
Rolland tidak bisa menghindar serangan demikian. Ayahnya terlalu keras dan juga kasar, sehingga membuat dia terkena serangan itu, yang mana elemen petir di tangan ayahnya hanya fokus pada dua jari. Apalagi ketika Rolland terkena pada bagian perutnya yang membuat dia tidak hanya sekedar terlempar. Tapi juga mendapatkan rasa sakit yang begitu luar biasa. Seolah organ dalamnya pecah, ditambah dengan gelombang petir yang mengalir di dalamnya.
“Aaaakhhh!” Rolland berteriak sambil memegang perutnya. Sakit bukan main. Dia merasa seperti aliran darahnya terhenti. Secara, sebenarnya bukan alirah darah. Rolland tidak mengetahui bahwa sebenarnya yang terhenti adalah aliran orkanya. Sedangkan yang terkena pukulan jari ayahnya adalah mengenai elemental seed miliknya.
Hanya saja manusia di sini tidak mengetahui itu semua. Pengetahuan tentang benih elemental dan energi di dalamnya tidak ada yang mengetahuinya. Salah satunya Rolland. Dia sama sekali menyadari bahwa orkanya terhenti, mengalami luka pada bagian elemental seed karena terkena serangan milik ayahnya.
Apa yang dia rasakan adalah rasa sakit, rasanya seperti pingsan. Namun, dia masih mencoba untuk berdiri dan melawan ayahnya yang benar-benar sangat agresif. Setidaknya, dia masih mending melawan Theon dibandingkan ayahnya. Karena Theon sendiri tidak terlalu kasar dalam melakukan sebuah pertarungan. Padahal, Theon bukanlah ayahnya seperti Yonathan yang justru keras.
“Tapak angin!” Rolland yang berdiri mencoba untuk mendorong telapak tangannya. Akan tetapi, dia membuka mulutnya ketika kemampuan tekhniknya sama sekali tidak begitu bereaksi. Dia terkejut, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Pikirnya secara cepat.
Yonathan masih bersikap untuk dingin. Dia bergerak dengan sangat cepat tanpa mengeluarkan elemental. Pria paruh baya itu masih bersifat keras dan memaksa Rolland untuk memberikan jejak Rena dan juga Theon kepada militer.
“Buuug!” Suara pukulan terdengar begitu nyaring.
Rolland tergeletak seketika saat terkena sebuah bogem mentah-mentah dari ayahnya. Hanya saja, dia masih memiliki sebuah kesadaran yang membuat dia mendapatkan rasa sakit yang begitu luar biasa.
Yonathan menginjakkan kakinya di atas dada Rolland, dengan perasaan yang sama sekali tidak memperdulikan bahwa yang dia injak adalah ayahnya. “Kau sudah lemah, melawan teman sekelasmu saja kau tidak mampu. Mendapatkan bintang neutron pun kau juga tidak bisa.”
Bagaimana bisa menang di atas pertarungannya dengan Theon? Kala itu dia sama sekali tidak mengetahui bahwa Theon adalah Lord Unknown. Sehingga, bisa dibilang untuk melawan Theon pun sangat-sangat mustahil. Dan itu dapat disimpulkan bagi Rolland, kenapa Theon dengan cukup mudah mampu mendapatkan bintang neutron yang selama ribuan tahun tidak ada yang bisa mengambilnya.
Ayahnya benar-benar snagat posesif. Rolland juga sering mendapatkan perlakuan buruk darinya. Ayahnya bahkan juga terus memaksa Rolland menggunakan elemen petir yang diturunkan oleh Yonathan. Rolland meski memilikinya, tapi secara terang-terangan dia sama sekali tidak mau mengggunakannya.
Dia justru ingin menggunakan elemen angin milik ibunya yang dianggap sangat lemah oleh ayahnya. Sangat disayangkan sekali, ibunya telah tiada yang membuat Rolland benar-benar sangat terpukul.
Rolland mengatur napas yang sesak. Pasalnya dia kesulitan untik bernapas karena kaki ayahnya benar-benar sangat kuat. Apalagi menggunakan pantofel yang cukup keras dan menyakitkan bagi Rolland itu sendiri.
“Berikan smartphone mu!” Ayah Rolland mengulurkan tangannya ke arah wajah Rolland.
Melihat kesempatan itu, Rolland meraih tangan ayahnya dan menariknya dengan cukup kuat. Sehingga membuat ayahnya tertarik dan hendak terseungkur ke arahnya.
Rolland berteriak dengan cukup keras. Apa yang dia lakukan adalah memainkan tangan sebelahnya untuk memukul wajah Yonathan dengan cukup keras di kala Yonathan cukup terkejut ketika dia hendak tersungukur.
Tak berhnti begitu saja, dengan tubuh lemah Rolland langsung melakukan sebuah flip. Dia mengambil sebuah botol kaca pecah yang mana sebelumnya jatuh di rak sebelahnya karena sebuah pertarungan mereka berdua.
Kemudian, dia berlari ke arah ayahnya sambil memukulkan botol itu. Hanya saja, ayahnya langsung sigap dan mengeluarkan petir ke arahnya.
Rolland mengulurkan botolnya yang mana digunakan sebagai sebuah isolator yang cukup baik untuk menahan elemen petir milik ayahnya. Namun, botol kaca pecah itu sepenuhnya hancur karena tidak mampu menerima serangan elemen petir dari ayahnya sendiri.
Dia mengulurkan tangannya untuk mengeluarkan hembusan angin. Akan tetapi, dia benar-benar menyadari bahwa elemen anginnya tidak keluar sama sekali. Yang mana itu membuat dia benar-benar terkejut. Bagaimanapun, dia harus mati-matian bertarung melawan ayahnya.
Namun, dia tidak bisa memikirkan itu secara panjang. Apa yang harus dia lakukan adalah lari sekarang juga atau dirinya akan mati. Di hadapan ayahnya yang agresif, terus menerus mendorong tangannya hingga mengeluarkan elemen petir yang terus menerus menyambar.
Rolland hanya bisa melompat dan menghindar. Di kala itu, dia berpikiran atau memiliki niatan untuk melompat melalui jendela yang ada di sebelahnya, meski dia tahu bahwa dirinya berada di lantai ketiga rumahnya.
Ketika dia melompat untuk menghindari serangan ayahnya ke sekian kali. Dia kembali melompat ke samping, guna menabrak kaca jendela dan terjun bebas ke bawah.
Yonathan yang melihat hal itu, dia sama sekali tidak membiarkannya. Dia berkerak secepat petir ke arah jendela dan menyerang Rolland secara bersamaan. Lagi-lagi memaksa Rolland untuk menyerahkan smartphone nya untuk memberikan jejak digital Rena kepada militer negara.
Rolland kaget setengah mati, dia mundur ke belakang karena akan menerima serangan dari ayahnya. Tetapi terlambat, serangan ayahnya mengenai dadanya yang membuat dia terlempar ke belakang menjauhi jendela itu.
Rolland mengalami rasa sakit yang begitu luar biasa sambil menyentuh dadanya. Dia bisa melihat ayahnya seolah memegang sebuah petir di tangan kirinya dan berjalan dengan tatapan yang cukup dingin dan mengintimidasi. Dia hanya menyeret tubuhnya belakang seolah ketakutan karena sudah tidak begitu mampu melawan ayahnya.
“Masih berani kau melawanku? Terlalu cepat lima puluh tahun untuk bisa mengimbangku.” Kata Yonathan sambil melemparkan elemen petirnya ke arah Rolland.
Isolator, itulah yang Rolland pikirkan. Hanya itulah penangkal elemen petir secara alamiah. Tapi dia tidak menemukan apa-apa di sini selain benda-benda hancur yang berserakan.
Tak ada waktu untuk berpikir panjang. Rolland sudah terkena sambaran petir yang membuat dia kejang-kejang dengan uratnya yang terlihat berwarna hitam karena tegangan yang begitu dahsyat.
Kekuatan itu sebenarnya tidak terlalu dahsyat. Yonathan tidak mungkin membunuh anaknya sendiri. Perkiraannya mungkin Rolland hanya pingsan. Hanya saja, dia tidak terlalu menggunakan elemen petir terlalu berlebihan. Cara dia yang benar-benar sangat keras hanya untuk menekan Rolland.
“Baiklah, sekarang dimana kau meletakkan smartphonemu.” Yonathan bergerak ke arah Rolland yang tak berdaya. Untuk mencari apakah smartphone nya ada di sakunya atau tidak.