
“Dan, aku juga sedikit mencium aroma musuhku seribu tahun yang lalu, dewi rembulan, kau kah itu?”
Sebuah tangan yang mana terlihat sedikit berbulu dengan kuku-kuku yang benar-benar cukup tajam, menggapai pinggiran lubang dimensi yang kemudian menarik dirinya keluar.
Auranya benar-benar mencengkam, membuat keadaan benar-benar sangat hening karena mereka terkejut bahwa Azazel terbebas dari segelnya. Sosok iblis, tubuhnya berwarna merah darah dengan tatapan mata yang begitu tajam keluar.
Dua tanduk iblis melengkapi bahwa dia memang sosok iblis, ditambang dengan sepasaang sayap berwarna hitam seolah iblis itu terlihat memiliki sebuah kekuatan yang cukup mengerikan. Bahkan, para roh sebenarnya ingin tunduk, namun tampaknya bukan tempat yang tepat karena mereka berjanji untuk membantu Theon.
Lesha membuka matanya yang tampak penuh dengan rasa cemas yang begitu luar biasa. Tubuhnya bergetar, saat musuh yang paling kuat telah muncul, yaitu Azazel. Sosok iblis yang benar-benar kekuatannya tidak bisa untuk diremehkan.
Sebuah kilatan cahaya muncul dari langit, menyambar tepat ke arah Azazel yang sedang menekuk semua persendian dan melemaskan ototnya untuk membalaskan kekalahan yang begitu memalukan kepada avatar dewi rembulan yang ada di depannya.
Hanya saja, kali pertama dia keluar cukuplah membuktikan bahwa dia benar-benar masih sangatlah lemah. Sebuah kilatan cahaya itu sebenarnya bukan kekuatan spiritual milik iblis Azazel yang mampu menghancurkan dunia.
Melainkan itu adalah kecepatan Theon yang meninggalkan sebuah jejak yaitu sebuah cahaya yang cukup dahsyat. Yang mana, Theon muncul di atas Azazel, dengan wajah yang cukup datar sambil melayangkan sebuah pukulan tepat pada ubun-ubun Azazel dengan menghindari tepat pada bagian tanduknya.
Sehingga membuat Azazel langsung tertunduk dan kepalanya hampir menyentuh tanah karena mendapatkan sebuah pukulan yang baru saja dia tidak sadari sama sekali.
Tidak berhenti begitu saja, Theon dengan cukup cepat berdiri di depan Azazel, mengangkat lututnya hingga membentur dagu Azazel dengan sangat kasar. Hingga kepala Azazel yang sebelumnya tertunduk, kini terangkat dengan wajah yang benar-benar cukup buruk setelah dia menerima itu semua.
“Dasar kau keparat!” Azazel berteriak dengan sangat keras, yang membuat sebuah energi kegelapan muncul dari tangannya, yang kemudian dia lepaskan ke arah Theon karena dia merasa cukup jengkel.
Theon mundur, sembari dia mengeluarkan sebuah elemental cahaya untuk menerima itu semua. Hanya saja, sangat disayangkan sekali, bahwa elemental cahayanya seolah terbelah saat menerima energi kegelapan milik sang iblis itu, hingga energi kegelapan mengarah ke arah Theon dan membuatnya terlempar ke belakang sejauh beberapa meter.
Theon berdiri, mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya karena serangan yang cukup mengerikan. Jika bukan karena kondisi Azazel yang baru saja keluar dari segel, mungkin Theon tidak jauh dari kata sebuah kematian.
Berjalan santai sembari menyeret pedangnya, Theon mengangkat ujung bibirnya saat dia harus berhadapan dengan seorang iblis yang konon katanya memiliki kemampuan dewa tingkat tinggi. Bahkan, ayahnya saja harus membunuhnya dengan menggunakan sebuah bintang agar seorang iblis mati.
“Kau tak apa, Wulan?” Tanya Theon melirik ke arah Lesha yang ada di sampingnya. Hanya saja, yang dia cemaskan bukanlah Lesha, melainkan Rena yang masih hidup sehingga membuat Theon sendiri cukup menghela napas lega.
“Rena, kau bisa mundur bersama dengan Ali dan juga Rolland. Iblis yang satu ini, biarkan aku dan juga avatar dewi rembulan yang akan menghadapinya.” Kata Theon dengan penuh semangat. Dia masih memiliki unlimited orka, selama tidak ada yang mengganggu proses penyerapan energi alam milik kloningannya.
Iblis Azazel menyentuh kepalanya sambil menggelengkan kepala agar tatapannya bisa sedikit fokus. Desakan ruang tanpa waktu membuat dia sangat kesulitan mengidentifikasi, sudah berapa lama dia tersegel? Tak ada sebuah waktu di ruang hampa, membuat dirinya tidak merasakan lama atau sebentar, tak ada waktu, seolah membuat dirinya tiada.
“Aku tidak akan kau melampiaskan balas dendam kepada ibuku.” Fritz bergerak secepat cahaya, yang kemudian muncul di samping Lesha dan menolongnya untuk berdiri. Kemudian, Fritz sendiri menatap ibunya dan tersenyum. “Tidak apa ibu, aku akan berusaha selama beberapa generasi, sehingga biarkan aku yang mengurus semua ini.”
“Kita akan berusaha bersama-sama.” Lesha meyakinkan putranya, meskipun bukan putranya secara biologis, melainkan putranya di generasi awal saat dia merupakan sosok dewi rembulan.
“Ali, namamu adalah Ali bukan? Kau ingin menggunakan elemental? gunakan aku menjadi zirahmu, lagipula aku tidak memiliki energi lagi untuk mengendalikan tubuhku, mungkin hanya sebatas menjadi sistem pemandu bagimu.” Strega yang sebelumnya duduk di samping Ali, setelah melihat kengerian dia mungkin hanya akan menjadi robot sampah yang sama sekali tidak berguna.
Ali yang melihat hal itu, dia menatap Strega dengan rasa tidak percaya. Dia mencoba untuk menatap mata mekanik milik Strega, namun dia sama sekali tidak menemukan sebuah kebohongan apapun.
Tubuh Strega terbuka, bahkan kepalanya yang seolah seperti sebuah helm, tampaknya mesinnya terbuat dari partikel-partikel yang dibuat sekecil mungkin. Sehingga memberikan sebuah ruang apabila ada seseorang yang ingin mengendalikan robot kecerdasan buatan itu secara manual.
“Masuklah, dan bergabunglah denganku. Itu akan membuatmu seolah menjadi seorang Cyborg, lagipula aku juga memiliki elemental buatan yang tak kalah dengan mereka.” Kata Strega mempersilahkan Ali masuk ke dalam tubuhnya.
Ali bersemangat, kemudian dia berdiri membelakangi Strega, yang kemudian dia mundur perlahan untuk menyesuaikan ruang yang berada di dalam tubuh Strega. Sehingga, ketika dia sudah masuk, tubuh Strega kembali menutup tubuh Ali, begitupun dengan wajah Strega yang menutupi wajah Ali.
“Aku sistem robot Strega.”
Ali membuka matanya dan cukup terkejut, saat di depan matanya seolah seperti monitor dengan sistem-sistem yang salah satunya seperti data tentang pria berdiri yang tidak lain adalah Theon. Bahkan terlihat memuat data baru saat sebuah lingkaran melingkari iblis Azazel yang tengah terkepung oleh para roh dan elementalist.
“Kau pandai menembak bukan? Ingat, elemental buatanku adalah elemental lima dasar. Apa kau mengingat bahwa Theon sempat menciptakan kloningan untuk menyerap elemen alam? Prinsipku seperti itu, tapi aku tidak menggunakan kloningan, dan menyerapnya secara langsung. Lagipula ini lebih ilmiah lagi karena merubah partikel dan merubah wujud benda.” Kata Strega dalam sistemnya.
“Kau bisa bergerak ke arah mereka.” Kata Strega.
Ali cukup senang, yang membuat dia mengangkat kakinya. Dia tidak begitu percaya bahwa dia berada dalam sebuah kontrol penuh untuk mengendalikan Strega. Sehingga, dia lebih bersemangat dan bergerak dengan sangat cepat, persis di samping Rolland dan kepala sekolah yang sudah terlebih dahulu ikut sebuah pengepungan.
......
Di sisi lain, Azazel sendiri cukup terkejut bahwa ada banyak sekali roh yang mengepungnya. Ditambah para elementalist yang bersemangat meskipun Theon sendiri sudah menegaskannya.
Hanya saja, Theon tersenyum. Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa melawan para roh yang bersikeras. Apalagi juga Rena yang mau ngotot untuk melawan seorang lawan yang bukanlah biasa.
“Aku tidak membutuhkan para roh seperti mereka, roh-roh seperti mereka pernah terikat kontrak denganku. Bukankah begitu, avatar dewi rembulan?” Tanya Azazel dengan ucapan dingin, sehingga dia melambaikan tangannya dan berkata, “Segel perjanjian iblis!”