
Theon mengatur napas. Dia sudah berada di pantai yang berada di selatan negara Osean. Di sebelahnya terdapat sebuah armada kapal yang berlabuh dan tempat pelabuhan kapal pula. Dirinya bersedekap, memandang tidak ada manusia sama sekali di dekatnya. Keadaan benar-benar sepi seolah dia menjadi manusia terakhir yang tinggal.
“Pantai ini yang membentang dari timur ke barat, tampaknya cukup untuk menampung semua elementalist yang ada di benua Osean.” Kata Theon yang menoleh ke belakang, jauh di belakangnya terdapat belasan gedung bertingkat yang merupakan sebuah penginapan bagi pengunjung. “Dan, mereka akan menginap beberapa hari sebelum berangkat dan persiapan, setidaknya dengan pasokan makanan yang tersisa oleh manusia-manusia yang mengalami kematian.”
“Akh aku lupa.” Theon berbicara dengan dirinya sendiri. Kemudian, dirinya menghadap ke arah barat laut atau negara New Santara berada. Dia mengulurkan tangannya ke depan dengan sedikit ke atas, sambil memejamkan matanya.
Tanah dari pusat Agrabinta bergetar, membuat Roney sendiri juga merasakanya. Hanya saja, itu berlangsung sebentar sebelum dia melihat sebuah benda melayang yang bergerak dengan sangat cepat ke arah tenggara. Benar-benar sangat cepat, bahkan Roney sendiri seolah melihat sebuah kilatan petir.
Theon membuka matanya, dia melihat benda yang selama ini terpisah dengan dirinya sudah melayang ke arah dirinya. Sehingga, dia tersenyum dan langsung menangkap benda atau sebuah pedang dengan berwarna merah dengan corak hitam, yang tidak lain merupakan Fire Sword. Sebuah pedang yang mana akan mengeluarkan kerusakan berkali-kali lipat apabila penggunanya menggunakan elemen api.
Dan, apakah bisa mengeluarkan elemen lain menggunakan Fire Sword? Sebenarnya bisa, tapi itu hanya mengeluarkan elemen dengan kerusakan murni dari sang pengguna itu sendiri. Dan sangat berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan api menggunakan Fire Sword.
Selain itu, ketika Theon kembali memegang Fire Sword, pedang itu sedikit mengeluarkan warna kuning yang seperti akar bercabang pada pedang tersebut. Dan tentu saja membuat Theon cukup heran apa yang sebenarnya terjadi? Namun, dia segera untuk tidak menghiraukannya, dia hanya tersenyum sambil menebaskan pedang itu untuk meregangkan ototnya.
Akan tetapi, siapa yang menyangka ketika Theon hanya mejajal sekali tebasan pedang. Sebuah energi tebasan pedang berapi muncul dengan cukup besar. Dia benar-benar terkejut saat serangan sebuah mendasar seperti itu menghasilkan tebasan yang cukup kuat menggunakan Fire Sword. Padahal, sebelum-sebelumnya, ketika Theon mengeluarkan Fire Sword, Theon tidak pernah mendapati tebasan mendasar sebesar itu. Apalagi Theon mengeluarkannya secara tidak sengaja.
“Apa yang terjadi padamu tuan pedang?” Theon mencoba mengerutkan dahinya. Tapi dia merasa bodoh karena mencoba berkomunikasi dengan sebuah pedang yang tidak mampu untuk berbicara. Namun, dia sesekali juga ingin mengeluarkan sebuah teknik kemampuan pedangnya.
“Api: pembelah langit tahap pertama!” Theon menebaskan pedangnya secara horizontal. Sehingga memunculkan sebuah energi bulan sabit yang merupakan elemen api. Yang mana ketika keluar, tebasan elemen api itu semakin memanjang dan semakin membesar. Sehingga mengakibatkan laut sekalipun mengeluarkan gelombang sebelum tebasan api itu hilang sejauh mata memandang.
“Bahkan tebasan tahap pertama sekalipun, kekuatannya naik lima kali lipat dan menjadi tahap kelima. Akh aku cukup bodoh karena tidak menyadarinya sebelumnya, karena selalu menggunakan pedang hanya untuk beradu pedang saja.” Batin Theon dengan tersenyum kecut. Dia kembali memasukkan Fire Sword ke dalam cincin ruangnya. Lagipula, bukankah itu justru menjadi sangat baik? jadi Theon tidak terlalu memikirkannya tentang sebab dan akibat.
Di kala seperti itu, Theon berpikiran bahwa keenam elementalnya sudah bangkit. Yang mana, hanya menyisakan sebuah dua elemen yang sama sekali belum ada pada tubuhnya. Dia mengulurkan tangannya, mencoba mengeluarkan elemen kegelapan karena barangkali sudah ada tanpa dia belum menyadarinya.
Lagipula dia sudah menemukan avatar dewi rembulan atau Lesha, yang nama asli dewi rembulan sendiri adalah Wulan yang mampu untuk membuka menara gerbang, sehingga dia tidak merasa kerepotan lagi.
“Tuan!”
Theon menoleh ke belakang. Tampaknya Calum dan tiga rekannya sudah menyusul dengan cukup cepat. Meski pada dasarnya, Theon sendiri tidak meminta untuk menyusulnya sama sekali. Namun, dia juga tidak terlalu keberatan, karena sudah ada ratusan orang yang menyebar menuju penjuru negara.
“Kau cepat sekali. Apa ada yang ingin kau sampaikan?” Tanya Theon yang kembali memfokuskan pandangannya ke arah laut.
“Jarak kota menuju ke sini hanyalah 5 Km sehingga tidak terlalu jauh. Sedangkan kami memungut mobil dari rumah yang tidak berpenghuni sama sekali.” Kata teman Calum yang mengangkat kunci mobil di belakang Theon dengan bangganya.
Theon menghela napas. Jika rumah itu masih berpenghuni mungkin Theon akan memukul teman Calum dengan cukup keras. Tindakan tersebut sama halnya seperti perampokan. Tapi Theon hanya membiarkannya saja karena pemilik dan ahli warisnya juga tidak ada sama sekali.
“Apakah kalian bisa mengumpulkan ketersediaan pangan selama satu bulan kedepan? setidaknya untuk para elementalist dari faksi Ocean yang ikut perang. Ini cukup mudah, pasti ada puluhan gudang beras yang ditinggalkan pemiliknya. Sehingga kalian hanya mengumpulkannya pada satu titik. Kalian juga bisa membentuk sebuah divisi yang berisikan para ahlinya.” Kata Theon berbalik badan. Memikirkan bahwa ketersediaan pangan benar-benar cukup penting untuk bertahan hidup di benua ini, sekaligus untuk bekal berperang. Dan, setelah berperang, maka itu urusan Lesha untuk membangun kembali peradaban.
“Kebetulan sekali, kami pernah magang di kementrian pertanian yang berada di badan pangan nasional. Jadi, kami cukup berpengalaman untuk melakukan demikian.”
Theon tersenyum lega, entah karena dia mendapatkan keberuntungan baik atau apa? Tapi setidaknya dia merasa sangat kebetulan sekali bahwa Calum cukup berpengalaman. Sehingga, dia melanjutkan ucapannya dan berkata, “Tunggu apalagi, cepat lakukan. Aku akan memberimu waktu selama lima belas hari lagi sebelum kita berangkat. Dan sebenarnya waktu itu bisa jadi mengalami perubahan, karena bisa jadi ada beberapa faksi yang sebenarnya belum siap.”
“Kami akan melaksanakannya dengan cukup baik dan tanpa mengecewakan.” Kata mereka berempat dengan senang hati yang kemudian berbalik badan dan juga pergi untuk mengurus persediaan pangan.
Theon menghela napas, dan sekarang waktunya adalah membentuk sebuah pasukan yang mampu untuk mengendalikan kapal. Hanya saja, dia berpikir bahwa itu dia lakukan nanti, ketika semua elementalist dari Ocean sudah berkumpul, sehingga Theon bisa menentukannya. Bersamaan ketika Theon membagi beberapa kelompok tergantung tipe elemen yang mereka miliki.