
Theon dan Rena termenung di depan televisi. Sudah hampir satu hari dirinya suntuk tidak melakukan apa-apa dengan terakhir kali dia baru saja membunuh Anna yang melakukan tindakan penyerangan secara tiba-tiba. Apalagi sebenarnya mereka masih terbawa pikiran tentang apa yang terjadi pada Anna?
Apalagi Anna memiliki kekuatan yang cukup kuat. Mungkin jika berhadapan dengan manusia elementalist lainnya, bisa dibilang Anna akan mudah dengan cukup mudah. Terlebih, saat mendengar cerita Rena, Anna mampu membunuh keluarganya dengan beberapa kali serangan. Bahkan ayahnya saja, Anna mampu membuatnya sekarat sebelum Anna benar-benar pergi. Walaupun pada akhirnya Verme dinyatakan meninggal.
“Semua aset jatuh di tanganku, seharusnya.” Kata Rena menghela napas. Tapi sebenarnya dia cukup malas untuk mengurus itu semua. Sehingga, mungkin dia membiarkan semua menjadi terbengkalai dan tidak ada yang mengurus. Meskipun, itu justru akan membuat keluarga Jark seperti ayah Rolland, serta keluarga Marza seperti ayah Lesha akan kegirangan karena tidak ada saingan kembali dalam bisnis mereka.
Dan, apa yang mereka kejutkan pada hari ini. Berita tentang adanya Anna yang merusak dan menghancurkan segalanya menjadi popular. Tersebar di seluruh New Santara dengan sangat cepat dalam hitungan jam saja. Apalagi video tentang Theon yang mengulurkan tangannya, mengeluarkan es bercabang untuk menahan semua kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan beruntun juga tersebar dengan sangat cepat.
Theon hanya menghela napas, dia malakukan hal tersebut bukanlah suatu hal yang dapat dibanggakan. Para elementalist mendapatkan sebuah pandangan yang begitu buruk, meski masih ada sebuah pro dan kontra di antara masyarakat. Keberadaan elementalist yang menurut mereka adalah penyihir, adalah benar-benar sangat membahayakan.
Seperti yang dilakukan Anna, yang mampu membunuh puluhan jiwa. Beberapa kontra menyatakan bahwa dengan adanya penyihir yang tidak memandang baik dan buruk, akan benar-benar sangat membahayakan. Pertarungan antara penyihir baik dan buruk mungkin akan mendapatkan dampak yang sangat buruk bagi masyarakat. Sehingga, orang-orang berakal bisa berpikiran terbuka bahwa penyihir memang tak layak hidup bersama dengan manusia biasa.
Kemudian, ada juga yang memanas-manasi keadaan, bahwa Lord Unknown lah penyebab semua itu terjadi. Dengan adanya sosok yang muncul, dan unjuk gigi bak seorang pahlawan, maka kejahatan juga akan sering keluar bersamaan dengan pahlawan itu sendiri. Sepertinya itu karena mereka selalu menonton film superhero, yang mana ketika pahlawan keluar, maka Villain juga akan muncul untuk mengimbangi pahlawan itu sendiri.
Apalagi dengan pengakuan Lord Unknown bahwa semua sihir itu memang nyata, membuat beberapa orang semakin berani. Melakukan penindasan kepada orang-orang yang tidak memiliki elemental, serta membuat onar seenak jidat. Mereka yang kontra seperti, mengharapkan bahwa divisi keluar dan membunuh semua penyihir yang ada sama seperti dulu tanpa mereka ketahui.
Untung saja jika ada yang kontra, maka pastinya pro juga pasti ada. Berpikiran lebih bijak bahwa sifat manusia memang seperti itu bahwa napsu selalu ada agar menjadi sosok yang paling kuat. Tanpa elemental sekalipun, manusia masih sering melakukan onar yang mana jarang sekali diperhatikan manusia. Contoh seperti kejahatan kecil yang kurang diperhatikan manusia itu sendiri.
Itulah sifat dasar manusia. Sehingga, orang-orang agak mendukung Lord Unknown untuk tetap melakukan apa yang terbaik. Jika tidak ada Lord Unknown, maka kemungkinan penyihir juga akan muncul dan membuat onar tanpa terkendali.
Hanya saja, Theon masih kurang puas. Dia merasa, apakah menunjukkan kepada publik bahwa kekuatan supranatural itu nyata merupakan tindakan yang salah? Dia terbawa pikiran bahwa dengan munculnya Lord Unknown, bukannya kejahatan semakin redup, justru akan semakin banyak. Dia merasa serba salah untuk melakukan suatu hal. Apalagi untuk melawan seseorang yang membuat onar, sulit sekali untuk tidak mengikut campurkan manusia lainnya.
“Apakah yang kita lakukan salah?” Theon menghela napas, dengan kesalahan terkecil justru itu menjadi sebuah beban pikiran baginya. “Padahal kita harus pergi ke Ellada, tapi siapa yang berpikir situasi justru memanas.”
Ketika itu, smartphone Rena berdering, yang membuat dia mengambil smartphone nya di atas meja untuk menjawab panggilan tersebut. Yang mana itu berasal dari Roney.
“Nona, paspor dan visa Anda dan tuan Theon sudah jadi. Anda dan tuan Theon bisa pergi menuju Ellada tanpa bermasalah. Bahkan jika perlu, aku bisa memesankan tiket paling mewah untuk kalian berdua.” Kata Roney dalam panggilannya.
Rena yang mendapatkan panggilan itu, dia melirik mata Theon yang tepat berada di sebelah sedikit ke atas karena pada dasarnya posisi Rena tengah bersandar pada bahu Theon. Yang mana Rena sendiri ingin mendapatkan jawaban dari Rena itu sendiri, apa yang Theon pikirkan.
Theon mendengarkan itu, dia hanya menguap malas dan kebingungan apa yang akan dia lakukan. Jika dirinya pergi ke Ellada, maka Lord Unknown tidak ada, maka tidak ada pula yang mencegah apabila ada elementalist yang berbuat onar seperti Anna kemarin. Sehingga, akan menjadi citra elementalist benar-benar sangat buruk.
Di sisi lain, jika dirinya tidak pergi ke Ellada, maka dia tidak akan bisa meliat menara itu, dan tidak bisa mencari jejak siapa avatar dewi rembulan yang mampu untuk membuka menara tersebut. Benar-benar serba salah. Tapi, Theon kemudian berpikir sejenak, yang membuat dirinya berdiri tegak. “Aku pernah berpikiran, bahwa aku perlu memacu emosi agar elementalku bangkit, bukankah aku sendiri menyukai tantangan?. Lagipula, mengapa aku menjadi mengurus dunia ini dan tidak fokus pada tujuan utamaku? jika citra elementalist menjadi buruk, mengapa aku menjadi ikut pusing?”
Theon menyadari sesuatu, keberadaannya di sini membuat dia lupa akan tujuan utamanya. Apa yang dia pikirkan seperti terlalu mengurus kehidupan dunia ini, padahal dunia ini bukanlah dunia asalnya. Sehingga, menuju Ellada adalah yang paling penting untuk melangkah menuju alam dewa. Tidak peduli apa yang terjadi nantinya pada New Santara, dia melupakan hal tersebut jauh-jauh. Meskipun sebenarnya dia menyadari bahwa penyebab utamanya adalah dirinya.
“Roney, siapkan dua tiket pesawat untuk kami berdua.untuk menuju Ellada. Kami akan berangkat dua hari lagi. Kemudian, belikan aku smartphone baru ....” Theon berpikir sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya dalam hati. “Sungguh bodohnya aku melawan Kadita dalam kondisi membawa Smartphone di saku.”
“Kau dengar sendiri Roney? Segera lakukan apa yang diperintahkan Theon. Jemput kami dua hari lagi untuk mengantarkan kami di bandara.” Sambung Rena sambil menutup teleponnya.
“Jadi, kamu sudah memutuskan? Bagaimana jika ada orang yang berbuat onar lagi? Secara, Lord Unknown dan Dark Witch tidak ada di sini.” Tanyanya kepada Theon.
“Aku berubah pikiran. Tempat kita adalah alam dewa, jadi kita tidak perlu mengurus dunia ini dengan memikirkannya terlalu berat. Pun jika ketika kita kembali New Santara bobrok, kita harus membunuh pembuat onar itu sebagai tanggung jawab kita. Tidak peduli bagaimana respons masyarakat yang mana mereka jadi terseret sebuah pertarungan. Siapa tahu di saat seperti itu elementalku bangkit.”
Lalu dia melanjutkan perjalanannya, "Dan, bukankah Ellada merupakan negara yang dipenuhi reruntuhan mitologi? Kemungkinan aku akan membangkitkan elemental di sana."