
Dua hari seperti yang dimau Theon dan juga Rena, mereka pergi menuju bandara ibukota untuk menuju negara Ellada tepat pada hari ini. Mereka harus mau tau dimana menara itu berada, dan siapa sosok avatar dewi rembulan yang hidup sampai saat ini. Jika pun tidak ada sebuah jejak yang menunjukkan siapa avatar dewi rembulan, maka Theon akan memikirkannya di sana. Lagipula, tidak ada salahnya untuk mencoba, siapa tahu jejaknya memang ada di sana.
Selain itu, dia juga menganggap ini sebagai sebuah liburan untuk menenangkan diri. Jarang-jarang atau bahkan tidak pernah dirinya berada di luar negeri. Sehingga, dia bisa lebih rileks untuk melepaskan penat untuk hidup di dunia yang menyebalkan ini.
Kemudian, dia juga mengingat bahwa negara Ellada merupakan negara yang dipenuhi dengan sebuah reruntuhan-reruntuhan kuno. Yang mana kemungkinan juga bisa menjadi tempat untuk membangkitkan kekuatan elementalnya. Siapa tahu, salah satu tempat yang menjadi petilasan dewi rembulan, terdapat sebuah orka berlimpah yang mampu diserap sehingga membuat elementalnya bangkit.
Lagi-lagi itu mengandalkan keberuntungan. Tidak ada salahnya untuk mencoba, dan siapa tahu itu benar-benar terjadi seperti ekspetasinya. Walaupun tentang reruntuhan yang menjadi sarang orka membuatnya tidak yakin bahwa salah satu elemental yang lainnya akan bangkit secara seratus persen.
Tentang kekacauan dan kecaman buruk dari masyarakat kepada elementalist. Theon sama sekali tidak peduli untuk sekarang juga. Ini bukan dunianya, dia tak perlu berpikir pusing untuk menyelesaikan sebuah masalah di dunia ini. Selama itu tidak berkaitan dengan alam dewa, Theon sama sekali tidak terlalu memperhatikan. Hanya saja, ketika Theon kembali, mungkin Theon akan bertanggung jawab, tanpa memperdulikan kecaman buruk bahwa pertarungan elementalist benar-benar sangat membahayakan.
“Tuan, aku lupa. Ini smartphone Anda, ini berharga belasan juta dengan keluaran terbaru.” Kata Roney sambil mengambil box smartphone di dashboard mobil. Walaupun, sebenarnya Theon juga melihatnya semenjak tadi.
Theon menerimanya, meski sebenarnya dia merasa berlebihan karena Roney membelikannya dengan cukup mahal. Apalagi sebenarnya Theon hanya memakai fungsinya sebagai alat komunikasi, tidak selebihnya. Theon juga tidak suka dengan game yang ada pada smartphone. Walaupun Theon Alzma ingin sekali untuk memainkan sebuah game online ketika dirinya selalu melirik Ali bermain hal tersebut. Sayangnya, Theon tidak terlalu memikirkannya.
“Terimakasih Roney.”
Beberapa jam kemudian, pada akhirnya mereka telah sampai pada bandara ibukota. Mungkin dia tidak terlalu terkejut, karena dia sudah mencoba untuk membiasakan diri, hanya saja yang dia lakukan hanyalah penerbangan domestik antar wilayah seperti menuju pulau Zenphyra atau Nevery.
“Ini tiket kalian berdua, kelas mewah dengan pelayanan yang cukup tinggi. Pesawat akan terbang dua jam lagi, jadi saya harap Anda bergegas untuk pergi sekarang juga. Passport, aku harap kalian tidak lupa membawanya.” Kata Roney yang turun dari mobil, dan memberikan dua lembar tiket yang dia pesan tempo hari. Tidak lupa, Roney juga mengeluarkan koper milik Theon dan juga Rena yang berada di bagasi mobil.
“Terimakasih Roney. Aku menghargai apa yang kau lakukan, kau bisa pulang untuk mengurus yang lainnya.”
Roney terdiam. Meski sebenarnya Theon merupakan seseorang yang cukup kejam, tapi nyatanya Theon merupakan seseorang yang murah untuk mengucapkan terimakasih. Terbukti, ketika dirinya melakukan apapun untuk Theon, maka Theon akan mengucapkan terimakasih sebagai bentuk penghargaan.
Karena cukup jarang sekali ketika seseorang atasan mengucapkan rasa terimakasih kepada bawahannya. Mereka terlhat menuruti sikap arogan dan terlalu gengsi untuk mengucapkan satu kata itu. Padahal, jika diucapkan rasanya juga cukup mudah pelafalannya.
Terlebih, Roney seperti salah menilai kepada Theon. Dia pikir, Theon merupakan orang yang cukup keras sehingga dia sempat berpikiran bahwa dirinya akan tersiksa. Namun, siapa yang menyangka, bahwa Theon adalah sosok yang kalem dan tidak terlalu sering merasa arogan kepada dirinya sendiri.
.....
“Akhirnya kita telah sampai ke ‘Negara Ellada’ untung saja tidak ada satupun masalah di pesawat seperti seseorang yang begitu arogan.” Ucap Theon yang kemudian dia keluar dari ibukota Ellada , Athena.
Kondisi alam yang benar-benar sangat indah di negara ini, dengan negara yang mana 80% bentang alamnya berupa pegunungan dan juga bukit. Kondisi nya juga tidak terlalu extrem, yaitu tidak terlalu panas jika musim panas, dan kemungkinan juga tidak terlalu dingin apabila musim dingin. Yang mana sangat berbeda dengan negara-negara dalam satu benua dengan Ellada.
Ellada sendiri juga menjadi sebuah tempat yang dipinuhi oleh reruntuhan, beberapa cerita yang cukup menarik tentang dewa dan dewi yang menurut Theon cukup keren. Apalagi, dirinya juga menyukai tentang mitologi-mitolgi negara-negara lain selain di negara New Santara.
Theon dan Rena berpikiran, dimana letak menara yang dibicarakan? Sepertinya mereka merasa lupa untuk tidak menanyakannya kepada Kadita tentang dimana menara itu berada. Selain itu, Ellada merupakan negara yang cukup luas, sehingga membuat mereka mungkin akan sangat kesulitan untuk mencari menara tersebut.
Akan tetapi, Theon juga tidak lupa, bahwa elementalist tidak hanya berasal dari negara New Santara. Kemungkinan terbesar, elementalist di sini juga mengetahui dimana menara itu berada, sehingga Theon cukup tenang untuk mencarinya. Dan,sebagai sebuah kebiasaan, untuk mencari sesuatu, maka Theon perlukan hanyalah mencari tempat makan.
Memang, pada dasanya tempat makan yang tidak terlalu mewah menjadi sebuah tempat untuk bertukar informasi orang lain. Dan itu sering dilakukan Theon di alam dewa apabila dia ingin mencari tahu berita sendiri tanpa dari ayahnya. Bisa dibilang, yang dilakukan Theon adalah menguping.
Meski Theon sendiri menyadari bahwa rasanya itu sangat sulit mencari informasi yang dia inginkan di tempat ini. Orang-orang pasti berbicara tentang politk, atau gurauan mereka serta masalah keluarga. Sangat jarang sekali orang yang berbicara tentang shir jika bukan elementalist. Sehingga, Theon akan berusaha untuk mencari elementalist di tempat makan untuk menggali informasi dimana menara itu berada.
“Aku menyarankan kita pergi ke sebuah reruntuhan kuil. Yaitu temple of Apollo. Tempat pemujaan dewa matahari atau cahaya.” Ucap Rena memberikan sebuah saran, saat mengetahui bahwa tujuan Theon sendiri tidak hanya mencari menara, tapi berusaha membangkitkan elementalnya. Karena, negara ini merupakan negara yang berisi mitologi para dewa.
Lalu, Rena melanjutkan ucapannya, “Kita coba saja dulu, siapa tahu ketika kita berada di situ, elemental cahaya Anda bangkit. Sangat baik saat ternyata kita bisa mengetahui dimana menara itu berada.”
Theon mengangguk, tujuannya di negara ini tidak hanya mencari menara, melainkan juga membangkitkan elementalnya yang mana reruntuhan, kuil atau yang lainnya menjadi diprioritaskan. Karena dia sendiri tahu bahwa kuil dan reruntuhan itu sendiri menjadi jejak para dewa mitologi, sehingga tidak menutup kemungkinan elementalnya terpancing dan bangkit.
Meski sebenarnya Theon tidak yakin sepenuhnya bahwa mengunjungi tempat tersebut akan bangkit, tapi, apa salahnya untuk mencoba? Lagi-lagi pemikiran tersebut terlintas di pikirannya bahwa mencoba adalah sesuatu yang diperlukan. Barang kali elemental cahayanya nanti memang akan bangkit di temple of Apollo. Secara Apollo merupakan dewa cahaya dalam mitologi Yunani, dan matahari dari mitologi Romawi.