The God in the Modern World

The God in the Modern World
Senjata Plasma



“Itu adalah senjata yang masih memiliki hubungan dengan senjata nuklir. Inti dari senjata itu berbahan logam uranium yang memiliki kandungan radioaktif. Aku tidak mengerti tentang kimia, tapi tampaknya senjata tersebut juga dapat menetralkan kekuatan 4 elemental melalui kekuatan fusi nuklir atau mungkin fisi nuklir. Akh, entahlah lagipula kita anak IPS, tidak tahu bagaimana cara kerjanya, jadi penjelasanku bisa jadi asal-asalan.” Ujar Rena dengan panik, karena dia tahu hidupnya benar-benar berbahaya dan menjadi buronan internasional apabila Rena sedikit menunjukkan wajahnya.


Hanya empat, dari lima elemental yang terkecuali elemental petir. Karena empat elemental tersebut memiliki wujud gas, cair serta padat. Sedangkan apabila mereka menghadapi elemental yang menggunakan elemental petir, mereka menggunakan senjata isolator.


Tapi tampaknya, karena di dunia ini tidak ada kekuatan elemental yang tidak berwujud seperti kegelapan dan cahaya, maka mereka juga belum menemukan penangkalnya. Sepertinya hanya bisa menghadapi mereka dengan elemental kegelapan dan cahaya seperti tadi. Itulah yang dijelaskan Rena kepada Theon mengapa petinggi dunia bisa sekuat itu. Dan, senjata tersebut bernama plasma.


Jika para elementalist menggunakan kekuatan di luar akal, maka para petinggi dunia tidak mau kalah. Mereka menggunakan senjata ilmiah dan menunjukkan bahwa dunia berhak untuk maju tanpa kekuatan yang menurut mereka adalah sebuah sihir. Karena, dunia bukan lagi berada di era pedang dan sihir.


“Aku tidak menyangka bahwa manusia modern memiliki senjata mengerikan yang seperti itu. Senjata mereka berhubungan dengan fusi nuklir, itu bukan hanya membahayakan kita, melainkan orang lain pula. Seperti ledakan tadi, radiasi nuklir akan membahayakan orang-orang karena dampak terburukanya adalah penyakit kanker.” Theon berkata dengan panik pula, masalahnya senjata tersebut benar-benar berbahaya, dia tidak menyangka bahwa petinggi dunia menghalalkan segala cara untuk membasmi orang yang memiliki kekuatan elemental.


Rena juga mengangguk setuju, dia juga tahu peris, dalam ingatan Rena, bahwa senjata nuklir pernah menjadi senjata pemusnah masal yang dapat menghancurkan dua kota dalam sebuah negara. Bahkan dampak dari radiasinya masih terasa sampai tahun ini.


Kemudian, Theon dan Rena juga melihat ke bawah, bahwa perkotaan benar-benar ramai dengan adanya helikopter yang jatuh seperti terkena serangan secara tiba-tiba. Bahkan, sirine kota juga bunyi yang menandakan bahwa ada sebuah bahaya yang mengancam. Mengingat, tadi seperti ada sebuah kobaran api di langit perkotaan.


Keduanya menghela napas untuk menenangkan diri mereka masing-masing, Theon juga merubah sayapnya menjadi sayap api kegelapan dan menarik Rena langsung, karena dirinya harus bergegas menuju rumah kepala sekolah untuk menghadiri undangan tidak formal darinya.


Hanya saja, mereka masih tidak menghilangkan lapisan elemen yang ada pada diri mereka, karena apa yang mereka takutkan, para tentara masih mengincarnya, yang mana apabila mereka membukanya, tentara tersebut akan mengetahui identitas mereka. Sehingga mereka akan menjadi buronan internasional.


Theon juga tidak mengerti, padahal seorang elementalist tidak memiliki kesalahan apa-apa, tapi kenapa mereka diperlakukan seperti seorang penjahat yang membahayakan dunia? Lagipula apa hubungannya dengan kemunduran zaman? Padahal kekuatan seperti ini tidak mungkin ada pada seseorang yang tidak memiliki elemental seed.


Selain itu, Theon dan Rena juga bergegas karena agar tidak dilacak dengan mudah, serta tidak ingin membuat kepala sekolah menunggu. Karena kejadian itu tadi benar-benar menyita waktu yang membuat Theon begitu kesal.


“Kita sudah sampai, rumah kepala sekolah. Namun sebelum itu....” Di atas langit rumah kepala sekolah, dari tangan Theon mengeluarkan api berwarna putih. Kemudian, dia mendorongnya ke bawah dan membenturkannya pada udara kosong.


Hal tersebut membuat api itu menyebar dan meluas, namun usai kobaran itu benar-benar jauh dalam radius beberapa kilometer, api itu menghilang. Apa yang dilakukan Theon adalah agar tidak ada benda langit yang mengikutinya, karena apa yang dia takutkan, kepala sekolah justru jadi korban karena kesalahannya.


.....


Lyu Shui, dia mondar-mandir sambil memegang teleponnya, karena Theon sendiri tak kunjung datang. Dia menjadi kesal sendiri karena menganggap Theon benar-benar bodoh, bagaimana tidak, sudah tahu dirinya tidak memiliki kendaraan, namun menolak untuk dijemput secara langsung.


Mau bagaimana lagi, Lyu tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam mobil dan berniat untuk menjemput Theon.


"Maaf kepala sekolah, kami terlambat. Tapi jangan salahkan kami.” Kata Theon sambil mendarat di depan mobil kepala sekolah, dan ketika dia mendarat, dia langsung menghilangkan sayapnya. Begitupun dengan Rena yang ada di samping Theon.


Lyu terkejut dan hampir meloncat saat tahu bahwa seseorang yang muncul secara tiba-tiba. Namun, dia segera menghela napas saat tahu ternyata yang datang adala Theon, sehingga dia benar-benar sedikit tenang.


“Kepala sekolah, aku adalah teman sekelas Theon. Namaku adalah Rena Shon.” Kata Rena memperkenalkan dirinya. Karena dia tahu, bahwa seorang kepala sekolah tidak mungkin mengenali semua muridnya.


Lyu mengerti dan menghilangkan ekspresi sinisnya, “Nona Shon, maafkan aku, aku tidak menyangka bahwa Anda adalah teman sekelas Theon. Selain itu, aku turut berbelasunkawa tentang kematian orang tua Anda tujuh hari yang lalu.”


Rena menatap Lyu dengan malas, karena apa? Karena dirinya sudah bukan dan tidak menganggap lagi sebagai nona muda keluarga Shon, karena nona muda sudah menjadi anak pamannya yang Rena sendiri benci di dalam hatinya.


“Silahkan masuk.” Lyu mempersilahkan Theon dan Rena untuk masuk ke dalam.


.....


“Seharunya nona Rena sudah tahu tentang festival keluarga Zuan? Jadi kemungkinan Anda juga akan datang menuju kesana bukan? Itulah yang akan ku bicarakan kepadamu, Theon.” Hang Shon, atau ayah kepala sekolah memulai pembicaraan setelah mereka berempat duduk dalam satu meja dengan hidangan yang penuh.


“Sebenarnya aku ikut bukan atas nama keluargaku, aku hanya ikut dengan Theon secara personal untuk menuju ke sana. Lagipula pamanku sudah tak peduli lagi, bahkan dia juga melarangku untuk ikut, sepertinya.” Jawab Rena sambil mengambil sepiring makanan.


Hang yang mendengarkan hal tersebut, dia menghentikan untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. “Maafkan aku, aku yang akan mengajak Theon. Ketika Anda mengikuti Theon, maka aku tidak berani membawa Anda, karena aku sama sekali tidak berani dengan keluarga Shon.


“Jika memang begitu, maka Anda tidak perlu mengakui bahwa Anda mengajakku yang membawa Elzabeth. Sehingga, Anda akan aman.” Theon angkat bicara. Masalahnya, untuk membnagkitkan elemental, dia harus mengajak Elzabeth untuk menjadi partnernya. Karena hanya Elzabethlah yang bisa di ajak bicara tentang kekuatan yang hanya diketahui oleh dewa dewi.


“Elzabeth?” Lyu mengerutkan dahinya.


“Maksudku Rena. Aku akan tetap mengajak Rena, namun kalian tidak perlu mengatakan di depan publik, terutama keluarga Shon bahwa kalian mengajakku dan Rena.” Ujar Theon memberikan pendapat.


Lyu mengangguk mengerti dengan berat, karena dia mengerti bahwa mencampuri urusan keluarga orang lain memiliki resiko yang tinggi. Hanya saja Lyu tidak memiliki pilihan lain, sehingga dia berkata, “Baiklah jika memang begitu, aku akan mengurus surat disepensasi untuk beberapa hati tidak masuk untuk kelian berdua.”


“Terimakasih kepala sekolah.” Theon sedikit tersenyum.


Lyu mengambil sebuah kain berwarna hitam dari meja di belakangnya, kemudian dia menyerahkannya kepada Theon dan berkata, “Selain itu aku juga ingin mengembalikan jubah ini.”


Rena benar-benar terkejut saat tahu jubah yang dipegang oleh kepala sekolah bukanlah jubah biasa, melainkan jubah dari alam dewa yang dapat menahan semua serangan senjata manusia, serta menahan 50% kekuatan elemental. Selain itu, jubah tersebut juga benar-benar langka yang mana, Rena baru melihatnya kali ini.


“Gunakan saja selama aku menjadi guru Anda. Anggap saja itu properti latihan.” Ujar Theon yang membuat Rena membuka matanya dan kaget bukan kepalang karena menyerahkan jubah langka itu kepada seseorang.