
Theon semakin membakar pedangnya ketika dia saling beradu pedang, membuat tuan labirin merasakan efek yang begitu luar biasa. Apalagi menggunakan pakaian kesatria perang kuno yang mana penuh dengan besi, membuat Theon tidak bisa membayangkan, bagaimana bajunya justru akan memanggang tuan labirin.
“Kilatan cahaya tahap kesepuluh: tebasan pemecah matahari.” Tuan labirin menjaga jarak, lebih tepatnya dia langsung meloncat ke belakang sambil menebaskan pedangnya dengan begitu cepat ke arah Theon.
Menyadari hal itu, apa yang dia lakukan adalah mengulurkan Fire Sword ke depan, dan tentunya tanpa mengucapkan kata-kata untuk mengeluarkan elemental, ujung pedang Theon mengeluarkan sebuah semburan api berwarna hitam, lebih tepatnya Theon mengeluarkan api legendaris yang hanya dimiliki oleh para dewa sahaja. Sehingga, menahan kilatan cahaya milik tuan labirin adalah hal yang cukup mudah, bahkan masih tersisa dan melesat ke arah tuan labirin itu sendiri.
Hal tersebut tentu saja membuat tuan labirin benar-benar terkejut. Pastinya dia tahu persis bahwa api hitam hanya dimiliki oleh para dewa, sehingga menghadapi Theon kemungkinan akan menjadi sebuah kekalahannya. Namun, masih ada cara lain agar dirinya tidak terbunuh, tuan labirin mengulurkan tangannya dan mengeluarkan bintang neutron.
Apa yang terjadi? Ketika terdapat sebuah ancaman, atau mungkin api hitam milik Theon, bintang neutron semakin menyala, bahkan juga mengeluarkan sebuah ledakan energi yang begitu pesat membuat api hitam sendiri benar-benar hilang. Tidak hanya api hitam milik Theon, bahkan Theon sendiri juga terlempar ke belakang sejauh beberapa meter.
Mungkin tidak hanya Theon saja, tuan labirin juga terlempar ke belakang dalam kondisi masih membawa bintang neutronnya. Mungkin karena kekuatan bintang neutron benar-benar dahsyat, bahkan hingga pemiliknya sendiri juga terlempar jauh.
“Akh, ternyata itu kekuatan bintang neutron. Pancaran energi benar-benar sangat kuat, bahkan juga mengeluarkan ledakan cahaya yang membuat aku hampir buta.” Theon mengusap matanya secara berulang kali. Bagaimana tidak? Bintang itu benar-benar juga meledakkan cahaya ketika energi kuat tersebar.
Bahkan, Rena dan yang lainnya seketika terhenti ketika dirinya merasakan sebuah getaran yang begitu hebat. Tentu, itu membuat dirinya benar-benar prihatin dengan Theon, namun dia tentu bisa percaya bahwa Theon bisa melakukannya. Memang, Rena semenjak tadi sudah dihadapkan dengan gerbang dimensi yang berputar penghubung menuju alam manusia, bahkan dirinya sudah berdiri di antara anak-anak muda yang lainnya untuk masuk dalam dimensi tersebut.
Mungkin hanya seberapa, masih sedikit anak-anak yang menemukan jalan keluar. Bahkan Rena sendiri juga belum bertemu dengan Rolland, Lesha ataupun anak-anak big three, sehingga kemungkinan mereka semua masih berada di dalam.
“Nona Rena, kau sedang menunggu apa?” Rolland menepuk pundak Rena karena dirinya mungkin baru saja menemukan jalan keluar.
“Jangan ganggu aku Rolland. Silahkan keluar terlebih dahulu karena gerbang terbuka lebar.”
“Ooh aku tahu, kau sedang menunggu Theon? Dia mungkin tersesat, jadi jangan hiraukan dia.” Rolland berkata demikian, namun masih menatap sinis Rena.
Tanpa banyak bicara, Rena menarik tangan Rolland, lebih tepatnya dengan kekuatannya Rena langsung menyeret dan melemparkan Rolland ke dalam dimensi penghubung. Tentunya itu karena dia benar-benar kesal dengan keberadaan Rolland.
Sedangkan anak-anak big three, mereka sudah bertemu satu sama lain. Hanya saja, Vynh benar-benar bersikeras untuk menuju pusat labirin untuk mendapatkan bintang neutron. Hatinya benar-benar tak terima karena justru anak tak dikenal yang mendapatkan bintang neutron tersebut.
“Tuan Vynh, waktu kita sudah mepet. Kita akan terjebak di sini selamanya dan tidak akan menemukan jalan keluar.” Ujar Starllet.
Starllet hanya meyentuh kedua pelipisnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya, tampaknya dia benar-benar kecewa ketika mendapatkan sebuah rekan yang terlalu arogan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak ingin big three terpecah.
“Aku tidak tau harus berkata apa, di sisi lain aku tidak rela ketika bintang neutron itu di dapatkan anak tersebut. Tapi, waktu terus berjalan secara terus menerus.” Jean Skelet berbicara. “Selain itu, getaran apa itu tadi” sambungnya sambil mengerutkan dahinya.
Mereka semua hanya menggelengkan kepala dan tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada labirin ini.
....
Kembali kepada Theon, sebelumnya dia mencoba untuk berdiri setelah terkena ledakan cahaya dari bintang neutron. Kemudian, ketika dia melihat bintang neutron yang melayang di atas telapak tangan tuan labirin, Theon langsung bergerak cepat untuk merebutnya.
“Tidak tuan berhenti terlebih dahulu!” Teriak tuan labirin menahan pergerakan Theon.
Mendengar hal tersebut, Theon langsung menghentikan langkahnya. Karena apa? Karena tuan labirin memanggilnya dengan sebutan tuan sehingga membuat Theon cukup yakin bahwa sang penjaga labirin menyerah.
“Bagaimana mungkin aku bisa menang jika musuku adalah seorang dewa?” Tuan labirin menundukkan kepalanya. Karena dia tahu bahwa di hadapannya adalah seorang dewa, tentunya dewa tingkat tinggi yang mana apinya sudah sangat hitam. Kemudian, tanpa berpikir panjang, tuan labirin menyerahkan bintang neutron itu sambil berkata.
“Jawab pertanyaanku, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa mengetahui aku adalah dewa?” Theon mengerutkan dahinya sebelum menerima bintang neutron itu. Masalahnya, Theon benar-benar penasaran, tuan labirin ini manusia atau dewa?
“Demi God.” Tuan labirin menjatuhkan pedangnya, apa yang dia lakukan adalah melepaskan helm kesatria untuk menunjukkan wajahnya kepada Theon. Yang mana, ketika helmnya di buka, Theon bisa melihat bahwa tuan labirin memiliki paras yang cukup tampan dengan rambut berwarna oranye. “Ayahku adalah seorang manusia, ibuku seorang dewi. Mereka kemudian memiliki anak yaitu aku, serta keturunan yaitu keluarga Zuan sendiri. Bisa di bilang bahwa keluarga Zuan memiliki darah yang sama denganku, tapi bukan berarti aku adalah kakek mereka.”
Theon mengangguk dan mengerti, itulah mengapa keluarga Zuan memiliki akses menuju labirin ini. Jadi siapa yang menyangka bahwa mereka masih satu darah dengan tuan labirin. Hanya saja, Theon benar-benar penasaran, apa maksud tuan labirin menyembunyikannya dengan menggunakan sebuah labirin?
Dan jawabannya kemudian diuangkapkan oleh tuan labirin, “Keluarga Zuan sudah tidak memiliki darah dewa lagi yang membuat mereka tidak akan bisa menyentuh bintang neutron milik ibundaku. Hanya saja, mereka seolah bersikeras untuk mendapatkannya, menganggap bahwa benda ini memiliki kekuatan yang hebat untuk mereka.”
“Anda adalah seorang dewa, jadi Anda bisa mengambilnya. Terimalah ini, mungkin ini akan bermanfaat untuk Anda, dan aku benar-benar rela, daripada terus menerus berada di sini yang mana manusia akan berusaha mendapatkannya. Sekaligus, aku juga ingin berisitirahat.” Tuan labirin tersenyum ke arah Theon.
Theon menerimanya dengan senang hati, dan tentu saja, ketika dia memegangnya, maka tidak ada masalah apapun, sehingga membuat tuan labirin sendiri percaya bahwa Theon adalah dewa. Karena jika Theon adalah manusia, memegang bintang neutron hanya akan membuatnya hancur. “Secara harafiah aku sebenarnya adalah demi god. Tapi aku dilahirkan ketika ibuku sudah menjadi seorang dewi, dewi racun.”