
Theon yang mendengarkan hal itu, dia cukup terkejut dan melihat sekujur tubuhnya. Dia sedikit melihat bahwa kedua tangannya yang sebelumnya berwarna sawo matang, kini berubah sangat putih. Bahkan, dia juga meraba wajahnya dan menyadari ada sebuah perubahan yang sangat mendasar.
Tidak begitu percaya, Theon menciptakan lingkaran air di hadapannya. Kemudian, dia mengeluarkan setitik cahaya dari jarinya sebagai sebuah penerangan.
“Tidak mungkin.” Theon membuka mulutnya, saat sebuah bayangan yang ada di lingkaran air itu menunjukkan bahwa wajahnya bukan lagi Theon Alzma. Melainkan sosok Fang Theon yang sesungguhnya. Sosok yang benar-benar sangat mirip dengan ibunya kini sudah melekat di wajahnya.
Jika dia biarkan, maka ini akan menjadi sebuah bahaya yang cukup besar. Theon Alzma bisa jadi akan menyadari bahwa yang dia ajak bicara bukan dirinya dari masa depan, melainkan orang lain yang tengah menyamar. Sehingga, mau tidak mau dia harus segera pergi dari rumah ini dan langsung menuju alam dewa tanpa berpikir panjang lagi.
Segera, Theon kembali masuk ke dalam rumahnya, masuk ke dalam kamar mendiang orang tua Theon Alzma yang digunakan tidur oleh Rena dan juga Lesha.
Seperti yang dia pikirkan, saat dia menyorot cahaya di kamar yang cukup gelap, dia mendapati bahwa wajah Rena juga berubah. Menjadi sosok Elzabeth sebagaimana mestinya. Dengan perlahan, Theon segera membangunkan Rena untuk segera pergi dari rumah ini.
“Rena bangun, kita akan segera pergi dari sini!” Theon membangunkan tubuh Rena perlahan. Dia tidak ingin membuat Theon Alzma terbangun dari tidurnya.
Perlahan, Rena membuka matanya saat melihat sebuah setitik cahaya dalam kegelapan, serta tangan Theon yang menggoyangkannya. Dia mengusap matanya, dan sedikit menutup matanya karena cukup silau memperhatikan cahaya sedekat itu.
“Tunggu, pa....pangeran?”
Usai Theon membangunkan Rena, dia berpindah kepada Lesha. Hanya saja, Rena cukup terkejut bahwa yang membangunkannya adalah pangeran Nirwana, atau wajah Fang Theon secara asli.
Tidak sengaja dia menoleh ke arah cermin di sebelahnya, Rena cukup terkejut saat wajahnya berubah. Berubah menjadi sosok Elzabeth yang berasal dari alam dewa. Suaranya juga benar-benar berubah dan menjadi Elzabeth sejati.
“Hoammm.” Lesha mengusap wajahnya, perlahan matanya juga terbuka karena gugahan Theon di tengah malam seperti ini.
Namun, dia cukup terkejut saat ternyata bukan Theon, suaranya juga benar-benar berbeda yang membuat dia melompat dari ranjang dan memasang sebuah kuda-kuda karena menganggap bahwa Theon adalah orang asing yang akan bermacam-macam dalam tubuhnya.
“Shuuut” Theon menaruh jari telunjuknya pada bibirnya. “Aku Theon, dan dia Rena. Ini wujud sejati kami dalam ras dewa. Akh ya, nama asli Rena adalah Elzabeth, kau harus memanggilnya seperti itu.”
“Kita harus segera pergi dari sini sebelum Theon Alzma menyadarinya.” Pinta Theon dengan berhati-hati.
Pupil mata Lesha melebar saat melihat wujud asli Theon dan juga Rena. Mereka semua benar-benar memiliki paras yang sangat indah, seperti Rena atau Elzabeth yang benar-benar sangat cantik, serta Theon yang benar-benar sangat tampan yang membuat Lesha jatuh hati.
“Kita akan pergi kemana untuk memunculkan menara dunia tersebut?” Tanya Strega yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
“Pesisir pantai selatan, setidaknya tempat itulah yang menjadi tempat teraman tanpa manusia pada malam hari.” Kata Theon.
Mereka semua mengangguk, yang kemudian segera beranjak pergi meninggalkan rumah Theon Alzma. Untuk selamanya? Mungkin saja, meski sebenarnya Fang Theon merasa benar-benar sangat keberatan. Tapi, mau bagaimana lagi.
.....
Dengan kecepatan penuh, mereka pada akhirnya menuju pesisir pantai selatan. Lesha, Theon, Elzabeth, dan mungkin juga Strega, berdiri di tepi pantai untuk segera menuju alam dewa. Tatapan kedua dewa itu benar-benar cukup datar, memperhatikan Lesha yang sedang berkonsentrasi untuk mengumpulkan energi bulan yang digunakan untuk memunculkan menara dunia.
“Lesha, kau merasa kesulitan?” Tanya Elzabeth sedikit mengerutkan dahinya.
“Diamlah, ini membutuhkan sebuah konsentrasi. Teknik seperti ini hanyalah kecil bagiku.” Bantah Lesha.
“Menara dunia!” Lesha berteriak, dia juga mendorong kedua tangannya tepat pada sebuah rembulan yang ada di atasnya.
Array yang mengelilingi mereka berubah menjadi sebuah dinding, yang kemudian membentuk sebuah menara yang menutupi mereka. Menara yang mungkin sangat mirip seperti mercusuar muncul, yang sebenarnya menara ini adalah menara penghubung menuju alam dewa.
“Jangan lupa, ketika kita masuk kita harus saling bergandengan atau yang terjadi kita akan terpisah.”
Theon sudah bersiap, begitupun yang lainnya. Ujung menara seolah seperti sebuah gerbang dimensi menuju alam lain. Lebih tepatnya itu adalah gerbang menuju alam dewa.
Dia juga tidak perlu risau tentang asap pembantu, kondisi alam dewa masih tergolong aman, dan berada dalam satu hari sebelum kejadian itu berlangsung. Meskipun ini akan menjadi sebuah pelanggaran garis waktu, tapi Theon sudah menyadari konsekuensi yang terjadi padanya, dan siap menerimanya meskipun konsekuensinya sedikit berat.
Dengan menghela napas, Theon terbang melayang secara perlahan-lahan. Dia sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan bumi, meskipun rasa cintanya sudah mendarah daging. Meski sedikit ragu, dia menuju ujung menara yang ada di atas, untuk segera masuk ke alam dewa.
Yang mana, diikuti oleh Lesha, Elzabeth dan juga Strega, mereka menuju gerbang menuju alam dewa dan meninggalkan sebuah keraguan.
“Aku kembali.”
.......
Theon Alzma terbangun dari tidurnya, membuka matanya perlahan dan waktu menunjukkan pukul setengah enam, yang mana dia harus memulai hari dan berangkat menuju sekolah yang benar-benar sangat mirip dengan sebuah gerbang neraka.
Namun, dia teringat perkataan Theon dari masa depan, bahwa dia harus merubah dirinya sendiri. Menghilangkan semua ketakutan dan merubah fisiknya menjadi laki-laki sejati, meninggalkan apa yang namanya sikap feminin yang mungkin akan dia cabut dari akarnya.
Sehingga, ketika dia baru saja turun dari ranjang, dia memposisikan diri untuk tengkurap. Menghela napas perlahan dan mengangkat tubuhnya secara perlahan-lahan.
Rasanya cukup berat apabila dia tidak terbiasa, bahkan melakukan satu push up an sekalipun. Akan tetapi, dia sedikit memaksa agar setidaknya mendapatkan sepuluh push up an.
Wajahnya sedikit tersenyum cerah, mulai keluar dari kamarnya untuk mandi dan hendak membangunkan Theon Alzma dari masa depan, dan siapa tahu dia akan mengajaknya jogging pagi. Hanya saja, dia merasakan jari kakinya seperti menyentuh sesuatu, yang membuat Alzma sendiri menundukkan kepalanya.
Tak disangka-sangka, selembar kertas, yang tertindih sebuah smartphone mahal yang mungkin hanya orang-orang kaya yang mampu membelinya. Tentu hal tersebut membuat Alzma bertanya-tanya, siapa yang menaruh smartphone mahal itu? Jawabannya adalah sesuatu yang tertulis di atas kertas.
Untukmu, maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama, karena ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Haha, selamat kau telah mengetahui masa depan bahwa kita mendapatkan pekerjaan yang cukup baik, tapi aku tidak akan memberitahukan apa pekerjaanku yang sebenarnya.
Meski kau tahu masa depanmu bagaimana, tapi jangan bermalas-malasan, kau masih harus berusaha atau yang akan terjadi Theon Alzma seperti dirimu dari masa depan akan datang menamparmu dengan penuh penyesalan.
Jangan sesekali membenci paman, sejatinya paman akan tersenyum ketika kau berubah. Dia akan bersemangat untuk memberimu uang bulanan karena keponakannya berubah menjadi laki-laki sejati, aku berjanji akan hal itu semua.
Selain itu, jangan lelah untuk mengejar Rena, seperti yang kau tahu bahwa Aku dan Rena adalah seorang pasangan, jadi sangat mungkin kau mendapatkan hati Rena. Cobalah untuk merubah Rolland, dan jangan melawannya secara langsung, karena pada dasarnya Rolland hanyalah kurang perhatian dari ayahnya.
Aku meninggalkanmu sebuah smartphone yang bahkan belum keluar di tahun ini, di dalamnya ada foto-foto yang menyimpan banyak kenangan. Salah satunya foto kita bersama Rena, di luar negeri, lebih tepatnya di Ellada. Jadi, jangan anggap aku bohong, tentang pekerjaan baik dan juga pasangan.
Dari dirimu di masa depan.
Theon Alzma yang membaca itu, dia tersenyum. Hatinya sudah memiliki tekad dan memiliki tujuan yang benar-benar sangat jelas.