
"Benar-benar mengerikan , sepertinya aku salah memilih musuh tadi." Strega mengakui. Dia tidak habis pikir tentang empat hewan buas yang dikeluarkan Theon memiliki kekuatan yang cukup mengerikan. Apalagi roh tersebut benar-benar tidak mempan ketika dihadapkan dengan kekuatan buatan.
…….
Tony yang tengah berada di kurungan penjara. Dia benar-benar begitu panik saat keadaan sudah di luar kendali. Bahkan dia sempat mendengar teriakan yang menggelegar di setiap detik, sehingga membuat dia cukup stress untuk menghadapinya.
"Professor Tony!" Zurof dan juga Alsan membuka kurungan penjara yang ada pada Tony. Meski sebenarnya kurungan itu begitu kuat seolah berdiri di antara reruntuhan.
"Aku akan membebaskanmu, kita akan lari ke ZioSam untuk membuat seperti Strega lagi." Ucapnya sambil menarik Tony keluar dari penjaranya.
"Terima kasih atas kebaikannya."
Namun di saat seperti itu, Tony terlempar ke belakang seolah tertembak sesuatu yang tidak dia sadari. Hal tersebut membuat Zurof dan juga Zero berbalik badan.
Wajahnya terkejut saat ada Bilhazaed memegang sebuah senjata yang berada di lengannya. Dia juga tersenyum mengangkat ujung bibirnya ketika melihat Zurof dan juga Zero berbicara seperti itu.
"Aku mengakui tuan, sebenarnya aku sendiri adalah seorang penyihir pula. Dan di tanganku adalah sebuah senjata yang mampu untuk memperkuat sihir itu sendiri." Kata Bilhazaed mengulurkan tangannya.
Memperlihatkan sebuah senjata yang menempel di tangannya. Kemudian, dia pamer dengan menembakkan elemental petir dan air secara bersamaan melalui alat itu. Hanya saja, elemental yang keluar benar-benar dua kali lipat lebih besar dibandingkan milik penyihir pada umumnya.
Zero yang melihat itu, dia mengeluarkan plasma dari WLIS, mencoba untuk menahan dua elemen itu dengan kekuatan plasma. Tapi, siapa yang berpikir, bahwa senjata plasma tidak begitu mempan pada dua elemental milik Bilhazaed itu sendiri.
Sehingga mengakibatkan Zero dan juga jenderal Zurof terlempar ke belakang. Terkena elemental milik Bilhazaed yang terlihat begitu mengerikan.
Memang, bahwa sebenarnya Bilhazaed adalah sosok penyihir yang diam-diam menyamar menjadi seorang profesor. Dia bahkan selama ini berlagak bahwa dirinya pro dengan petinggi negara. Meski sebenarnya, tujuan dia menjadi profesor adalah untuk mencari kelemahan senjata plasma itu sendiri.
Tidak berhenti dan menyerah, Agent Zero berdiri, dia melepaskan tembakan plasma secara berulang kali ke arah Bilhazaed. Menganggap bahwa Bilhazaed merupakan seorang pengkhianat yang cukup besar.
"Bumm!" Bilhazaed kembali mengeluarkan elemental petir. Sehingga menghasilkan sebuah gelombang kejut yang luar biasa.
Zero melompat ke samping ketika dia sudah melepaskan tembakan plasmanya. Hanya saja, justru kekuatan elemental milik Bilhazaed mengenai Zurof.
Namun dikala seperti itu, Theon muncul di hadapan Bilhazaed. Dia cukup terkejut saat seorang profesor memiliki kekuatan elemental yang dikeluarkan menggunakan alat ilmiahnya.
“Paman Alsan, mari kita bertarung satu lawan satu.”
Theon berdiri, membentuk sebuah kuda-kuda untuk melakukan pertarungan bela diri. Sebenarnya, di hadapan paman Theon, Theon sendiri tidak memiliki niatan bertarung dengan kekuatan elemental.
Sebenarnya, Bilhazaed sendiri cukup keberatan untuk menggunakan temuan chipnya untuk melawan Theon. Hanya saja, dia cukup terkejut saat menyadari bahwa Lord Unknown bisa menghadapi itu semuanya. Kemampuan sihir Theon yang tidak peduli dengan plasma, membuat Bilhazaed sendiri benar-benar tertegun.
Meski sebenarnya, Theon mengerutkan dahinya. Maksudnya, tentang profesor yang berpihak kepada siapa? Dalam pemikirannya, beberapa professor pasti akan anti dengan kekuatan elemental atau sihir lainnya karena itu benar-benar bertolak belakang dengan pemikiran ilmiah yang sudah terbukti jelas. Nyatanya, Bilhazaed sendiri bisa mengeluarkan elemental yang mana Theon sendiri bisa melihatnya tadi.
“Kau berpihak kepada siapa?” Tanya Theon menghela napas, sebelum dia fokus ke depan untuk menghadapi pamannya sendiri yang tengah bergetar. Hanya saja dia juga memasang kuda-kuda untuk melakukan pertarungan dengan kemampuan bela dirinya. “Ceritakan kepadaku nanti atau kau akan meregang nyawa.”
Theon langsung menggerakkan jarinya untuk memberikan isyarat kepada pamannya untuk menyerang dirinya terlebih dahulu.
Pamannya pun menurut, di hadapannya bukanlah Theon. Itulah yang menjadi pikirannya, sehingga dia bergegas untuk maju dan melepaskan tinjunya yang benar-benar sangat kuat sebagai sebuah serangan pertama. Yang mana dia sasarkan tepat pada kepala Theon.
Theon menhindar, dengan begitu sigap dia juga mengangkat tangannya untuk menahan tangan Alsan agar tidak memukul ke samping. Di kala seperti itu, Theon juga melepaskan pukulannya untuk meninju tepat pada leher paman Theon.
Menyadari hal tersebut, Alsan sedikit mundur ke belakang. Apa yang dia lakukan adalah menggerakkan kaki dan tangannya secara bersamaan untuk melancarkan kepada Theon.
Tak mau kalah, Theon menahan segala serangan milik paman Theon.
Kemudian, kejadian tersebut menyebabkan pertarungan yang beruntun. Paman Theon terus menerus melancarkan semua serangan fisiknya kepada Theon. Meski sebenarnya, dia cukup kewalahan, karena pertahanan milik Theon benar-benar sangat baik diselingi oleh sebuah pukulan dan tendangan dengan cukup cepat.
Suara pukulan antara kulit dengan kulit, daging dengan daging terdengar begitu nyaring. Pertarungan yang berdiri di atas reruntuhan yang telah hancur menyebabkan mereka bertarung di ruangan yang egitu terbuka.
Strega, Rena dan juga empat beast milik Theon mampu meluluh lantahkan markas pusat atau markas militer pertahan ibu kota New Santara. Bahkan mereka seolah tak memiliki ampun dengan membunuh semua orang yang berkaitan dengan para aparat dan juga petinggi negara.
Hanya mereka. Theon tidak memerintahkan untuk membunuh warga sipil karena mereka sama sekali tidak bersalah. Justru mereka merupakan orang-orang yang harus dilindungi karena mereka juga layak untuk hidup.
Berbeda dengan petinggi negara yang semenjak dari dulu membunuh beberapa penyihir yang seharusnya memiliki kebebasan untuk hidup. Maka menurut Theon, mereka juga berhak menerima sebuah karma yang setimpal. Lagipula, mereka hanya menurut pada petinggi dunia tanpa tahu, apa yang petinggi dunia rencanakan dengan konspirasinya.
Kembali kepada Theon, Theon terus melancarkan semua pukulannya tepat pada Alsan. Yang membuat Alsan sendiri mendapatkan luka lebam di seluruh tubuhnya. Bahkan, Theon sama sekali tidak memberikan sebuah kesempatan untuk membuat pamannya sendiri berdiri.
Sehingga, ketika Alsan terjatuh, Theon memukulinya secara terus menerus tanpa ampun. Hanya saja, Alsan sama sekali tidak menyerah, dia mengangkat kakinya untuk menendang perut Theon yang hampir menimpanya. Yang mana, membuat Theon sedikit terlempar ke belakang.
“Cukup hebat.” Theon memperhatikan bahwa pamannya tidak mampu untuk berdiri. Dia hanya tersenyum sinis saat seorang yang katanya memiliki kemampuan bela diri dengan cukup baik, justru tergelatak tak berdaya dengan semua tubuhnya yang terluka berat.
Entah kenapa Theon sendiri mampu dan mau untuk menghajar pamannya. Meski sebenarnya pamannya cukup berjasa dalam hidupnya, setidaknya jika tidak ada pamannya, maka Theon Alzma akan mati kelaparan. Mungkin, salah satu kesalahan terbesar pamannya hanyalah tidak terlalu peduli Theon berada di rumah sakit karena mendapatkan perlakuan buruk.