
“Theon, kau harus berisitirahat. Besok pagi kita harus pergi ke pantai.” Ungkap Ali yang berada dalam satu kamar dengan Theon.
Theon hanya sibuk dengan smrtphonenya. Mungkinkah dia memulai ulahnya pada malam ini? mungkin saja, apalagi dia saat ini sedang memulai memberikan sebuah pesan kepada Rena yang akan turut andil dalam ulah yang dapat mengancam nyawa ini. Mengancam nyawa apabila Theon adalah manusia biasa, tapi dia tidak, dia dan Rena adalah seorang dewa.
“Segera menuju ke kamar 18.” Pesannya kepada Rena.
“Baiklah pangeran, aku mengerti. Perlu menggunakan baju hijau sekalian?”
“Bila perlu, tapi jangan gunakan sekarang, kita gunakan di dalam kamar kau paham? Selain itu, aku dengar kamar tersebut sama sekali tidak terkunci, jadi kita bisa membuat sebuah ulah dengan cukup mudah.”
Sebelum Rena menjawabnya, Theon sudah menutup smarthonenya. Dia langsung bergegas keluar dari kamar hotelnya untuk segera menuju kamar 18 yang lumayan dekat dari kamarnya yang merupakan kamar 10. Sedangkan Rena sendiri, kamarnya berada di lantai bawah yaitu kamar 3.
“Ali, jangan coba-coba ikut aku.” Theon berkata dengan cukup serius kepada Ali sebelum dirinya keluar dari kamarnya.
Tentu hal tersebut membuat Ali cukup penasaran. Tapi dirinya tidak sampai untuk membantah apa yang Theon ucapkan tentang tidak mengikutinya. Lagipula dirinya cukup mengantuk dan ingin bangun esok pagi.
Kemudian, saat ini, diam-diam Theon sudah berada di depan kamar 18. Kamar yang menurut Theon sendiri memiliki aura yang cukup mencengkam. Selain itu, dia juga mencium bau wewangian yang sangat menyengat. Tidak ingin menunggu lama, dengan memiliki keberanian yang lebih, dia membuka kamar tersebut yang keadaannya benar-benar sangat gelap.
Dia lantas menutup pintu kamar itu lagi, dan menyalakan saklar lampu agar bisa melihat kondisi kamar hotel yang konon katanya ditempati oleh sang ratu itu sendiri. Apa yang dia lihat, adalah kamar yang persis bernuansa kerajaan, hanya saja kamar tersebut memiliki warna yang serba hijau.
Kasur hijau yang memiliki sebuah kelambu yang meyilak sebagian, persis sekali kamar ratu atau seorang putri dalam ruang lingkup sebuah kerajaan. Di sampingnya, dia bisa melihat ada sebuah meja dan kursi, serta cermin yang berada di atas meja. Tidak hanya itu saja, di atas meja tersebut, juga terdapat sebuah lukisan Kadita yang terdapat sebuah bunga-bunga pemujaan dan wewangian yang sangat menyengat.
“Manusia benar-benar sangat berlebihan. Kami ras para dewa saja tidak meminta untuk di puja, tapi siapa yang menyangka bahwa mereka terlalu mendewakan sebuah roh.” Batin Theon. “Nah sekarang, tinggal menunggu Rena untuk melakukan sebuah hal yang melanggar tata krama, yang mungkin bisa membuat ratu laut selatan benar-benar sangat murka.”
....
Di sisi lain, Rena saat ini tengah berjalan menuju sebuah kamar di lantai atas, yaitu kamar 18. Dia juga membawa sebuah pakaian hijau yang kini dia lipat sekecil mungkin dan dia genggam sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sedang membawa sebuah pakaian hijau. Dengan sebuah kewaspadaan, dirinya selalu memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Hanya saja, ketika dirinya melewati sebuah kamar, Aura atau ketua kelas melihat gerak-gerik Rena. Bahkan dia juga cukup curiga dengan penasaran dengan tingkah laku Rena yang cukup aneh. Sehingga, secara diam-diam, dia mencoba untuk mengikuti kemana perginya Rena.
Tepat di kamar 18, Rena dengan rasa tidak peduli apapun, dia masuk tanpa mengucapkan permisi atau sejenisnya. Dia hanya masuk dan mendapati bahwa sebuah kamar benar-benar sangat gelap.
Tapi, siapa yang menyangka, saat dia menutup pintu itu, Theon menarik tangan Rena dengan cukup kasar. Membenturkan Rena dengan sedikit pelan pada sebuah dinding dengan saklar yang ada didekatnya. Tentu saja, hal tersebut sebenarnya membuat Rena sempat terkejut dan hampir mengeluarkan sebuah kekuatannya. Tapi, dia sadar ketika siapa yang menariknya saat Theon menyalakan saklar di dekat Rena.
Kini, wajah Theon tepat berada di depannya, lebih tepatnya di depan wajahnya yang hanya berjarak beberapa inchi. Bahkan tubuh Theon sendiri hampir menyentuh tubuh Rena yang kemungkinan hanya beberapa inchi saja. Tangan Theon, dia menyangga sebuah dinding, sedangkan tangan satunya, dia sedikit mengangkat dagu Rena dengan cukup perlahan-lahan.
“Pa-pangeran?” Rena benar-benar sangat gugup.
Sebenarnya Theon sendiri juga berdebar kencang, tapi dia ingin sekali membuat Kadita murka dengan melakukan tindakan asusila. Tidak menunggu lama, Theon mendorong kepalanya, dia tidak peduli umurnya masih belasan tahun, begitupun dengan umur Rena yang kemungkinan masih 18 atau 19. Lagipula, dia mengingat bahwa ayah Theon melakukan hal ini kepada ibunya yang masih berumur 16 tahun.
"Akhhh, Rena."
Mereka pada akhirnya saling menyentuhkan bibir mereka masing-masing dengan perasaan yang dipenuhi oleh sebuah napsu. Sebenarnya, meskipun Theon tinggal seatap dengan Rena, tapi dia terus menahan agar tidak melakukan yang seperti ini, lagipula dia juga tidak memiliki perasaan apa-apa. Hanya saja, semakin lama, entah kenapa dalam hati Theon memiliki sesuatu yang tak bisa untuk ditahan.
Theon kemudian menarik kepalanya, bibirnya benar-benar sangat basah karena mereka berdua baru saja melakukan sebuah adegan bertukar saliva. Tak berhenti begitu saja, Theon juga menarik lengan Rena dan menariknya tepat di atas sebuah ranjang yang kemungkinan menjadi tempat tidur Kadita.
“Aku akan melayanimu pangeran, tak usah pedulikan kita berada di mana.” Kata Rena dengan suara lembut dan juga mendesah, yang mana membuat Theon sendiri tidak bisa untuk menahan sebuah gejolak napsu.
Kini dia sedang menindih Rena, hanya saja mereka belum melanjutkan pada bagian yang terlalu panas. Hanya sekedar saling berciuman di atas sebuah kamar terlarang bagi pengunjung. Melakukan tindakan asusila di kamar lain saja benar-benar pantangan, apalagi di atas kamar miliki Kadita, maka itu adalah sebuah pelanggaran berat.
“Tidak tidak, aku tidak akan merusakmu. Kita sudah melakukan sedikit tindakan asusila yang kemungkinan membuat Kadita marah. Dan kita tinggal menunggunya. Tapi, jika dia tidak datang, gunakan pakaian hijaumu dan kita akan bergegas menuju pesisir pantai.”
“Tapi kenapa? Anda bisa menggunakan tubuhku sekarang juga.” Tanya Rena dengan cukup kecewa. “Tapi lakukan secara pelan-pelan, ini kali pertamanya bagiku. Bagi Rena Shon, dan Elzabeth.”
Theon menghela napas, tampaknya dia tidak bisa untuk menahannya. Sehingga, dia melepaskan bajunya sendiri dan menunjukkan sebuah dada bidang dengan lengan yang cukup kekar tepat di atas Rena.
“Aku Genbu tidak melihatnya, aku tidak melihatnya. Kalian sebaiknya tidur.”
“Tapi ada yang menguping.” Sangkal Kiba.
“Biarkan saja, mungkin dia iri. Selagi tidak menganggu rencana tuan. Justru aku menyadari ketika dia menguping, Kadita akan muncul.” Azure memejamkan matanya sambil tidur melingkar. Karena dia tidak ingin ikut campur tentang tuannya dan Rena yang kini tengah melakukan tindakan melanggar tata krama.
......
Tepat di depan kamar 18. Aura bersandar di sebuah tembok yang ada di dekat sebuah pintu. Dia menutup mulutnya dan membuka matanya lebar-lebar karena tak percaya tentang apa yang dia dengar dari dalam kamar. Suara Rena dan Theon yang melakukan tindakan asusila, tepat pada kamar 18. Dia benar-benar cukup terkejut, dan tidak bisa berkata-kata lagi, kakinya lumpuh dan tidak sanggup untuk berdiri.
Hanya saja, tiba-tiba dia seolah mengalami sebuah gelombang kejut ke depan, kepalanya seketika tertunduk dengan matanya yang mendadak berubah menjadi putih polos.