
Theon kembali menarik Genbu. Setidaknya dia sudah tahu dimana tempat itu berada. Yaitu wilayah paling utara yang memiliki sedikit salju. Akan tetapi, dalam sebuah peta geografis, yang diingat Theon, wilayah Icelor bagian utara yang memiliki salju adalah wilayah pegunungan.
Keduanya saling menatap dan mengangguk, dalam kedipan mata sekalipun, mereka sudah menghilang di tempat dan berpindah dengan kecepatan di luar nalar. Sehingga, kini mereka sudah berada di hadapan sebuah pegunungan yang diselimuti oleh sebuah salju.
“Sekarang dimana markas itu berada? Bunker bawah tanah yang ternyata markas mereka berada di dalam gunung.”
“Tidak.” Bantah Rena. Dia bisa melihat ada empat pegunungan, yang mana di antara empat pegunungan itu, terdapat sebuah daratan yang begitu luas. Yang mana, jika diamati dari tempat mereka berada atau langit, daratan yang diapit oleh empat pegunungan memiliki luas yang cukup aneh. Seolah daratan itu berbentuk lingkaran sempurna ketika diapit oleh empat gunung sekalipun.
Merasa ada yang janggal, Theon mengulurkan tangannya di atas empat puncak gunung, atau lebih tepatnya dataran rendah yang berbentuk lingkaran sempurna.
“Panah dewi kehidupan! Cahaya keadilan!”
Di samping Theon persis, muncul sebuah cahaya, yang perlahan-lahan membentuk sebuah anak panah yang cukup besar. Setidaknya ukuran ujung anak panah memiliki ukuran yang sama dengan puncak gunung.
Tanpa berpikir panjang, Theon menembakkan panah tersebut yang melesat dengan cukup cepat. Setidaknya, apabila berada di bawah tanah dan memiliki bunker yang cukup kuat, bunker tersebut tidak mampu untuk menahan panah cahaya tersebut. Namun, itu bertujuan untuk merusak permukaan bunker, bukan untuk menghancurkan dalamnya, karena Lesha kemungkinan masih berada di dalam.
Tapi, siapa yang berpikir, tanpa menyentuh permukaan sekalipun. Permukaan daraan yang diapit oleh empat pegunungan seolah mengeluarkan sebuah pelindung magis. Berwarna biru yang menjadi sihir pelindung dan tidak mempan oleh anak panah cahaya milik Theon. Bahkan, anak panah Theon hanya meledak dan menghancurkan pegunungan di sekitarnya saja.
“Memiliki pelindung magis ya? Siapa yang berpikir bahwa konspirasi itu memang benar. Bahwa petinggi dunia memiliki sihir non elemental.” Rena mengerutkan dahinya. Dia sungguh tidak menyangka bahwa itu ada benarnya.
Theon menempelkan kedua tangannya, dugaan Rena benar bahwa daratan yang dilingkari oleh gunung merupakan wilayah petinggi dunia. Meski sebenarnya keadaan sedikit gelap dan agak terang. Karena pada dasarnya, wilayah ini merupakan bagian utara, yang cahaya matahari tenggelam sebentar dibandingkan negara lainnya.
“Pelindung magis non elemental, itu akan hancur apabila harus berhadapan dengan api abdi. Kau tahu Rena? Api abadi akan membakar selamanya terkecuali terkena perintah mutlak dari sang pengguna itu sendiri.” Theon yang sebelumya menempelkan kedua telapak tangannya, dia membuka dan mendorongnya ke depan. Alhasil, sebuah kobaran api berwarna hitam pekat keluar dan menyerang daratan tersebut.
Tentu hal tersebut menyebabkan keadaan salju di gunung yang hancur, di atas daratan yang dilingkari gunung meleleh dengan sangat cepat.
Pelindung magis kembali muncul untuk menahan api hitam. Alih-alih menghilang dan tertahan, pelindung magis itu justru terbakar. Warnanya perlahan memudar dan hilang sepenuhnya karena tidak bisa menahan kekuatan dari api abadi.
Theon mengulurkan tangannya, menghentikan api hitam itu seketika yang langsung menghilang.
“Jujur sekali, lebih sulit untuk berhadapan dengan penyihir dibandingkan dengan aparat.” Ucap Rena yang sulit menebak untuk kedepannya. Kemungkinan, jika dia sudah berada di markas paling rahasia, maka penyihir adalah sosok yang akan mereka hadapi.
Tapi itu tidak akan terjawab apabila mereka tidak langsung mendarat. Mereka kini mampu untuk berdiri di atas daratan es yang mencair dan tidak terdapat apa-apa. Tapi, Theon juga bisa merasakan aktivits yang benar-benar sangat besar di bawah tanah ini.
Akan tetapi, Theon langsung melompat ketika dia mengalami rasa krisis yang luar biasa. Tidak hanya sekali, dia melompat berkali-kali dibarengi dengan Rena yang juga menyadarinya. Siapa yang berpikir, bahwa sebenarnya mereka tengah menghindari hantaman perluru yang tidak hanya berada dalam satu tempat. Setidaknya, Theon bisa merasakan ada sekitar empat penembak jitu.
Merasa cukup geram, Theon setelah melompat, dia mengeluarkan sebuah hembusan angin yang cukup kuat keluar di sekelilingnya. Hembusan angin yang mampu untuk menggetarkan pegunungan yang setengah hancur di sekelilingnya.
Namun getaran itu bukannya berhenti, justru bertambah kuat. Theon bisa merasakan guncangan yang luar biasa di antara empat sisi gunung yang disekitarnya.
“Mungkin kalian mendengar beast spirit adalah untuk para penyihir seperti kalian Lord Unknown. Tapi, kami para aparat penjaga markas petinggi dunia juga memiliki roh juga.”
Siapa yang berpikir, Theon melihat sekitarnya terdapat hewan melata yang ukurannya benar-benar cukup besar. Dan anehnya lagi, entah kenapa, empat hewan melata yang diantaranya adalah salamander, ular, kadal dan juga katak membawa sebuah senjata yang berada di punggung mereka seperti sebuah tembak yang ukuran nya juga besar juga.
Hal tersebut membuat Theon ternganga. Hewan-hewan melata yang ukurannya besar membawa sebuah senjata bagaikan tank hidup. Yang kemudian, beberapa detik kemudian mereka menembakkan senjata dari punggung mereka masing-masing. Di atas mereka juga ada sang pemilik yang menggunakan pakaian aparat pada umumnya.
Tak mau kalah, Theon mengendalikan kekuatan es untuk menahan langkah mereka dan menutup meriam senjata mereka agar tidak menyerang Theon dan juga Rena. Kemudian, Rena menambahkan, mengulurkan tangannya dan mengeluarkan tombak kegelapan untuk menghancurkan empat hewan reptil itu.
Hanya saja, kekuatan mereka benar-benar terlalu kuat. Kulit mereka benar-benar cukup keras untuk menahan tombak kegelapan milik Rena ketika mereka terhenti langkahnya. Mungkin, kulit mereka hanya tergores oleh tombak kegelapan milik Rena.
“Baiklah, keluarlah kalian! Jangan menahan diri. Kecuali kau Genbu, jangan memaksakan diri!”
Tiga elemen keluar dari tubuh Theon, yang mana mereka muncul membentuk tiga hewan buas yang ukurannya bukan main-main. Setidaknya menjadikan empat reptil itu sebuah mainan bagi merek. Ukuran mereka bahkan bisa menghancurkan gunung sepenuhnya ketika mereka menyenggol sedikit saja.
Dan itu memang terjadi, tempat ini benar-benar hancur sepenuhnya ketika tiga empat beast milik Theon keluar, menghancurkan gunung-gunung yang mungkin menjadi pelindung dan penjagaan yang ditinggali oleh aparat pemilik beast spirit seperti mereka.
“Buka bunkernya, aku akan berusaha bersenang-senang terlebih dahulu.” Ucap Theon kepada Rena.
Kemudian, Theon bergerak di atas kepala Kiba yang tengah mengayunkan cakarnya untuk menginjak salamander. Bagaikan gajah dan singa, mungkin itulah perbandingannya antara Kiba dan juga salamender tersebut. Dia berdiri di atas Kiba hanya menjadikan dia pijakan, sebelum melompat ke arah seekor ular yang tidak memiliki lawan siapapun.
Meski mereka menggunakan senjata sekalipun, tapi Theon tersenyum lebar ketika menyadari bahwa tembakan yang dibawa oleh empat beast spirit tidak mempan kepada roh seperti Kiba, Azure dan Flamon, karena senjata mereka tampaknya tetaplah buatan manusia.
“Kau lawanku!” Theon mengulurkan tangannya tepat saat dia hendak melompat di atas moncong ular tersebut. Yang kemudian, tangan Theon mengeluarkan cahaya dari tangannya.