The God in the Modern World

The God in the Modern World
Memang aku pelakunya



Setelah Theon menjalani ujian akhir di hari terakhir, dirinya berjalan keluar dari Lab komputer pada siang hari. Karena apa? Karena dirinya mendapatkan sesi kedua dalam ujian akhir ini. Kemudian, ini adalah ujian hari terakhir pada ujian akhir untuk menentukan kelulusan. Tapi, ketika dirinya keluar dengan cukup malas, Theon dicegat oleh wanita berdada besar yang berkucir kuda, auranya benar-benar sangat cantik ketika Theon sudah lama tidak menatap dengannya.


Mungkin semua murid benar-benar hormat ketika tak sengaja bertemu Lyu Shui. Berbeda dengan Theon, dengan tidak sopan dia justru mengangkat wajahnya tepat di depan kepala sekolah. Yang membuat Rena sendiri ingin sekali memukul dagu pangerannya itu.


“Kepala sekolah, ada apa?” Tanya Theon.


“Aku ingin berbicara empat mata.” Kata Lyu Shui dengan malu-malu.


Theon menatap Lesha dan juga Rena yang ada di belakangnya. Memberikan sebuah isyarat kepada dua wanita yang ada di belakangnya untuk turun menuju lantai pertama. Karena kepala sekolah sendiri seperti ingin membicarakan sesuatu dengan Theon tanpa ingin didengar oleh orang lain.


Hal tersebut membuat Rena dan juga Lesha menatap sinis kepala sekolah yang seperti melakukan hal yang tidak-tidak. Berbicara dengan mereka, mereka berdua tidak menunjukkan kekuatan elementalist kepada khalayak umum, atau lebih tepatnya pamer kepada murid lainnya. Mungkin tidak hanya Lesha, melainkan Rolland pula yang juga merasa acuh tak acuh dengan itu semua, dia juga tidak memiliki niatan untuk menunjukkan elemenetalnya untuk pamer.


Hanya Ali yang mengetahuinya bahwa siapa saja murid yang memiliki kekuatan elemental. Setelah beberapa minggu, dia bisa lebih untuk mengendalikan traumatik karena membunuh seseorang. Bahkan, Ali sendiri justru sering berlatih menembak agar dirinya tidak terlalu amatir, dan apabila di ajak Theon, dirinya tidak merasa sangat bersalah untuk membunuh seseorang. Karena, dia sendiri bertekad untuk melindungi Theon apabila aparat mengincarnya setelah dia mengetahui sebuah kebenaran.


Kini Theon dan kepala sekolah berdiri di samping dinding pembatas lantai dua. Yang mana dirinya bisa melihat murid pulang sekolah untuk ujian dan datang untuk sesi selanjutnya. Untuk memulai pembicaraan dengan kepala sekolah, dia berkata, “Ada apa gerangan? Aku pikir Anda ingin menyerahkan yayasan milik ayah Anda ini kepadaku.”


“Bo-bodoh guru. Tidak.” Kepala sekolah menyangkal. Dia melipat kedua tangannya di atas dinding pembatas untuk melihat murid-murid miliknya. “Aku berhasil menguasai teknik milik Anda yang Anda berikan satu bulan yang lalu guru. Meskipun aku sebenarnya tergesa-gesa karena kemungkinan masalah Anda belum selesai dengan big three.”


Sontak Theon langsung menatap kepala sekolah. Bukan, bukan tentang kepala sekolah yang menguasai teknik tingkat rendah di kepala sekolah yang dapat diselesaikan. Itu bukanlah suatu yang dibanggakan, karena ayahnya sendiri sebelum menjadi penguasa 5 elemental, dia bisa menguasai teknik tingkat tinggi dalam beberapa jam. “Big three sudah mati.” Itulah yang Theon sangkal.


“Yosef Scott beserta anak istri dan mafianya, Harry Scott beserta anak istri dan mafianya. Luis Zuan beserta anaknya dan perguruannya, aku sudah membabatnya habis, tepat satu bulan yang lalu. Mungkin, mungkin beberapa mafia Skelet dan Gaia masih berkeliaran.” Theon menciptakan bola angin dengan sengaja, kemudian, dia lemparkan pada ring basket yang ada pada lapangan dengan sangat akurat sebagai bahan kemalasannya.


Hal tersebut membuat kepala sekolah atau Lyu Shui membuka bola matanya. Perasaan terkejutnya membuat dia mundur beberapa langkah karena bisa melihat seberapa mengerikan Theon. Bagaimana tidak? Hampir dua bulan yang lalu, geng naga Biru hancur yang mana itu merupakan geng paling kuat di kota ini. Tapi, bulan lalu, Theon menghadapi big three sekaligus tanpa mendengar kabar Theon terluka berat?


Merupakan sesuatu hal yang sulit dipercaya bagi Lyu Shui. Scott, Skelet, dan Zuan, mereka semua merupakan peringkat teratas tidak mungkin bisa dikalahkan oleh Theon dengan cukup mudah. Apalagi Theon juga membunuh mafia dan perguruannya yang mana pasti Theon berhadapan dengan ratusan orang seorang diri.


Sehingga, apabila ketiganya mati, siapa yang akan menjadi peringkat teratas? Itulah yang dipikirkan oleh Lyu Shui sekarang juga. Tapi tampaknya cukup konyol untuk memikirkan hal itu, karena apa yang harus dia pikirkan adalah untuk mencoba percaya apa yang dikatakan oleh Theon.


“Tanya saja kepada muridmu Rena. Dia juga mengikuti aku untuk melakukan tindakan pembantaian. Apa kau mendengar berita tentang kebakaran hutan Zenphar?” Theon mengangkat alisnya, dia membuka smartphone dan membuka internet untuk mencari berita lama tentang terbakarnya hutan itu yang dikabarkan karena ulah penyihir.


“Memang aku pelakunya. Tapi sungguh, aku tidak membakar hutan itu lebih luas. Aku yakin bahwa aku menghentikan elemental api agar sebagian hutan tak terbakar.” Theon mencoba untuk menjelaskan kepada kepala sekolah bahwa hutan di provinsi Zenphar sedikit rusak karena ulahnya. Tapi bukan berarti kebakaran hutan itu memang ulahnya sendiri.


“Aku jadi curiga, dengan kemampuan seperti itu, apa jangan-jangan Lord Unknown itu kau.” Kepala sekolah mengangkat tangannya dan menunjuk Theon dengan ragu. Dia juga berharap bahwa Lord Unknown itu bukan murid sekaligus gurunya.


Theon menatap Lyu Shui dengan cukup sinis dan menjawabnya dengan spontan. “Bukan.” Untuk mengalihkan perhatian, Theon memiliki ide, yaitu dirinya mengeluarkan sebuah penggaris dari tasnya. Yang mana dia gunakan untuk membuktikan, apakah apa yang dikatakan oleh kepala sekolah benar, bahwa dia bisa menguasai teknik yang dia berikan tersebut.


“Dengan penggaris ini, coba keluarkan teknik yang kau pelajari ini.”


“Tapi ini penggaris bukan pedang.” Sangkal kepala sekolah, dan menatap serius Theon.


“Api: tebasan sisik naga.” Theon menebaskan penggarisnya tepat di atas dinding pembatas yang mana dia tebaskan ke bawah. Sehingga, penggaris itu terbakar tanpa meleleh dan menebaskan sebuah tebasan yang berbentuk seperti sebuah sisik naga-naga yang memiliki motif. Hanya saja, ketika tebasan itu hampir menjadi pusat perhatian, Theon langsung menghilangkannya. “Mungkin begitu.”


Kepala sekolah menerima penggaris itu sambil menelan ludahnya dengan cukup kasar. Namun, ketika dia memegang penggaris Theon, dia sama sekali tidak merasakan panas apapun. Tertarik, kepala sekolah ingin mencobanya, “Api: tebasan sisik naga!”


Sama seperti Theon, penggaris itu bagaikan pedang yang mampu mengeluarkan sebuah teknik. Dan Theon langsung menghilangkannya karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Walaupun untung saja, tidak ada orang yang mengangkat kepalanya ke atas. Namun, yang paling disayangkan, bahwa penggaris milik Theon meleleh, yang membuat Theon terdiam.


“Penggaris karakter kartun kucing betina kesukaan Theon Alzma. Dia pasti sedih ketika hidup lagi dan melihatnya.” Batinnya.


“Theon, senyum!”


Theon menoleh ke belakang, dia memperhatikan ketua kelas atau Aura tengah mengangkat sebuah kamera mini dan sempat memotret Theon. Karena mungkin semenjak tadi, dia melihat Theon mengeluarkan sebuah sihir.


“Aura. Akh aku lupa kau berada di sesi tiga.” Theon menatap dengan sinis.


Aura hanya menatap Theon dengan tajam, “Aku tidak menyangka bahwa kau adalah seorang penyihir. Aku serius, aku tidak pernah merundungmu! Jadi jangan coba-coba keluarkan sihirmu untuk membalas dendam.”


“Seperti yang kau lihat. Jadi jangan pernah berpikir untuk merundung seseorang kita kau berada di universitas. Kau tidak akan tahu siapa mahasiswa itu sebenarnya.” Kata Theon dengan cukup malas. Dia ingin bergegas karena beberapa siswa akan datang untuk melakukan ujian pada sesi selanjutnya. “Ngomong-ngomong, aku lulus kau tau? Meskipun hasilnya belum keluar sekalipun.” Sambungnya sambil menatap kepala sekolah. “Jadi aku akan ikut momen terakhir.”