The God in the Modern World

The God in the Modern World
Labirin Millie Mundi



Theon dan Rena tentu saja merasa begitu pusing. Bagaimana tidak, dimensi itu  terus menerus berputar dengan sangat cepat dikala mereka masih berdiri begitu tegak. Tapi, itu tampaknya tidak bertahan begitu lama, pada akhirnya Theon benar-benar menghela napas lega saat dimensi penghubung antara.


Tempat yang hanya dipenuhi oleh dinding dan batu, hanya saja tempatnya benar-benar tertutup dan tidak ada cahaya matahari yang menembus. Diselingi oleh beberapa obor sebagai sebuah penerangan.


"Sepertinya semua orang muncul secara acak?" Theon mengerutkan dahinya. Masalahnya, semenjak tadi dirinya tidak menemukan sama sekali adanya orang lain selain Rena. Bahkan Kiba sendiri mengatakan bahwa orang yang paling dekat selain Rena hanya sejauh beberapa meter dibalik dinding batu di sampingnya.


"Mungkin begitu. Selain itu, dinding ini selalu berubah-ubah setiap kita melewatinya. Jadi, bisa saja kita tersesat dan tidak akan bisa kembali menuju dunia luar." Kata Rena.


Kemudian, tanpa disangka mereka disuguhkan oleh jalan bercabang. Yang mana jika salah masuk maka dampaknya juga akan sangat merepotkan. Apalagi bagian atas labirin tertutup yang mana mereka tidak akan bisa naik melalui udara dan memperhatikan jalan mana.


Theon menoleh ke belakang, dia benar-benar terkejut saat menyadari bahwa di belakang adalah sebuah jalan buntu, padahal beberap detik yang lalu dia berjalan dari arah belakang. Kini yang ada hanyalah dari arah kanan dan kiri yang membuat mereka kesulitan untuk memutuskan.


"Kita berpencar?" Kata Rena menawarkan.


"Tidak perlu." Theon berkata sambil mengeluarkan pedang api dari cincing ruangnya. Kemudian, dia berbalik badan dan menebaskannya ke arah depan karena ada sebuah serangan secara tiba-tiba.


"Taaang!" Suara pedang terdengar begitu nyaring. Namun kekuatan pedang masih tak sebanding jika dibentukan oleh Fire Sword. Membuat pedang yang dipegang oleh sosok yang tiba-tiba menyerang Theon patah dan melesat membentur tembok di sampingnya.


Theon mamutar pedangnya secara 360⁰ atau kemungkinan posisi pedang tidak berubah setelah dia putar. Namun, di saat dia melakukan hal tersebut, sosok yang baru saja menyerang Theon mundur sejauh lima meter ke belakang sambil mengulurkan tangannya ke depan, membuat sebuah hembusan angin keluar.


"Rolland, aku tidak menyangka itu kau." Theon menarik ujung bibirnya ke atas sambil mengulurkan tangan kirinya ke depan sebelum dia menerima sebuah hembusan angin yang cukup kuat dari Rolland itu sendiri.


Angin dan api, kedua elemen tersebut berbenturan yang membuat elemen api milik Theon membesar dan menerjang ke arah Rolland. Tentu, itu membuat Rolland menggertakkan giginya dan bersiap untuk mengeluarkan elemen angin, namun dalam posisi rendah dibandingkan kobaran api milik Theon.


Dia tahu kalau angin jauh lebih lemah dari api, tapi setidaknya dapat membelokkan posisi api jika tekanannya lebih tinggi. Dan yang benar saja, Theon dapat melihat dengan begitu jelas bahwa elemen apinya berbelok ke atas saat berbenturan dengan elemen angin milik Rolland. Namun, tentunya elemen angin milik Rolland juga menghilang.


Theon merubah senyumaannya dan memandang sinis Rolland. Jujur, karena sebenarnya dia ingin sekali sombong di depan Rolland, meski sebenarnya Rolland sudah pernah menyerah dan tidak akan mengganggu lagi. Namun, entah kenapa hari ini Rolland kembali menyerang Theon secara tiba-tiba, mungkin karena Rolland tidak percaya bahwa Theon berada di festifal ini.


“Theon, aku pikir kau hanyalah bocah berpenampilan wanita. Tapi siapa yang menyangka ternyata kau adalah seorang elementalist pula?” Rolland menggertakkan giginya. Tadi, entah sengaja atau tidak, kebetulan atau tidak, ketika dirinya muncul di dunia ini, dia melihat Theon dari kejauhan, sehingga dirinya langsung sigap mengangkat pedangnya.


Sisa pedang yang ada di tangan Rolland, dia lemparkan ke arah Theon tanpa berpikir panjang.


Theon bisa melihatnya dengan begitu jelas, namun dia juga melepaskan sebuah tombak api untuk menahan lemparan pedang itu, sekaligus juga digunakan untuk menyerang Rolland. Tapi, siapa yang menyangka, sisa pedang yang berputar dengan sangat cepat menghasilkan pusaran angin di tempat yang begitu sempit.


“Bukannya aku takut, tapi sebaiknya kita pergi saja. Rena, kau setuju?” Kata Theon menoleh ka arah Rena.


Theon memiliki sebuah pikiran, menghadapi Rolland untuk menunjukkan kesombongannya hanya akan membuang-buang waktu, karena waktu yang ada di labirin Millie Mundie hanyalah dua jam, sedangkan dirinya berada di sini baru sepuluh menit beralu. Apalagi jalan keluar juga harus dicari sendiri, atau jika mereka tidak menemukan jalan keluar selama dua jam, maka mereka akan terjebak selamanya.


“Benar.” Rena mengangguk setuju.


Sedangkan pusaran angin di tempat yang begitu sempit, menyebabkan kekuatan angin yang menerjang angin benar-benar sangat kuat. Bahkan, dirinya berusaha untuk menahan terlebih dahulu agar tidak terlempar. Untungnya, dia tidak terlalu kehabisan pikiran, mengeluarkan ombak air yang begitu besar untuk melawan pusaran air agar berhenti secara tiba-tiba.


“Langkah bayangan!” Bersamaan dengan itu, Rena langsung meraih pergelangan tangan Theon dan membawa lari Theon dari sini.


Di sisi lain, Rolland benar-benar terkejut saat lorong labirin yang dia tempati saat ini, terdapat sebuah aliran air yang cukup besar, bahkan memenuhi lorong labirin di hadapannya dan menerjang ke arahnya. Bahkan, dirinya cukup terkejut saat air tersebut menghentikan pusaran airnya. Tidak memiliki waktu, Rolland langsung lari ke belakang karena dirinya tidak ingin mati di tempat ini.


“Bagus Rena, kita harus menghindari pertarungan sebaik mungkin karena kita sama sekali tidak memiliki waktu yang begutu banyak.” Ujar Theon sambil terus berjalan di antara banyaknya jalan yang terus berubah-ubah. Tentu, itu membuat Theon benar-benar penasaran, apa jadinya jika dinding batu labirin di hancurkan dengan kekuatan elemental? untung mengetahui rasa penasarannya, ketika dia menemukan sebuah jalan buntu di depannya dia langsung mengeluarkan sebuah kobaran api yang cukup besar.


Kobaran api milik Theon membentur dinding batu dengan cukup keras, hingga menimbulkan sebuah energi yang memantul dan berbalik ke arah Theon. Yaa untung saja, Theon dapat menghentikannya dengan cukup mudah, sehingga dirinya tidak terkena serangannya sendiri.


“Dinding ini dapat memantulkan serangan? Sekaligus benar-benar cukup kuat.” Theon benar-benar tidak habis pikir sambil menyentuh permukaan dinding  yang begitu kasar. Tapi, Theon tampaknya tak begitu percaya, dia langsung mengangkat Fire Sword dengan mundur satu langkah menghadap sebuah dinding yang sebelumnya ada di sampingnya.


Theon menebaskan Fire Sword ke arah dinding batu pembatas labirin dengan kekuatan yang tidak terlalu penuh. Setidaknya digunakan untuk mengetes, apakah dinding ini sanggup menahan tebasan dari Fire Sword?


“Pangeran jangan, kita tidak tahu apa akibatnya jika kita menyerang dinding ini. Mungkin juga akan memantulkan sebuah tebasan ke arah pangeran.”