The God in the Modern World

The God in the Modern World
Tawaran Starllet



Semua turun dari mobil, baik Roneey Theon ataupun Rena. Dihadapkan dengan sebuah hotel yang cukup mewah, bahkan lebih mewah dibandingkan dengan hotel tempat tinggal para pembunuh bayaran tadi.


Mereka semua masuk, di sambut dengan resepsionis dan menanyakan apa keperluannya ketika Roney menghadap kepada meja resepsionis.


"Aku adalah tangan kanan nona Starllet Scott, dia berada di kamar paling atas." Kata Roney itu yang mana tujuannya adalah meminta izin sebagai seorang tamu agar diperhatikan untuk masuk.


Resepsionis mengangguk, mengangkat teleponnya kepada penghuni kamar paling mewah di hotel ini. Tak lebih, sebenarnya resepsionis itu tak tahu siapa sebenarnya Starllet. Karena orang-orang seperti Starllet tidak pernah menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Memang begitulah, seorang mafia bagaikan sebuah agen mata-mata yang mana tidak banyak orang tahu keberadaannya. Mungkin hanya beberapa pihak yang pernah mengetahui.


Meskipun agen dan mafia memiliki hal yang sama, tapi agen dan mafia seolah menjadi sebuah musuh bebuyutan. 


"Baiklah tuan, anda dipersilahkan masuk oleh nona Starllet. Tidak di kamarnya, tapi di ruang meeting " Kata resepsionis itu dengan cukup ramah.


Roney mengangguk, kemudian dia membawa Theon menuju lift untuk pergi ke lantai paling atas yaitu lantai 60. 


Sesampainya, Theon dan Rena masuk ada ruangan meeting, ruangan pertemuan yang sangat berkelas dengan kursi yang berjajar sangat panjang. Theon sempat heran, bukankah pertemuan ini dihadiri oleh beberapa orang?


Theon juga bisa melihat Starllet yang mana dia tidak menggunakan pakaian anggun bak putri. Melainkan jaket hitam dengan setelan celana yang begitu ketat. Penampilan yang menunjukkan bahwa dia adalah putri seorang pemilik mafia.


Tatapan Theon kepada Starllet sangatlah tajam, begitupun sebaliknya. Hal tersebut tentu membuat Theon penasaran, apa keperluan Starllet memanggil dirinya dan Theon?


Keduanya duduk berhadapan dengan Starllet dengan kursi yang berjajar di sebelahnya. Sedangkan Roney dia berjalan ke arah Starllet dan berdiri di belakangnya.


"Starllet, aku harap kau tidak memiliki rencana untuk mendapatkan bintang neutron dariku. Aku tidak akan membuatmu terbunuh dengan benda seperti itu." Kata Theon memulai pembicaraan.


"Lupakan tentang bintang neutron, aku dan ayahku tidak tertarik. Aku sebenarnya cukup menyesal karena terus menyangkal tentang hubungan big three yang tidak boleh pecah. Tapi melihat sikap Luis dan Vynh yang semena-mena, aku menyadari bahwa apa yang dikatakan ayahku ada benarnya." Starllet mengeluarkan sebuah senjata api dari balik jaketnya, memunculkannya dan menunjukkannya di hadapan Theon.


Di sisi lain, beberapa berpakaian hitam masuk ke dalam ruangan ini, berdiri di belakang Theon dan juga Rena yang membuat keduanya sedikit melirik ke belakang.


Theon menyandarkan kepalanya dengan tangannya. Namun, dia tetap bersiaga apabila Starllet menarik pelatuk yang membuat dirinya atau Rena terkena sebuah tembakan.


"Bekerjalah untuk mafia Gaia dengan tujuan membantai keluarga Zuan yang ada di Neverry. Kau juga bisa membantai keluarga Skelet dengan mafianya pula. Tak sulit kan?" Starllet mengangkat alisnya sambil tersenyum.


Begitupun dengan Theon, dia mengangkat ujung bibirnya dan berkata, "Bukti menunjukkan bahwa aku adalah pembunuh mereka. Dan setelah itu kalian lepas tangan. Menurutmu apakah aku tidak tahu gelapnya dunia permafiaan?" Selain itu, Theon juga menatap Rena, memberikannya sebuah isyarat.


Begitupun dengan Theon, dia langsung meloncat dari meja sekaligus menarik kursi yang di sampingnya untuk memukul Starllet yang ada di depannya, sehingga Theon tidak memberikan waktu kepada Starllet untuk menarik pelatuknya.


Sayangnya, Roney berdiri di atas meja sambil untuk menahan kursi yang dilemparkan oleh Theon, wajahnya benar-benar jelek saat melihat bahwa anggota geng mafia Gaia berhadapan dengan Rena seorang diri. Itupun Rena memiliki kemampuan bela diri yang benar-benar mengesankan.


“Untungnya aku cukup baik tadi, jika tidak, arteri dan vena mu akan terpotong.” Kata Theon mengangkat kursi yang dia pegang, kemudian dia pukulkan kembali kepada Roney sehingga membuat Roney terlempar.


Kemudian, Theon langsung bererak dengan elemental petirnya guna menyambar Starllet yang ada di hadapannya yang bersikap dingin dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan, tatapan Theon benar-benar datar dan berkeinginan untuk membunuh Starllet sekarang juga.


“Roney tidak berbohong.”


Tepat telapak tangan Theon yang memiliki sebuah elemental petir, yang hendak menghancurkan kepala Starllet terhenti tepat di depan matanya. Dia ingin tahu, apa maksud Starllet tentang Roney yang tidak berbohong?


“Cukup! Aku tidak meminta kalian untuk menyerang dia!” Teriak Starllet dengan cukup tenang. Apalagi dia melihat bahwa bawahannya dikalahkan oleh Rena dengan cukup mudah.


“Jangan bilang kau berkata seperti itu karena melihat bawahanmu yang dikalahkan? Kau pastinya akan menyerang kami suatu saat nanti.” Theon berkata dengan cukup sinis.


“Tidak, dengarkan aku terlebih dahulu! Aku akan membiayaimu mengenai perlengkapan persenjataan, tiket menuju ke sana, asalkan kau membunuh keluarga Zuan.” Starllet bersikeras.


Mata Theon mendadak bersinar berwarna kuning, tubuhnya mengeluarkan elemental petir yang cukup banyak sehingga kilatan-kilatan di sekitarnya seolah menakut-nakuti Starllet yang ada di hadapannya. Bahkan, telapak tangannya yang hendak menyentuh dahi Starllet juga semakin mengeluarkan kilatan-kilatan petir seolah melapisi telapak tangan Theon.


“Memang ini dunia modern, tapi aku lebih suka kekuatan yang katamu ini adalah sebuah sihir. Pedang dan sihir.” Elemental petir Theon tiba-tiba menyebar, memecahkan semua barang yang ada disekitar termasuk bola lampu yang ada di atasnya. Semua perlengkapan bahkan layar yang biasa digunakan untuk meeting juga pecah. Tidak hanya itu saja, elemental petir itu juga membuat beberapa orang yang tumbang usai di dilawan oleh Rena. Yang mana kini hanya menyisakan Roney dan juga Starllet yang masih bertahan.


Memang, sebenarnya Theon tidak memerlukan persenjataan dari Starllet karena dirinya bisa menggunakan kemampuan elemental dengan cukup baik. Lagipula, apabila persenjataan, Theon memilikinya di cincin ruang beserta amunisinya sekaligus. Bahkan ada tiga senjata plasma juga di cincin ruangnya,


Starllet menggertakkan giginya, tampaknya dia benar-benar salah membawa seseorang yang membuatnya bisa mati kapan saja.


“Roney, antar mereka menuju kediaman Skelet.” Teriak Starllet kepada Roney yang tidak tahu untuk berbuat apa-apa karena semenjak tadi dia belum mendapatkan perintah. Starllet sendiri sudah tidak tau lagi bagaimana untuk menenangan Theon, karena dia tahu sendiri bahwa kemampuan Theon tidak bisa diremehkan, setidaknya dia bisa menghindari serangan Luis.


“Tawaran yang cukup bagus, aku akan menemui nanti.” Theon turun dari meja dengan mengentikan kekuatannya yang menurutnya sebenanrnya ini sangat berlebihan. Kemudian, dia berjalan dengan Rena keluar dari ruangan meeting diikuti oleh Roney yang bergetar ketakuan.


“Jean Skelet, jangan berpikir untuk bisa tenang, kematianmu benar-benar sangat dekat karena kau memiliki urusan yang panjang denganku.” Kata Theon sambil mengangkat ujung bibirnya seolah tersenyum jahat.