
"Ali, bisa kau menuju rumahku sekarang juga? Apa kau punya keperluan penting?"
Theon mengangkat smartphonenya, menelpon Ali agar dia sendiri datang kerumahnya untuk melacak beberapa nomor hp yang ada di hp milik penembak jitu tersebut. Selain itu, Theon juga ingin memberikan Ali sebuah kejutan.
Memberitahukan elemental? Tentu saja tidak, Theon tidak akan memberitahukan kepada temannya sendiri bahwa dirinya memiliki kemampuan elemental sekarang juga, mungkin nanti. Lagipula, Ali sendiri juga berada di ambang kecurigaan kepada Theon, yang mana Theon seperti memiliki kekuatan di luar nalar.
"Theon, apa kau lupa aku sedang bersekolah? Lagipula kenapa kau tidak masuk selama seminggu." Jawab Ali dengan suara yang sangat lirih, mungkin karena dirinya sedang melakukan sebuah pelajaran hari ini.
Theon benar-benar lupa bahwa hari ini adalah waktu untuk sekolah. Jadi tidak mungkin Ali bisa datang sekarang juga, setidaknya dia akan menunggu pulang sekolah pada siang menjelang sore hari. Meskipun begitu, Theon benar-benar tidak tahan apabila dirinya harus menunggu hasilnya.
"A W Magnum? Apakah kau pernah mendengarnya? Jika kau penasaran kau bisa bolos sekolah sekarang juga. Tunggu, aku tidak tahu ini magnum bukan, tapi yang pasti ini senjata laras panjang bertipe jauh."
"Tunggu, itu ilegal. Tidak tidak, aku benar-benar penasaran, bagaimana kau bisa mendapatkannya? Aku akan bolos sekolah sekarang juga, tapi, tunggu setidaknya sampai istirahat."
Theon belum menjawabnya, tapi teleponnya sudah berhenti. Yang mana itu kemungkinan bahwa Ali tidak bisa berlama-lama untuk mengangkat sebuah telephon karena pelajaran sedang berlangsung.
Sedangkan Theon sendiri, menyadari bahwa Ali sendiri tidak bisa berlama-lama untuk mengangkat telephon, dia langsung memasukkannya ke dalam saku. Apa yang dia fokuskan adalah pulang ke rumah dengan berlari meski jaraknya yang benar-benar jauh sekalipun.
Meski sebenarnya, Theon dan Rena berlari seperti seorang berandalan. Banyak orang-orang yang mengeluarkan kata-kata kotor karena terganggu dengan adanya Theon dan Rena yang meloncat dan berlari secara sembarangan.
Namun, Theon sama sekali tidak peduli, dia harus pulang ke rumah karena Ali bergegas ke rumahnya ketika istirahat. Atau lebih tepatnya Theon harus pulang sebelum waktu istirahat sekolahnya yang mana diperkirakan satu jam pelajaran lagi, atau sekitar 35 menit untuk setiap jam pelajaran.
Berlari sejauh 5 Km dengan kecepatan biasa? Itu bukanlah hal yang sulit bagi Theon, jika hanya jarak seperti itu maka dia masih memiliki banyak energi. Itupun dia menganggapnya sebagai marathon pagi.
"Surat izin keluar masuk, atau aku harus meloncat dari pagar?" Ali berpikir sejenak ketika waktu akan menunjukkan bahwa istirahat akan sebentar lagi. Dia belum pernah untuk melakukan sebuah tindakan pembolosan karena dia bukanlah anak yang seperti itu. Apalagi ayahnya adalah seorang pejabat provinsi Envuella Timur yang mana apabila dia melakukan yang seperti itu maka akan membuat malu ayahnya.
Hanya saja dirinya benar-benar tak tahan untuk melihat senjata laras panjang bertipe jarak jauh yang dikatakan oleh Theon, seolah Theon mendapatkannya. Padahal, senjata berapi itu benar-benar ilegal untuk digunakan tanpa seizin, sehingga membuat Ali sendiri semakin menaruh kejanggalan dari Theon. Darimana Theon mendapatkan senapan itu? Apalagi Theon tidak masuk selama seminggu.
Mungkin Lesha atau Rolland 4 hari yang lalu memang juga tidak masuk. Tapi hari ini Lesha dan Rolland masuk, meski satu kelas benar-benar heran ketika mengetahui bahwa Rolland memiliki luka di sekujur tubuhnya. Sedangkan Theon dan Rena sendiri sampai sekarang dia belum masuk.
Sedangkan membuat surat izin keluar masuk atau dispensasi benar-benar sulit meski Ali anak pejabat sekalipun. Guru piket benar-benar sulit untuk memberikan izin apabila tidak diberi sebuah sogokan.
"Kau mendapatkan telepon dari siapa tadi, Ali?" Sahut Lesha yang tiba-tiba datang, melihat Ali yang tampak begitu kebingungan. Dan sebelumnya, Lesha juga sempat melirik Ali menerima sebuah telepon ketika ada guru yang membuat Ali sendiri harus menjawabnya di depan loker meja secara sembunyi-sembunyi.
"Theon, dia baru saja meneleponku agar aku bisa kerumahnya. Tapi, aku benar-benar bingung bagaimana caraku bolos sekolah."
Lesha mengangkat alisnya terkejut ketika dia mengetahui bahwa Theon meminta Ali datang ke rumahnya sekarang juga. Jika bukan karena hal yang penting, tidak mungkin Theon mendesak Ali seperti itu. Sehingga, Lesha dengan wajah tak biasa juga ikut prihatin, apalagi dia tahu bahwa Theon baru saja memiliki masalah denhan big three tempo hari.
"Aku akan membantumu, kau tahu? Para guru tidak hanya takut dengan keluarga Jark, dia juga takut dengan keluarga Marza. Jadi, aku akan sedikit mengancam guru piket untuk memberikan tanda tangan dan izin." Lesha berkata dengan tergesa-gesa, hatinya tiba-tiba menjadi tidak tentram ketika mendapati Theon meminta bantuan secara mendesak.
Padahal, Lesha sendiri tidak tahu bahwa Ali juga tidak mengetahui bahwa Theon meminta bantuan. Hanya saja, Lesha terlalu tempramen tanpa mengetahui lebih lanjut penjelasan Ali bahwa dia dipanggil Theon karena Theon sendiri ingin menunjukkan senjata sniper. Meskipun, secara harafiah Theon memang meminta sebuh bantuan.
....
“Bagaimana kau bisa mendapatkan izin dari kepala sekolah secara langsung? Bukankah katamu kau akan mengancam guru piket?” Ali mengerutkan dahinya.
Setelah beberapa waktu, Lesha tidak menghadap ke guru piket, tapi justru dia langsung menghadap kepala sekolah yang juga baru masuk untuk meminta Izin agar menemui Theon yang tampaknya meminta bantuan.
Sebelumnya, Lyu Shui benar-benar terkejut bahwa Theon meminta bantuan secara mendesak, namun dirinya mengingat bahwa dia tidak diperbolehkan untuk mendekati Theon karena bahaya sedang mengincar. Sehingga, kepala sekolah hanya mengiyakan sambil menyerahkan kunci mobil miliknya.
Lesha tahu bahwa Lyu Shui dekat dengan Theon, dia baru mengetahui ketika di festival dan menyadari bahwa Lyu Shui benarkah panik setengah mati ketika melihat Theon yang terkena sebuah masalah.
Sehingga, saat ini, Lesha sedang duduk di kursi mobil sambil memegang stir mobil untuk mengendarainya menuju rumah Theon secara cepat.
“Yang pertama, kepala sekolah takut kepada keluarga Marza. Namun, alasan yang masuk akal karena faktor kedua, yaitu kepala sekolah benar-benar dekat dengan Theon.” Sahut Lesha yang mengendarai mobil kepala sekolah dengan cukup cepat.
Ali mengerutkan dahinya, akhir-akhir ini dia juga menyadari bahwa kepala sekolah benar-benar dekat dengan Theon. Padahal, bisa dibilang kepala sekolah merupakan seorang wanita tua yang tidak di sukai secara sifat oleh para muridnya, tapi siapa yang menyangka bahwa Theon seolah-oleh berhasil meluluhkan hatinya. Sayangnya kepala sekolah hanya kepada Theon, sikapnya tidak berubah kepada siswa lain.