
Theon kembali pulang pada sore hari dengan diantar Lyu Shui menggunakan mobilnya. Sebelumnya, keluarga Shui membayar Theon dengan bayaran yang cukup tinggi karena mengembalikan keadaan Lyu menjadi normal. Hanya saja, Theon menolaknya karena dia tahu bahwa menolong seperti itu adalah kewajibannya, selama seseorang yang dia tolong tidak mencurigakan sama sekali.
Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk melepaskan penat. Tak di sangka besok sudah kembali menjadi awal hari dengan dirinya yang kembali masuk sekolah yang begitu membosankan di beberapa pelajaran. Theon benar-benar penasaran, mengapa para siswa bisa bertahan dengan pelajaran seperti itu? Apalagi mereka duduk selama beberapa jam.
Seketika, benak Theon terpikirkan dengan geng Naga Biru. Sehingga dia terbangun karena pikirannya benar-benar tidak begitu tenang usai mereka mengetahui rumah Theon kali ini. Selain itu, tampaknya mereka juga akan merepotkan apabila Theon bersama orang lain, karena akan membuat orang lain akan terseret sebuah masalah.
“Jika aku tidak menyelesaikannya sekarang juga, mereka akan bertindak lebih baik. Apalagi dengan kematian Leon, membuat ketua geng mereka tidak akan bisa tinggal diam.” Batin Theon. “Masalahnya, aku sama sekali tidak tahu, dimana markas geng Naga Biru berada. Bahkan aku tidak bisa mengetahuinya melalui ingatan Theon Alzma sekalipun.”
Memang, tidak ada yang tahu menahu dimana markas geng Naga Biru, karena mereka melakukan tindakan mafia secara rahasia. Tidak hanya itu saja, mereka kerap kali juga digunakan sebagai pembunuh bayaran oleh pejabat untuk menumbangkan lawan politiknya, meskipun ketua mereka harus mendapatkan persetujuan dari keluarga Jark sekalipun.. Sehingga, menemukan mereka tidaklah mudah, setidaknya harus menjadi orang penting agar bisa mendapatkan informasi yang seperti itu.
“Kecuali....” Theon berpikir sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Ali, dia adalah anak pejabat. Kemungkinan dia mengetahui dimana markas geng Naga Biru karena ayahnya merupakan seorang politikus.”
“Akhh, tapi aku akan melakukannya untuk besok. Tapi, jika aku ingin tenang, maka aku tidak akan tinggal di sini, karena mereka pasti akan mengincarku.” Sambungnya sambil bersiap untuk pergi dari rumah ini untuk sementara waktu. Karena dia tahu, kondisinya benar-benar tidak aman apabila berada di rumah, siapa tahu dirinya akan diserang secara diam-diam pada malam hari yang membuatnya begitu kerepotan.
“Tapi kemana?” Itulah yang menjadi sebuah pertanyaan bagi Theon.
“Sepertinya tidak perlu.” Theon berubah pikiran.
......
“Craaakkk!”
Sebuah gelas pecah dengan mengeluarkan suara yang memekikkan telinga, bercampur dengan minuman berwarna merah yang tumpah di atas sebuah lantai keramik. Hal tersebut membuat beberapa orang yang melihatnya begitu ketakutan sampai menundukkan kepalanya.
Bagaimana tidak, dihadapan mereka merupakan ketua geng Naga Biru yang mengerikan, bertelanjang dada dengan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang begitu memukau. Di tengah dada bidangnya, terdapat sebuah tato berwarna biru yang melingkar dan mengeluarkan elemen air dari mulutnya.
Wajahnya begitu sinis seolah mengeluarkan aura kekejamannya, bahkan dia juga mengulurkan salah satu tangannya kepada salah satu orang yang berdiri dengan begitu ketakutan.
“Baru kali ini kalian gagal menjalankan sebuah tugas yang begitu ringan. Kalian gagal melindungi adikku, Leon, kalian gagal menjalankan tugas tuan muda Jark, kalian gagal membunuh seseorang yang berani melawan geng Naga Biru. Kegagalan ini tidak bisa dimaafkan.” Kata ketua geng Naga Biru sambil mengeluarkan sebuah tembakan air dari tangannya.
Tembakan air, begitu lancip dan bergerak begitu cepat. Menembak salah seorang yang menjadi target Ernest sebelumnya. Sehingga, aliran air itu berubah menjadi merah di saat keluar dari tubuh salah satu geng naga. Apalagi kalau bukan sebuah darah? Orang itu lngsung tergeletak lemas tak berdaya, karena aliran air itu menembus jantung orang tersebut yang membuatnya kemungkinan akan mati.
Tak ada yang menjawab, semua orang yang ada di hadapan Ernest saling diam karena ketakutan yang berlebihan dengan ketua geng mereka. Mungkin melihat Ernest marah adalah makanan mereka sehari-hari, hanya saja Ernest tidak pernah semarah ini hingga mereka membunuh bawahannya.
“Apa kalian ingin menjadi seperti diaa!!?” Tanya Ernest dengan suara yang menggelegar, bahkan membuat semua orang begitu terkejut.
“Ti-tidak tuan.” Kata mereka serentak tanpa menghilangkan ketakutan yang ada dalam diri mereka.
“Maka dari itu, bawa Theon di hadapanku! Aku menunggu sampai besok malam, jika tidak, maka jangan pikirkan apa yang akan terjadi pada kalian.” Kata Ernest dengan nada yang cukup tinggi sembari beranjak dari tempat duduknya, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya sambil pergi. Namun sebelum itu, dia menoleh ke belakang, ke arah anggotanya dan berkata lagi, “Urus mayat rekan kalian, aku juga tidak ingin ruanganku bersimpah darah.”
.....
Malam hari, Theon memutuskan untuk tidur usai dirinya menyiapkan sekolahnya besok. Namun, aktivitasnya pagi ini membuatnya benar-benar lupa untuk mencuci baju milik Theon. Masalahnya, dia benar-benar tidak terbiasa dengan mencuci baju di istana Nirwana, karena itu semua dikerjakan oleh pelayan istana. Tampaknya, hidup mandiri sebagai manusia tentunya juga benar-benar merepotkan.
Namun, Theon kali ini sama sekali tidak peduli dengan seragamnya, lagipula ini sama sekali belum kotor yang mungkin masih begitu nyaman untuk dipakai. Sehingga, dia memutuskan untuk kembali tidur karena hari sudah begitu malam.
“Kalian berempat, jangan biarkan ada orang yang menyentuhku.” Ucap Theon kepada keempat beast yang ada di dalam tubuhnya.
“Tuan tenang saja, akan kupastikan tuan bisa tertidur dengan begitu nyenyak.” Kata Kiba yang ada pada tubuh Theon.
Itulah mengapa Theon berubah pikiran untuk pergi dari rumah ini, karena menurutnya itu akan membuang-buang tenaga, apalagi dirinya harus mencari tempat nyaman. Namun, itu semua tampaknya tidak perlu karena Theon memiliki empat beast yang cukup untuk menjaganya, apalagi ketika dirinya tertidur.
Sehingga, dirinya bisa cukup tenang untuk tertidur tanpa memikirkan masalah apapun. Bahkan dia juga menghela napas dan menarik selimut dan menikmati dinginnya malam yang sangat mengenakkan.
Tengah malam kemudian, Kiba membuka matanya lebar-lebar di dalam tubuh Theon, tatapannya begitu datar seperti hewan buas yang begitu kelaparan. Hal tersebut tentu saja membuat ketiga beast Theon menjadi penasaran, apa yang terjadi pada Kiba?
Penasaran, Flamon akhirnya bertanya, “Apa yang terjadi, Kiba?”
Hidung Kiba benar-benar sensitif, setidaknya sebagai seekor harimau putih, penciumannya begitu tajam. Apalagi ketika dirinya mencium hal asing seperti penyusup. Mungkin tidak hanya indra penciumannya, indra pendengarannya juga begitu tajam sehingga dia bisa mendengar apa yang dikatakan seseorang dari jarak yang sedikit lebih jauh. Kemampuan tersebut merupakan hal alami yang dimiliki oleh hewan buas, tapi untuk Kiba, dia memiliki berkali-kali lipat dibandingkan hewan buas lainnya.
“Ada 10 penyusup yang akan memasuki rumah ini.”