
“Bagaimana bisa?” Ernest berdecak kesal sambil menggoyangkan layar monitor di depannya. Wajahnya terlihat begitu buruk seolah ingin meninju sebuah layar. Dia juga menjadi kebingungan, karena elemen api milik Theon benar-benar kuat, setidaknya tidak ada satupun peluru yang mengenainya. Sehingga, meskipun dia kebingungan, dia segera menenangkan diri dan memuji Theon sambil bertepuk tangan.
“Tampaknya mengeluarkan puluhan atau ratusan sekalipun akan menjadi sia-sia karena dia terlalu kuat. Kecuali jika aku turun tangan secara langsung.” Ernest tersenyum mengangkat ujung bibirnya. Sebagai ketua geng Naga Biru, tentu dia jarang sekali turun tangan secara langsung, terkecuali jika dalam masalah yang benar-benar serius. Seperti kemunculnya Theon misalnya.
Walaupun dia terlihat sumringah, hati kecilnya berkata lain. Ambisinya begitu besar untuk mencincang Theon karena telah mencoreng geng Naga Biru. Hanya saja, dia tidak terlalu menampakkan emosi apalagi kepada beberpaa anggota yang ada di belakangnya,. Sehingga, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melampiaskan emosinya kepada Theon.
Meski begitu, Ernest tidak ingin lelah untuk bergerak, sehingga dia melirik kebelakang, lebih tepatnya anggota elit yang mana seperti sebuah pasukan khusus dalam militer. “Pancing dia ke ruangan 4-B. Aku akan menunggu kalian di sana selagi aku bersiap.”
“Baik tuan!” Jawab mereka serentak dan penuh semangat. Tampilan mereka juga tidak main-main bagaikan seorang binaragawan yang memiliki otot yang begitu tebal. Sehingga, kemungkinan orang biasa tidak akan bisa selamat secara penuh apalagi berhadapan dengan mereka.
......
“Guru, ini sudah lantai ketiga. Apa kita harus naik lagi? Aku berpikir gedung ini memiliki lima lantai untuk mencapai boss terakhir.” Lyu lebih bisa mengendalikan diri. Bahkan bisa dbilian dirinya tidak terlalu takut seperti tadi, sehingga dia tidak mengekor Theon seperti orang ketakutan. “Andai saja ada sebuah lift yang berfungsi.”
Theon tiba-tiba berhenti saat dirinya hendak melangkahkan kakinya untuk naik tangga berikutnya. Lebih tepatnya, dia merasakan sebuah krisis atau keadaan yang menurutnya berbahaya dari lantai atas. Namun, dia tetap tidak peduli, dia memaksakan diri untuk tetap naik apapun kondisinya di atas, entah itu serangan kejutan dari belakang tembok atau yang lainnya.
Dan yang benar saja, ketika dirinya sudah mencapai tangga atas, dari sampingnya atau dinding sebelahnya, tiga orang dengan otot yang begitu besar mengayunkan sebuah balok kayu ke arah Theon secara bersamaan.
Untung saja, Theon masih memegang erat Fire Swordnya, sehingga dengan begitu mudah dia langsung mengangkat pedangnya untuk melindungi dirinya dari pukulan balok kayu.
Apa yang terjadi? Tentu saja ketiga balok kayu tersebut terbakar dan terlempar, hanya saja ketiga orang elit tersebut langsung mengayunkan tangannya ke arah Theon. Sebelum itu, beberapa orang juga tiba-tiba muncul dari jarak yang begitu dekat sambil menyemburkan apar agar Theon tidak bisa menyemburkan elemen api.
“Hei bodoh! Apakah menurut kalian dengan menyemprotkan alat pemdam aku tidak bisa mengeluarkan elemen api?” Theon berkata dengan nada yang cukup tinggi kepada mereka semua.
Bersamaan dengan itu, sebuah hembusan angin keluar, menerjang semua asap apar yang sebelumnya digunakan untuk memadamkan api milik Theon. Sehingga, ketika mereka mengeluarkan semburan dari apar, hal itu menjadi begitu sia-sia.
Theon tersenyum pulas, kedua tangannya mengeluarkan sebuah kobaran api yang tampak begitu besar. Bahkan di sekujur tangannya yang memegang Fire Sword tanpa membakar lengan panjang seragam sekolahnya.
Apa yang dilakukan Theon adalah menyemburkan kobaran api ke arah mereka selagi Lyu mengeluarkan sebuah hembusan angin. Sehingga yang terjadi, kobaran api milik Theon justru membesar dan membuat mereka terlempar ke belakang. Tidak heran, apabila itu di dunia elementalist manusia atau manusia biasa, angin memang lebih lemah dibandingkan api, karena dengan adanya angin, maka api akan semakin membesar.
Tapi sayangnya, mereka semua memilih untuk lari, karena tugas utama mereka adalah memancing Theon agar Theon mengikuti mereka menuju ruangan 4-B yang dimaksud oleh Ernest.
Sayangnya, mereka terlalu lincah, mungkin karena menurut Theon, mereka dilatih untuk menghindari segala jenis serangan elemental agar tidak terbunuh dengan cepat. Itulah mengapa mereka seperti sebuah anggota elite.
“Apa mereka bisa menghindari yang satu ini?” Theon menghentikan langkahnya, dan mengulurkan salah satu tangannya ke depan seolah ingin mengeluarkan sesuatu. “Seribu jarum api tahap terakhir!”
Ribuan jarum api dari belakang Theon muncul, bahkan Lyu saja yang ada di depan Theon bergetar hebat dan memilih untuk mundur di belakang Theon, karena apa yang dia takutkan teknik milik Theon mengenai Lyu itu sendiri.
Beberapa detik kemudian, ribuan jarum tersebut melesat ke arah anggota elite yang sedang berlari. Hal tersebut membuat Theon benar-benar tersenyum lebar, karena mereka tidak akan bisa menghindari serangan itu, karena sejatinya mereka adalah manusia biasa.
Dan benar saja, mereka yang tidak sempat untuk menghindar, dan ketika menoleh ke belakang, masing-masing dari mereka sudah tertancap ratusan jarum berapi yang mungkin tidak hanya menusuk tubuh mereka, melainkan juga membakar organ dalam mereka yang membuat mereka berteriak kesakitan. Bahkan mereka merasa bahwa darah yang ada di dalam tubuh mereka mendidih.
Tak ingin mendengarkan jeritan mereka, Theon menebaskan pedangnya secara berulang kali dari jarak yang lumayan jauh. Sehingga sebuah sayatan api keluar membelah tubuh mereka secara langsung.
“Gu-guru, aku pikir sebenarnya Anda dulu merupakan anti dengan sebuah pembunuhan. Tapi sekarang mengapa Anda benar-benar seperti haus darah?” Lyu bertanya dengan sedikit ketakutan.
“Kepala sekolah, aku pikir memangilku dengan seperti itu benar-benar tidak etis. Aku baru saja berumur 17 tahun, sedangkan Anda 43 tahun. Jadi, panggillah aku sesuai namaku.” Theon memutar bola matanya dan berdecak kesal. Karena dia seperti merasa risih karena dipanggil seperti itu.
“Ba-baiklah Theon.” Jawab Lyu dengan malu.
“Itu lebih baik.”
“Sayang sekali, semua anggotaku dibabat habis oleh anak yang baru lahir. Mereka benar-benar tidak berguna meski menjadi anggota elite sekalipun, sehingga membuat aku benar-benar harus turun tangan sendiri. Padahal, aku sudah menyiapkan tempat untuk bertarung.”
Thon dan Lyu bisa mendengar suara itu dengan cukup jelas. Sehinga, dia mencoba untuk menoleh ke samping untuk menanggapi asal suara tersebut.
Theon bisa melihat, seorang berambut putih dengan tubuh kekar dengan tato naga biru di dadanya sedang bersandar di sebuah pilar gedung ini. Wajahnya juga begitu datar seolah memendam sebuah kebencian dan dendam yang begitu besar karena melihat sosok yang membabat habis anggotanya.
“Kau ketua gengnya?” Tanya Theon menghilangkan senyumannya, tatapannya kini juga berubah menjadi datar tanpa berekspresi.