The God in the Modern World

The God in the Modern World
Jean Skelet



Tentunya keadaan menjadi ribut, beberapa orang pengawal Jean menjadi berdiri dengan memperlihatkan wajah mereka. Dan yang pasti, tubuh mereka tidak biasa dengan pakaian yang ketat memperlihatkan tubuh berotot mereka semua. Mereka semua berdiri di depan Rena dan pramugari yang menangis.


“Nona, sebaiknya Anda duduk saja. Aku tidak masalah, daripada Anda yang harus menjadi korban, Anda masih terlalu muda.” Kata Pramugari itu meminta Rena untuk pergi.


Keributan itu, membuat Theon benar-benar tidak tahan, suara ocehan dari pramugari, serta Rena yang keras kepala membuatnya terganggu dengan pandangan matanya yang melihat sebuah awan di bawahnya. Apalagi, pengawal Jean sudah turun tangan yang menandakan bahwa keselematan Rena dan pramugari itu sudah berada di ambang jurang.


Meskipun begitu, Theon tahu bahwa Elzabeth memang berambisi untuk menyelamatkan wanita itu karena kisah kelam masa lalunya. Dia tahu persis bahwa seorang putra kaisar dewa melecehkan ibu Elzabeth di depan matanya sendiri yang membuat Elzabeth sendiri tak begitu terima. Apalagi saat itu Elzabeth masih terlalu dini untuk melihat kejadian tersebut. Pelecehan, sekaligus pembunuhan, meninggalkan Elzabeth kecil yang tinggal sendirian di rumah, apalagi statusnya yang sebelumnya yatim, kini berubah menjadi yatim dan piatu.


Untung saja, sang kaisar dewa, tidak terlalu berat sebelah. Putanya, tetunya mendapatkan hukuman yang berat yaitu hukum gantung sebagai nyawa dibalas dengan nyawa. Dan sebagai gantinya, kaisar dewa tersebut juga akan mengasuh Elzabeth sebagai pertanggungan dari kesalahan putra kaisar itu sendiri.


Rena bersikeras untuk meminta pramugari itu untuk pergi, setidaknya menenangkan para penumpang yang menjadi panik karena keributan sedang terjadi menjadi lebih parah. Bahkan ada beberapa penumpang yang mengecam tindakan Rena karena terlalu ikut campur.


“Apa kau tidak tahu siapa aku? Nona? Begini saja, sebelum terlambat kalian berdua bisa ku beri ampun dengan syarat....” Jean tidak melanjutkan ucapannya. Raut wajahnya terlalu mudah untuk ditebak bahwa yang ada dipikirannya hanyalah sebuah napsu yang menggrogoti otak.


Theon bisa melihat, bahwa Rena masih keras kepala dengan mencoba main tangan ke arah Jean yang ada di depannya. Apa yang dia batinkan, jika begini terus maka akan menekan sebuah ketakutan para penumpang, namun jika dirinya juga ikut campur, maka urusannya akan panjang. Setidaknya dia akan membantai satu komunitas yang menurutnya sebuah kejahatan besar pula.


Akibatnya, Jean tidak begitu terima, membuat beberapa pengawalnya langsung maju untuk memberikan sebuah pelajaran bagi Rena. Tak peduli apakah Rena adalah seorang wanita, jika menyentuh seorang tuan muda dengan perasaan tidak senang, maka kekerasan adalah sesuatu yang harus diberikan.


Sebagai seorang dewi, Rena bisa melakukan sebuah bela diri dengan cukup mudah. Apalagi itu merupakan bagian dari akademi di alam dewa. Dan bahkan Theon pun mengetahuinya dengan jelas.


“Kepala sekolah, aku harus bagaimana?”


“Aku tidak tahu, itu terserah dirimu.” Kata kepala sekolah dengan nada suara yang ketakutan pula.


Theon berdiri dan menangkap salah satu pengawal Jean di saat dia megayunkan tangan yang hendak di tahan oleh Rena di depannya. Tidak hanya itu saja, Theon juga membanting orang itu dengan cukup kuat, meskipun jika dilihat tubuh Theon tidak mungkin bisa membanting orang berotot seperti apa yang Theon pegang.


Bahkan Theon juga mengangkatnya kembali setelah wajahnya terbentur lantai pesawat dengan suara yang cukup keras. Melemparkan dua orang yang ada di depan Jean hingga terlempar dan mendorong Jean pula. Hanya saja, Jean masih sanggup untuk berdiri dan menahan dorongan dari dua pengawalnya di depan.


“Tuan, berhenti. Kau menganggu kenyamanan semua penumpang!” Teriak salah satu pramugari yang ada di belakang Theon.


Pramugari itu terdiam, namun kepala sekolah yang justru berteriak. “Theon awas!”


Spontan, Theon langsung kembali menghadap ke depan. Dan mendapati bahwa anak buah Jean bergerak seolah ingin menghajar Theon di tempat. Theon sama sekali tidak panik, dia langsung menghadapi seorang diri, mungkin dibantu oleh Rena pula.


“Serang dia! Jika bisa bunuh di tempat!” teriak Jean dengan nada suara yang cukup tinggi.


Keributan di pesawat, membuat orang menjadi berteriak panik, apalagi keributan tersebut merupakan sebuah pertarungan secara tiba-tiba. Apalagi pesawat dengan ruang gerak yang terbatas membuat para penumpang seolah juga terlibat dengan pertarungan Theon melawan beberapa anggota geng Sekeleton dan tuan mudanya. Tentunya, itu membuat para pramugari sudah mencoba untuk tetap tenang, dan mengancam Theon agar menghentikan tingkah lakunya.


Namun, Theon tidak berhenti jika para pramugari masih berpihak secara tidak seimbang. Karena dia tahu, bahwa pramugari sepertinya benar-benar takut dengan geng skeleton.


Selain itu, apa yang para penumpang itu kejutkan, bagaimana mungkin ada seseorang yang berani memiliki sebuah urusan dengan para keluarga Skelet atau pemilik mafia geng skeleton? Para kalangan atas di kelas bisnis pesawat ini tentunya tahu, bahwa geng tersebut benar-benar diketahui oleh kalangan seperti mereka, yang mana jika berurusan dengan geng tersebut, maka kemungkinan paling ringan adalah mati.


Itu menandakan, bahwa tidak ada lagi sebuah hukuman dari ketua mafia selain kematian. Apalagi yang bertarung dengan seorang geng terkuat di provinsi yang Theon tinggal, serta terkuat nomor dua di negara ini adalah bocah SMA yang baru saja mengalami pubertas. Dan anehnya lagi, bagaimana bisa dua anak SMA itu memiliki kemampuan bertarung yang cukup hebat?


Jean menggertakkan giginya, apalagi melihat Anak SMA yang lebih muda daripadanya bisa menghajar para bawahan ayahnya. Sehinngga, dia langsung bergerak menghampiri Theon dengan cepat untuk memukul kepalanya.


Theon yang baru saja membanting seseorang, dia langsung menghadap ke arah Jean yang muncul di depannya. Bahkan, Theon sempat terkejut saat kepalan tangan Jean mengeluarkan sedikit efek petir berwarna kuning.


Meski begitu, Theon langsung memasang wajah tak peduli. Dia tahu, jika dirinya terkena pukulan tersebut, atau bahkan melakukan tindakan bodoh seperti menahan pukulan Jean. Maka kemungkinan terbesarnya dirinya akan tersengat begitu hebat. Sehingga apa yang dilakukan Theon adalah mencoba untuk mundur sejenak seperti memasang jarak.


Kemudian, dia mengambil sebuah bantal di salah satu kursi penumpang yang kemudian di pegang degan erat dari tangan kanannya. Dan bersamaan dengan itu, pukulan Jean yang memiliki elemen petir menghantam bantal tersebut, meskipun sebenarnya Theon juga sempat terdorong dan tidak sampai terlempar.


Setidaknya, dia bisa menggunakan bantal tersebut sebagai sebuah isolator yang cukup baik dan tidak membuat dirinya tersengat oleh elemen petir milik Jean. Dan tanpa berpikir panjang, Theon mengangkat kakinya dan menendang siku Jean yang memukul bantal Theon secara bersamaan.


Tentunya hal tersebut membuat tangan Jean lemah, bahkan dirinya benar-benar terkejut karena sepertinya seorang pemuda di hadapannya menyadari bahwa dirinya mengeluarkan sebuah elemen petir.


“Wah wah, sepertinya ada yang ingin menghadiri festival keluarga Zuan?” Theon mengangkat tangannya, sambil bergerak untuk memukul tubuh Jean yang tidak begitu fokus.