
“Bumm!!”
Strega dengan sangat lincah, dia berdiri di depan Theon. Sang robot itu tampaknya sama sekali tidak membatu meskipun terkena sihir pembatuan. Justru, apa yang dia lakukan adalah mengeluarkan pedang lasernya, dan bergerak ke arah Meridith dengan kecepatan normalnya.
Hanya saja, Meridith langsung bergerak dengan cukup sigap setelah keluar dari pembekuan. Dia cukup terkejut saat ada sebuah besi yang bisa berjalan, meski dia menganggap bahwa besi itu diakibatkan oleh sebuah sihir yang diberikan oleh pangeran Theon.
Di sisi lain, Meridith juga cukup terkejut, bahwa lawannya adalah pangeran Theon. Dia merasa bahwa ini adalah suatu masalah yang cukup besar apabila diteruskan. Akan tetapi, apabila dia lari, maka sudah sangat jelas bahwa dirinya menjadi sebuah buronan para dewa. Sedangkan dia sama sekali tidak memiliki sebuah pasukan.
Sehingga, Meridith memilih untuk melawan. Lagipula dia cukup optimis karena peringkatnya berada dalam satu tingkat di atas Theon itu sendiri.
Meridith muncul di belakang Strega, dan mengayunkan cakarnya.
Hanya sekedar tergores, tapi tidak berdampak besar bagi Strega itu sendiri. Bagaikan sudah menjadi sebuah zirah yang cukup keras karena berbahan logam paling keras di dunia. Sehingga, Strega berbalik badan dan menebaskan lasernya.
Sayangnya, untuk masalah sebuah kecepatan, Meridith bukan tandingan bagi Strega itu sendiri. Kecepatan Meridith tidak bisa diikuti oleh mata kecerdasan buatan milik Strega, yang membuat Strega sendiri merasa cukup kesulitan.
Tapi siapa yang berpikir, bahwa Meridith sudah jauh di depan, tengah bertarung dengan Theon yang tampaknya sudah bergerak semenjak tadi. Sehingga, tampaknya Strega hanya akan menjadi beban baginya.
“Meski kau seorang anak God of Gods, tapi aku akan membunuhmu Theon!” Meridith berteriak secara kasar. Dia terus mengayunkan cakarnya ke arah Theon untuk menyerang dan bertahan dari ayunan pedang api milik Theon yang benar-benar sangat membara.
Theon meloncat ke belakang, dia menghembuskan sebuah angin yang dia campur dengan sebuah elemen racun. Setidaknya racun itu mampu membuat musuhnya merasa sesak berkepanjangan. Sayangnya, untuk masalah elemen racun, pengetahuan Theon benar-benar sangat masih minim.
Hal tersebut membuat Meridith bisa menghalaunya dengan mudah, elemen kegelapannya bisa menyerap elemen angin dengan racun tersebut. Namun, tampaknya itu menjadi sebuah pengalihan agar Theon keluar dari pandangan Meridith itu sendiri.
“Aku tidak akan membiarkan kau membatukan seluruh penduduk alam dewa!” Theon berdiri di atas belakang Meridith. Yang mana, ketika Meridith menoleh ke belakang, Theon mengayunkan pedangnya secara vertikal, sehingga muncul sebuah kobaran api tipis berwarna hitam membelah daratan tepat pada Meridith itu sendiri.
“Kau pasti akan berpikir untuk bergerak secepat bayangan untuk menghindar? Tidak semudah itu. Ketika kau berdiri di suatu titik, maka apa yang akan terjadi?”
Bummm!
Meridith terlempar ke belakang saat dia hendak menyerang Theon dari punggungnya. Bahkan dia tersungkur di atas tanah, ketika Theon membuat sebuah gelembung air di punggungnya, yang mana apabila meledak akan menjadikan sebuah dampak yang cukup buruk. Meski, Theon sendiri harus merasakan perih yang mungkin cukup dia bisa tahan karena dia sempat membekukan punggungnya.
Dia tahu, bahwa Meridith pasti akan bergerak secepat bayangan di belakangnya. Sehingga Theon menciptakan sebuah gelembung peledak, yang mana akan meletus apabil Meridith muncul secara tiba-tiba menindih gelembung itu.
Tidak berhenti begitu saja, Theon langsung bergerak ke arah Meridith. Hanya saja, Meridith tersenyum lebar sambil mengeluarkan sebuah sihir pembatuan.
Theon membuka matanya lebar-lebar. Lagi-lagi asap berwarna hitam keunguan yang akan membatukan Theon sendiri.
Namun, beberapa detik kemudian, Strega sebelumnya tidak tinggal diam. Dia membuka tubuhnya dan bergerak cepat ke arah Theon. Sehingga, saat bersamaan, Theon masuk ke dalam tubuh Strega, yang kemudian tertutup yang membuat sihir pembatuan tidak mampu membatukan Theon.
“Kau akan terhindar dari pembatuan, aku serius. Tubuh robot ini akan menjadi zirah untukmu, gunakanlah untuk bertarung sekarang juga!” Ucap Strega mencoba membantu Theon. “Ini yang dilakukan Ali.”
Theon mengerti, dia mengangkat tangannya dan mampu melihat tangan Strega juga terangkat. Yang membuat dia mampu mengontrol dan mengendalikan Strega karena Theon ada di dalamnya. Apalagi, Theon kini membawa dua buah pedang yaitu Fire Sword dan pedang laser milik Strega. “Apa kau pernah bergerak secepat cahaya?”
Tanpa menunggu jawaban dari Strega, Theon langsung bergerak secepat cahaya ke arah Meridith yang benar-benar sangat terkejut. Akan tetapi, sebuah tangan kegelapan muncul karena Meridith bisa menyadari pergerakan Theon.
Theon tidak bisa bergerak, Meridith membalikkan badannya dan mengeluarkan sebuah asap pembatuan ke arah Theon yang menggunakan tubuh Strega,
Tapi, itu sama sekali tidak berefek yang membuat Theon tersenyum lebar. Zirah Strega tampaknya benar-benar sangat efektif untuk melawan sihir pembatuan. Lagipula ini seperti bahwa Strega tidak akan membatu karena dia bukan seorang dewa.
“Kau belum terbiasa untuk mengontrolnya sehingga kau bisa tertangkap? Mudah, gerakkan tubuhmu sesukamu seperti biasanya.” Kata Strega mencoba untuk mengajari Theon.
Theon mengangkat kakinya, yang kemudian dia tendangkan ke arah Meridith yang benar-benar kebingungan. Kemudian, dia menebaskan pedangnya sehingga memunculkan sebuah tebasan api hitam yang bergerak dan menyerang Meridith yang baru saja berdiri dan mundur ke belakang.
“Bagaimana bisa dia mendapatkan zirah yang bahkan bisa bergerak dengan sesuka hati?” Merditih benar-benar tidak habis pikir. Akan tetapi, sebuah bongkahan es muncul di belakangnya saat dia melompat mundur, membuat dia tidak bisa bergerak.
Theon dengan tubuh robot Strega, dia muncul di depan Meridith dan mengayunkan kedua pedang miliknya. Hanya saja, sebuah pusaran kegelapan muncul di depan Meridith yang membuat Theon harus mundur beberapa langkah ke belakang.
“Pedangmu cukup mengganggu, aku akan mengembalikannya ya?” Tanya Theon kepada Strega.
“Terserah kau saja.”
Theon menaruh pedang lasernya kembali ke punggung Strega. Yang kemudian, dia ulurkan tangan kirinya yang digunakan untuk melepaskan sebuah elemental cahaya ke arah Meridith yang bergerak ke arahnya.
Hanya saja, Meridith sanggup menahannya menggunakan elemen kegelapan. Lagi-lagi keduanya menghasilkan sebuah gelombang kejut yang membuat terlempar bagi keduanya.
“Padahal katanya kau memiliki kemampuan sang penguasa. Mengapa kau tidak melakukannya?” Tanya Strega penasaran.
“Itu akan menguras energi yang cukup banyak. Apalagi aku tidak sempat menggunakan kekuatan alam menggunakan kloningan.” Jawab Theon di dalam tubuh Strega.
“Jika memang begitu, tunjukkan kepadanya sebuah teknologi yang tidak ada di dunia ini.” Kata Strega dengan penuh semangat.
Theon mengerti, dia menodongkan tangan kanannya yang memegang sebuah pedang. Sebuah peluru keluar dari tangannya yang kemudian mengarah ke arah Meridith dari jarak yang benar-benar sangat dekat. Apalagi kondisi mereka dalam keadaan bertarung mati-matian.
Meridith bisa bergerak dengan cukup lincah, meskipun dia menyadari bahwa serangan itu mampu menghancurkan pepohonan yang ada di belakangnya. Tak tanggung-tanggung, di udara dia mengumpulkan energi yang cukup besar, yang kemudian dia lepaskan ke arah Theon.
“Peluru magis, kecepatan cahaya!” Theon mengubah peluru Strega menjadi berkecepatan cahaya. Sehingga, hal tersebut sanggup memecah energi kegelapan milik Meridith, yang kemudian menembus pundak Meridith dalam sekejap.