, sebelum Theon menjawab, Rena sudah muncul di samping Theon dengan mengenakan pakaian Sma.
“Kalian dua hari kemana saja? Sungguh aneh, kalian kerap kali tidak berada di rumah.” Tanya paman Theon mengerutkan dahinya.
Bahkan Theon merasa cukup curiga. Bagaimana tidak? Dalam ingatan Theon, paman Theon jarang menuju rumahnya. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini paman Theon seolah selalu menuju rumah Theon. Hanya saja, Theon tidak berada di rumah. Dan itu terjadi setelah insiden penyerangan rumah Theon.
Kemudian, hari ini, paman Theon menanyai tentang Rena yang membuat Theon sendiri juga kebingungan. Tapi, dia tidak ada waktu untuk menjawab apa yang paman Theon tanyakan. “Entah kenapa tiba-tiba kau terlalu mengurus kehidupanku.” Ucapnya sambil menutup pintu dan melewati paman Theon dengan cukup dingin.
Paman Theon, dia tidak peduli dengan Theon, dia menahan pundak Rena yang berjalan di sampingnya. Hanya saja, Rena benar-benar sangat kasar dengan menghempaskan tangan paman Theon dengan sangat cepat.
Rena menatap paman Theon dengan tatapan dingin. “Jauhkan tanganmu dari pundakku.”
Melirik Theon, paman Theon menjawab, “Penyihir sepertimu, jangan mencoba untuk membunuh keponakanku. Atau yang terjadi aku akan membunuhmu dengan perlahan. Menyerahlah, aku akan membunuhmu dengan sangat cepat.”
Rena yang mendengar hal itu, dia melompat ke belakang. Benar-benar tak menyangka bahwa paman Theon adalah seorang pemburu elementalist. Dari ucapan paman Theon barusan benar-benar sangat mudah di tebak, sehingga dia hampir mengeluarkan elemental air milik Rena Shon. Hanya saja, dia menahannya karena di hadapannya adalah paman Theon.
“Aku punya penawaran, nona Rena Shon. Aku kali ini tidak akan menyakti mental ponakanku karena membunuhmu.” Paman Theon melemparkan dua buah foto kepada Rena. “Asalkan kau menemukan Dark Witch dan rekannya itu, aku tidak akan membunuhmu.”
“Agensi pusat telah mengincar Dark Witch dari kemarin. Baru kali ini aku melakukan tindakan sembrono yaitu mengajak bekerja sama dengan seorang penyihir sepertimu.”
Rena menangkapnya, foto yang tampak familier bagi Rena itu sendiri. Bagaimana tidak? Foto itu adalah dirinya yang menggunakan jubah kegelapan tanpa menunjukkan wajahnya. Dan apa yang ia dengar tampaknya paman Theon tidak mengetahui bahwa itu dirinya dan Theon sendiri. Lalu, apa yang dia sedikit menaikkan ujung bibirnya, dirinya diberi nama yang cukup keren, yaitu Dark Witch.
“Baiklah, beri aku waktu. Aku pegang tawaranmu.” Ucapnya sembari pergi, karena tampaknya Theon sendiri sudah berangkat dan melupakan dirinya. Selain itu dia juga menghela napas, untung dirinya tidak mengeluarkan elemental kegelapan tepat di depan paman Theon. Jika dia kebablasan, maka dirinya pasti akan disimpulkan Dark Witch sekarang juga. Dan paman Theon pasti akan memanggil teman-temannya untuk membunuh Rena sekarang juga.
Mungkin dia berpikir, bagaimana mengatakan kepada Theon yang sebenarnya? Rena tak seperti itu, justru dia ingin berkata secara terus terang kepada Theon agar Theon lebih waspada. Dirinya tidak ingin Theon menjadi incaran pamannya sendiri tanpa Theon ketahui ketika pamannya ternyata mengetahui Theon adalah seorang elementalist.
“Rena, kau berjalan terlalu lambat. Ada apa?” Theon melirik ke arah Rena yang berlari dan baru saja datang.
“Paman Anda, tidak, kita bicarakan di kelas. Banyak mata-mata di sini.” Kata Rena dengan cukup spontan. Dia bisa berpikir dengan sangat jernih tentang perkataan paman Theon. Jika Dark Witch menjadi incaran nasional, yang mana foto tersebut didapatkan dari kota Agrabinta, yang pasti inteligen pusat akan mengirimkan beberapa mata-mata menuju ke sini untuk mencari sosok yang disebut Dark Witch atau dirinya.
Dan itu pasti, serta paman Theon adalah salah satu dari mata-mata tersebut. Hanya saja, mengingat perkataan Paman Theon bahwa tindakannya untuk bekerja sama kepada elementalist seperti dirinya adalah tindakan sembrono. Ya, faktanya memang begitu, Rena menganggap bahwa paman Theon benar-benar sangat ceroboh. Dia benar-benar tidak tahu bahwa ponakannya sendiri memiliki kekuatan elemental, sedangkan Dark Witch dan rekannya adalah Rena dan Theon itu sendiri.
“Mata-mata? Dan hubungannya dengan pamanku?” Theon menatap Rena dengan cukup serius. Apa yang dia pikirkan, mengapa Rena mengetahui ada mata-mata yang berkeliaran di sekitar sini. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Tanyanya penasaran.
“Anda akan tahu nanti.” Jawabnya singkat.
Theon tidak banyak bicara, hanya saja dirinya mempercayai perkataan Rena bahwa ada mata-mata di kota ini. Apalagi dia harus fokus menggendong tasnya untuk menuju ke sekolah.
.....
“Kalian tidak masuk, lagi? Kepala sekolah tidak akan meluluskan kalian jika kalian terus menerus begitu.” Sentak sang ketua kelas dengan wajah yang sangat sinis, menyambut dengan suara yang tidak mengenakkan di telinga Theon dan juga Rena.
Theon melewati ketua kelas dengan sangat malas. Apalagi ketua kelas adalah seorang perempuan yang membuat Theon benar-benar malas untuk berdebat. Itulah mengapa dirinya selalu mudah dirundung di kelas, karena ketua kelas sendiri juga tidak memiliki kekuatan untuk memisah, serta faktor lainnya yang mana dia juga takut dengan Rolland.
“Ada apa lagi? Kau membunuh orang lagi?” Ali tampak begitu susah. Semenjak dia mengetahui tentang Theon, Rena dan juga Lesha dia kesulitan untuk tidur dan tidak bisa untuk melupakannya. Seolah dia mengalami traumatik setelah melakukan sebuah pembunuhan.
Theon tersenyum, dia duduk di bangkunya dan meletakkan tasnya sebelum berbicara menjawab apa yang Ali katakan. “Benar. Akh, padahal aku ingin mengajakmu kala itu.”
“Tidak, tolong! Sekali itu saja.” Ucap Ali sambil membenturkan kepalanya di atas meja. Dia sudah tak ingin lagi mengikuti Theon melakukan percobaan pembunuhan. Lagipula dia masih bertanya-tanya sampai sekarang. Mengapa Theon baru saja menunjukkan kekuatannya baru ditunjukkan baru-baru ini. Kemana kekuatan Theon ketika dia memiliki sikap feminis?
“Theon!” Teriak ketua kelas dengan cukup kencang, sehingga membuat Theon menolehkan kepalanya.
“Kau harus lulus dengan cara masuk setiap saat. Kelas kita akan mengadakan study kelas secara pribadi menuju pantai selatan. Ingat, kau harus lulus agar kita bisa merasakan kebersamaan terakhir.” Sambungnya dengan nada yang cukup tinggi.
“Omong kosong.” Batin Theon menatap ketua kelas dengan cukup malas. Menurutnya, sekolah selama tiga tahun tidak memiliki pengalaman yang menarik, dan dipenuhi oleh perundungan. Sehingga, Theon benar-benar malas untuk merasakan saat-saat kebersamaan terakhir. Hanya saja, saat ketua kelas itu mengatakan bahwa momen-momen terakhir berada di pantai selatan, Theon benar-benar tertarik untuk mengenakan pakaian hijau. “Baiklah, nona Aura.”