The God in the Modern World

The God in the Modern World
Kematian Paman Theon



Theon sudah mengumpulkan tekad. Tak peduli di hadapannya adalah pamannya, pamannya adalah pembunuh. Dia langsung menendang dagu pamannya yang tidak mampu untuk berdiri lagi.


Tak hanya sekali, Theon melakukannya lagi. Dua kali tiga kali? Lebih dari itu. Dia melakukannya berulang kali yang membuat rahang paman Theon patah. Giginya berdarah karena mendapatkan benturan yang cukup keras. Ingin berteriak, tapi berteriak rasanya pun sangat sakit.


Sehingga Alsan hanya berada di antara hidup dan mati. Entah apa yang dipikirannya, apa kesalahnnya kepada Theon sehingga membuat Theon mau membunuhnya seperti ini? Padahal dia merasa kala itu bukan dia yang tidak peduli pada Theon yang tengah berada di rumah sakit. Melainkan dia mencoba untuk melakukan tugas berat untuk memata-matai penyihir dan membunuhnya.


Jika tidak, maka dia bisa menjenguk Theon dengan senang hati dan membunuh Rolland Jark. Karena beberapa hari ini dia tahu bahwa Rolland Jark juga merupakan seorang penyihir pula. 


“Theon, tidak ada waktu. Kami sudah membunuh semuanya. Petinggi negara, presiden dan semua orang penting yang berada di markas pusat ini. Kita harus bergegas menuju rumah Lesha untuk mencarinya. Tidak peduli hari sudah hampir petang, tapi aku yakin dia sudah menyadari siapa dirinya.” Rena muncul tepat di belakang Theon. Tepat di samping Bilhazaed yang tidak tahu ingin berbicara apa tentang kekejaman Theon.


“Kau benar.” Theon mengatur napas. Dia mengulurkan tangannya dan mengeluarkan tebasan angin ketika dia mengayunkan tangannya.


Hal tersebut menjadikan sebuah pemandangan yang cukup mengerikan. Tubuh Alsan terbelah menjadi dua bagian dengan matanya yang perlahan menutup. Mereka bisa melihat dengan begitu jelas, organ-organ tubuh milik Alsan atau Agent Zero keluar dari tubuh bagian atasnya. Beberapa juga ikut terbelah.


Padahal, Theon sendiri tidak menggunakan pedang atau apapun. Hanya mengibaskan tangannya yang mengeluarkan tebasan berelemen angin yang begitu tajam. Bagaikan sebuah bilah pedang yang siap membelah sesuatu.


Theon menatap Bilhazaed. Bersamaan dengan itu, empat penjaga arah mata anginnya berdiri di belakangnya. Benar-benar mengerikan. Setidaknya Bilhazaed bisa melihat bahwa itu adalah sosok roh yang sebenarnya ingin sekali dia memilikinya. 


Kemudian, di susul robot Strega yang sebelumnya terbang. Mendarat dengan dengan cukup elegan dengan meninju permukaan tanah menggunakan tangan kanannya. Dia juga berdiri di samping Theon dan juga menatap sinis Bilhazaed yang bergidik ketakutan.


“Dari pakaianmu, kau merupakan rekan Tony?” Strega berkata dengan cukup kasar. Dia berdiri dengan tegak sambil menodongka jarinya tepat pada dahi Bilhazaed.


“Dia yang membunuh professor satunya. Dia juga elementalist dengan alat elemental ilmiahnya. Counter senjata plasma. Mungkin itu adalah temuannya.” Kata Theon menahan lengan Strega. Dia tidak ingin besi tua yang telah menjadi rekannya ini bersifat sembarangan.


Mendengar apa yang diucapkan Theon, Strega menurut. Memang, setelah mendengar apa yang dia dikusikan dengan Theon, bukan saatnya untuk bertarung. Mereka harus melawan petinggi dunia bersama-sama karena akan membuat dunia hancur seisinya. Seolah berada di bawah kendali iblis.


Itu membuat Strega tidak begitu setuju. Memang dia ingin menguasai seluruh dunia. Tetapi, dia tidak ingin didahului oleh petinggi dunia dengan cukup mudah. Sehingga, sebelum bertarung dengan Theon yang tidak begitu selaras dengannya, maka Strega harus membunuh petinggi dunia terlebih dahulu. Lebih tepatnya dia ingin memanfaatkan Theon.


“Jelaskan, kau sebenarnya pro kepada siapa? Kau memiliki dua aliran. Antara sains dan juga sihir. Kedua itu saling berbenturan dan tidak akan menjadi satu.” Ucap Theon mencoba untuk menginterogasi Bilhazaed.


Theon berpikir sejenak. Siapa yang salah? Jika dia menyalahkan Bilhazaed, maka dia tidak sepenuhnya bersalah. Bilhazaed sama sekali tidak membunuh penyihir, hanya menanamkan chip yang membuat dia berada di bawah kendalinya. Meskipun begitu, dia juga harus memberikan pelajaran kepada Bilhazaed.


“Alat ilmiahmu, ciptakan secara besar-besaran. Aku merasakan firasat yang begitu buruk. Sepertinya kita akan mengalami perang yang cukup besar.” Kata Theon mengatakan terus terang kepada Bilhazaed. Sekaligus dia juga menarik empat beast nya.


“Jangan sekali-kali mengelak perkataanku! Ini hukuman bagimu, bekerjalah denganku atau nyawamu sebagai gantinya. Kau hanyalah ujung jari bagiku.” Sambungnya sambil melewati Bilhazaed dengan cukup dingin. Diikuti oleh Rena dan juga Strega yang menepuk pundak Theon.


“Strega, temui aku secara cepat di Agrabinta.” Theon menghilang dalam sekejap. Diikuti oleh Rena yang melakukan demikian. Lebih tepatnya, mereka bergerak secepat cahaya dan juga secepat bayangan untuk menuju rumah Lesha. Sang avatar dewi rembulan menurut perkiraan Theon dan juga Rena.


.....


Theon dan juga Rena sudah berada di langit Agrbinta dalam satu detik. Memperlihatkan Lord Unknown dan juga Dark Witch tanpa menggunakan penutup wajah mereka. Hanya saja, Rena masih mengeluarkan sayap kegelapan yang terus dikepakkan bagaikan seekor burung gagak.


Itu sebenarnya bisa menjadi sebuah pusat perhatian. Apalagi keadaan Agrabinta baru saja terjadi sebuah kekacauan yang begitu luar biasa. Kekacauan yang sebenarnya Theon perbuat karena harus menghadapi puluhan Eternal. Untung saja, untuk saat ini tidak ada yang melihat Theon dan juga Rena.


“Kita sudah berada di atas rumah Lesha.” Theon perlahan turun menuju di hadapan pintu rumah Lesha yang terbuka lebar. Namun, yang mereka kejutkan banyak orang-orang mendatangi rumah Lesha.


Kain-kain juga begitu banyak menutupi sebuah jasad yang berjumlah tidak hanya satu. Membuat Rena sendiri menutup mulutnya karena terkejut tentang apa yang dia lihat.


Rena bertanya kepada salah seseorang, “Tuan, apa yang terjadi?” 


“Tengah malam tadi sepertinya ada pembunuhan besar-besaran pada keluarga Marza. Hanya saja itu terkendala dengan adanya sekelompok penyihir yang mengamuk sehingga baru kali kami mengurus semua mayatnya.” Kata salah seorang yang berdiri sambil mengamati beberapa orang yang  mengurus mayat.


“Ulah penyihir itu? Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Lalu, bagaimana tentang nona muda Marza?” Sahut Theon dengan sedikit panik. Jika Lesha terbunuh, maka perkiraan tentang bahwa dia avatar dewi rembulan adalah kesalahan. Yang mana, dia harus mencari siapa avatar dewi rembulan generasi ke lima belas itu sebenarnya.


Orang tersebut menggelengkan kepalanya sembari menjawab, “Bukan ulah penyihir sebenarnya, karena ada beberapa luka tembakan pada seluruh keluarga Marza. Dan, untuk nona muda Marza, kami sama sekali tidak menemukan dia di mana.”


Theon memperhatikan keadaan sekitar. Tanah-tanah berserakan di atas lantai rumah ini. Dan tanah merupakan elemen dasar milik Lesha itu sendiri. Kemudian, dia menyadari bahwa semua barang berserakan yang terjadi sebuah pertarungan di sini. Itu artinya, keluarga Marza sempat melakukan perlawanan kepada komplotan senjata yang menyerbunya. Dan, yang menjadi masalah, dimana Lesha? Apakah dia diculik?