The God in the Modern World

The God in the Modern World
Pembukaan gerbang labirin



“The-theon? Rena? Aku tidak tahu bahwa itu kalian. Theon, kau seorang elementalist pula?” Tanya Lesha seolah tidak begitu percaya sambil menghentikan kemampuan earthuake atau gempa bumi di dalam ruangan yang membuat bergetar dan para pemuda jatuh di atas lantai.


Para putra-putri Big Three, dan anggota golongan muda yang lainnya benar-benar menggertakkan giginya saat ada kehadiran Theon serta wanita yang tidak lain merupakan Rena yang memiliki kemampuan aneh seperti sebuah sihir tinggi non elemental? untung saja, wanita lain datang tepat waktu untuk menyerang Rena yang membuat mereka berhasil bergerak kembali.


Para golongan tua, mereka berdatangan dan mengepung Theon karena melakukan tindakan yang tidak bisa dimaafkan. Yaitu menyerang putra-putri big three, terutama Vynh. Sehingga, dengan tatapan yang keji, seolah ingin membunuh Theon, mereka langsung menyerang Theon di tempat.


“Hentikan!”


Semua keributan itu tiba-tiba terhenti, ketika suara pria paruh baya dengan rambut berwarna hitam beruban datang. Suara yang cukup keras, membuat semua orang baik dari golongan tua ataupun muda seketika ketakutan. Dan, terkecuali Theon dan Rena, karena pada dasarnya mereka adalah dewa dan dewi yang tidak memiliki ketakutan pada siapa-siapa terkecuali god of gods dan ibunda.


“Portal menuju labirin millie mundi telah siap. Kalian dari golongan muda, silahkan bersiap. Tapi sayangnya ada sebuah keributan yang membuat aku tidak bisa meredakan emosiku.” Kata pria tersebut dengan nada suara yang menggelegar.


Orang-orang yang cukup tua, membukakan jalan untuk tuan Luis Zuan, yang mana dia merupakan ayah dari Vynh Zuan yang baru saja dibanting oleh Theon. Hanya saja, Vynh kali ini memilih mundur karena para orang-orang tua mengerubungi Theon.


“Aku mengundangmu bukan untuk mencari masalah. Melainkan untuk festifal karena aku membuka labirin millie mundi. Jadi, jaga sikapmu di rumahku, kau hanyalah pendatang.” Kata pria tua itu dengan cukup sinis.


Sinis dibalas sinis, Theon melakukan hal tersebut seolah tidak memberikan kesopanan sama sekali. Bahkan, dirinya berani menjawab sebagai pembelaan diri, “Jadi, apakah jika aku diserang tiba-tiba oleh tuan Jean Skelet dari belakang yang merupakan tindakan pengecut. Apakah aku juga harus tetap menjaga sikap?”


“Hoi, jaga ucapanmu. Kau tidak tahu lawan bicaramu siapa?!” Teriak salah satu orang dengan nada yang cukup tinggi.


Lois menyentuh pundak Theon dengan cukup keras, matanya begitu tajam seolah memandang Theon dengan penuh kebencian. Sehingga, dia mencoba ingin menekan Theon menggunakan kemampuan alam bawah sadarnya agar Theon tidak terlalu semena-mena lagi.


Dan yang benar saja, Theon kini berada di atas permukaan langit yang begitu gelap seolah akan terjadi badai. Dengan di hadapannya adalah pak tua Luis dengan matanya yang menyala berwarna putih, mengekspresikan bahwa dia memiliki sebuah elemen angin. Tidak hanya itu saja, elemen angin yang begitu kuat keluar dari tubuh Luis berharap bahwa Theon akan ketakutan.


Theon hanya menghela napas, dia merasa, apakah dirinya akan takut. Kenyataannya, dirinya sama sekali tidak merasakan ketakutan apapun, bahkan dia merasa bahwa ini terlalu rendahan baginya. “Ini masih terlalu tingkat dasar pak, teknik halusinasi seperti ini tidak berlaku kepadaku.”


“A-apa?” Luis tersentak kaget.


Seketika tempat berubah menjadi dipenuhi oleh api berwarna hitam yang membara, membuat Luis benar-benar terkejut ke sekian kalinya karena dia menyadari bahwa anak yang ada di hadapannya bukanlah anak biasa. Namun, dia masih mencoba untuk memberanikan diri, di tempat yang gelap dan panas seperti ini. Dan, siapa yang menyangka bahwa beberapa detik kemudian, tempat berubah menjadi api berwarna merah padat usai suara jentikan jari terdengar.


Theon muncul di hadapan Luis, dengan matanya yang terbakar, monster mengerikan juga berdiri di belakangnya dengan membawa sebatang kapak yang siap untuk diayunkan.


“Enyahlah!” Theon mengulurkan tangannya ke depan, posisi tangannya yang tertutup kini langsung terbuka saat dia berkata demikian. Membuat Luis terlempar ke belakang dan hendak membentur dinding neraka yang ada di belakangnya.


Luis berteriak, wajahnya menjadi pucat saat tahu kemampuan anak di hadapannya. Namun, seketika dia menyadari ketika sesekali mengedipkan mata bahwa dirinya sudah berada di dunia nyata. Namun, dirinya juga masih berdiri dengan menyentuh pundak Theon. Meskipun begitu wajahnya berubah menjadi pucat dengan jantung yang berdebar begitu kencang. Sungguh, seharusnya dia yang ingin menakuti Theon, tapi kini justru dirinya yang ketakutan.


“Kita lupakan tentang dia, aku akan membuka labirin ini sekarang juga. Kita akan mengurusnya di penghujung acara.” Kata pak tua Lois dengan suara yang rendah. Dia bahkan juga tidak berani memandang Theon yang tersenyum manis kepadanya seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu, dia tidak bisa membiarkan Theon melakukan tindakan yang membuatnya marah, sehingga dia menundanya terlebih dahulu agar acara berjalan dengan lancar.


“Ayah, apa yang terjadi?” Vynh datang untuk memastikan. Bagaimana tidak? Mengapa ayahnya bisa panik tanpa sebab seperti itu? Padahal dia tahu bahwa ayahnya sedang menekan Theon agar tunduk melalui ilusinya.


Luis tidak menjawab, dia berdiri sambil menggunakan sebuah segel tangan yang beragam. Membuat rumah mewah yang begitu besar ini bergetar dengan sangat hebat. Meskipun begitu, pikirannya benar-benar kacau tentang adanya Theon. Dia tidak ingin mengatakan bahwa Theon benar-benar mengerikan karena akan merusak reputasinya sebagai pemimpin keluarga terkuat.


“Pada hari ini, pintu labirin Millie mundi terbuka lebar. Para golongan muda, silahkan kalian masuk ke dalam labirin tanpa masalah untuk mendapatkan bintang Neutron. Waktu kalian hanyalah 2 Jam yang kemudian pintu ini akan tertutup untuk beberapa tahun lagi. Para putra-putri big three, sangat beruntung jika kalian mendapatkan bintang neutron. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak yang lainnya juga mendapatkannya.” Kata Luis dengan nada suara yang cukup tinggi.


Sebuah gerbang dimensi muncul di tengah-tengah mereka, memancarkan sebuah cahaya yang bersinar bagaikan sebuah lubang supermasif yang ada di galaxy. Di dalam gerbang dimensi, tidak begitu jelas apa isi dalamnya. Yang ada hanya ruangan terang yang terang, dan tidak ada sesuatu apapun.


Semua orang, terutama dari golongan tua, mereka membuka jalan agar para golongan muda masuk ke dalam portal tersebut. Mungkin, yang paling pertama adalah Vynh Zuan, Jean Skelet dan Starllet Scot, putra big Three masuk terlebih dahulu karena memang itu syaratnya. Sedangkan Theon dan Rena, mereka di seret menjauh terlebih dahulu, karena menurutnya orang-orang seperti mereka harus masuk terakhir.


Namun, siapa yang menyangka, sebuah bayangan yang bergerak begitu cepat masuk ke dalam portal tersebut. Mendahului para putra bug Three yang membuat mereka benar-benar terkejut, bayangan apa itu? Namun, mereka segera melupakannya, karena sesegera mungkin mereka harus masuk ke dalam portal menuju labirin tersebut. Hanya saja, tidak ada yang menyadari yang bergerak secepat bayangan adalah Rena dengan Theon yang ditarik.


“Kita sudah masuk. Rena, terimakasih sudah membawa kita terlebih dahulu menggunakan kemampuan langkah bayanganmu.” Kata Theon tersenyum, namun di sisi lain dia juga benar-benar kebingungan karena apa yang ada di hadapannya bukanlah sebuah labirin, melainkan sebuah dimensi yang berputar hingga membuat Theon merasa pusing sendiri.


“Tunggu, ini kita masih masuk ke dalam lubang dimensi?” Sambung Theon mengerutkan dahinya.