
Beberapa jam kemudian, Theon dan Rena sudah sampai di kota Agrabinta dalam kondisi sudah malam hari. Hanya saja, mereka tidak menuju rumah paman Rena untuk mengambil semua identitas dan berkas yang dia miliki untuk mengurus paspor dan juga visa. Hari sudah malam, waktu digunakan untuk beristirahat, terlalu bersemangat tidak akan baik bagi mereka sendiri.
“Roney, kau bisa tidur di rumahku hari ini. Tak perlu untuk sungkan, meskipun aku adalah tuanmu yang seolah memaksa menyerahkan semua aset kepadaku, tapi aku masih memiliki hati. Kau pasti lelah, kita lanjutkan semuanya untuk esok.” Kata Theon menawarkan.
Roney menundukkan kepalanya, rasanya sangat tidak sopan apabila melakukan hal tersebut. Sehingga, dia menolak dan berkata, “Tidak tuan, aku akan mencari penginapan disekitar sini. Tidak mungkin aku tinggal bersama kalian. Itu sangat tidak sopan.”
“Aku sama sekali tidak keberatan kau tinggal di sini, kau bisa menggunakan ruang tamu untuk kau memejamkan mata. Sedangkan aku dan Rena, kami akan tidur dalam seranjang. Intinya kau tidak lancang itu saja.” Kata Theon kepada Roney.
Roney mengangguk, dia menerima apa yang Theon perintah untuk tinggal di sini untuk malam ini saja, karena dia harus membawa berkas milik Theon dan juga Rena untuk mengurus paspor mereka berdua esok. Lagipula, siapa yang tidak ingin menolak penginapan gratis selagi dirinya berada di luar kota?
Sebenarnya tujuan Roney sendiri berada di pulau Envuella adalah cukup sederhana. Selain untuk mengambil semua kekuasaan Scott, maka dia juga ingin menguasai kekuasaan milik Skelet. Baik itu mafia dua keluarga tersebut, serta juga dengan semua aset kekayaan yang dua keluarga itu miliki. Lagipula, mereka tidak memiliki pewaris lagi sehingga meninggalkan harta gono-gini yang sangat sayang sekali untuk dibiarkan. Apalagi dengan dirinya yang merupakan seorang mafia, mengurus yang seperti itu adalah hal yang cukup mudah baginya.
Itulah mengapa sangat kebetulan sekali saat Theon berada di pantai selatan, Roney berada di Envuella Tengah untuk mencari semua aset perusahaan milik Skeleton.
Theon mengunci pintu rumahnya, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya sendiri bersama dengan Rena. Sedangkan Roney, dia duduk di kursi ruang tamu dan mencoba untuk merebahkan badannya. Sehingga tak memiliki keraguan, Theon menutup kamarnya untuk melupakan Roney yang ada di luar, karena apa yang harus dia pikirkan adalah tidur.
“Kau boleh seranjang denganku.” Theon tersenyum manis kepada Rena. Yang mana hal tersebut membuat Rena sendiri benar-benar salah tingkah. Bagaimana tidak? Selama dia tinggal seatap dengan Theon, dirinya tidak pernah tidur dalam seranjang kecuali dalam keadaan tidak sengaja yang berujung tragedi penembakan.
Biasanya, Theon akan tidur di luar kamar untuk menjaga jarak dan batasan dengan Rena. Theon sendiri juga tidak pernah masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk tidur. Karena, kamarnya digunakan Rena karena Theon tidak ingin tidur di luar atau di alas. Tapi kali ini, Theon sudah berani menerjang batasan tersebut, bahkan sampai melakukan tindakan hubungan suami istri yang lebih dari menerjang batasan.
“Seharusnya aku yang mengatakan, bahwa Anda tidak perlu ragu lagi untuk tidur seranjang denganku Theon.” Kata Rena dengan cukup berani untuk menyebut nama asli Theon.
“Sudahlah mari tidur, aku benar-benar cukup lelah.” Kata Theon sambil menarik lengan Rena di atas ranjangnya. Kemudian, dia merobohkan Rena sehingga dia tidur dalam keadaan saling berhadapan.
......
“Beberapa bulan yang lalu, aku sanggup memasang chip ini pada seekor kera. Dan uji coba ku berhasil, dia bisa melakukan apa yang manusia normal lakukan atas perintahku.” Kata professor Bihazead duduk di depan sebuah hologram, yang mana dia memainkan tangannya untuk menggerakkan beberapa robot yang melakukan sebuah pembedahan pada seseorang penyihir wanita yang kini tengah tidak sadarkan diri. Selain itu, dia sebenarnya sedang berbicara kepada Zurof, dan beberapa aparat lainnya yang sedang melihat dari balik kaca.
Karena jika dipasangkan pada robot, maka itu tidak akan memuaskan. Robot sama sekali tidak memiliki kekuatan sihir sehingga itu menjadi sebuah kelemahan untuk melawan manusia, sedangkan penyihir itu sendiri, petinggi negara menggunakan tubuhnya yang akan digunakan sebagai sebuah senjata. Walaupun, pada dasarnya kecerdasan buatan atau AI sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju.
Tapi mengembangkan kecerdasan buatan atau AI sebenarnya membuat mereka benar-benar sangat khawatir. Keberadaan AI justru akan menjadi sebuah ancaman besar, bagaimana tidak? Bisa saja kecerdasan buatan yang ada pada robot berpikiran bahwa manusia hanyalah sebuah sampah yang tidak berguna? Seolah, mereka melupakan sang pencipta itu sendiri. Sehingga, mereka bisa untuk menguasai dunia, yang mana hal itu sama mengerikannya dengan keberadaan penyihir.
Sayangnya, itu sama sekali tidak ilegal, petinggi dunia justru mempersilahkan para orang jenius untuk menciptakan kecerdasan buatan sebaik mungkin. Apa yang dia khawatirkan justru tentang keberadaan penyihir yang benar-benar sangat meresahkan. Jika itu AI, maka mereka sebenarnya bisa sedikit mengendalikannya dengan tangan manusia, tapi apabila itu penyihir, itu sama sekali sulit dikendalikan.
Para robot-robot itu seolah melakukan sebuah operasi bedah, dengan mencoba menghubungkan kabel fitpik pada beberapa bagian saraf yang terhubung dengan otak. Kemudian, dihubungkan pada sebuah komputer untuk mendapatkan sebuah sinyal komando.
Lalu, jika itu telah selesai, maka robot akan kembali menjahit bagian belakang penyihir tersebut, sehingga bisa dibilang pembedahan telah selesai dan tinggal menunggu hasil akhirnya. Beberapa detik kemudian, professor Bihazaed mengambil sebuah jarum suntik, yang mana berisi sebuah serum untuk menyadarkan seseorang secara instan.
Jarum suntik telah tertusuk pada lengan penyihir yang tertutup bagian tubuhnya dengan sebuah kain putih. Yang mana perlahan-lahan, wanita tersebut membuka matanya. Tapi, wanita tersebut benar-benar terkejut dan langsung berdiri, menyingkap kain putih yang menutupi dirinya sehingga menunjukkan bahwa dia tengah menggunakan pakaian oprasi.
Dirinya benar-benar ketakutan, karena dirinya berada di dalam ruangan berkaca dengan banyak orang yang memperhatikan dirinya. Tidak hanya itu saja, dia juga bisa melihat orang yang menggunakan pakaian putih, serta beberapa peralatan robotik yang memenuhi ruangan ini. Wanita itu bergidik ketakutan, bahkan dia sempat mengulurkan tangannya sebagai sebuah insting bahwa dirinya dalam keadaan berbahaya.
“Lepaskan aku ba*ingan!” Teriak wanita itu dengan kata kasar dari mulutnya.
Professor Bihazaed hanya merasa bodo, dia fokus pada meja hologram di depannya dan mencoba untuk menyentuh beberapa tombol yang mungkin sulit dimengerti.
Dan, apa yang terjadi? Wanita tersebut tidak jadi mengeluarkan kekuatan elementalnya, dia bahkan menundukkan kepalanya untuk menuruti apa yang dia pikirkan, bahkan tanpa dia sadari pikirannya telah dikendalikan. Dia seperti, bahwa itu adalah kehendaknya sendiri untuk melakukan hal tersebut.
Dan justru, wanita itu tersenyum kepada semua aparat, dengan memperkenalkan diri dengan sangat ramah untuk menuruti apa yang dia pikirkan. “Perkenalkan, namaku adalah Anna.”
Zurof yang melihat itu tersenyum lebar dan bertepuk tangan, yang mana diikuti semua orang yang bertepuk tangan menghargai percobaan professor Bihazaed. Siapa yang menyangka bahwa wanita itu yang sebelumnya menjadi kasar, justru berubah menjadi wanita yang benar-benar sangat ramah. Bahkan, wanita itu tidak menyadari bahwa pikirannya telah diutak-atik menggunakan sebuah chip. Akan tetapi, ada sebuah pertanyaan terlintas di pikirannya, sehingga dia mencoba untuk bertanya kepada Agen Zero di sebelahnya, “Darimana kau mendapatkan wanita itu?”
“Kota Agrabinta, dia sebenarnya merupakan seseorang yang memiliki hubungan darah dengan kekasih keponakanku, setelah aku menyadari bahwa ternyata tuan Verme Shon memiliki kekuatan elemental sama seperti kakaknya yang ku bunuh beberapa bulan lalu.”