
"Bagaimana kita akan kembali? Mobil kepala sekolah ada di basement, kita tak mungkin turun karena akan membuat kecurigaan orang-orang yang ada di bawah sana." Lesha bertanya dengan begitu panik. Apalagi dia baru saja melakukan tindakan pembunuhan, selain itu dia juga mengalami mual karena melihat jasad-jasad para pembunuh bayaran.
Tanpa menunggu lama, Rena menatap Theon dan mengangguk seolah memberikan sebuah isyarat. Kemudian, dia berlari menuju tangga hotel ke lantai pertama.
Mereka semua mengikuti kemana perginya Rena. Dan tak disangka, ketika dia sudah turun ke lantai pertama, keadaan benar-benar gelap karena tidak ada cahaya matahari yang masuk. Semua pintu dan jendela sudah dilapisi dinding tanah oleh Lesha sehingga menutup kemungkinan tidak ada yang masuk ke dalam hotel ini.
"Lesha hanya menutup gerbang basement, tapi dia tidak menutup pintu dari basement menuju lantai pertama." Ucap Rena sambil membuka pintu basement yang ada di samping sisi lantai pertama ini
"Lesha, sekarang runtukan semua dinding tanah yang ada di semua pintu, agar kita bisa keluar menggunakan mobil kepala sekolah dengan cukup mudah."
Lesha mengangguk, di pintu lantai menuju basement, dia menyentuh kedua telapak tangannya di atas lantai. Sehingga, gemuruh beserta suaranya muncul untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini bukanlah gempa biasa, melainkan meremukkan semua dinding tanah yang menutup semua akses keluar masuk agar dirinya bisa keluar dari basement menggunakan mobil dengan cukup mudah.
Ali tak bisa untuk tidak terkejut, mungkin dirinya hari ini adalah seorang murid SMA yang telah melakukan tindakan kriminal yaitu membunuh seseorang. Namun, apa yang dia terkejutkan adalah ketika mengetahui ternyata semua teman-temannya adalah seorang penyihir, tak terkecuali dengan Lesha yang Ali kira dia hanyalah wanita bar-bar.
Theon berlari menuju mobil kepala sekolah, tampaknya dirinya benar-benar menyadari ada puluhan orang yang mungkin bersembunyi di dalam mobil karena gempa tadi. Apalagi mereka tampaknya benar-benar ketakutkan karena ada gempa susulan yang sebenarnya Lesha sedang menghilangkan dinding tanahnya.
“Kalian sudah pastikan tidak ada orang yang melihat perbuatan kalian? Jika ada orang yang mengetahuinya dan sengaja merekam kalian. Kalian akan mendapatkan sebuah masalah besar.” Theon berkata sambil membuka pintu mobil kepala sekolah. Namun, saat mencoba nariknya, Theon merasa pintu tersebut tak terbuka. Theon mengerutkan dahinya, dia memaksa pintu mobil kepala sekolah, sebelum mobil tersebut berbunyi.
Lesha menjulurkan kunci mobil. Atau lebih tepatnya dia baru saja membuka kunci mobil menggunakan sebuah remote mobil. Namun, dia juga masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa seolah hatinya tidak bisa untuk tenang.
Rena sedikit tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, mungkin karena pada dasarnya Theon adalah seorang yang berasal dari alam dewa, serta Theon Alzma sendiri yang pada dasarnya juga tidak mengerti.
Tak mempedulikan, Theon langsung masuk ke dalam mobil kepala sekolah. Di susul dengan teman-temannya serta Lesha yang mengambil kemudia mobil. Tapi, dia benar-benar tak menyangka ketika gerbang basement tempat parkir sudah terbuka, banyak mobil yang berhamburan keluar karena mereka sudah terjebak di sini selama beberapa menit. Seingga membuat Lesha harus menahan laju gasnya untuk keluar terlebih dahulu.
“Katakan kepadaku, kalian sebenarnya siapa?” Ali bertanya dengan tidak sabar. Semenjak dia melihat Theon mengeluarkan kemampuan yang cukup menegangkan. Ali menjadi gila dan terus memikirkannya, bahkan kegilaannya membuatnya tidak sadar atau menghilangkan ketakutannya bahwa dirinya telah membunuh seseorang. Padahal, bisa di bilang, orang yang pertama kali membunuh seseorang, dia akan diselimuti rasa bersalah yang luar biasa.
Sedangkan Rena, dia benar-benar tak peduli, begitupun dengan Theon yang tak peduli. Tak peduli dalam artian Ali mengetahuinya. Lagipula mereka berdua percaya bahwa Ali akan menjaga rahasia apabila Theon dan Rena menekannya dan memberikan sebuah ancaman.
“Kau sudah mengetahui rahasia terbesar di dunia ini Ali. Kau tahu? 1 dari seribu orang, atau yang artinya 8 juta orang dari 8 milyar umat manusia, mereka memiliki kekuatan di luar nalar yang disebut elementalist. Dan bukan sihir, aku tegaskan ini bukan sihir.” Theon mengangkat tangannya, yang mana kelima jarinya mengeluarkan elemen petir berwarna kuning yang menyala serta mengeluarkan ciri khas.
“Bukan sihir? bukankah ini memang sihir? Ayahku dari dulu mengatakan ini adalah sihir.” Lesha menoleh ke belakang, atau lebih tepatnya ke arah Theon. Namun entah kenapa, nada suaranya cukup tinggi bahkan dia juga menyentuh kepalanya seolah merasakan pusing.
Theon menepuk jidatnya dengan perlahan, “Baiklah ini sihir.” Dia tidak tahu bagaimana pemikiran orang-orang di bumi ini yang menganggap bahwa ini adalah sebuah sihir. Padahal Theon selalu menegaskan bahwa sihir adalah kekuatan non elemental seperti kemampuan menaklukkan sebuah pedang. Atau jika di dunia ini adalah kemampuan Fritz sang tuan labirin yang dapat membolak-balikkan lorong labiri, karena itu diluar kemmapuan elemental.
“Ini adalah kemampuan elemental petir, yang mana kemampuan elemental ini cocok untuk jarak menengah dan jauh.” Theon menjelaskan, dia kemudian merubah elemental petir di atas tangannya berubah menjadi elemen api dan air secara bergantian. Tanpa menjelaskan, Theon berharap bahwa Ali bisa membayangkan sendiri bagaimana tipe elemental air dan api dan cirinya.
“Diamlah Theon! Kenapa kau benar-benar sangat tenang! Kau baru saja melakukan tindakan pembantaian! Bagaimana jika ada saksi mata? Kau juga baru saja mengatakannya kepada Ali, ayah Ali adalah pejabat yang dikelilingi oleh aparat!”Lesha sudah tidak bisa berpikir dengan tenang lagi, apalagi setelah Theon menguak kebenaran di hadapan Theon.
Rena meletakkan kakinya di atas kaki satunya, dengan wajah yang begitu datar, dia berkata, “Kau terlalu panik Lesha. Sudah sepuluh menit kau sama sekali belum menginjak pedal gas hanya karena basement terlalu ramai pasca gempa.”
Ali tersenyum, dia bersandar di jok kursi sambil meletakkan kedua telapak tangannya di bagian belakang kepala. “Aku juga tidak peduli, lagipula ini benar-benar mimpi yang sangat bagus. Aku benar-benar bersyukur telah melakukan Lucud Dream yang selama ini sangat sulit untuk ku lakukan.”
Tampaknya, semua kejadian tadi Ali mengira bahwa ini adalah alam mimpi. Mungkin itulah salah satu fakor mengapa Ali tampak begitu tenang setelah dia melakukan tindakan kriminal. Kepanikannya muncul saat dirinya baru saja menarik sebuah pelatuk.
“Ali, apakah kau berjanji tidak akan menceritakan mimpi ini kepada orang lain?” Tanya Theon.
Ali menghela napas, kemudian dirinya mengucapkan, “Iya, aku akan berjanji untuk tidak menceritakan mimpi ini kepada siapapun. Tentang aku membunuh seseorang, atau kekuatan sihir kalian.”
Theon langsung menarik lengan baju milik Ali dengan cukup kasar, membuat Lesha yang duduk di sebelah Ali merasa sangat terkejut dengan tindakan apa yang dilakukan Theon. Selain itu, Lesha juga mengangkat mulutnya saat menyadari bahwa tangan Theon mengeluarkan ring api yang tebakar.