The God in the Modern World

The God in the Modern World
Tertangkap manusia rendahan



Siapa yang berpikir seperti itu? Theon dan Rena justru kalah oleh segerombolan manusia rendahan yang mereka remehkan. Memang Theon unggul dari segi kekuatan, tapi tampaknya, dari segi pikiran Theon harus bisa mengasahnya kembali.Dia duduk di kursi, ruangan putih menjadi tempatnya seolah dia ingin diinterogasi.


Kedua tangannya benar-benar disegel agar dia tidak mengeluarkan sihirnya. Sedangkan lehernya, lehernya juga dikunci dengan sebuah segel sains agar penyihir tidak mengeluarkan sihirnya.


Hal tersebut menjadi perintah mutlak, elemental Theon yang berada di tubuhnya seketika menghilang yang mana sebelumnya itu menjadi jubahnya. Hanya menyisakan topeng tengkorak yang tersisa karena itu menjadi sebuah item biasa.


Tapi, apa yang paman Theon atau Zero kejutkan. Saat ini dia memang bertugas untuk menginterogasi dan menekan Lord Unknown dan juga Dark Witch. Tapi tatapannya benar-benar kosong saat melihat topeng alami milik Dark Witch benar-benar memudar, menunjukkan wajah yang begitu cantik dan elegan yang dia kenal.


"Kau, kau ternyata sosok dibalik Dark Witch?" Tanya agent Zero membuka matanya secara lebar-lebar. Berharap apa yang dia lihat sama sekali tidak memiliki sebuah kesalahan. 


Tentunya dia mengenal siapa Rena, wanita yang tinggal seatap dengan Theon semenjak beberapa bulan yang lalu. Seorang target utamanya setelah ayah Rena Shon sendiri dia bunuh. Namun, setelah itu sangat disayangkan sekali, sosok Dark Witch tiba-tiba muncul yang membuatnya gagal menculik Rena.


"Sialan kau! Kau berpaling dari keponakanku, aku akan menghukummu dengan hukuman yang paling berat." Kata Zero menunjuk Rena dengan suara yang cukup tinggi.


"Berpaling?" Tanya Rena mengerutkan dahinya. "Coba kau lihat, siapa sosok dibalik topeng tengkorak itu. Aku berani bersumpah, pasti kau hampir kejang saat tahu siapa dia. Wahai paman Theon, tuan Alsan, dengan nama samaran Agent Zero." 


Alsan, memang itulah nama asli sosok aparat yng yang bekerja sebagai kepala agent mata-mata. Memang begitu, Alsan tidak akan memakai nama aslinya untuk bertugas karena itu benar-benar sangat rawan.


Alsan melangkahkan kakinya. Entah kenapa dia benar-benar penasaran siapa sosok dibalik topeng tengkorak yang digunakan oleh Lord Unknown. Sebenarnya, ketika dia mengerutkan dahinya, dia cukup femiller melihat bentuk rambut Lord Unknown.


Dia menarik topeng tengkorak yang dikenakan oleh Theon. Dan membuangnya sejauh mungkin untuk melampiaskan rasa kekesalan.


Namun, wajahnya benar-benar sangat buruk seolah berkumpul dalam satu titik di tengah. Tubuhnya bergetar saat menyadari bahwa di hadapannya adakah keponakannya yang sedang menguap kantuk seolah meremehkannya.


"The theon?” Alsan berkata dengan cukup gugup. Dia mundur perlahan dengan kakinya yang perlahan-lahan lumpuh saat melihat sosok dibalik Lord Unknown adalah Theon.


Bagaimana bisa? Pikirnya seperti itu. Dia tahu sendiri bahwa ayah atau ibu Theon bukanlah sosok penyihir. Sehingga, sangat mustahil sekali untuk mengatakan bahwa Theon bisa mengeluarkan sihir elemental. Padahal, sihir seperti itu hanya bisa digunakan apabila memiliki darah penyihir.


“Baiklah, anggap saja keberuntungan bagimu, bagi kalian paman. Sebenarnya aku bisa mengamuk untuk kali ini, tapi aku akan menahannya sebelum kau melakukan sesuatu.” Kata Theon dengan cukup dingin. Sungguh, dalam hatinya dia benar-benar mengapresiasi manusia rendahan karena bisa menangkapnya meskipun menggunakan cara kotor sekalipun.


“Tidak mungkin, kau bukan Theon! kau pasti menggunakan tubuh Theon.”


Tidak salah apa yang dikatakan oleh pamannya. Secara harafiah, dia memang menggunakan tubuh Theon. Karena jiwa Theon sebelumnya telah mati dan digantikan oleh jiwa Theon yang sekarang juga.


“Jadi info untuk lowongan kerja paman? Setidaknya aku cukup pandai dalam memata-matai seseorang.” Kata Theon bercanda.


“Bohong! Theon tidak memiliki cara bicara seperti itu!”


Seketika paman Theon termenung. Bukankah sikap Theon tiba-tiba berubah beberapa bulan yang lalu? Bahkan Theon yang sebelumnya bersifat feminin, kini justru membawa seseorang perempuan secara berani ke dalam rumahnya. Bahkan, dia sempat memergoki bahwa Theon dan juga Rena tidur dalam seranjang.


“Yaah, dia memang keponakanmu, yang justru menjadi musuh terbesar bagi negara New Santara. Aku benar-benar penasaran, tentang drama yang kalian buat nantinya. Akh tidak, bukankahkah paman Theon merupakan anggota keluarga yang tidak terlalu peduli kepadanya?” Rena mengangkat alisnya mencoba untuk membuat paman Theon menjadi gila dengan keadaan yang sebenarnya.


“Tidak, dia bukan Theon! ayah dan ibunya sama sekali tidak memiliki sihir elemental!”


Alsan mencoba untuk mengendalikan diri. Tujuan utamanya di sini adalah mencoba agar Lord Unknown dan Dark Witch tidak sadarkan diri agar dijadikan sebuah senjata bagi New Santara sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk membunuh para penyihir yang tersisa.


“Lihat, aku akan melakukan tindakan paling kotor kepadamu, yang menandakan bahwa aku sama sekali tidak mempercayai bahwa kau adalah Theon!” Kata Alsan menunjuk Theon dengan cukup ngotot.


Alsan menggunakan sebuah maker gas, yang mana kemungkinan dia membuka ventilasi udara. Bukan udara sebenarnya, tapi lebih tepatnya adalah asap gas yang merupakan bius agar Theon dan juga Rena tidak sadarkan diri. Kemudian, Alsan atau Zero membuka segel yang mengunci kedua tangan Rena dan juga Theon yang menurutnya palsu.


Diletakkanlah di atas meja di hadapan Theon dan juga Rena, sebuah jarum suntik atau lebih tepatnya sebuah serum. Yang mana serum itu memiliki dosis untuk digunakan pada salah satu orang agar orang tersebut tahan bius.


“Aku katakan! Ada satu serum agar kalian kebal bius. Kalian bisa memilih siapa yang akan berkorban, dan siapa yang akan bertahan. Dan yang berkorban bersiap-siaplah untuk menjadi kacung petinggi negara.” Kata Zero dengan cukup gugup. Pasalnya, pikirannya terus menghantui bahwa Theon di depannya merupakan Theon keponakannya, yang membuat dia sebenarnya ketar-ketir.


Tapi, dia menghapus pikirannya bahwa jika Theon di depannya adalah keponakannya, maka setidaknya Theon akan terus hidup. Karena apabila ditanmkan sebuah chip sekalipun, Theon masih hidup.


Zero keluar dari ruangan berkaca yang tidak memiliki celah udara keluar atau masuk sekalipun. Kemudian, dia beranjak bergi dan akan melihatnya dalam monitor dari kamera tersembunyi.


“Ayo Rena, gunakanlah. Kau akan sadar dan tidak ditanamkan chip di otakmu.” Kata Theon melihat serum itu. Dia sama sekali tidak memiliki sebuah niatan untuk menggunakan serum itu.


“Tidak tidak! Aku akan kesulitan apabila kau menjadi lawanku nanti, apalagi kau tidak akan menyadari siapa dirimu sebenarnya. Jika aku yan menjadi Eternal, maka kau bisa mengalahkanku.” Sangkal Rena.


“Baiklah, tapi sebelum itu. Aku akan memberimu salam perpisahan.” Kata Theon dengan santai, kemudian dia mendorong kepalanya tepat pada bibir Rena yang terlihat merona.


Rena yang melihat hal itu, dia juga cukup tenang. Dia tahu bahwa ucapan Theon barusan adalah sebuah sandiwara. Sehingga, dia hanya tersenyum dan menerima ciuman bibir dari Theon itu sendiri.