
Desiran angin kota terasa melewati pori-pori Theon. Tidak heran, bahwa kota Agrabinta merupakan sebuah kota yang disebut dengan kota angin, sehingga angin setiap minggu akan terus berhembus, yang mana sebenarnya asal angin itu sendiri berasal dari puncak gunung yang kemudian turun ke kota.
Theon dan Rena, dia berjalan-jalan di trotoar kota, menikmati ramainya orang-orang pada pagi menjelang siang yang sepertinya tengah beraktivitas. Sebenarnya, mereka berdua cukup merasakan bising, merasa bahwa keadaan di desa benar-benar cukup baik jika waktu seperti ini. Lebih tepatnya, semua waktu benar-benar cocok untuk berada di desa.
Tapi mereka hanya berjalan-jalan saja, sekolah juga sudah tak mereka lakukan karena mereka sudah lulus meskipun mereka belum resmi karena tidak mengikuti wisuda yang akan dilakukan beberapa hari lagi. Hanya sekedar berjalan-jalan, bahkan Theon juga sempat melihat seorang elementalist memamerkan kekuatannya kepada semua orang tanpa membuat ulah, lebih tepatnya digunakan sebagai kebaikan.
Padahal, Theon sempat berpikir bahwa orang-orang seperti mereka akan berlagak sok kuat. Kebanyakan orang yang memiliki elemental akan menjadi lupa diri dan menindas orang yang lebih lemah dari mereka semua. Dan itu berlaku di alam dewa puluhan tahun yang lalu.
Ketika dewa yang tidak memiliki elemental, maka dia akan dibunuh, dianggap lebih hina dari manusia itu sendiri. Padahal, bisa jadi orang itu memiliki kemampuan yang lebih baik tentang akademis atau hal lainnya. Tapi, siapa yang berpikir bahwa manusia di dunia ini yang memiliki kekuatan elemental tidak terlalu menindas seseorang yang tidak memiliki elemental. Meski keluarga yang paling kuat sekalipun, yaitu keluarga Zuan misalnya, Theon tidak pernah mendengarkan kabar bahwa mereka membunuh orang yang tidak memiliki elemental.
Bahkan jika perlu, orang-orang seperti itu bisa saja mengeluarkan roh mereka untuk menghancurkan dunia. Mereka bisa bersatu, membentuk sebuah komunitas untuk menghancurkan dunia dan memusnahkan manusia. Tapi, apa yang terjadi? Mereka sama sekali enggan untuk melakukannya.
Entah itu karena tentang keberadaan senjata plasma yang mampu memburu mereka, atau memang terjadi karena menuruti hati nurani mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa jika manusia sanggup menguasai hati pikiran mereka, maka keadaan juga benar-benar sangat damai tanpa sebuah kerusakan.
Seorang elementalist di dunia ini tidak ada yang berperan jahat menurut pemikiran Theon, hanya saja orang-orang seperti Scott, Skelet, dan Zuan juga masih memiliki pemikiran manusia biasa, sayangnya mereka mencari masalah dengan Theon yang membuat Theon harus membunuh mereka.
Terkadang, ada kalanya Theon juga setuju dengan petinggi dunia, hanya saja caranya yang salah. Manusia biasa dan elementalist seharusnya boleh berdampingan seperti ini, tetapi petinggi negara juga siap untuk membunuh seorang elementalist atau mereka sebut penyihir yang melakukan tindakan kejahatan melebihi manusia biasa. Hanya saja, yang mereka takutkan adalah tentang penyihir yang akan menguasai dunia seperti dalam sebuah cerita.
“Theon, kau mau es krim?”
“Boleh, aku ingin yang merah muda itu.” Theon meminta.
“Hee?” Rena mengerutkan dahinya. “Aku pikir kau ingin coklat.”
“Aku hanya menuruti apa yang Theon Alzma pikirkan.” Kata Theon membalasnya. Tak peduli dia berkata bahwa dia ingin es krim yang berwarna merah muda di depan Rena, yang mungkin akan sangat memalukan. Lagipula faktanya es krim strawberry memang sangat lezat.
Ketika Rena berjalan, menghampiri pedagang es krim, sebuah semburan air dengan ujung tajam bergerak dengan sangat cepat. Mengarah ke arah Rena yang sama sekali tidak begitu sadar karena posisinya berada di sampingnya.
Theon juga terlalu sigap, tangannya sudah dia angkat ke depan, menahan semburan air itu hingga tidak melukai Rena. Hanya saja, Rena sudah memecahnya terlebih dahulu sehingga membuat itu menjadi sebuah air biasa yang jatuh dan membasahi trotoar.
Semua orang yang melihatnya terkejut, baik Theon maupun Rena yang langsung memperhatikan ke arah sebuah serangan. Akan tetapi ketika Rena memfokuskan diri untuk siapa yang menyerangnya semenjak tadi, seorang wanita sudah bergerak di hadapannya dengan sangat cepat, benar-benar sangat cepat bahkan dia sudah melompat dan hampir menusuk Rena menggunakan sebuah pisau pada bagian dada kanannya.
Untungnya Theon tidak membiarkan hal itu terjadi, dia mengangkat tangannya secara perlahan, membuat dinding es tipis untuk menjadi perisai bagi Rena itu sendiri. Sehingga, Anna atau wanita yang baru saja menyerang Rena, dia terhenti karena dirinya membentur sebuah dinding es.
Anna sendiri terlalu cepat, dia mundur sejenak untuk menjaga jarak. Sepertinya dia terlalu pintar bahwa ketika dia seperti itu, maka Theon dan Rena akan bergerak untuk menangkapnya. Kemudian, Anna langsung mengayunkan tangannya, menghasilkan sebuah tekanan air dari permukaan trotoar yang Theon pijak keluar dengan sangat deras, membuat Theon sedikit terlempar ke atas.
Tapi, semburan air itu seketika membeku karena kemampuan milik Theon. Kemudian dia langsung melompat untuk menyerang Anna dari jarak yang begitu dekat. Bersamaan dengan itu, Rena juga menyentuh permukaan trotoar, melakukan hal yang sama kepada Anna yaitu mengeluarkan sebuah air dari tanah yang Anna pijak.
Anna tertawa, dia langsung melompat untuk menghindari serangan. Namun, siapa yang berpikir, Theon berhenti secara tiba-tiba, menggerakkan aliran air yang dikeluarkan oleh Theon untuk menjebak Anna. Lebih tepatnya, semburan tersebut mengikuti Anna ke belakang, membuat dia seperti berada dalam sebuah semburan air.
Tak berhenti, Theon memasukkan sebuah elemen petir, yang mana membuat Anna berteriak dengan hebat sebelum beberapa detik kemudian semburan air yang menenggelamkan Anna membeku hingga menyisakan kepala Anna yang keluar, karena semburan tersebut Theon tidak membekukannya.
Beberapa orang melihat peristiwa tersebut dengan perasaan takut, memilih lari daripada harus berhadapan dengan seorang penyihir yang kemampuannya adalah es, sama seperti Lord Unknown.
Tetapi sama sekali tidak ada yang mengecam perbuatan Theon, karena Theon dan Rena sendiri melakukan hal untuk melindungi diri mereka sendiri dari perbuatan penyihir yang begitu usil.
Namun, tidak sedikit orang yang menyadari bahwa adanya penyihir benar-benar sangat mengerikan. Mereka baru saja melihat bahwa pertarungan penyihir tidak akan bisa berada di sekitar warga sekitar. Sehingga, mereka juga mengecam perlakuan Theon, Rena dan juga Anna.
Theon dan Rena sama sekali tidak begitu peduli, dia menghampiri Anna yang tidak sanggup untuk bergerak karena terjebak dalam dinginnya es.
“Apa ini? bukankah kau membunuh orang tuamu karena balas dendam atas perbuatan mereka kepadaku?” Rena sedikit mengangkat ujung bibirnya. Menatap Anna dengan penuh kebencian meskipun dia membunuh seseorang yang Rena benci juga. Sehingga, Rena menepuk-nepuk pipi Anna dan menyuruhnya untuk bangun.
“Bagaimana kekuatanku? Kita tidak sebanding. Kau adalah manusia rendahan Anna. Sekaligus, aku juga cukup heran dengan pikiranmu yang tiba-tiba berubah.” Kata Rena sambil menarik lengan Theon dan pergi sejauh mungkin dari hadapan Anna. Jika bukan Anna yang membunuh orang tuanya sendiri, Rena tidak akan membunuh Anna itu sendiri. Jadi, dia juga memiliki rasa terimakasih sedikitpun.